Bab 7

0 dibaca

A

Akhirnya mereka benar-benar bisa beristirahat. Kedai makan disini ternyata menyediakan beberapa pilihan menu. Tentu saja harganya murah karena diperuntukkan bagi para pelancong termasuk pelajar seperti Li Wenhao dan lainnya. Guru Zhao juga ikut makan tetapi tidak banyak.


“Tuan, perjalanan anda mau kemana?”


“Kami dari Akademi Bambu Kuning mau ke Kuil Awan Timur.”


“Ooh, ya berarti anda dan para pelajar itu sudah rombongan kedua yang berhenti disini.”


Pemilik kedai makanan itu mengobrol sebentar dengan Guru Zhao sambil sesekali melayani para murid akademi yang memesan makanan. Bahkan anaknya sibuk bolak balik dari dapur ke tempat meja makan para pelanggan.


“Tapi tuan ini saranku saja. Sebaiknya anda dan rombongan memilih jalan ke kanan setelah ini. Memang agak jauh dan memakan waktu sekitar lima hari baru sampai.”


“Kenapa kami harus memutar jalannya? Kalau menurut petunjuk disini jalan tercepat melewati hutan Pinus Muda.”


“Itu benar sekali, tuan. Tapi akhir-akhir ini kudengar banyak orang hilang setelah melewati jalur itu.”


Bahkan terakhir pernah ada orang yang berlari ke kedai makan ini. Mengatakan ada kelompok perampok di jalur hutan Pinus Muda. Guru Zhao merasa jika perjalanan tak boleh lebih dari tiga hari untuk menuju kesana. Dia berpikir ulang jika harus memutar arah.


“Apa masih ada pemukiman penduduk setelah ini?”


“Masih ada, tuan. Anda ambil jalan lurus juga masih ada. Sekitar mungkin sepuluh rumah lagi sebelum masuk area hutan.”


“Penginapan dekat sini masih ada kan?”


“Masih, masih ada, tuan. Tapi tidak besar. Aku rasa rombongan anda juga cukup menginap disana.”


Sesuai dengan gambar di peta jika memang masih ada area pemukiman penduduk. Meski rumahnya sudah sangat jarang. Setidaknya mereka masih bisa tidur tidak beratapkan langit. Perjalanan pun berlanjut meski Guru Zhao masih memikirkan kata-kata pemilik kedai tadi. Sampai kusir kereta kuda menyadarkan dirinya bahwa ada papan penunjuk penginapan.


“Lumayan juga kita bisa beristirahat dulu disini.”


Penginapan ini memang tidak besar. Hanya menyediakan sekitar lima kamar saja. Tapi satu kamarnya luas bahkan bisa dipakai untuk beberapa orang. Murid laki-laki juga lebih banyak dibanding perempuan, mereka akhirnya tidur berdesakan di bawah. Sementara Guru Zhao tentu saja tidur diatas kasur dengan dipan.


“Sialan, kita malah disuruh tidur dibawah!”


“Sudahlah, Li Wenhao. Daripada kita tidur diluar pasti dingin sekali.”


“Aduh, nyamuknya ada juga disini. Liu Ming, geserlah sedikit lagi!”


“Mau geser kemana lagi, ini sudah tembok. Aku bisa gepeng nanti!”


“Brooot!”


“Hei, siapa yang kentut? Ini pasti kelakuan Li Wenhao ya!”


“San Bao, enak saja kau sembarangan menuduh ya!”


Tapi rupanya itu tidak berpengaruh pada Guru Zhao. Mungkin dia sudah lelah dengan perjalanan serta kelakuan aneh muridnya. Bahkan masih bisa ngorok disaat yang lain tutup hidung karena bau.



Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk