Guru Zhao sejenak berhenti, dia bingung memutuskan mau kemana. Sementara kusir kereta kuda hanya menurut saja. Sebab dia memang dibayar untuk bawa barang-barang milik para pelajar serta gurunya itu. Memang betul bertemu persimpangan jalan seperti kata pemilik kedai. Pada peta yang dibawa pun juga tergambar begitu.
“Guru, kita mau ke arah mana? Lama sekali berhenti disini!”
“Diamlah, Li Wenhao! Aku sedang berpikir dulu.”
Memang jika dilihat sekilas arah ke kiri tampak gersang. Terlihat tanahnya kering dan hanya ada rerumputan disepanjang jalan. Jelas tidak akan nyaman karena debunya pasti berterbangan bila bertemu dengan angin. Sementara arah lurus terlihat lebih sejuk. Pepohonan pun masih banyak.
“Baiklah kita jalan lurus saja kalau begitu.”
Kusir kereta kuda mengangguk dan segera mengarahkan kudanya untuk jalan lagi. Ternyata memang betul lewat jalanan ini lebih nyaman. Sesekali terdengar suara hewan tapi itu tidak jadi masalah. Paling hanya burung atau hewan liar lainnya yang tidak berbahaya.
Sementara Liu Ming dan murid laki-laki lainnya sedang asik mengobrol sambil bawa barang bawaan mereka. Tiba-tiba Li Wenhao berteriak keras sambil mendekati ke arah kereta kuda.
“Li Wenhao, ada apa?”
“Maaf guru perutku sakit sekali. Aku mau cari tempat dulu ya!”
“Tunggu dulu! Darimana kau dapatkan cangkul itu?”
“Aku membawanya sejak awal di kereta. Guru, aku sudah tidak tahan lagi.”
“Hei kau bagaimana bisa…ah sudahlah!”
Mereka akhirnya menunggu Li Wenhao yang entah sedang buang air besar dimana. Sementara hari sudah mulai siang. Chen Bao yang tak tahan lapar sudah membuka bekal yang ada. Dia dapatkan karena ditawari saat di penginapan lalu dibelinya.
“Guru, Li Wenhao lama sekali!”
“Tunggu saja dulu, Liu Ming. Nanti dia juga selesai.”
Tapi tidak juga muncul batang hidungnya. Sementara Guru Zhao juga merasa diburu oleh waktu. Akhirnya dia memutuskan untuk menyuruh salah satu tinggal disini. Tanpa disuruh Chen Bao yang mau menunggu sampai Li Wenhao kembali.
“Guru, tapi sepertinya sebentar lagi dia akan kembali.”
“Ah, ini sudah terlalu lama. Nanti kalian ikuti saja dari jejak kereta ini ya.”
Guru Zhao sudah tidak betah lagi. Dia memilih untuk meninggalkan muridnya daripada terlalu lama menunggu. Chen Bao pasrah saja sambil makan roti bekal miliknya. Sementara rombongan itu sudah mulai berjalan lagi.
“Li Wenhao, ayolah kita sudah ditinggal!”
Tak lama dari teriakan Chen Bao tadi, sosok Li Wenhao pun muncul dengan santainya dari balik semak. Sambil membawa cangkul dengan cara dipanggul begitu saja. Sahabatnya itu kesal melihatnya.
“Ayolah, kau ini lama sekali!”
“Maaf, sekalian aku habiskan saja. Kalau ditahan nanti aku mengulang lagi.”
“Huh! Memangnya kita ini sedang menghafal kitab.”
Mereka berdua pun berjalan bersama. Ternyata Guru Zhao dan lainnya sudah terlalu jauh. Chen Bao sudah mengeluh capek lagi. Sementara jejak kereta itu masih panjang.
“Nah, kau tadi mengajakku cepat. Sekarang malah minta berhenti.”
“Kakiku sudah tidak kuat lagi, Li Wenhao!”
Terpaksa Li Wenhao menuruti kemauan Chen Bao. Mereka pun berhenti tepat di bawah pohon. Setidaknya sinar Matahari tidak lagi menyengat kulit keduanya. Sambil melihat sekitar yang sepi hanya sesekali angin bertiup.
“Teman-teman kita sudah sampai mana ya? Kenapa semakin kita jalan rasanya mereka semakin jauh.”
“Jelasnya mereka pasti sudah jauh dari sini.”
Saat keduanya sudah siap, tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan. Chen Bao pun penasaran karena dipikir hanya dirinya saja yang dengar. Ternyata Li Wenhao juga mendengarnya.
“Li Wenhao kau dengar juga?”
“Iya, seperti ada orang berteriak dan ramai sekali. Eh, coba kita jalan lagi lebih cepat.”
Dua orang itu segera mempercepat langkahnya. Sampai mereka melihat dari kejauhan kereta yang membawa barang-barang para pelajar. Lalu suara tangisan pun mulai terdengar tak lama dari itu. Li Wenhao awalnya sengaja berusaha melongok agar lebih jelas lagi. Tapi Chen Bao segera menariknya dan membawanya sembunyi dibalik semak.
“Kenapa kau menarikku!”
“Li Wenhao kau tak dengar itu suara tangisan perempuan?”
“Ya lalu apa?”
“Aku curiga terjadi sesuatu dengan mereka. Kita harus cari tahu dulu!”
Li Wenhao akhirnya diajak berjalan merayap sambil terus menyeret cangkulnya. Chen Bao sebenarnya kesal tapi dia juga tidak akan bisa menghentikan tingkah dan sahabatnya itu. Sekiranya sampai lebih dekat, mereka mulai mendengar. Bahwa memang terjadi sesuatu pada guru dan kawan-kawan mereka lainnya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!