Sore itu, matahari baru saja mulai merunduk ke arah barat, menyisakan semburat jingga keemasan yang menyelimuti atap-atap gedung sekolah menengah atas tempat Lala bersekolah. Bel pulang baru saja bergema di sepanjang lorong-lorong kelas, diiringi suara riuh tawa dan langkah kaki siswa-siswi yang bergegas meninggalkan gerbang. Namun bagi Lala, hari baru saja dimulai.
Lala berjalan menyusuri jalan beraspal menuju Lapangan Haruna, papan seluncur kayu yang dicat warna-warni terselip rapi di bawah lengan kanannya. Rambut hitamnya yang terurai sebahu tertiup angin sore, menari-nari mengikuti langkah kakinya yang ringan dan penuh semangat. Ia mengenakan kaos oblong berwarna hitam polos yang sedikit kebesaran, celana panjang kanvas yang ujungnya digulung, dan sepasang sepatu kets yang sudah terlihat usang namun bersih. Di kakinya, kaus kaki bergaris-garis terlihat sedikit menjulur, tanda bahwa ia sudah memakainya sejak pagi tadi.
Setiap orang yang melihatnya mungkin akan tersenyum atau menggelengkan kepala. Di kalangan teman-temannya yang gemar bermain papan seluncur, mayoritas memang laki-laki. Mereka sudah biasa melihat Lala di antara mereka, bergerak lincah, melompat, meluncur, dan jatuh lalu bangkit kembali tanpa pernah sekalipun meneteskan air mata. Banyak yang berkata bahwa bermain papan seluncur itu bukan hal yang pantas bagi seorang gadis. Banyak yang berbisik di belakang punggungnya, mengatakan bahwa ia seharusnya berdandan cantik, memakai gaun, dan duduk manis di bangku taman sambil membaca buku, bukan berdebu dan berkeringat di lapangan terbuka. Namun Lala tidak peduli. Sama sekali tidak peduli.
“Biar mereka bicara apa saja,” gumamnya pelan sambil meremas sedikit tali tas di bahunya, “selama papan seluncur ini masih di tanganku, aku bahagia.”
Sesampainya di Lapangan Haruna, suasana sudah terlihat hidup. Beberapa pemuda yang ia kenal sudah ada di sana, meluncur naik turun di jalur papan yang meliuk-liuk, bersiul, dan tertawa setiap kali ada yang berhasil melakukan gerakan yang sulit. Lala tersenyum lebar, matanya berbinar. Ia meletakkan tasnya di bawah pohon rindang yang biasa ia jadikan tempat istirahat, lalu mengangkat papan seluncurnya tinggi-tinggi seolah menyapa teman lama.
“Hei, Lala! Datang lagi ya?” seru salah satu pemuda sambil meluncur mendekat, kakinya berhenti tepat di hadapannya.
“Tentu saja! Seperti biasa, kan?” jawab Lala sambil tertawa renyah, suaranya terdengar penuh kegembiraan, “Aku tidak akan melewatkan sore di sini untuk apa pun.”
Ia melangkah ke tempat yang paling ia sukai, bagian yang memiliki kemiringan landai namun cukup menantang untuk berlatih gerakan baru. Hari ini, tekadnya sudah bulat. Ia ingin menguasai teknik yang sudah lama ia kagumi dari para pemain papan seluncur yang lebih mahir. Teknik itu bernama nose grab, yaitu melompat ke udara, mencengkeram ujung depan papan seluncur dengan satu tangan, lalu mendarat dengan seimbang. Ia tahu itu tidak mudah. Ia sudah mencobanya belasan kali minggu lalu dan selalu gagal. Namun kegagalan hanya membuatnya semakin ingin berhasil.
Lala menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya, lalu meluncur perlahan ke atas kemiringan. Ia mengatur keseimbangannya, merasakan permukaan papan yang menempel erat pada telapak kakinya, merasakan hembusan angin yang menyapa wajahnya. Ketika tiba di titik tertinggi, ia melompat. Tangannya berusaha meraih ujung depan papan itu, namun jaraknya belum cukup dekat. Tubuhnya miring, dan ia mendarat dengan posisi yang kurang tepat hingga terpental sedikit ke samping. Ia jatuh ke atas rumput yang masih agak lembap, namun tidak ada wajah sedih yang muncul. Ia hanya tersenyum sedikit, mengusap lututnya yang sedikit tergores, lalu bangkit kembali.
“Hampir saja,” bisiknya menyemangati diri sendiri, “kali ini pasti lebih baik.”
Ia kembali berlatih, berulang-ulang, jatuh dan bangkit lagi, lagi dan lagi. Waktu berlalu tanpa ia sadari. Sore semakin larut, cahaya matahari semakin meredup, namun ia masih belum berhenti. Ia begitu asyik dengan latihannya hingga tidak menyadari bahwa ada seseorang yang berdiri diam di pinggiran lapangan, memperhatikannya sejak cukup lama.
Pemuda itu berdiri di balik batang pohon besar, memegang erat tali tas punggungnya. Ia mengenakan kemeja berkerah yang rapi, celana kain yang setrikaannya masih terlihat lurus, dan sepasang sepatu kulit yang mengkilap. Di hidungnya bertengger sepasang kacamata bingkai tipis, dan di tangannya tergenggam erat sebuah buku tebal bersampul keras. Ia terlihat berbeda sekali dengan semua orang yang ada di lapangan itu. Ia adalah Endra, siswa yang duduk di bangku paling depan di kelas Lala, anak yang dikenal paling rajin, paling tenang, dan paling sering menghabiskan waktu di perpustakaan daripada di tempat seperti ini.
Endra menarik napas panjang, mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu cepat, lalu melangkah mendekat. Setiap langkahnya terasa berat, seakan ada sesuatu yang menariknya ke belakang. Namun ia terus maju, hingga akhirnya ia berdiri tepat di samping tempat Lala sedang beristirahat sejenak sambil mengelap keringat di dahi dengan punggung tangannya.
Lala menoleh, sedikit terkejut melihat sosok yang tidak ia duga ada di sana.
“Endra?” tanyanya, nada suaranya terdengar bingung, “Kau... apa yang kau lakukan di sini?”
Endra menelan ludah, menatap Lala lekat-lekat melalui kacamatanya. Wajahnya terlihat serius, sangat serius, seakan ia sedang mempersiapkan diri untuk membacakan naskah terpenting dalam hidupnya.
“Lala,” ucapnya, suaranya terdengar sedikit bergetar namun ia berusaha menguatkan diri, “aku sengaja datang ke sini. Aku sudah memikirkannya cukup lama, dan aku tidak bisa menahannya lagi.”
Lala menegakkan tubuhnya, meletakkan papan seluncurnya di samping kaki, lalu menatapnya dengan pandangan yang masih penuh tanda tanya.
“Memikirkan apa, Endra? Katakan saja kalau ada tugas atau catatan yang ingin kau pinjam,” jawabnya sambil tersenyum tipis, mengira itu alasan kedatangannya.
Namun Endra menggeleng pelan. Ia menarik napas panjang lagi, lalu melanjutkan dengan tegas, “Bukan soal pelajaran, Lala. Ini soal perasaanku. Aku menyukaimu. Sejak pertama kali melihatmu di kelas, duduk di sana dan tersenyum saat guru menjelaskan, hatiku selalu berdebar setiap kali melihatmu. Aku tahu kita baru saja mulai berkenalan, dan mungkin ini terasa tiba-tiba, tapi perasaanku sungguh ada, Lala. Aku mencintaimu.”
Keheningan sejenak menyelimuti mereka. Lala tertegun, matanya terbuka lebar, sama sekali tidak menyangka hal itu akan terjadi. Ia baru saja mengenal Endra beberapa minggu terakhir, sejak mereka duduk berdekatan setelah pengaturan tempat duduk yang baru. Ia tahu Endra anak yang baik, rajin, dan sopan, namun ia tidak pernah menyangka bahwa pemuda itu akan menaruh perasaan kepadanya.
“Endra...” ucapnya pelan, ia berusaha mencari kata-kata yang tepat agar tidak menyakiti perasaan pemuda itu, “aku... aku sungguh tidak tahu harus berkata apa. Kau baik sekali, sungguh. Tapi kita baru saling mengenal. Dan... dan saat ini, aku sedang sibuk dengan hal-hal lain.”
“Aku tidak memintamu untuk langsung menjawabnya sekarang,” potong Endra cepat, ia semakin menatapnya dengan pandangan yang memohon, “aku hanya ingin kau tahu. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu, Lala. Apa pun yang kau sukai, aku akan berusaha menyukainya juga. Apa pun yang kau inginkan, aku akan berusaha mewujudkannya.”
Lala menghela napas pelan. Ia melihat ketulusan di mata Endra, namun ia juga tahu bahwa hatinya saat ini sedang tertuju pada hal lain. Ia tidak ingin memberikan harapan yang kosong.
“Dengar, Endra,” ucapnya lembut namun tegas, “kau anak yang pintar. Kau suka membaca, kan? Pulanglah ke rumahmu dan bacalah buku-bukumu. Itu hal yang baik untukmu. Aku... aku sedang sibuk berlatih papan seluncur ini. Aku ingin menguasai teknik yang sulit, dan aku butuh waktu serta ketenangan untuk melakukannya. Aku tidak bisa memikirkan hal lain sekarang ini. Maafkan aku.”
Endra terdiam. Kata-kata itu sederhana, namun terasa berat di hatinya. Ia menunduk perlahan, melihat ujung sepatunya yang bersih dan berkilau, kontras dengan sepatu Lala yang penuh debu dan goresan.
“Jadi... kau menyuruhku pergi?” tanyanya pelan, suaranya terdengar sedih.
“Pulanglah, Endra,” jawab Lala dengan nada yang lembut namun tidak berubah, “bukankah di rumah ada banyak buku yang menantimu? Itu lebih cocok untukmu daripada berada di sini.”
Endra mengangguk pelan, meski hatinya terasa perih. Ia menatap Lala sekali lagi, berharap ada sedikit keraguan di wajah gadis itu, namun Lala sudah kembali menoleh ke arah papan seluncurnya, siap untuk meluncur lagi. Akhirnya, ia berbalik perlahan dan berjalan pergi, meninggalkan lapangan itu dengan langkah yang berat dan pikiran yang tak tenang.
Sepanjang jalan pulang, pikiran Endra tidak tenang. Kata-kata Lala terus bergema di kepalanya. Pulanglah dan bacalah buku saja. Apakah benar ia hanya pantas duduk diam dan membaca buku? Apakah ia tidak bisa melakukan hal yang sama seperti yang Lala lakukan? Apakah ia tidak bisa berbagi dunia dengan gadis yang ia cintai?
Ia sampai di rumahnya, masuk ke dalam kamarnya, lalu duduk di tepi tempat tidur menatap lantai. Di rak buku di hadapannya, deretan buku tebal tersusun rapi, teman setianya selama ini. Namun hari ini, melihatnya saja membuatnya merasa semakin jauh dari Lala. Ia ingin berada di tempat yang sama dengan gadis itu, melakukan hal yang sama, agar Lala melihatnya bukan sekadar anak yang suka membaca, melainkan seseorang yang mampu berdiri di sampingnya.
“Kalau Lala menyukai papan seluncur,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri, “maka aku akan belajar papan seluncur.”
Keesokan harinya, tanpa memberi tahu siapa pun, Endra pergi ke toko perlengkapan olahraga di pusat kota. Ia berdiri di depan tumpukan papan seluncur, bingung memilih mana yang tepat, namun akhirnya ia memilih satu yang terlihat kokoh, dengan gambar sederhana namun menarik di permukaannya. Ia membelinya dengan uang tabungannya sendiri, lalu pulang dengan membawa papan itu erat di pelukannya, seakan membawa harapan yang baru.
Hari-hari berikutnya, halaman rumahnya menjadi tempat latihannya. Ia membuka video panduan di internet, menonton dengan saksama setiap gerakan yang ditampilkan, lalu mencoba menirukannya. Namun kenyataan tidak semudah di layar. Setiap kali ia melangkah naik ke atas papan itu, kakinya terasa gemetar dan kaku. Ia tidak mampu menjaga keseimbangan. Ia jatuh ke rumput, jatuh ke tanah, tergelincir ke samping, berkali-kali. Lutut dan sikutnya memar, tangannya kasar terkena tanah, namun ia tidak menyerah. Setiap kali jatuh, ia akan bangkit kembali, mengusap debu di bajunya, dan mencoba lagi.
“Kau tidak boleh menyerah, Endra,” bisiknya pada diri sendiri saat rasa sakit mulai terasa tak tertahankan, “kalau Lala bisa, kenapa aku tidak?”
Minggu berlalu. Endra masih belum mahir, namun ia sudah tidak jatuh sesering sebelumnya. Ia belajar berdiri sedikit lebih lama, meluncur sejauh beberapa langkah tanpa terjatuh, dan memahami cara mengarahkan papan itu ke kiri dan ke kanan. Ia tahu ia masih jauh dari kata jago, namun ia ingin Lala melihat usahanya. Ia ingin menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh bermaksud.
Suatu sore, ia berangkat ke Lapangan Haruna dengan papan seluncur barunya di tangan, jantungnya berdebar kencang namun langkahnya mantap. Saat ia tiba, Lala sedang beristirahat sejenak di bawah pohon, menyeka keringat dengan ujung bajunya. Ketika melihat Endra mendekat dengan papan seluncur di tangan, ia terkejut hingga hampir melupakan napasnya.
“Endra?” serunya, matanya terbelalak, “Apa yang kau bawa itu?”
Endra tersenyum sedikit, meski jantungnya hampir meledak di dada. Ia mengangkat papan itu sedikit lebih tinggi agar terlihat jelas.
“Ini papan seluncurku, Lala,” jawabnya, “aku membelinya. Aku sudah berlatih. Aku tahu aku belum pandai, tapi aku sungguh-sungguh ingin belajar. Bolehkah kau mengajariku?”
Lala menatapnya lama, melihat keringat di dahi pemuda itu, melihat papan yang dipegangnya, dan melihat ketulusan yang sama di matanya seperti saat pertama kali ia menyatakan perasaannya. Ia menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis.
“Kau sungguh-sungguh, ya?” tanyanya.
“Sungguh,” jawab Endra tegas, “aku ingin berada di sini, di tempatmu, melakukan apa yang kau lakukan.”
Lala mengangguk pelan. “Baiklah. Tapi jangan mengeluh kalau jatuh terus, ya?”
“Aku tidak akan mengeluh,” janji Endra.
Mulai hari itu, Lala menjadi guru Endra. Setiap sore setelah pulang sekolah, mereka bertemu di Lapangan Haruna. Lala mengajari cara berdiri yang benar, cara mengatur keseimbangan, cara meluncur dengan tenang, dan cara berhenti tanpa terjatuh. Ia melakukannya dengan sabar, menuntun tangan Endra ketika pemuda itu masih ragu-ragu, memberi semangat setiap kali Endra berhasil meluncur sedikit lebih jauh dari sebelumnya.
Namun belajar papan seluncur ternyata tidak mudah bagi Endra. Setiap kali ia mencoba melakukan gerakan yang sedikit lebih sulit, ia pasti terjatuh. Kadang ia jatuh ke samping, kadang ia terhuyung ke depan, dan kadang papan itu meluncur pergi meninggalkannya. Lala selalu ada di sana, membantunya berdiri kembali, mengusap debu di pakaiannya, dan berkata, “Sudah lebih baik dari kemarin, Endra. Ayo coba lagi.”
Namun di samping ketulusan itu, ada kalanya Endra terbawa perasaannya. Suatu sore, saat Lala sedang mencondongkan tubuhnya untuk memperbaiki posisi kaki Endra di atas papan, Endra tiba-tiba tidak menahan diri. Ia mencondongkan wajahnya dan mencium pipi Lala dengan cepat.
Lala langsung melangkah mundur, wajahnya memerah padam, matanya menatap Endra dengan keterkejutan yang bercampur kemarahan.
“Endra!” bentaknya, suaranya terdengar tajam, “Apa yang kau lakukan?!”
Endra tergagap, wajahnya juga memerah, ia merasa malu sekaligus takut. “Maaf... maafkan aku, Lala... aku tidak bermaksud... aku hanya...”
“Kau hanya apa?” potong Lala, napasnya memburu, “Aku mengajarimu karena kau bilang ingin belajar, bukan untuk melakukan hal seperti itu! Kalau kau tidak serius, lebih baik kau berhenti sekarang!”
“Aku serius!” seru Endra, ia maju selangkah dengan wajah yang penuh penyesalan, “Sungguh, Lala, aku serius. Itu... itu hanya karena aku terlalu menyukaimu. Tapi aku tidak akan melakukannya lagi, aku janji. Tolong jangan menyuruhku pergi.”
Lala menatapnya lama, melihat ketakutan sekaligus keteguhan di wajah pemuda itu. Ia menghela napas panjang, lalu berkata dengan nada yang lebih tenang namun tegas, “Baiklah. Tapi ingat, kita di sini untuk berlatih. Kalau kau benar-benar menyukai aku, buktikan dengan berusaha sungguh-sungguh, bukan dengan perbuatan yang tidak pantas itu. Mengerti?”
“Mengerti,” jawab Endra tulus, “aku janji, Lala. Mulai sekarang aku akan serius sepenuhnya.”
Dan Endra benar-benar menepati janjinya. Ia kembali berlatih dengan sungguh-sungguh. Ia tidak lagi mencari kesempatan untuk mendekat dengan cara yang tidak pantas. Ia fokus pada gerakan kakinya, pada keseimbangannya, pada setiap arahan yang diberikan Lala. Ia jatuh berkali-kali, namun ia langsung bangkit sendiri tanpa menunggu ditolong. Ia berlatih lebih lama dari sebelumnya, bahkan kadang tetap berlatih meski Lala sudah pulang lebih dulu.
Hari berganti hari. Hingga hari kelima tiba. Sore itu, langit terlihat agak mendung, awan kelabu bergerak perlahan di angkasa, namun tidak turun hujan. Lala dan Endra sedang berlatih seperti biasa. Endra sudah jauh lebih baik dari hari pertama. Ia mampu meluncur dengan tenang, berbelok dengan lancar, dan kadang berhasil melompat sedikit dari tanah sebelum mendarat kembali dengan goyah namun tetap tegak.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, suara derap langkah yang keras dan tertawa mengejek terdengar dari arah pintu masuk lapangan. Sekelompok pemuda berjalan mendekat, pakaian mereka berantakan, rambut mereka kusut, dan wajah mereka tampak angkuh dan menakutkan. Mereka adalah geng Tornado, kelompok yang sudah lama dikenal sering mengganggu anak-anak yang bermain di Lapangan Haruna. Mereka tidak menyukai siapa pun yang bermain di sana selain mereka sendiri.
Pemuda yang berjalan paling depan adalah Resel, pemimpin mereka. Ia bertubuh besar, wajahnya penuh bekas luka, dan senyumnya selalu terlihat menyeringai sinis. Matanya menyapu seluruh lapangan sebelum akhirnya tertuju pada Endra yang sedang berusaha menyeimbangkan diri di atas papan seluncurnya.
“Hei, lihat siapa yang ada di sini,” ucap Resel dengan suara yang keras dan kasar, “bocah kutu buku yang berlagak jadi jagoan!”
Teman-temannya tertawa keras. Endra berhenti meluncur, turun dari papan seluncurnya, dan berdiri diam, menatap mereka dengan perasaan takut yang mulai merayap di hatinya. Lala segera melangkah ke samping Endra, berusaha melindunginya meski ia sendiri juga merasa cemas.
“Diamlah, Resel!” seru Lala, suaranya bergetar namun ia berusaha tetap tegas, “Kami tidak mengganggu kalian. Pergilah!”
Resel tertawa lebih keras lagi. Ia melangkah mendekat, lalu menatap Lala sebentar sebelum menoleh ke arah Endra. “Siapa yang bicara padamu, gadis kecil? Aku sedang bicara sama anak ini.”
Tiba-tiba, Resel melangkah cepat, mencengkeram kerah baju Endra dengan kasar, lalu menariknya hingga pemuda itu terhuyung ke depan.
“Kau pikir kau bisa bermain di sini seperti orang hebat?” desis Resel tepat di depan wajah Endra, “Ajarannya belum selesai, kan? Biar kami yang mengajarimu pelajaran yang sebenarnya.”
“Lepaskan dia!” teriak Lala sambil mencoba menarik lengan Resel, namun tangan gadis itu terlalu lemah dibandingkan kekuatan pemuda itu. Resel mendorongnya pelan hingga Lala mundur beberapa langkah dan jatuh terduduk di atas rumput.
Resel dan teman-temannya tertawa mengejek. Mereka menyeret Endra pergi, menjauh dari lapangan itu, menjauh dari Lala. Endra menoleh ke belakang, menatap Lala dengan tatapan yang memohon, namun mulutnya tertutup tangan salah satu anggota geng itu sehingga ia tidak bisa berteriak meminta tolong. Lala berdiri dan berusaha mengejar, namun kakinya terasa berat, ia takut, ia bingung, dan akhirnya ia hanya bisa berdiri diam, membiarkan mereka membawa Endra pergi. Air mata mulai menetes di pipinya, namun ia tidak mampu melangkah lebih jauh.
Saat mereka menghilang di balik pepohonan, seseorang berjalan mendekat dari arah yang berlawanan. Sosok itu mengenakan pakaian yang nyaman namun kokoh, rambutnya terikat rapi ke belakang, dan papan seluncur yang terlihat sudah sering dipakai terselip di bawah lengannya. Wajahnya tegas, matanya tajam, dan tatapannya terlihat kecewa sekali. Itu adalah Chintia, kakak kandung Endra sekaligus pemimpin kelompok papan seluncur yang paling dihormati di Lapangan Haruna.
Chintia berhenti tepat di depan Lala. Ia menatap gadis itu dengan pandangan yang tidak senang.
“Kau membiarkan mereka membawanya pergi?” tanya Chintia, suaranya rendah namun penuh ketegasan, “Kau hanya berdiri diam?”
Lala mengangguk pelan, air matanya semakin deras. “Aku... aku takut, Chintia... aku tidak tahu harus berbuat apa...”
“Takut?” potong Chintia, “Endra adalah adikku. Dia datang ke sini karena ingin dekat denganmu. Dan kau membiarkannya diseret begitu saja tanpa berusaha membantunya?”
“Aku tahu... aku tahu aku pengecut...” isak Lala, ia meremas tangannya sendiri erat-erat, “aku baru saja mengenalnya, Chintia... sungguh... tapi di lubuk hatiku yang paling dalam, aku menyadari sesuatu yang membuatku sakit sekali... aku mencintainya. Aku sungguh mencintai Endra. Tapi aku takut... aku takut kalau aku ikut disakiti, tidak ada yang bisa menolongnya juga...”
Chintia terdiam melihat ketulusan di wajah Lala. Kata-kata itu jujur, meski terlambat diucapkan. Keheningan menyelimuti mereka sejenak. Lala mengusap air matanya, lalu mengepalkan tangannya erat-erat. Sesuatu berubah di matanya. Rasa takut yang tadi melumpuhkannya perlahan berganti menjadi tekad yang membara.
“Tidak,” ucap Lala pelan namun tegas, “aku tidak akan membiarkannya begitu saja. Dia datang untukku. Dia berjuang untukku. Sekarang giliranku.”
Lala berbalik, melangkah cepat ke tempat papan seluncurnya tergeletak. Ia mengangkatnya, melompat naik ke atasnya, lalu meluncur secepat mungkin ke arah jalan yang sama di mana Endra dibawa pergi.
“Lala!” panggil Chintia, terkejut melihat perubahan itu, “Tunggu, aku ikut!”
Namun Lala sudah pergi. Angin menerpa wajahnya, mengeringkan sisa air mata di pipinya. Ia tidak tahu kekuatan dari mana yang tiba-tiba mengalir di tubuhnya, namun ia tahu ia tidak akan berhenti sebelum menemukan Endra. Ia meluncur dengan kecepatan penuh, membelok ke kanan dan ke kiri dengan lincah, mengikuti jejak langkah kaki yang tertinggal di tanah yang agak lembap.
Tak lama kemudian, ia melihat mereka. Resel dan anggota gengnya sedang mengerumuni Endra di sebuah tempat yang agak tersembunyi di balik rimbunan semak belukar. Endra tergeletak di tanah, wajahnya penuh luka, pakaiannya robek, dan ia tidak bergerak. Ia pingsan.
“Hei, kalian!” bentak Lala, suaranya menggelegar, membuat semua kepala menoleh ke arahnya.
Resel menyeringai. “Bocah perempuan ini datang sendirian? Mau ikut dipeluk juga?”
Lala tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meluncur cepat ke arah mereka, melompat dari papan seluncurnya tepat saat tiba di hadapan salah satu anggota geng itu, dan menendang pemuda itu hingga terjatuh. Ia tidak tahu dari mana ia mendapatkan keberanian itu, namun ia hanya berpikir satu hal: menyelamatkan Endra.
Satu per satu ia hadapi. Ia tidak bertarung dengan keahlian yang luar biasa, namun ia bertarung dengan tekad yang tak tergoyahkan. Ia menendang, mendorong, dan menghindar. Ia menggunakan segala cara agar mereka tidak mendekati Endra yang terbaring tak berdaya. Anggota geng itu terkejut melihat ketegasan gadis yang tadi hanya berdiri diam. Mereka tidak menyangka ia akan berani melawan. Satu per satu mereka mundur, kewalahan oleh kegigihan Lala.
Resel berusaha maju sendiri, namun saat itu Chintia tiba di tempat itu, diikuti oleh beberapa anak papan seluncur lainnya yang melihat keributan itu. Melihat jumlah mereka bertambah, Resel dan sisa anggota gengnya akhirnya menyadari bahwa mereka tidak akan menang. Mereka memaki kesal, lalu berbalik dan pergi, meninggalkan tempat itu dengan kekalahan.
Lala tidak mengejar mereka. Ia segera berlutut di samping Endra, memegang tangan pemuda itu yang terasa hangat namun lemas.
“Endra... Endra, bangunlah...” panggilnya pelan sambil menepuk-nepuk pipi pemuda itu dengan lembut, “Aku di sini... aku membawamu pergi...”
Dengan bantuan Chintia, Lala mengangkat tubuh Endra yang berat. Mereka membawanya ke rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan, Lala tidak melepaskan tangan Endra. Ia menggenggamnya erat, berdoa agar pemuda itu tidak meninggalkannya.
Di ruang perawatan rumah sakit, Endra berbaring diam di atas tempat tidur. Lala duduk di kursi di sampingnya, tidak beranjak sedikit pun. Ia memegang tangan Endra terus-menerus, menatap wajah pemuda itu yang masih tertutup luka dan perban. Rasa bersalah menghantui hatinya. Seandainya ia lebih berani tadi. Seandainya ia tidak membiarkan mereka pergi begitu saja. Namun sekarang, ia tidak akan pergi ke mana pun.
Beberapa jam berlalu perlahan. Akhirnya, jari-jari Endra bergerak sedikit. Kelopak matanya berkedip pelan, lalu terbuka perlahan. Ia menatap sekeliling ruangan yang putih dan bersih, lalu pandangannya tertuju pada wajah Lala yang tampak cemas sekaligus lega.
“Lala...” panggilnya pelan, suaranya terdengar lemah.
Lala mengangguk cepat, air mata kembali menetes namun kali ini karena rasa lega. “Aku di sini, Endra. Aku di sini.”
Endra tersenyum tipis, meski wajahnya terasa sakit. “Terima kasih...” ucapnya pelan, “terima kasih sudah menyelamatkanku.”
Lala mengusap punggung tangan Endra dengan lembut. Ia menatap mata pemuda itu dalam-dalam.
“Maafkan aku,” ucapnya dengan suara yang bergetar, “maafkan aku yang pengecut di awal. Maafkan aku yang membiarkan mereka membawamu pergi. Aku takut... tapi aku sadar, rasa takut itu tidak ada gunanya kalau aku kehilangan seseorang yang berharga seperti dirimu.” Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan tulus, “Endra... aku ingin menjadi kekasihmu. Bukan karena rasa iba, bukan karena kewajiban. Tapi karena aku sungguh mencintaimu. Aku baru menyadarinya sepenuhnya saat kau hilang dari pandanganku. Maukah kau menerima aku sebagai kekasihmu?”
Endra menatapnya, matanya berbinar bahagia meski tubuhnya masih lemah. Ia mengangguk pelan, lalu meremas tangan Lala dengan lembut.
“Aku menerimamu, Lala,” jawabnya tulus, “aku sudah mencintaimu sejak lama. Dan tidak ada apa pun yang bisa mengubah itu.”
Lala tersenyum lebar, air matanya jatuh namun kali ini penuh kebahagiaan. Ia mencondongkan tubuhnya dan mencium kening Endra dengan lembut.
“Kita akan sembuhkanmu,” ucapnya pelan, “lalu kita berlatih bersama lagi. Kali ini tidak ada yang akan mengganggu kita.”
Endra tersenyum, memejamkan matanya kembali dengan tenang. Di sampingnya, Lala tetap duduk diam, memegang tangan kekasihnya, berjanji dalam hati bahwa ia tidak akan pernah lagi membiarkan siapa pun menyakiti orang yang ia cintai.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!