Lancar saja perjalanan mereka sejauh ini karena masih melintasi pedesaan. Anak-anak bahkan ada yang menonton bersama para orang tua mereka. Memang rombongan pelajar seperti ini sangat jarang sekali melintas. Bahkan ada salah satu warga yang membagikan susu dari ternak kambing miliknya.
“Nyonya, terima kasih untuk kebaikan anda.”
“Sama-sama, tuan. Bagi saya memberi para pelajar sebagian hasil ternak kami adalah bentuk rasa terima kasih pada langit.”
Para murid berhenti sebentar untuk merasakan susu kambing itu. Tentu tidak semuanya mau. Bahkan Liu Ming sudah mual karena mencium aroma khas kambing. Baru lanjut lagi sambil melihat ke arah sekitar karena mereka melintasi persawahan.
“Li Wenhao, peralatanmu tadi berguna kalau dipakai disini.”
“Tentu saja, tapi bukannya kata guru kita itu untuk apa?”
“Hahaha kau saja yang aneh! Mengapa bawa peralatan pertanian di perjalanan ini?”
“Tunggu saja sampai peralatan itu berguna!”
Matahari sudah mulai menyengat, keringat para pelajar pun sudah menetes. Beruntung sekali mereka bertemu pohon. Setidaknya sempat merasakan teduh sebelum panasnya siang ini terasa kembali saat sudah melewati pohon besar tadi.
“Guru, kita tidak istirahat dulu?”
“Sebentar lagi kita sampai ke kedai makan. Apa kakimu sudah mulai lelah, Chen Bao?”
“Iya guru aku sudah sangat lelah….”
“Kalau begitu suruh saja Sun Bao menggendongmu.”
“Astaga, guru mana sanggup aku gendong kakak Chen Bao.”
Sun Bao memang berbadan besar dan tegap. Tapi melihat kakak sepupunya yang gemuk itu jelas dia menyerah untuk menggendongnya. Li Wenhao mencari sesuatu yang bisa digunakan sampai akhirnya menemukan sebuah papan yang mulai rusak dengan sisa semacam sandaran. Jelas saja itu sampah tapi malah dia ambil.
“Chen Bao kau sudah mulai lelah kan?”
“Kau mau menggendongku ya, Li Wenhao?”
“Aah, tentu saja tidak! Aku menemukan benda bagus di dekat pohon tadi.”
Rombongan mulai berjalan jauh sementara kedua orang ini malah asik mengobrol di belakang. Sun Bao yang tadinya sudah ikut menjauh malah berbalik menghampiri keduanya. Ternyata Li Wenhao punya ide untuk meminta Chen Bao naik di papan rusak yang mungkin bekas gerobak itu. Lalu nanti Li Wenhao dan Sun Bao mendorongnya dari belakang.
“Kalau ada rodanya pasti lebih cepat ya!”
“Aah, badanmu saja yang terlalu gemuk Chen Bao!”
“Iya, padahal kita berdua sudah mendorongnya.”
Tapi entah mengapa jalannya Chen Bao di bekas gerobak tanpa roda itu terasa semakin cepat. Baru mereka sadari kalau ini adalah jalanan turun. Mereka awalnya senang, tapi makin lama situasi tidak terkendali.
“Li Wenhao, kenapa semakin cepat ini ya?”
“I-iya kau benar, San Bao. Tapi kita juga tidak bisa kendalikan eeh…!”
“Hei, apa yang kalian lakukan? Aaargh…!”
“CHEN BAOOO!!”
Rombongan para pelajar awalnya tenang menuruni jalanan. Hingga mereka lihat Chen Bao meluncur dengan cepat. Kusir kereta sampai kudanya pun terkejut. Beruntung masih bisa dikendalikan. Sementara Guru Zhao yang awalnya biasa saja langsung panik melihat salah satu muridnya meluncur mendahului dirinya.
“Apa itu Chen Bao? Tolong, cepat kejar dia!”
Akhirnya murid lainnya mengejar meski cukup hati-hati karena ini jalan turunan. Mereka takut terperosok dan ikut meluncur seperti Chen Bao. Tidak disangka mereka didahului oleh Li Wenhao termasuk San Bao.
“Permisi kereta lewat kereta lewaaat!”
“Awas panas awas panaaas!”
Sama saja keduanya lari mengejar Chen Bao. Sampai Liu Ming berhasil mengejar dua laki-laki yang sama konyolnya itu.
“Hei, apa kalian berdua yang lakukan ini?”
“Bukan aku, Liu Ming. Ini idenya Li Wenhao!”
“Eh, kenapa jadi aku? Ini yang namanya kemajuan!”
Sementara itu Chen Bao sudah mulai ketakutan, dia sampai menutup matanya. Ternyata saat sampai di tempat yang datar, bekas gerobak yang dinaikinya tadi tepat menabrak pohon lalu berhenti. Selamatlah laki-laki gendut itu.
“Apa sudah berakhir? Tolong, aku tidak berani melihat.”
Liu Ming, Li Wenhao dan San Bao akhirnya sampai juga. Mereka yang mengatakan kalau semuanya baik-baik saja. Baru Chen Bao berani membuka matanya.
“Ah, rasanya tadi aku mau mati.”
“Tenang saja kau tidak akan mati, Chen Bao.”
Li Wenhao masih bisa saja tertawa. Sampai kepalanya dipukul oleh Guru Zhao. Baru dia sadar kalau rombongan sudah sampai di tempatnya berada.
“Ini semua pasti kelakuanmu, Li Wenhao!”
“Aduuh, tapi guru aku hanya membantu Chen Bao.”
“Dasar bodoh! Kalau kau membunuhnya tadi bagaimana?”
“Tapi guru tadi juga mau membunuhku kalau meninggalkanku sendirian tadi.”
“Diamlah, Chen Bao! Perjalanan ini juga untuk melatih fisik kalian supaya lebih kuat. Sebentar lagi kita sampai kedai makan. Kau boleh pesan makanan sepuasnya.”
“Benarkah itu guru?”
“Ya, tapi kau bayar sendiri.”
“Aku pikir guru akan membayar makan siangku”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!