Asap tebal masih mengepul ke langit malam Kota Trebut, berwarna kelabu pekat yang bercampur dengan nyala api yang menjulang ke angkasa. Suara sirine pemadam kebakaran menderu memecah keheningan, disertai suara teriakan, benturan kayu yang runtuh, dan gemuruh api yang melahap dinding-dinding Rumah Sakit Tenyong. Di antara kerumunan orang yang berdiri menonton dari jarak aman, Jovanka berdiri memeluk tubuhnya yang gemetar hebat, mengenakan gaun dokter yang sudah kotor dan hangus di ujung lengan. Wajahnya pucat, penuh noda jelaga, matanya memandang tak percaya ke arah bangunan yang baru saja ia tinggalkan, tempat di mana ia bekerja, tempat di mana ia menolong orang, kini menjadi lautan api yang tak terkendali.
“Terima kasih... terima kasih sudah menyelamatkanku,” ucapnya pelan kepada seorang petugas pemadam kebakaran yang baru saja membantunya turun dari lantai dua, suaranya masih bergetar karena terkejut, “ada banyak pasien di dalam... semoga mereka juga selamat.”
Pria itu mengangguk pelan sambil menepuk bahunya dengan lembut. “Kau sudah aman, Dokter. Kami berusaha sebaik mungkin. Pergilah ke tempat yang aman, jangan tinggal di sini.”
Jovanka mengangguk, berniat berjalan menuju tempat berkumpulnya para pengungsi. Namun saat ia berbalik, bayangan gelap tiba-tiba menyelimutinya. Sebelum ia sempat berteriak, dua tangan kuat merengkuh lengannya dari kedua sisi, menekannya begitu erat hingga napasnya tercekat. Mulutnya ditutup dengan kain tebal yang berbau menyengat, dan ia diseret paksa menjauh dari keramaian, menjauh dari cahaya api, menjauh dari keselamatan. Ia meronta sekuat tenaga, menendang dan mencakar, namun sosok-sosok itu memakai pakaian tebal dan wajah mereka tertutup topeng kain hitam yang menutupi seluruh wajah. Tidak ada mata yang terlihat, tidak ada ciri yang bisa dikenali.
“Diamlah,” bisik salah satu dari mereka dengan suara yang aneh, seakan digesekkan dari benda kasar, “Tuan Lamber sudah menunggumu.”
Nama itu membuat darah Jovanka membeku. Seluruh penduduk Kota Trebut tahu siapa Lamber. Ia adalah nama yang ditakuti, sosok yang selalu dicari namun tak pernah tertangkap, seorang peneliti gila yang dikejar polisi selama bertahun-tahun karena eksperimen-eksperimennya yang dilarang dan mengerikan. Konon ia tidak mematuhi hukum manusia maupun hukum alam, dan perusahaan misterius bernama Primal Chaos yang ia pimpin tersebar di sudut-sudut gelap kota, melakukan hal-hal yang tidak pantas disebut di siang hari.
Jovanka ditarik masuk ke dalam sebuah kendaraan gelap yang terparkir di jalan sepi. Pintu tertutup rapat, memisahkannya dari sisa cahaya malam yang masih ada. Ia dibawa pergi, melintasi jalan-jalan yang ia kenal namun kini terasa asing dan menakutkan, menuju bagian kota yang jarang dikunjungi siapa pun: kawasan pabrik-pabrik tua yang ditinggalkan, tempat di mana bayangan selalu lebih panjang dari cahayanya.
Kendaraan berhenti di depan sebuah bangunan besar yang dindingnya tertutup lumut dan retak di banyak tempat. Di sana-sini terlihat tanda samar huruf-huruf yang sudah pudar: PRIMAL CHAOS. Jovanka diseret masuk melewati lorong yang gelap dan berbau apek, menuruni tangga batu yang dingin dan licin, hingga akhirnya tiba di sebuah ruangan luas yang diterangi cahaya lampu neon berkedip-kedip yang memancarkan cahaya kebiruan yang tidak wajar. Di tengah ruangan itu berdiri sebuah tabung kaca raksasa yang tingginya setinggi dua lantai, diisi cairan keruh yang berkilauan aneh, dan di sekelilingnya terpasang kabel-kabel tebal yang menyala-nyala.
Di depan tabung itu berdiri seorang laki-laki. Tubuhnya tinggi dan kurus, mengenakan jas laboratorium yang sudah kusam dan bernoda cairan aneh. Rambutnya hitam kusut, dan saat ia berbalik, matanya yang tajam menatap Jovanka lekat-lekat, seakan menilai benda, bukan manusia. Itu adalah Lamber.
“Jadi inilah dokter yang dikatakan sangat teliti dengan tangannya,” ucap Lamber, suaranya rendah dan bergetar, terdengar seperti suara banyak orang yang berbicara sekaligus, “sangat sempurna.”
Jovanka mundur perlahan, kakinya terasa lemas namun ia berusaha tetap berdiri. “Siapa kau? Mengapa kau membawaku ke sini? Rumah sakit itu terbakar... aku baru saja selamat...”
“Kebakaran itu memang direncanakan agar kami bisa menjemputmu tanpa dicurigai,” jawab Lamber santai, seakan hal itu adalah hal yang paling wajar di dunia, “kami membutuhkan seseorang dengan keahlianmu, Jovanka. Seseorang yang paham anatomi, yang tahu cara memotong dan menjahit, yang terbiasa melihat darah tanpa pingsan.”
“Aku tidak mau ikut eksperimenmu!” seru Jovanka, suaranya pecah namun ia berusaha tegas, “Lepaskan aku! Polisi sedang mencarimu, Lamber!”
Lamber tertawa, suara tawanya melengking dan menggema di seluruh ruangan, membuat bulu kuduk berdiri. “Polisi? Mereka tidak akan pernah menemukan tempat ini. Dan mereka tidak akan pernah mengerti apa yang sebenarnya terjadi di kota mereka yang kecil ini.”
Ia memberi isyarat kepada anak buahnya. Dua sosok bertopeng itu segera merengkuh lengan Jovanka lagi, menariknya mendekat ke arah tabung raksasa itu. Jovanka meronta sekuat tenaganya, menangis histeris, memohon, memelas, berjanji tidak akan memberi tahu siapa pun jika ia dilepaskan, namun Lamber hanya menatapnya dengan senyum yang tidak ramah.
“Tolong... kumohon... lepaskan aku... aku punya orang tua yang menungguku...” isak Jovanka, air mata mengalir deras di pipinya, “aku tidak ingin menjadi bahan uji coba... tolong...”
“Kau bukan sekadar bahan uji coba,” ucap Lamber dingin, “kau adalah kunci. Kau akan menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirimu.”
Pintu samping tabung terbuka dengan bunyi desisan yang keras. Jovanka didorong masuk ke dalamnya. Kakinya terhuyung, dan sebelum ia sempat melompat keluar kembali, pintu itu tertutup rapat. Ia mengetuk-ngetuk dinding kaca yang tebal itu, berteriak meminta tolong, namun suara hanya bergema di dalam, teredam oleh lapisan kaca yang tebal. Cairan di bagian bawah tabung mulai naik perlahan, mengisi ruang tempat ia berdiri, dingin dan lengket di kulit.
Lamber berdiri di luar, menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca. Jovanka mundur ke sisi lain tabung, dan di sana ia melihat sesuatu yang membuat napasnya tertahan. Di sudut yang agak gelap, ada celah kecil di sambungan kaca yang tidak tertutup sempurna. Melalui celah itu, ia bisa melihat sisi lain ruangan dengan lebih jelas, sisi yang tidak terlihat dari tempatnya berdiri tadi.
Lamber masih berdiri di depan tabung, namun tiba-tiba ia mengangkat tangannya ke kerah jasnya. Ia menarik ujung kerah itu, dan seketika itu juga, kulit wajahnya yang tampak manusia tadi terangkat seperti topeng. Jovanka menahan napas, matanya membelalak ngeri. Di balik kulit manusia itu tidak ada daging dan darah seperti manusia biasa. Tersembunyi di sana adalah kulit berwarna hijau pucat yang berkilauan, sisik-sisik halus yang memantulkan cahaya, dan mata yang bukan berbentuk bulat melainkan seperti celah tajam yang menyala kemerahan.
Lamber bukan manusia. Dan saat ia menoleh ke arah anak buahnya yang bertopeng, Jovanka melihat mereka juga melepaskan topeng-topeng mereka. Wajah mereka sama persis: makhluk-makhluk dari tempat lain, makhluk yang menyamar menjadi manusia, hidup di antara manusia, dan tidak ada yang menyadarinya.
“Kau pikir kami ini penjahat biasa?” gumam Lamber sambil tersenyum, senyum yang kini terlihat mengerikan dengan taring-taring kecil yang menonjol, “Kota Trebut hanyalah permulaan bagi kami. Dan kau, Jovanka, akan menjadi jembatan kami.”
Jantung Jovanka berdegup kencang hingga terasa sakit. Ia bukan sekadar ditawan oleh penjahat. Ia dikurung oleh makhluk asing yang menyamar sebagai manusia, dan pemimpin mereka yang paling dicari ternyata adalah pemimpin mereka. Ia menelan ludah yang terasa pahit. Ia tidak bisa menyerah. Ia tidak boleh menyerah.
Tangan Jovanka meraba saku gaunnya yang masih terselip di balik pakaiannya. Di sana, tersimpan alat-alat kecil yang ia bawa karena kebiasaan, seperangkat jarum medis yang panjang dan tajam, serta gulungan benang bedah yang kuat dan lentik. Ia adalah dokter yang terbiasa menjahit luka, dan ia memiliki keahlian yang jarang dimiliki orang lain: ketelitian tangan yang luar biasa, kecepatan yang presisi, dan ketenangan di saat-saat paling genting.
Ia mencengkeram jarum itu erat-erat. Ia tidak memiliki senjata. Ia tidak memiliki kekuatan fisik yang besar. Namun ia memiliki ketangkasan, dan ia memiliki benang yang kuat.
Salah satu makhluk yang berdiri paling dekat ke tabung menyadari ada yang berubah. Ia melihat Jovanka menggerakkan tangan di dalam kegelapan tabung, menyadari bahwa tawanan itu tidak pasif seperti yang mereka kira. Makhluk itu melangkah mendekat, menempelkan wajahnya ke kaca, dan mengeluarkan suara mendengus kasar.
“Kau mau apa?” tanyanya, suaranya berdengung aneh.
Jovanka tidak menjawab. Ia mundur selangkah, lalu mengerahkan seluruh tenaganya, berlari ke arah dinding kaca itu dan menendangnya sekuat tenaga. Makhluk itu terkejut, mundur selangkah, dan saat ia melangkah kembali untuk melihat, Jovanka sudah melompat tinggi, memukul sambungan kaca yang retak itu dengan kedua tangannya yang terkait erat.
Retakan itu melebar. Bunyi kaca yang pecah memecah keheningan. Makhluk itu berteriak dan mencoba menahan, namun Jovanka melompat keluar dari celah yang terbuka itu, tepat ke arah dada makhluk tersebut. Dengan ujung jarum medis yang tajam, ia menyayat lengan makhluk itu hingga makhluk itu meraung kesakitan dan mundur terhuyung-huyung, melepaskan pegangan pada pintu tabung yang akhirnya terbuka sepenuhnya.
Jovanka jatuh ke lantai yang keras, namun ia segera bangkit. Ia tidak lari. Ia tahu lari hanya akan membuat mereka mengejarnya. Ia berdiri tegak, jarum di tangan kanannya, ujung benang yang panjang di tangan kirinya.
“Tangkap dia!” bentak Lamber, suaranya bergema marah.
Tiga makhluk melesat mendekat serentak. Mereka bergerak cepat, lebih cepat dari manusia biasa, tangan mereka mencakar ke arah wajah Jovanka. Jovanka menghindar ke samping, membiarkan salah satu melesat lewat, lalu dengan gerakan kilat ia melontarkan jarum yang terikat benang itu tepat ke bahu makhluk yang kedua. Jarum itu menembus kulit hijau yang tebal. Makhluk itu meraung, namun Jovanka tidak berhenti. Ia menarik benang itu sekuat tenaga, memutar tubuhnya, dan menusukkan jarum itu ke samping perut makhluk yang ketiga yang baru saja datang menyerang.
Darah berwarna hijau cerah menyembur keluar, membasahi lantai yang dingin. Makhluk-makhluk itu bingung, tidak mengerti mengapa serangan kecil itu terasa begitu menyakitkan dan melemahkan. Jovanka tidak memberi mereka waktu untuk berpikir. Ia terus bergerak, menari di antara mereka, membiarkan benang itu melilit satu per satu. Setiap kali ada yang mendekat, ia akan menusuk, menarik, dan mengaitkan ujung benang itu ke tubuh makhluk berikutnya.
Mereka saling tersambung. Jika satu bergerak maju, yang lain tertahan. Jika satu mencakar, yang lain tertarik ke samping. Darah hijau mengalir di sepanjang benang, mengikat mereka bukan hanya dengan luka, melainkan dengan rasa sakit yang menyatukan mereka. Mereka meraung, meronta, namun semakin mereka bergerak, semakin dalam jarum-jarum itu menancap. Satu per satu mereka jatuh, terjerat dalam benang yang tampak tipis namun ternyata sekuat kawat.
Hingga akhirnya hanya tersisa satu. Lamber.
Pemimpin itu berdiri diam, tidak bergerak, menatap semua anak buahnya yang tergeletak tak berdaya. Wajahnya yang tersembunyi di balik kulit manusia yang sudah robek sebagian tampak penuh amarah yang murni. Ia melangkah maju, dan setiap langkahnya membuat lantai bergetar. Ia jauh lebih besar dan lebih kuat dari yang lain.
“Kau pikir benda kecil itu bisa menghentikanku?” desisnya, suaranya mendentum seperti logam yang dipukul, “Aku telah hidup ratusan tahun di dunia ini. Aku telah melihat kerajaan-kerajaan runtuh. Kau hanyalah serangga di hadapanku!”
Jovanka mundur perlahan, memegang sisa benang yang masih tergenggam di tangannya. Ia tahu ia tidak bisa menang dengan kekuatan. Ia harus menang dengan kelicikan dan ketenangan.
“Aku tidak ingin menghentikanmu, Lamber,” ucapnya, suaranya tidak bergetar meski jantungnya hampir meledak, “aku hanya ingin pergi. Biarkan aku pergi, dan aku tidak akan memberi tahu siapa pun tentang kalian.”
Lamber tertawa keras. “Kau sudah melihat wajahku. Kau tidak akan pergi ke mana pun.”
Ia melompat ke arah Jovanka. Gerakannya begitu cepat hingga anginnya menerpa wajah gadis itu. Jovanka tidak mencoba menangkis. Ia meluncur ke bawah, merunduk tepat di saat tangan besar Lamber menyambar tempat ia berdiri sedetik sebelumnya. Lantai batu retak dihantam pukulan itu.
Jovanka bangkit kembali, berlari mengelilingi meja laboratorium yang panjang. Lamber mengejar, menghancurkan apa saja yang menghalanginya. Tabung-tabung kaca pecah, cairan-cairan aneh tumpah, mengeluarkan asap yang berbau menyengat.
“Berhenti lari!” bentak Lamber, ia melompat ke atas meja dan meluncur turun tepat di depan Jovanka, memotong jalannya.
Jovanka berhenti. Ia terpojok di antara dinding dan tubuh raksasa Lamber. Tidak ada jalan keluar.
“Kau terpojok,” ucap Lamber sambil tersenyum lebar, taringnya menonjol panjang, “akhirnya.”
Jovanka menatapnya lurus ke mata. Tangan kirinya perlahan melonggarkan gulungan benang yang tersisa. “Aku tidak terpojok. Kau yang terjebak oleh kesombonganmu sendiri.”
Lamber mengerutkan kening, tidak mengerti. Dan saat itulah Jovanka bergerak. Ia tidak lari. Ia melompat ke arah Lamber sendiri. Lamber terkejut, mengangkat tangan untuk menangkapnya, namun Jovanka menunduk di detik terakhir, meluncur tepat di bawah lengan pemimpin itu, dan sambil melintas ia mengayunkan jarum panjangnya ke arah sisi kaki Lamber.
Benang yang panjang itu melilit kakinya. Lamber tersandung, keseimbangannya terguncang. Ia meraung dan berusaha berdiri tegak kembali, namun Jovanka tidak berhenti. Ia menarik ujung benang itu, melilitkannya ke pipa besi yang menonjol dari dinding, menarik sekuat tenaga, lalu melilitkan ke kaki Lamber yang lain.
Lamber jatuh berlutut, berat tubuhnya membuat benang itu menegang kencang. Ia berusaha merobek benang itu, namun benang bedah yang terbuat dari bahan sintetis yang kuat tidak putus. Ia meraung marah, mengamuk, mengayunkan tangan ke segala arah, namun Jovanka sudah mundur ke pintu utama ruangan itu.
“Kau tidak akan bisa pergi!” teriak Lamber, suaranya pecah karena amarah, “Aku akan mencarimu sampai ke ujung dunia!”
“Kau tidak akan bisa ke mana-mana,” jawab Jovanka tenang, “dan rahasiamu akan tetap rahasia, selama kalian tidak mengganggu siapa pun lagi.”
Jovanka melangkah keluar dari ruangan itu, menutup pintu berat itu di belakangnya, membiarkan Lamber terkurung bersama sisa-sisa kekuatannya yang terikat. Ia berlari menaiki tangga batu yang gelap, keluar ke udara malam yang segar, melintasi gerbang yang terbuka, dan terus berlari hingga bangunan tua itu hilang dari pandangannya. Ia tidak menoleh ke belakang. Ia terus berlari, menuju cahaya lampu kota, menuju tempat di mana orang-orang hidup tanpa rasa takut.
Satu bulan kemudian.
Suara televisi terdengar samar dari ruang tamu. Berita sedang disiarkan, dan pembawa berita menyampaikan dengan nada serius:
“Kepolisian Kota Trebut mengumumkan penemuan sebuah bangunan rahasia di kawasan pabrik tua yang telah lama ditinggalkan. Di dalamnya ditemukan puluhan bangkai makhluk yang bentuknya tidak diketahui oleh para ahli biologi. Identitas pembunuhnya belum diketahui, dan tidak ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas kejadian ini. Sementara itu, penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap apa sebenarnya yang terjadi di lokasi tersebut selama ini...”
Di sudut ruangan, Jovanka duduk diam, memandang layar televisi itu dengan tatapan tenang. Tangan kanannya bergerak perlahan, melipat selembar kain kasa yang bersih dan menyimpannya ke dalam tas medis. Ia tidak berbicara kepada siapa pun tentang apa yang terjadi malam itu. Ia tidak menceritakan siapa Lamber sebenarnya, atau makhluk-makhluk apa yang menyamar di antara mereka. Ia hanya kembali bekerja, menyelamatkan nyawa, dan melindungi orang-orang yang tidak tahu bahwa mereka pernah berada dalam bahaya yang mengerikan.
Ia tersenyum tipis, menyadari bahwa keberanian tidak selalu membutuhkan pedang atau senjata yang hebat. Kadang keberanian hanyalah sepasang tangan yang terampil, seutas benang yang kuat, dan tekad yang tak tergoyahkan untuk melindungi diri serta orang lain dari kegelapan yang tak terlihat.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!