Bab 5

1 dibaca

A

“Sudah lengkap semuanya?”


“Li Wenhao belum datang, guru!”


“Kalau yang itu tidak terlalu penting.”


Guru Zhao berkata begitu seolah tak peduli dengan kehadiran Li Wenhao. Bahkan gerakan tangannya pun mengibas. Malah dia sangat berharap muridnya yang satu itu tidak hadir sama sekali daripada jadi beban baginya.


“Chen Bao dan Sun Bao juga, guru!”


“Itu Wang Xue sudah datang!”


Salah satu murid menunjuk ke arah satu perempuan yang sedang menggendong tas miliknya. Tampak banyak tapi ternyata itu berisi beberapa bahan obat. Ternyata gadis itu anak dari tukang obat. Wajar ia bawa untuk menghadapi bila temannya bahkan gurunya mengalami sakit mendadak. Guru Zhao mengapresiasi bawaannya karena itu juga penting.


“Letakkan bahan obat itu di kereta, bawa saja barang khusus pribadimu.”


“Baik, Guru Zhao.”


Baru tampak Chen Bao dan Sun Bao datang, tapi mereka seperti bawa banyak barang. Guru Zhao jadi curiga. Belum lagi yang dibawa seperti tempurung besar di belakang punggung Chen Bao. Berbeda dengan sepupunya, Sun Bao hanya bawa satu barang bawaan di tangan kirinya. Kalau yang di dalam tas jelas pakaian gantinya.


“Apa yang kalian bawa?”


“Peralatan memasak dan ini kualinya, guru. Kalau Sun Bao bawanya beda.”


“Aku bawa bahan dan bumbu masakan untuk di perjalanan.”


“Kita mau melakukan perjalanan ke Kuil Awan Timur tapi kalian malah seperti mau buka kedai makan. Chen Bao, ayahmu apa tak bertanya nanti dimana kualinya?”


“Masih ada satu di kedai makan ayahku, guru.”


“Tidak, tidak, tinggalkan saja di akademi dan bawa pulang nanti selepas perjalanan ini.”


“Tapi nanti kalau kita lapar bagaimana, Guru Zhao?”


Guru satu ini sampai menghela nafas panjang. Tak tahu lagi harus menjelaskan dengan cara bagaimana. Sementara Liu Ming mendekat dan bantu gurunya menjelaskan. Bahwa dalam perjalanan nanti akan ada kedai makan. Mereka bakalan berhenti di sana untuk sekedar mengisi perut. Tidur pun sudah dipastikan akan berhenti di penginapan. Sebab jalur yang dilalui nanti bukan sepenuhnya hutan atau jauh dari area pemukiman penduduk.


“Aku sudah lihat peta perjalanannya, kalian jangan khawatir.”


“Ah, tapi tak apalah kan bisa diletakkan di kereta kuda.”


Masih saja Chen Bao memaksa sampai Liu Ming hanya bisa menghela nafas mengikuti gurunya. Baru murid lain menunjuk ada seseorang yang datang. Ya siapa lagi kalau bukan Li Wenhao. Dia berjalan dengan riang gembira tapi sepertinya ada yang tak wajar. Guru Zhao langsung mencegatnya.


“Li Wenhao, kau jangan bawa sesuatu yang aneh ya!”


“Aneh? Aku bawa barang yang berguna untuk kita diperjalanan, guru.”


“Contohnya seperti yang ada di punggungmu dan tas kain yang kau bawa. Buka dulu sebelum kita berangkat.”


“Guru ini seperti prajurit penjaga perbatasan saja. Ini barang-barang yang sangat biasa dan bisa kita butuhkan.”


“CEPAT BUKAAA!!”


Akhirnya Li Wenhao buka apa saja yang dia bawa. Betul sudah dugaan gurunya. Dia membawa seperangkat alat pertanian. Termasuk sabit hingga cangkul.


“Tinggal semuanya di akademi! Kita ini mau mengadakan perjalanan untuk mencari ilmu. BUKAN UNTUK MEMBUKA LADANG BARU!”


Bahkan Guru Zhao mengancam jika Li Wenhao masih memaksa bawa barang-barang itu, maka perjalanan dibatalkan. Akhirnya dia terpaksa meninggalkan beberapa termasuk garu besi. Tapi entah kenapa dia masih nekat membawa sabit dan cangkul. Bahkan memasukkan ke dalam kereta kuda tanpa sepengetahuan siapapun termasuk kusirnya.


“Baiklah, sekarang kita berangkat.”


Perjalanan pun dimulai, para pelajar berjalan biasa bersama guru mereka. Sesekali memang Guru Zhao duduk bersama kusir kereta kuda. Li Wenhao tak terima karena para muridnya malah tetap disuruh jalan biasa. Liu Ming yang membela kalau guru mereka itu sudah tua.


“Mau dia tua apa muda seharusnya tetap saja berjalan seperti kita. Dasar guru payah!”


“Sst! Jangan keras-keras nanti Guru Zhao dengar.”



Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk