Di Kerajaan Menakh, tempat di mana menara-menara menjulang tinggi ke langit dan setiap sudut istana dihiasi ukiran halus serta kain-kain sutra yang berkilauan, aturan dan tata krama adalah hal yang paling dijunjung tinggi. Gaya hidup di sini serba mewah dan tertib, berbau harum bunga-bunga segar, terdengar dentingan perak dan tawa yang selalu sopan. Namun di balik kemegahan itu, tersimpan kesedihan yang tak pernah terlihat oleh siapa pun yang hanya datang berkunjung.
Sherly, putri satu-satunya Kerajaan Menakh, berjalan menyusuri lorong panjang yang lantainya dipoles hingga memantulkan bayangannya sendiri. Gaunnya yang terbuat dari kain beludru berwarna ungu lembut jatuh berlipat-lipat anggun di setiap langkahnya, rambut cokelat keemasannya yang panjang disanggul rapi dengan pita sutra yang senada, dan wajahnya yang cantik selalu memancarkan ketenangan meski hatinya sering kali perih. Ia berusia tujuh belas tahun, dibesarkan untuk menjadi sosok yang menjaga nama baik keluarga di mana pun ia berada.
Namun menjaga martabat itu tidaklah mudah, terutama ketika kerabat dari pihak ibunya tidak pernah berhenti mencelanya.
Sherly berhenti di balik tirai tebal yang memisahkan lorong dari ruang tamu kecil tempat para kerabat itu berkumpul. Suara-suara tajam terdengar jelas hingga ke telinganya.
“Lihatlah dia, selalu berjalan seakan dia lebih mulia dari kita semua,” ucap salah satu bibi, suaranya melengking penuh sindiran, “padahal apa yang ia miliki? Tidak ada yang istimewa. Dia hanya anak yang kebetulan lahir sebagai putri.”
“Benar,” sahut kerabat lainnya, tertawa sinis, “ibunya pun hanya seorang wanita yang beruntung dipilih oleh raja. Tanpa gelar itu, mereka berdua tidak akan lebih baik dari rakyat biasa.”
Sherly mengepalkan tangannya di balik lipatan gaun. Ia ingin sekali melangkah masuk dan membela ibunya. Ia ingin mengatakan bahwa ibunya, Ratu Karen, adalah wanita paling lembut dan paling mulia yang pernah ia kenal. Namun ia tahu, jika ia melakukannya, para tetua kerajaan akan menilainya tidak sopan. Pengadilan Kerajaan sangat tegas soal ini: seorang putri tidak boleh bertengkar dengan kerabat, tidak boleh meninggikan suara, tidak boleh melawan. Hukumannya bisa berupa pencabutan hak waris, atau bahkan pengasingan. Sherly menelan ludah, menahan amarah yang membara di dadanya, dan tetap berdiri diam.
Di dalam ruangan itu, ia melihat ibunya. Ratu Karen duduk di kursi empuk, wajahnya pucat, matanya berkaca-kaca menahan tangis. Ia tidak membela dirinya sendiri, hanya menunduk dalam, membiarkan kata-kata yang menyakitkan itu menghujam hatinya satu per satu. Sherly merasakan dadanya sesak. Ia tidak tahan melihat ibunya diperlakukan seperti ini.
“Ibu...” bisiknya pelan, suaranya tertahan di tenggorokan.
Setelah para kerabat itu pergi sambil tertawa mengejek, Sherly melangkah masuk ke ruangan itu. Ia segera berlutut di samping kursi ibunya, memegang tangan Karen yang dingin dan gemetar.
“Ibu,” panggilnya lembut, “jangan dengarkan mereka. Kata-kata mereka tidak benar. Ibu adalah ratu yang paling baik.”
Karen mengangkat wajahnya, air mata menetes di pipinya yang halus. Ia mengusap pipi putrinya dengan jari yang gemetar. “Terima kasih, Sherly. Tapi mereka terus bicara begitu setiap hari. Aku tak tahu sampai kapan aku sanggup menahannya.”
“Jangan menyerah, Ibu,” kata Sherly dengan tegas, meski matanya sendiri juga berkaca-kaca, “Aku akan menjaga Ibu. Aku akan menjaga nama baik keluarga Ayah dan Ibu, biar apa pun yang mereka katakan. Aku tidak akan membiarkan mereka merusak kebahagiaan kita.”
Karen tersenyum sedih, menarik putrinya ke dalam pelukannya. “Kau anak yang baik, Sherly. Terlalu baik untuk dunia yang penuh kebencian ini.”
Hari-hari berikutnya sama saja. Setiap kali Sherly bertemu dengan para kerabat ibunya, ia akan mendengar bisikan, cemoohan, dan sindiran yang tajam. Ia menahan diri, menunduk, dan berjalan pergi. Namun di dalam hatinya, kemarahan itu terus tumbuh. Ia merasa tidak adil. Ia merasa ingin meledak. Namun ia tidak bisa. Hukum kerajaan mengikatnya erat.
Suatu sore, saat Sherly berjalan sendirian di taman belakang istana yang sepi, ia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti mendadak. Di antara pepohonan bunga mawar yang sedang mekar, berdiri seorang gadis. Gadis itu menatapnya, dan Sherly tertegun. Wajah gadis itu persis sama dengan wajahnya. Bentuk wajah, warna mata, rambut, hingga senyumnya semuanya persis. Seakan ia sedang melihat bayangannya sendiri di cermin.
“Siapa kau?” tanya Sherly, suaranya bergetar karena takjub sekaligus bingung.
Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, senyum yang aneh dan tidak asing namun entah mengapa membuat bulu kuduk berdiri. Lalu ia melangkah mendekat dengan cepat, sebelum Sherly sempat bergerak, selembar kain tebal berwarna hitam sudah menutup mata Sherly.
“Jangan takut,” bisik suara yang persis sama dengan suaranya sendiri, “Aku hanya ingin mengajakmu ke tempat yang tenang.”
“Ingin ke mana? Lepaskan aku!” teriak Sherly sambil meronta, namun tangan gadis itu kuat sekali. Ia menuntun Sherly yang tidak bisa melihat, membawanya menjauh dari taman, melewati lorong-lorong tersembunyi yang tidak diketahui banyak orang, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan bawah tanah yang gelap dan berdebu.
“Kau tidak boleh di sini,” kata gadis itu, suaranya kini terdengar lebih dingin, “tempatmu sudah tidak di atas sana.”
Sherly meraba-raba ke depan, lalu kakinya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin. Sebuah peti kayu besar yang kosong.
“Apa maksudmu?” tanya Sherly, jantungnya berdebar kencang penuh ketakutan, “Siapa kau sebenarnya?”
Gadis itu mendorongnya perlahan ke dalam peti itu. “Istirahatlah di sini. Dunia di atas akan lebih baik tanpamu.”
Sebelum Sherly sempat memohon atau berteriak lebih lanjut, tutup peti itu sudah tertutup rapat di atasnya. Kegelapan menyelimuti seketika. Sherly mengetuk-ngetuk dinding kayu itu dengan kedua tangannya, berteriak meminta tolong sekuat tenaganya.
“Tolong! Ada orang di sini! Ayah! Ibu! Tolong aku!”
Namun tidak ada jawaban. Suaranya teredam oleh kayu yang tebal dan tanah yang mulai menumpuk di atas peti. Sherly merasakan bumi menindihnya perlahan, menyadarkan bahwa ia dikubur hidup-hidup. Ia menangis, menjerit, memohon kepada Tuhan, memanggil nama ayahnya, Raja Hernan, dan ibunya, Ratu Karen. Namun tidak ada siapa pun yang mendengar.
Sementara itu, di atas permukaan tanah, kekacauan mulai terjadi. Raja Hernan dan Ratu Karen mencari putri mereka ke mana-mana. Mereka memerintahkan seluruh penjuru istana digeledah, mereka bertanya kepada setiap pelayan dan penjaga, namun tidak ada yang tahu ke mana Sherly pergi.
“Sherly! Anakku!” panggil Karen sambil berlari dari satu ruangan ke ruangan lain, matanya bengkak dan merah karena menangis, “Di mana kau, Sayang?”
Hingga tiba-tiba, di aula utama istana, sosok Sherly muncul. Ia berjalan dengan langkah yang tidak biasa, tidak anggun, tidak tenang, melainkan melangkah kasar sambil menendang benda-benda kecil di sepanjang jalannya. Ia menyapu meja yang penuh dengan piring porselen indah hingga semuanya jatuh berantakan ke lantai. Ia tertawa keras, suara tawanya tajam dan menyeramkan.
Karen berhenti di tempatnya berdiri, menatap putrinya dengan bingung. “Sherly... apa yang kau lakukan, Nak?”
Gadis itu menoleh, tersenyum lebar namun senyum itu tidak sampai ke matanya. “Aku bosan duduk diam dan tersenyum setiap saat, Ibu. Mulai sekarang, aku akan melakukan apa pun yang aku inginkan.”
Raja Hernan melangkah mendekat, dahinya berkerut cemas. “Sherly, ada apa denganmu? Kau tidak seperti ini. Kemarin kau masih tenang dan lembut.”
“Kau tidak tahu apa-apa, Ayah,” jawab gadis itu sambil merobek kelambu tempat tidur kerajaan yang indah, “Aku bukan anak kecil yang lemah yang hanya suka membaca buku dan memetik anggur di halaman. Aku akan menguasai Kerajaan Menakh dengan tanganku sendiri. Tidak ada yang boleh menghalangiku.”
Karen mundur selangkah, gemetar melihat perubahan itu. “Sherly... kau menakutkan Ibu. Apa yang terjadi padamu?”
Di balik dinding aula yang gelap, tersembunyi di balik tirai berat, berdiri seorang lelaki bertubuh tegap dengan senyum misterius di wajahnya. Ia adalah Joy, paman dari pihak Ratu Karen. Matanya menyipit menatap gadis itu, merasa puas melihat kekacauan yang terjadi. Ternyata semua ini rencananya. Ia yang menciptakan replika persis Sherly, makhluk yang dikendalikan dari jauh untuk menghancurkan keluarga kerajaan dari dalam. Ia ingin melihat Kerajaan Menakh hancur, dan ia yang akan mengambil alih kekuasaan.
Raja Hernan maju selangkah lagi, suaranya tegas namun penuh kecemasan. “Cukup, Sherly. Kembalilah ke kamarmu dan tenangkan dirimu.”
Namun gadis itu tidak menurut. Ketika Hernan mencoba memegang lengannya, gadis itu mendorongnya dengan kekuatan yang luar biasa hingga raja yang perkasa itu terhuyung mundur.
“Jangan sentuh aku!” bentaknya, “Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyuruh-nyuruhku lagi!”
Hernan menatap istrinya dengan wajah penuh keraguan. “Itu bukan Sherly, Karen. Putri kita lembut dan sopan. Dia tidak pernah mendorong ayahnya. Sesuatu yang tidak benar sedang terjadi di sini.”
Sementara itu, di dalam kegelapan peti yang sempit, Sherly asli masih berjuang. Ia menangis hingga suaranya serak, memanggil-manggil nama orang tuanya hingga kerongkongannya terasa perih. Namun tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menakutkan yang menyambutnya.
Tiba-tiba, di tengah kegelapan itu, ia mendengar suara langkah kaki. Sesuatu mengikis tanah di atas peti, dan cahaya remang-remang mulai masuk melalui celah tutupnya. Sherly menyipitkan matanya, melihat sosok berdiri di sana, mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Wajahnya tersembunyi dalam bayangan.
“Siapa kau?” tanya Sherly dengan suara lemah.
Sosok itu tidak menjawab siapa dirinya, melainkan berkata dengan suara yang tenang namun tegas, “Tenangkan dirimu, Sherly. Rasa takut tidak akan membantumu. Jika kau ingin menyelamatkan keluargamu, lakukan apa yang aku katakan.”
Sherly mengangguk pelan, meski bingung. “Apa yang harus kulakukan?”
“Keluar dari sini. Pergilah ke ruang makan utama. Di sana kau akan melihat sesuatu yang membuatmu kaget. Tapi jangan takut. Katakanlah siapa dirimu dengan lantang. Kejujuran dan ketulusan hatimu akan membedakanmu dari yang lain.”
Sosok itu mundur perlahan dan menghilang kembali ke dalam kegelapan sebelum Sherly sempat bertanya lebih lanjut. Namun kata-kata itu memberinya kekuatan. Sherly mendorong tutup peti itu dengan kedua tangannya, berjuang keras hingga akhirnya ia bisa keluar. Ia membersihkan dirinya yang berdebu, menyusun pakaiannya sebaik mungkin, lalu berjalan menuju aula utama istana dengan langkah yang mantap.
Sesampainya di sana, ia melihat pemandangan yang membuat jantungnya berhenti sejenak. Gadis yang persis sepertinya sedang berdiri di hadapan ayah dan ibunya, menatap mereka dengan tatapan yang angkuh dan kejam.
“Hentikan!” teriak Sherly dengan sekuat tenaga.
Semua kepala menoleh ke arahnya. Ratu Karen dan Raja Hernan terbelalak, tidak percaya pada apa yang mereka lihat. Dua putri yang sama persis berdiri berhadapan satu sama lain.
“Aku Sherly yang sebenarnya!” seru Sherly sambil melangkah maju, “Gadis itu yang mengurungku di dalam peti di ruangan bawah tanah! Dia ingin menyingkirkanku!”
Gadis replika itu tertawa sinis. “Kalian dengar dia? Dia yang berusaha mengambil tempatku! Dia pembohong!”
“Aku tidak berbohong!” balas Sherly dengan mata berkaca-kaca namun teguh, “Ibu, Ayah, lihatlah baik-baik. Apakah aku pernah menyakiti kalian? Apakah aku pernah berkata ingin menguasai kerajaan dengan kekerasan? Aku hanya ingin kalian bahagia. Aku hanya ingin keluarga kita utuh.”
Kata-kata itu tulus dan penuh kasih sayang, sesuatu yang tidak bisa ditiru. Ratu Karen melangkah mendekat, menatap kedua gadis itu silih berganti. Ia melihat ketulusan di mata Sherly yang datang belakangan, dan kesombongan di mata gadis lainnya.
Di balik dinding, Joy menyadari bahwa rencananya mulai gagal. Ia mendengus kesal, lalu berbalik dan pergi tanpa diketahui siapa pun, menghilang ke dalam bayang-bayang istana.
Seketika itu juga, gadis replika itu kehilangan kekuatannya. Ia terhuyung, wajahnya yang tadi tampak hidup perlahan menjadi kaku dan pucat. Kakinya lemas, dan ia jatuh ke lantai tak sadarkan diri.
Sherly segera berlari ke arah orang tuanya. Ia memeluk mereka erat-erat, menangis bahagia sekaligus sedih. “Ibu... Ayah... aku kembali...”
“Anakku...” isak Karen sambil memeluk putrinya erat, “Kau benar-benar kembali.”
Raja Hernan mengusap kepala putrinya dengan mata berkaca-kaca. “Maafkan kami, Sherly. Kami hampir kehilanganmu.”
Setelah suasana tenang, Raja Hernan memeriksa gadis yang tergeletak di lantai itu. Ia menyentuh tangannya yang terasa dingin dan kaku. Dengan hati-hati, ia membuka sedikit pakaian gadis itu, dan terkejut bukan kepalang. Gadis itu bukan manusia. Ia adalah sebuah boneka buatan yang sangat canggih, diisi dengan mekanisme yang dikendalikan dari jauh. Ternyata ada seseorang yang merencanakan semua ini untuk menghancurkan keluarga mereka.
“Siapa pun pelakunya,” kata Hernan dengan tegas, “kami akan menemukannya. Dan tidak akan membiarkannya mengganggu kedamaian keluarga kita lagi.”
Sherly memeluk orang tuanya lebih erat. Ia tahu bahwa ujian berat ini baru saja berlalu, namun ia juga tahu bahwa ia tidak akan pernah lagi membiarkan rasa takut menguasainya. Ia akan berdiri tegak, menjaga keluarganya, dan melindungi Kerajaan Menakh dengan segala ketulusan yang dimilikinya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!