Rendang Mama selalu enak. Itu masalahnya.
Kalau rendangnya tidak enak, Sabine bisa pura-pura kenyang di suapan ketiga, pamit ke kamar dengan alasan revisi gambar, lalu melewatkan acara wajib setiap makan malam Minggu di rumah keluarga Sulakso, yaitu presentasi panjang berjudul Salina, Kebanggaan Kita Semua. Tapi rendangnya empuk. Bumbunya meresap sampai serat paling dalam, cokelat kehitaman, minyaknya berkilau di tepi piring seperti pernis yang belum kering.
Jadi Sabine tetap duduk. Dan mengunyah.
Pelan sekali.
“Dengar ini, dengar.” Mama mengangkat ponsel setinggi dagu, kacamata bacanya melorot ke ujung hidung. Wahyuni Sulakso, lima puluh enam tahun, rambut disasak rapi padahal cuma makan di rumah, lipstik merah bata yang entah bagaimana tidak pernah luntur meski habis menggigit kerupuk. “Dari Bu Ratmi. Selamat ya Jeng Yuni, Salina hebat sekali, masih muda sudah Senior Branch Manager, didikan ibunya memang top. Tuh. Didikan ibunya.”
“Ma, udah,” kata Salina.
Pipi kakaknya memerah. Salina selalu terlihat seperti baru keluar dari iklan asuransi. Blus satin krem, rambut sebahu yang di-blow tanpa satu helai pun membangkang, anting mutiara kecil yang pasti hadiah dari Alan. Bahkan cara dia memegang sendok pun rapi, jari kelingking sedikit terangkat, seperti sedang difoto untuk majalah.
“Udah apa? Orang bangga kok nggak boleh.” Mama menggulir layar dengan jempol. “Ini lagi, dari Tante Nung. Panjang ini...”
Sabine menunduk ke piringnya. Rendang balas menatap. Setidaknya rendang tidak menuntut apa-apa.
Di sebelah Salina, Alan mengangguk sopan setiap kali satu nama disebut, kemeja batiknya masih licin seolah ia datang langsung dari rapat direksi dan lupa pulang. Di kursi tinggi, Jemima sedang serius menyusun butir nasi di atas kerupuk, satu per satu, penuh konsentrasi, lidah menjulur di sudut bibir seperti tukang yang sedang memasang bata.
Setidaknya ada satu anggota keluarga ini yang paham konstruksi.
“Sabine.”
Ini dia.
“Ya, Ma.”
“Kamu gimana? Kantormu yang itu. Masih yang... apa namanya, Sketsa-Sketsa itu?”
“Sketsa Utama, Ma. Masih.”
“Masih junior?”
“Junior Project Architect.” Sabine meletakkan sendoknya. Pelan. Dia sudah berlatih nada ini di depan cermin, nada yang tenang dan dewasa dan sama sekali tidak terdengar seperti anak kecil yang minta dipuji. “Aku lagi pegang proyek renovasi kafe sama galeri seni. Kliennya lumayan besar, Ma. Kalau lancar, bisa jadi portofolio utama aku tahun ini, dan kemungkinan...”
“Iya, iya, bagus.” Mata Mama sudah kembali ke layar. “Terus calon? Sudah ada?”
Sendok Alan berhenti di udara. Salina memejamkan mata sebentar, seperti orang yang baru melihat kecelakaan lalu lintas dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Sabine tersenyum. Lebar. “Ada, Ma.”
Kepala Mama terangkat secepat radar. “Siapa?”
“Namanya Deadline. Orangnya posesif. Tiap malam minta ditemenin sampai jam dua.”
Alan tersedak teh manisnya. Salina buru-buru menutup mulut dengan serbet, tapi bahunya bergetar. Bahkan Jemima ikut tertawa, meski jelas tidak paham apa-apa, karena kalau semua orang dewasa di meja tertawa pasti ada sesuatu yang lucu.
Mama tidak tertawa.
“Kamu itu dua puluh tujuh, Bin,” katanya, dan nada suaranya turun ke register yang Sabine kenal sejak SD, register Mama kecewa tapi Mama sabar. “Kakakmu umur segitu sudah...”
Sudah menikah, lanjut Sabine dalam kepala, sudah hamil Jemima, sudah naik jabatan dua kali, sudah punya cicilan rumah di cluster dengan gerbang otomatis dan satpam yang hafal plat mobilnya, sudah bisa masak opor yang katanya lebih enak dari opor Mama sendiri, sudah jadi segalanya yang Mama doakan setiap malam, dan Sabine, tentu saja, adalah cadangan yang diharapkan diam-diam menyusul tanpa banyak protes.
“...dan kamu masih ngurusin kafe orang.”
Galeri, Ma. Kafe dan galeri.
Sabine tidak mengatakannya. Tidak ada gunanya.
“Ma.” Suara Papa, tenang, dari ujung meja. Bambang Sulakso, lima puluh sembilan, pensiunan PNS dengan kaus oblong putih yang kerahnya mulai melar dan kacamata yang selalu berdebu. “Rendangnya masih ada? Papa mau nambah.”
Mama mendengus, tapi berdiri juga ke dapur.
Papa tidak menatap Sabine. Dia hanya mengedipkan sebelah mata, cepat sekali, ke arah piringnya sendiri.
Sabine memandangi rendangnya dengan mata panas.
Setelah makan, Papa mencuci piring. Sabine mengeringkan.
Ini ritual mereka sejak Sabine SMP. Mama menganggapnya pemborosan waktu karena mereka punya mesin cuci piring, hadiah dari Salina dan Alan dua lebaran lalu, tapi Papa bilang mesin itu tidak bisa diajak ngobrol. Jadi mesin itu dipakai untuk menyimpan tupperware.
Air mengalir dari keran. Busa sabun menempel di pergelangan tangan Papa yang keriput. Di luar jendela dapur, lampu jalan berkedip kuning, dan dari ruang tengah terdengar suara Mama memamerkan video Jemima menyanyi ke Alan yang pasti sudah menontonnya lima kali.
“Kafenya jadi pakai kayu ulin?” tanya Papa.
Sabine berhenti mengelap. “Papa ingat?”
“Kamu cerita bulan lalu. Katanya kliennya mau lantai kayu tapi budgetnya pas-pasan.”
Satu kalimat. Diucapkan sambil lalu, sebulan lalu, di sela berita televisi. Dan Papa ingat.
“Belum pasti,” kata Sabine. Suaranya sedikit serak, jadi dia berdeham. “Senin aku mau ke toko bangunan buat cek alternatif. Katanya tokonya lengkap. Hermawan Jaya.”
“Oh, itu toko lama. Bagus itu.” Papa membilas piring terakhir, menyerahkannya. Matanya di balik kacamata berembun tampak lembut. “Kamu nggak usah dengerin Mama terlalu dalam, Bin. Mama itu bangga sama kamu juga. Cuma nggak tahu caranya.”
Sabine mengangguk. Dia tidak percaya, tapi dia mengangguk.
Kamarnya adalah satu-satunya tempat di rumah ini yang benar-benar miliknya.
Meja gambar miring di dekat jendela, lampu arsitek berlengan panjang yang berderit setiap kali ditekuk, maket rumah panggung dari kertas karton yang atapnya sudah miring karena disenggol kucing tetangga. Tabung-tabung gambar bersandar di pojok seperti tongkat-tongkat penyihir yang pensiun. Di dinding, tertempel sketsa-sketsa fasad dengan selotip kertas, sebagian sudah menguning.
Sabine melempar diri ke kasur. Menatap langit-langit. Menghela napas sepanjang yang paru-parunya bisa tampung.
Lalu dia bangun, berdiri di depan cermin lemari, dan menatap dirinya sendiri dengan kejujuran yang biasanya hanya ia berikan pada gambar kerja orang lain. Rambut ikal cokelat gelap dicepol asal dengan pensil 2B. Kacamata bening yang bingkainya retak di engsel kiri. Kaus kebesaran bertuliskan nama kampus. Noda tinta di sisi jari tengah yang tidak pernah benar-benar hilang. Pipinya masih sedikit merah karena menahan tangis di dapur.
Tidak jelek. Tidak buruk. Hanya saja bukan Salina.
“Oke,” katanya pada cermin. “Cukup.”
Dia mengambil ponsel. Membuka Instagram. Menggulir tanpa tujuan sampai ibu jarinya berhenti di sebuah meme.
Foto sebuah pesta keluarga, meja panjang penuh makanan, semua kursi empuk berlapis kain satin. Dan di pojok paling ujung, nyaris keluar bingkai, satu kursi plastik hijau yang sedikit penyok. Teksnya: Anak kedua di acara keluarga.
Sabine tertawa. Tawa yang keluar dari hidung, jelek dan jujur.
Dia langsung menyimpannya, membuka Story, menempelkan meme itu, lalu mengetik di atasnya dengan jari cepat: rendangnya enak, mentalnya nggak. Tambah emoji tengkorak. Tambah satu lagi. Tekan kirim.
Ini untuk Close Friends. Untuk Ghea, Tio, dan lima orang lain yang sudah pernah melihatnya menangis di toilet kampus. Orang-orang yang aman.
Dia melempar ponsel ke kasur dan pergi mencuci muka.
Tiga menit kemudian dia kembali, handuk kecil masih di leher, dan melihat layar ponselnya menyala.
Lingkaran di foto profilnya berwarna ungu-oranye. Bukan hijau.
Bukan hijau.
Sabine membeku di tengah kamar dengan satu tangan masih memegang ujung handuk. Otaknya, yang biasanya bisa menghitung beban kolom dan kemiringan tangga dalam hitungan detik, butuh waktu yang memalukan untuk memproses fakta sederhana bahwa meme kursi plastik, lengkap dengan dua emoji tengkorak dan keluhan soal mental, baru saja terkirim ke seluruh pengikutnya. Termasuk klien. Termasuk dosen pembimbingnya dulu. Termasuk, ya Tuhan, Tante Nung.
Dia menyambar ponselnya. Membuka daftar penonton dengan jari yang gemetar.
Empat belas orang.
Ghea. Tio. Tiga teman kuliah. Seorang klien lama yang mungkin sudah lupa siapa dia. Kak Lin.
Kak Lin.
Sabine memejamkan mata. Membukanya lagi. Nama Salina masih di sana.
Dan di bawahnya, satu nama dengan ikon hati kecil berwarna merah di sebelahnya.
dendyhermawan
Dia mengerjap.
Dendy Hermawan. Nama itu baru masuk hidupnya hari Kamis lalu, saat Basko, kontraktor proyek kafe yang bicaranya selalu seperti orang sedang siaran radio, menambahkan satu nomor baru ke grup WhatsApp proyek. Nah ini Mas Dendy dari Hermawan Jaya, vendor material kita. Orangnya baik, harga miring, jangan dibully. Lalu Dendy membalas dengan satu pesan sopan dan satu stiker kucing hormat, dan Sabine tidak memikirkannya lagi.
Sampai sekarang.
Dia mengetuk nama itu.
Akun publik. Tidak banyak unggahan. Foto profilnya kecil dan buram, diambil dari jarak jauh. Seorang pria berdiri di depan rolling door sebuah toko, kaus hitam, lengan kemeja yang digulung sampai siku. Wajahnya tidak jelas karena kualitas fotonya jelek sekali, seperti diambil dengan ponsel tahun 2015 lalu dikirim lewat Bluetooth lima kali. Yang terlihat hanya cengiran. Miring. Sedikit lebih tinggi di sisi kiri.
Dan lengan bawahnya.
Sabine memperbesar foto itu dengan dua jari. Pikselnya pecah. Dia memperbesarnya lagi.
Kenapa lengan bawahnya begitu?
“Nggak,” katanya keras-keras pada kamar kosong. “Nggak, Sabine. Kamu nggak lagi ngezoom lengan vendor jam sepuluh malam.”
Dia mengeluarkan jarinya dari foto itu seperti baru menyentuh setrika.
Lalu dia duduk di tepi kasur dan mulai berpikir, yang selalu merupakan kesalahan. Kalau dia menghapus Story itu sekarang, Dendy Hermawan akan tahu bahwa dia melihatnya. Bahwa dia melihat like-nya. Bahwa dia cukup peduli pada like itu sampai panik dan menghapus. Tapi kalau dia membiarkannya, besok pagi seluruh Instagram akan melihat bahwa Sabine Sulakso, arsitek yang katanya profesional dan detail dan perfeksionis, menyamakan dirinya dengan kursi plastik penyok. Dan klien kafe-galeri mungkin melihatnya. Dan Tante Nung pasti melihatnya, lalu melapor ke Mama, lalu Minggu depan rendangnya tidak akan bisa menyelamatkan siapa pun.
Tangannya bergerak sendiri. Tangkapan layar. Kirim ke Ghea.
Balasannya datang dalam sembilan detik.
Ghea: SIAPA INI
Ghea: KENAPA LENGANNYA BEGITU
Sabine: itu vendor proyek. gue salah kirim story. bukan close friends. mau mati
Ghea: jangan dihapus
Ghea: kalau lo hapus lo kalah
Sabine: kalah dari siapa??
Ghea: dari semesta bin. semesta ngirim cowok berlengan bagus buat like meme lo tentang trauma keluarga. hargai semesta
Sabine tertawa. Keras. Lalu menutup mulutnya sendiri karena dinding kamarnya tipis dan Mama punya pendengaran kelelawar.
Ponselnya bergetar lagi. Bukan Ghea.
Kak Lin: kursi plastiknya lucu
Kak Lin: maaf ya soal tadi di meja
Sabine menatap dua baris itu lama sekali. Jarinya melayang di atas papan ketik. Dia mengetik nggak apa-apa kak, menghapusnya. Mengetik iya, menghapusnya juga. Akhirnya dia tidak membalas apa pun, meletakkan ponsel di dadanya, dan berbaring menatap bayangan lampu arsitek di langit-langit, lengannya yang panjang dan kurus terlihat seperti leher burung bangau.
Salina minta maaf. Salina tidak pernah minta maaf. Salina tidak pernah perlu minta maaf, karena Salina tidak pernah salah.
Sabine tidak tahu harus merasa apa soal itu. Jadi dia memilih tidak merasakan apa-apa.
Tapi hati kecil merah itu terus muncul di kepalanya.
Hal kecil. Satu ketukan jempol dari orang asing yang belum pernah ia temui, yang mungkin melakukannya sambil lalu di sela menghitung stok semen, yang mungkin memberi like pada semua Story semua orang di grup proyek karena memang begitulah vendor yang baik, ramah pada semua pelanggan. Tidak ada artinya. Sama sekali tidak.
Tapi tetap saja.
Malam ini rasanya sedikit lebih ringan.
Sabine menarik selimut sampai dagu, lalu tiba-tiba teringat percakapannya dengan Papa di dapur. Senin. Toko bangunan. Cek alternatif kayu ulin.
Hermawan Jaya.
Toko milik keluarga seorang Dendy Hermawan.
Dia menarik selimut sampai menutupi seluruh wajah.
“Mampus.”














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!