Sore ini begitu tenang dengan angin yang semilir berhembus. Memainkan melodi pada lonceng angin terbuat dari bambu. Belum aroma harum teh yang baru saja diseduh lalu dituangkan pada masing-masing cawan. Ketua Akademi Bambu Kuning menyeruputnya sedikit sambil menikmatinya. Aroma teh ini sudah terdapat campuran bahan lainnya sehingga berbeda.
“Teh dari selatan memang berbeda ya, Guru Zhao.”
“Aku baru kali ini mencobanya, Tuan Gu.”
“Ah, ya bagaimana perkembangan para muridmu itu? Kudengar dari guru lain kau selalu saja marah-marah.”
Gu Wenqing mengarahkan batu hitam miliknya pada papan permainan Weiqi. Mengecoh lawannya agar tak mampu bergerak. Namun rupanya Guru Zhao masih memikirkan celah yang terbentuk sehingga ia bisa menambahkan lagi batu putih miliknya. Baru perlahan menyeruput tehnya.
“Mereka juga akan marah-marah bila berhadapan dengan muridku itu, Li Wenhao.”
Wajah Guru Zhao mulai terlihat masam. Sementara Gu Wenqing malah tertawa saja sambil menggerakkan batu hitamnya lagi. Tapi segera langkahnya dicegat oleh guru itu dengan batu putihnya.
“Putra pertama Li Guangde ya hehehe….”
“Aku akui dia memang cerdas, tapi tidak punya sopan santun.”
“Jarang akademi punya murid seperti itu. Tapi siapa tahu kita bisa memiliki nilai lebih jika mampu mendidiknya sampai jadi sarjana yang baik.”
“Aku sendiri sejujurnya sudah menyerah, Tuan Gu.”
“Anda terlalu kaku dengan sistem, Guru Zhao!”
Memang benar para pelajar nantinya diharapkan bukan hanya bisa jadi cerdas setelah lulus dari sini. Namun juga memberikan inspirasi bagi yang lain setelahnya. Entah mereka yang lanjut ke ujian tingkat awal maupun tidak. Semuanya akan membawa nasibnya masing-masing.
“Tidak semua yang belajar disini berharap bisa menjadi pejabat maupun guru. Mereka sudah mampu baca tulis saja jauh lebih baik.”
“Anda benar, Tuan Gu.”
“Ah, ya mereka juga sudah seharusnya belajar lebih lanjut di tempat lain Guru Zhao.”
“Maksud anda membawa mereka ke perpustakaan kota atau pusat di kerajaan begitu.”
Tuan Guru mengangguk saja sambil menuang teh lagi ke dalam cawannya. Dia tak menggerakkan batu hitamnya lagi karena sudah kalah dari Guru Zhao. Kali ini bahasannya lebih berat. Bukan sekedar teh dan permainan Weiqi saja.
“Tidak mungkin murid mau belajar di akademi ini saja, Guru Zhao. Bahan kitab kita amatlah terbatas.”
“Kita jarang sekali mengadakan agenda untuk perjalanan para pelajar.”
Guru Zhao orang yang tak terlalu suka melakukan perjalanan. Wajar ia merasa berat jika harus melakukan ini. Tapi ternyata Tuan Gu Wenqing sudah merencanakannya. Ia menunjukkan gulungan surat dari seseorang. Lebih tepatnya temannya yang telah menjadi kepala biksu di Kuil Awan Timur. Guru Zhao diminta untuk membacanya.
“Sejujurnya aku belum pernah kesana, Tuan Gu.”
“Soa itu anda tidak perlu khawatir. Jalannya mudah dihapal dan banyak tandanya.”
Surat itu berisikan undangan terbuka bagi para pelajar dari Akademi Bambu Kuning. Tentunya untuk belajar dengan kitab-kitab yang bahkan tidak ada salinannya di akademi ini. Sebagai teman, Tuan Gu Wenqing merasa ini merupakan sebuah kehormatan besar. Maka dari itu, kesempatan berharga ini diberikan pada murid-murid dari Guru Zhao.
Tidak sembarangan Tuan Gu menetapkan seperti ini karena butuh orang-orang yang tentunya dari segi usia lebih matang untuk melakukan perjalanan. Murid dari guru lainnya masih banyak yang muda dan tidak mungkin ditinggal begitu saja. Sementara murid Guru Zhao kebanyakan justru sudah lebih tua. Tidak akan merepotkan gurunya begitu yang dipikirkan kepala Akademi Bambu Kuning.
“Butuh berapa hari untuk mencapai ke Kuil Awan Timur?”
“Setidaknya dua sampai tiga hari. Kalau dari sini aku yakin hanya dua hari saja. Selama tidak ada gangguan di perjalanan.”
“Ya, sekarang soal persiapannya bagaimana?”
“Hahaha…jangan khawatir soa itu, Guru Zhao. Aku yang membiayai dan nanti tinggal sediakan daftar barang yang dibutuhkan. Kalau kita ada jangan dibeli lagi. Kalau belum biar aku dan pelayanku yang membelinya nanti.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!