Bab 3

1 dibaca

A

Begitulah keseharian pemuda bernama Li Wenhao itu. Dia memang dimasukkan ke dalam akademi Bambu Kuning oleh ayahnya, Li Guangde. Berharap nantinya akan jadi penerus keluarga Li yang baik dan tetap mempertahankan citra mereka sebagai seorang pengusaha. Tapi tingkahnya memang terlalu konyol. Bahkan banyak sikapnya yang dianggap menentang aturan akademi.


“Li Wenhao, kau tidak mendengar penjelasan ku?”


“Euh…uhm…nyam…aku mendengarnya guru.”


“Lalu mengapa mulutmu sibuk mengunyah sedari tadi?”


“Mendengar memakai telinga kan guru, bukan pakai mulut.”


“TAAAK!!”


Ketukan keras tongkat bambu kecil itu mengagetkan yang lain. Mereka sampai berhenti menulis. Sementara Li Wenhao cepat menghabiskan Baozi yang tadi diambilnya di meja makan. Menelannya dengan cepat tapi dia nyaris tersedak. Beruntung Chen Bao bawa air minum di wadah bambu. Jadi dia bisa meminumnya agar tak lagi tenggorokannya terasa mengganjal.


“Beraninya kau makan disaat sedang ada penjelasan kitab.”


“Makan adalah bagian dari kehidupan, Guru Zhao.”


“Diam! Sekarang mana catatanmu?”


Baru pemuda itu keluarkan catatan miliknya tapi hanya diletakkan di atas meja saja. Gurunya sudah mulai curiga. Terutama saat dia hendak menyentuhnya. Tapi tangan Li Wenhao langsung memegang erat catatan miliknya.


“Kenapa kau menghalangiku untuk membukanya? Hah!”


“Catatanku tidak ada yang penting untuk dilihat oleh guru.”


Namun tetap saja catatan itu berhasil direbut oleh Guru Zhao. Li Wenhao hanya bisa pasrah saja. Dia sudah tahu setelah ini dirinya akan dihukum lagi. Entah mengepel lantai akademi atau menyalin kitab Lunyu lagi.


“Kau tidak pernah mencatat sama sekali?”


“Aku selalu menghapal apa yang guru sampaikan.”


“Kalau begitu coba sebutkan Kitab Xu Er pasal pertama dan jangan ada yang coba membantunya.”


“Guru sepertinya meremehkanku ya? Tapi baiklah aku akan sebutkan dan itu bagian yang paling mudah.”


“Cepaaat!”


Gaya Li Wenhao memang menyebalkan. Dia bahkan berani duduk dengan posisi kepalanya ditopang oleh satu tangan. Lalu berdehem sebentar sebelum ia bicara.


“Belajar dan senantiasa mengulang apa yang telah dipelajari, bukankah itu menyenangkan?”


Guru Zhao hanya mengangguk saja. Dia sebenarnya paham kalau muridnya yang satu ini cerdas. Cuma sayang sikapnya yang terlalu kurang ajar.


“Tapi sayangnya belajar disini tidak menyenangkan.”


“Apa maksudmu berkata begitu!”


“Nah, ini maksudku tidak menyenangkan. Guru selalu marah-marah. Padahal kita belajar harus dalam keadaan menyenangkan bukan?”


“Li Wenhaoooo!”


“Tapi guru apa yang dikatakannya memang benar tadi. Begitulah bunyi pasal pertama kitab Xu Er.”


Salah satu murid perempuan berkata begitu. Baru diakui oleh murid lainnya termasuk Chen Bao. Suasana kelas pun jadi gaduh. Guru Zhao berusaha mengendalikan kondisi yang ada.


“Iya tapi dia menambahkan dengan kalimat lainnya. Tidak ada kata-kata belajar disini tidak menyenangkan.”


“Itu ungkapan hatiku saja, guru.”


“Mana boleh begitu! Hapalkan yang benar setiap kitab Lunyu tanpa boleh kau beri tambahan. Mengerti?”


“TAAKKK!!”


“Iya, ya, aku mengerti guru.”




Guru Zhao memeriksa tugas setiap murid. Sebenarnya tugas menyalin kitab ini mudah. Tapi bukan hanya sekedar menuliskan ulang saja. Nantinya mereka juga akan ditanya apakah sudah paham dengan yang mereka tuliskan sendiri. Sementara ia minta para pelajar itu belajar kitab lainnya dulu.


“Hm…tulisannya bagus juga!”


Sampailah ia pada tugas milik Li Wenhao. Tulisannya mudah dibaca tidak seperti kelakuannya. Bahkan sangat rapi dan baik. Tidak terdapat kesalahan penulisan karakter. Bahkan sampai akhir semuanya benar. Tapi belum sempat ia menutup catatan itu, ternyata ada tulisan tambahan yang kecil.


[Kesimpulan : Setelah saya membaca bagian kitab ini yang menerangkan bahwa semua manusia memiliki sifat baik, mengapa Guru Zhao selalu terlihat marah ketika mengajar.]


“Braakkk!!”


Semua murid pun terkejut. Gebrakan meja dari sang guru jelas menimbulkan tanda tanya besar. Apalagi kali ini yang akan terjadi.


“Li Wenhaoooo!”


“Hadir, guru!”


“Aku tidak sedang mengabsen. Kau tau apa tugas yang kuberikan?”


“Menyalin kitab Mengzi, guru.”


“Benar, lalu apa maksud tulisanmu ini? Haah!”


Salah satu murid mulai menepuk jidatnya. Dia seperti sudah lelah menghadapi gebrakan dari sikap Li Wenhao. Termasuk gebrakan meja gurunya. Tapi mau dilawan pun sulit. Dari segi keluarga ia sangat terpandang. Bahkan dari segi hafalan kitab ia juga lebih menguasai.


“Itu kata hatiku, guru.”


“Untuk apa kau menulis kata hatimu disini. Aku tidak memintanya!”


“Guru sepertinya ada yang terlewat lagi, coba baca ulang.”


Anehnya Guru Zhao juga menuruti. Baru sadar jika ada tulisan konyol lainnya yang dibubuhkan oleh Li Wenhao disana.


[Tambahan : Saya telah memeriksa kembali seluruh tulisan diatas. Tidak ditemukan kesalahan.]


Tanpa ragu lagi guru itu langsung meremas kertas tugas milik Li Wenhao. Lalu melemparnya tepat ke arah kepala muridnya. Sementara yang dilempari malah santai saja. Bahkan tidak menghindar sama sekali.


“Kauuu…salin lagi kitab Mengzi dengan benar dan jangan ada tambahan apapun. Ingat ya JANGAN ADA TAMBAHAN TULISAN APAPUN!”


“Guru, tarik napas dulu yang panjang.”


“Kau juga jangan mengajariku!”


Sudah begitu kesalnya Guru Zhao menghadapi muridnya yang satu ini sampai nafasnya nyaris habis. Sebenarnya murid tadi tak ada bermaksud mengejeknya. Tapi karena terlanjur marah jadilah ia kena semprot juga.



Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk