Bab 2 - Salah Orang

8 dibaca

A

Sepatu itu sebuah kesalahan.

Sabine menyadarinya tepat saat hak balok setinggi lima senti miliknya menginjak genangan air bercampur serbuk semen di depan Hermawan Jaya, dan cipratan abu-abu kental langsung menempel di ujung celana kulot krem yang baru pertama kali ia pakai. Dia sengaja berdandan pagi ini. Blus putih berkerah, anting kecil, rambut ikal yang dibujuk dengan susah payah jadi gelombang yang lebih sopan. Jam dua siang dia ada rapat dengan klien kafe-galeri, dan dia ingin terlihat seperti arsitek yang pantas dipercaya menghabiskan uang orang lain.

Bukan seperti arsitek yang baru menginjak lumpur.

“Mbak Bos,” kata Tio di sebelahnya, menatap ujung celananya dengan wajah prihatin yang palsu. “Mau gue fotoin buat dokumentasi proyek?”

“Diam.”

“Judulnya Kondisi Eksisting Celana.”

“Tio.”

Dia nyengir, menarik ikat rambut dari pergelangan tangan, dan mengikat rambut gondrongnya jadi ekor kecil yang berantakan. Tio Rahardjo, dua puluh enam tahun, drafter terbaik di studio sekaligus manusia paling tidak bisa serius di muka bumi. Kemeja flanel kotak-kotak di atas kaus band, lanyard studio yang tidak pernah dilepas, dan ketenangan menyebalkan seseorang yang tidak pernah overthinking seumur hidupnya.

Sabine mengibaskan kakinya dan menatap toko di depan mereka.

Hermawan Jaya lebih besar dari yang ia bayangkan. Tiga pintu rolling door terbuka lebar, catnya hijau tua yang sudah pudar di bagian bawah, papan nama besi dengan huruf kapital merah yang mulai berkarat di tepinya. Dari dalam tercium bau yang langsung ia kenali dari masa kuliah, campuran semen, cat minyak, besi, dan serbuk kayu yang manis-manis tajam. Pipa PVC bertumpuk seperti batang-batang bambu raksasa. Gulungan kawat. Rak keramik yang menjulang sampai plafon. Di luar, dua pikap parkir miring dengan bak terbuka, dan tiga tukang berkaus lusuh sedang mengangkut sak-sak semen dari gudang samping.

Dan di tengah semua itu, seorang pria.

Kaus abu-abu polos yang sudah pudar, basah di bagian tengkuk dan punggung. Celana kargo hitam. Sepatu boots yang ujungnya putih berdebu. Dia sedang mengangkat satu sak semen ke bahu kanannya seperti mengangkat bantal, lalu melemparnya ke bak pikap dengan satu gerakan mulus yang membuat otot lengannya menegang dan kausnya tertarik di sepanjang punggung.

Sabine mengalihkan pandangan.

Lalu melihat lagi.

Dia tinggi. Bahunya lebar dengan cara yang tidak dibuat-buat di gym, lebar yang lahir dari pekerjaan. Rambut hitam dipotong pendek, sedikit berantakan di bagian depan karena keringat. Rahang tegas dengan bayangan cambang tipis. Ada debu semen di lengan bawahnya, menempel di bulu-bulu halus, membuat kulitnya yang cokelat terlihat seperti baru dicat dengan kuas kering.

Lengan bawah.

Sabine memejamkan mata sebentar. Bukan sekarang, otak.

“Mas,” panggilnya, mengeluarkan nada yang ia pakai untuk mandor yang telat mengecor. “Mas, sebentar.”

Pria itu menoleh. Menyeka kening dengan punggung tangan, meninggalkan garis debu tipis di atas alis. Matanya gelap, sedikit menyipit karena matahari.

“Ya, Mbak?”

“Saya mau cek material. Ini daftarnya.” Sabine menyodorkan kertas yang sudah ia print rapi, lengkap dengan tabel dan kode warna. “Kayu ulin, papan, buat lantai. Ukuran dua per sepuluh, panjang empat meter. Terus saya butuh sampel finishing, yang natural sama yang semi-gloss. Terus cat eksterior, tolong ambilin katalognya. Terus...” Dia mengernyit melihat tumpukan sak semen di pikap. “Itu semennya jangan ditaruh di situ, Mas, kena genangan. Nanti mengeras.”

Di belakangnya, Tio mengeluarkan suara aneh. Seperti batuk yang ditelan.

Pria itu menatap kertasnya. Lalu menatap Sabine. Lalu menatap kertasnya lagi.

Dan sesuatu bergerak di sudut bibirnya. Sangat sedikit. Hampir tidak terlihat.

“Siap, Mbak,” katanya. Suaranya dalam, sedikit serak, dengan logat santai yang terdengar seperti orang yang sudah terbiasa bicara dengan seratus orang sehari. Dia menoleh ke tukang di sebelahnya. “Jang, geser semennya ke palet. Mbaknya benar.”

“Siap, Mas.”

Lalu dia berbalik lagi ke Sabine, mengambil kertasnya dengan tangan yang lebar dan kapalan di pangkal jari, dan membacanya sambil berjalan masuk ke toko. Sabine mengikuti. Hak sepatunya berbunyi tak-tak-tak di lantai semen yang tidak rata, dan dia harus mempercepat langkah karena kaki pria itu dua kali lebih panjang.

“Ulinnya buat lantai interior atau teras?” tanyanya tanpa menoleh.

“Interior. Kafe. Area duduk utama.”

“Dua per sepuluh kekecilan, Mbak.”

Sabine berhenti. “Maaf?”

“Buat lantai, papan dua per sepuluh lebarnya nanggung. Nat-nya kebanyakan, kesannya ramai, dan pemasangannya lebih lama. Ongkos tukang naik.” Dia berhenti di depan rak kayu, mengetuk sebilah papan dengan buku jari. Bunyinya padat. “Mending dua per lima belas. Atau kalau budget klien ketat, jangan ulin. Pakai merbau. Warnanya lebih hangat, kerasnya hampir sama, harganya selisih hampir empat puluh persen.”

Sabine membuka mulut. Menutupnya lagi.

Dia sudah menghitung ulang ukuran itu tiga kali minggu lalu. Dia tahu ukurannya nanggung. Dia hanya belum menemukan alternatif yang tidak membuat kliennya menangis melihat anggaran. Dan pria berkaus basah ini baru membaca kertasnya selama dua puluh detik sambil berjalan.

“Merbau,” ulangnya pelan.

“Ada sampelnya.” Pria itu mengulurkan tangan ke rak paling atas tanpa perlu berjinjit, mengambil sepotong papan pendek, dan menyerahkannya. Jari mereka tidak bersentuhan. Sabine memperhatikan itu, lalu marah pada dirinya sendiri karena memperhatikan. “Serat kayunya rapat. Kalau di-finishing natural, keluar merah tembaganya. Cocok sama konsep galeri. Nggak berisik, nggak nyolong perhatian dari lukisan.”

Sabine mengusap permukaan kayu itu dengan ibu jarinya. Halus. Hangat. Warnanya seperti teh yang diseduh terlalu lama.

“Kok tahu konsepnya galeri?” tanyanya.

Pria itu mengangkat bahu. “Mbaknya bilang kafe. Terus ini...” Dia menunjuk baris terakhir di kertas Sabine, tulisan tangan kecil di pojok yang Sabine lupa hapus: cek pencahayaan area display. “Kafe biasa nggak mikirin area display.”

Oke.

Oke, jadi karyawan toko bangunan ini bisa membaca tulisan tangannya yang terkenal jelek dan menyimpulkan konsep proyeknya dalam waktu kurang dari satu menit. Tidak masalah. Mungkin semua karyawan di sini lulusan teknik sipil. Mungkin ini toko bangunan paling elit se-Indonesia.

“Mas udah lama kerja di sini?” tanya Sabine.

Di belakangnya, Tio batuk lagi. Lebih keras.

“Lumayan,” jawab pria itu. “Dari kecil.”

“Dari kecil?”

“Main-main di sini dari SD. Serius kerja dari lulus kuliah.” Dia berjalan ke rak cat, menarik dua katalog tebal. “Eksteriornya mau yang tahan cuaca atau yang tahan cuaca banget? Soalnya lokasinya kalau nggak salah di jalan yang sering banjir, ya?”

“Kok tahu lagi?”

“Basko cerita.”

Sabine berkedip. Basko. Kontraktor proyeknya. Jadi Basko kenal karyawan di sini, dan bercerita soal proyeknya. Masuk akal. Dunia konstruksi itu kecil, semua orang saling kenal, dan Basko bicara dengan semua orang tentang semua hal.

“Kalau gitu,” katanya, “yang tahan cuaca banget.”

“Siap.”

Dia membukakan katalog di atas meja kaca yang penuh goresan, dan untuk lima belas menit berikutnya, Sabine lupa soal sepatunya. Lupa soal celananya. Lupa soal rapat jam dua dan meme kursi plastik dan Tante Nung. Pria itu tahu segalanya. Kode warna, waktu kering, perbandingan daya tahan, merek mana yang pigmennya cepat pudar kena matahari sore. Dia menjawab setiap pertanyaan Sabine seolah pertanyaan itu penting, dan sesekali melontarkan komentar yang membuat Sabine mendengus menahan tawa.

“Yang ini jangan,” katanya, menunjuk satu warna hijau pastel. “Namanya Kesegaran Pagi. Tapi kalau udah kena debu jalan tiga bulan, jadi Kesedihan Sore.”

Sabine tertawa. Refleks. Tidak anggun.

Dia menatapnya, dan ada sesuatu di wajahnya yang berubah selama sepersekian detik. Seperti lampu yang berkedip. Lalu senyumnya kembali, rapi, hangat, sempurna.

Dan saat itulah pelanggan lain mulai berdatangan.

“Mas! Paku beton yang tiga inci masih ada?”

“Ada, Pak Haji. Di rak biru. Ambil sendiri aja ya, cucunya udah sehat?”

“Alhamdulillah, udah lari-larian lagi.”

“Syukur. Salam buat Bu Haji.”

Lalu seorang tukang tua masuk membawa nota. “Mas, kemarin kurang dua batang.”

“Pak Darto, maaf, maaf. Nanti saya suruh Ujang antar sore ini. Gratis ongkir, ya, buat Bapak.”

Lalu seorang ibu dengan anak kecil. Lalu seorang mandor dengan helm di tangan. Setiap orang disapanya dengan nama. Setiap orang mendapat senyum yang sama, kalimat yang sama hangatnya, pertanyaan kecil tentang keluarga atau pekerjaan. Dia bergerak di antara mereka seperti ikan di air, luwes, ringan, tidak pernah terlihat lelah.

Karyawan teladan tingkat nasional, pikir Sabine. Pemiliknya pasti sangat beruntung.

Tio mencondongkan tubuh ke telinganya. “Bin.”

“Apa?”

“Lo tahu nggak ini siapa?”

“Karyawan yang pinter banget. Kenapa? Mau lo rekrut jadi drafter?”

Tio memandanginya dengan ekspresi yang Sabine tidak bisa baca. Setengah iba, setengah terlalu bahagia. “Nggak. Nggak apa-apa. Lanjut aja.”

Pria itu kembali, menulis daftar harga di kertas nota dengan tulisan tangan miring yang mengejutkan rapi. Sabine memperhatikan tangannya. Jari yang panjang. Urat di punggung tangan. Debu semen di bawah kuku yang pendek. Ada bekas luka tipis, putih, melintang di pangkal ibu jari kirinya.

Dia mendongak dan tertangkap basah sedang memperhatikan.

Pria itu tidak berkomentar. Hanya mengangkat alis sedikit, dan sudut bibirnya naik. Miring. Lebih tinggi di sisi kiri.

Sabine merasa lehernya panas.

“Totalnya di kasir, Mbak,” katanya, merobek nota itu dan menyerahkannya. “Sampel merbau sama katalog boleh dibawa. Kalau klien setuju, kabari aja. Saya siapkan.”

“Terima kasih banyak, Mas. Serius.” Sabine memeluk katalog di dadanya. “Mas siapa namanya? Biar nanti saya cari Mas lagi.”

Jeda.

Hanya satu detik. Tapi di detik itu, Sabine melihat matanya berbinar dengan cara yang sangat, sangat mencurigakan.

“Nanti juga ketemu,” katanya.


Kasirnya seorang perempuan paruh baya dengan jilbab ungu dan kacamata bertali manik-manik. Dia menghitung total dengan kalkulator besar yang tombolnya berbunyi tik-tik keras, lalu menoleh ke belakang Sabine.

“Mas Dendy, ini nota diskon proyeknya perlu ditandatangani nggak?”

Sabine berhenti bernapas.

Dia berbalik. Sangat pelan. Seperti di film horor, saat tokoh utama tahu ada sesuatu di belakangnya tapi berharap itu cuma kucing.

Pria berkaus abu-abu itu berdiri di sana. Bersandar di rak cat dengan tangan bersedekap, lengan bawahnya yang berdebu menyilang di dada. Dia mengambil pulpen dari saku celana, menandatangani nota di atas meja kasir dengan satu coretan cepat, lalu menegakkan tubuh dan mengulurkan tangan.

“Dendy,” katanya. “Dendy Hermawan. Salam kenal, Mbak Sabine.”

Sabine menatap tangan itu.

Kaus abu-abu. Kaus hitam di foto profil. Cengiran miring. Lengan bawah yang ia perbesar sampai pikselnya pecah jam sepuluh malam kemarin.

Oh, tidak.

Oh, tidak.

“Saya...” Sabine menjabat tangannya. Telapak tangan yang hangat, kasar, dan menggenggam dengan pas, tidak terlalu keras, tidak terlalu lembek. Dia menariknya kembali terlalu cepat. “Saya kira Mas... Mas tadi angkat semen...”

“Iya, tadi Ujang sakit pinggang. Kasihan.”

“Dan saya nyuruh-nyuruh Mas...”

“Nggak apa-apa. Instruksinya bagus. Semennya memang nggak boleh kena genangan.” Dia tersenyum, dan kali ini senyumnya melebar sampai matanya ikut berkerut di ujung. “Tenang, Mbak. Saya memang sering disangka kuli. Gajinya aja yang beda.”

Di pintu toko, Tio sudah tidak tahan lagi. Dia berjalan keluar dengan bahu bergetar hebat, tangan menutup mulut, lalu jongkok di samping pikap dan tertawa sampai terbatuk-batuk. Tukang-tukang yang tadi mengangkat semen menoleh bingung, lalu ikut tertawa tanpa tahu kenapa.

Sabine ingin lantai semen yang tidak rata ini terbuka dan menelannya utuh.

“Saya permisi dulu,” katanya, suaranya naik satu oktaf lebih tinggi dari biasanya. “Terima kasih banyak, Mas Dendy. Sampelnya nanti saya kabari. Permisi.”

“Hati-hati, Mbak. Genangannya masih ada.”

Dia berbalik dan berjalan cepat ke arah pintu, tak-tak-tak, dan hampir berhasil keluar dengan sisa martabat yang masih ada sampai suara itu terdengar lagi di belakangnya. Santai. Ringan. Hampir sambil lalu.

“Oh iya, Mbak.”

Sabine berhenti.

“Rendangnya enak?”

Waktu berhenti. Burung-burung di kabel listrik berhenti. Mungkin rotasi bumi juga berhenti.

Dia menoleh sedikit, hanya cukup untuk melihat Dendy Hermawan masih bersandar di rak cat dengan cengiran miring yang sama persis dengan foto profilnya, matanya berbinar, tidak ada rasa bersalah sedikit pun.

“Enak,” jawab Sabine, dengan sisa-sisa harga diri yang ia kumpulkan dari lantai. “Mentalnya yang nggak.”

Dan untuk pertama kalinya pagi itu, Dendy tertawa. Tidak keras. Hanya satu dengusan pendek yang lolos dari hidungnya sebelum dia sempat menahannya, kepala sedikit menunduk, tangan menyentuh tengkuk.

Sabine keluar sebelum wajahnya meledak.


Di mobil, Tio masih mengelap air mata.

“Gue nggak bakal lupa ini seumur hidup,” katanya. “Pas lo bilang Mas udah lama kerja di sini? Bin. Bin. Dia pemiliknya. Generasi kedua. Basko udah bilang di grup.”

“Lo tahu dari awal?”

“Dari lo manggil dia Mas, sebentar kayak manggil tukang parkir.”

“Kenapa lo nggak bilang?!”

“Karena,” Tio menyalakan mesin, menyeringai lebar, “ini jauh lebih lucu.”

Sabine menjatuhkan kepalanya ke dasbor. Keras. Katalog cat di pangkuannya terjatuh ke karpet mobil, terbuka di halaman Kesegaran Pagi.

Dia tidak mengambilnya. Dia hanya menutup mata dan membiarkan pipinya menempel di plastik dasbor yang dingin, dan mencoba tidak mengingat bagaimana rasanya telapak tangan kasar itu, atau bunyi tawa pendek yang terdengar kaget pada dirinya sendiri, atau garis debu di atas alis yang tidak ia seka sampai Sabine pergi.

Mereka sudah setengah jalan menuju studio saat Sabine menegakkan tubuh dan meraba jok belakang.

Kosong.

“Tio.”

“Hm?”

“Tabung gambar gue mana?”

Tio melirik spion. Lalu melirik Sabine. Lalu senyumnya pelan-pelan melebar lagi, lebih menyebalkan dari sebelumnya.

“Ketinggalan di meja katalog, kayaknya.”

Tabung gambar hitam. Dengan stiker nama besar di tutupnya. SABINE S. — SKETSA UTAMA. Berisi gambar kerja lengkap proyek kafe-galeri yang harus ia presentasikan jam dua siang.

Ponselnya bergetar di pangkuan.

Nomor tidak dikenal. Bukan, nomor yang dikenal. Nomor yang tersimpan di grup proyek sejak Kamis lalu, tapi belum pernah menghubunginya secara pribadi.

Sebuah foto. Tabung gambar hitamnya, berdiri tegak di atas meja kaca penuh goresan, disandarkan dengan hati-hati ke tumpukan katalog. Di sebelahnya, secangkir kopi yang masih mengepul.

Lalu satu pesan.

Dendy Hermawan: Ketinggalan, Mbak. Aman di sini. Saya jagain sampai diambil.

Sabine menatap layar itu sampai layarnya meredup sendiri.

“Putar balik,” katanya pelan.

Tio sudah menyalakan lampu sein sebelum dia selesai bicara.

fana10j

Tolong banget ini malunya nembus layar 😭

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk