Kata-kata itu ada di tenggorokannya.
Semuanya. Setiap kalimat yang ia ketik dan hapus di meja makan yang gelap. Setiap penjelasan yang ia susun di lorong rumah sakit dan di warkop Mbak Sri dan di bangku di depan jendela yang menghadap pohon kamboja. Semuanya ada di sana, menumpuk di belakang lidahnya, dan tidak ada satu pun yang mau keluar.
Seperti truk semen yang terjebak di gang sempit. Terlalu banyak muatan. Terlalu lebar untuk jalan yang ada.
Dia berdiri di bawah dak beton dan menatap punggung Sabine yang berjalan menjauh. Rompi oranye. Tabung gambar yang memukul-mukul punggungnya. Kets yang memercik di genangan air. Rambut ikal yang basah kuyup, menempel di leher.
Oke, katanya. Kata yang sama. Kata yang ia ucapkan di mobil yang berembun sebelum membuka pintu dan tidak menoleh.
Dia melihat Sabine berhenti di ambang pintu. Satu detik. Di depan tirai hujan yang abu-abu.
Dan dia tahu, dengan kejernihan yang aneh dan dingin, bahwa kalau dia tetap berdiri di sini, di bawah dak beton ini, dengan tangan yang gemetar dan mulut yang tidak bisa bicara, maka itu sama saja dengan lorong rumah sakit.
Bedanya, kali ini dia yang memilih.
Tujuh tahun lalu, dia tertidur di kursi plastik, dan saat dia bangun, semuanya sudah selesai. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada yang bisa ia kejar. Tidak ada pintu yang bisa ia buka. Mesin sudah berbunyi panjang, dan Basko yang membangunkannya.
Sekarang dia bangun. Matanya terbuka. Dan perempuan yang membuat dia ketawa seperti orang bego sedang berjalan keluar ke tengah hujan.
Sabine melangkah keluar.
Dendy berlari.
Dia tidak pernah berlari mengejar siapa pun.
Dia menyadari itu di langkah ketiga, saat kakinya tergelincir di lumpur di depan pintu dan dia hampir jatuh berlutut. Dia tidak pernah berlari mengejar bus. Tidak pernah berlari mengejar pelanggan yang lupa kembalian. Tidak pernah berlari ke lapangan waktu Ina memanggil dari tepi lapangan basket SMA. Dia lemari. Lemari tidak berlari.
Sekarang dia berlari. Canggung, berat, tidak berirama. Seperti orang yang baru belajar. Lumpur menyembur dari bawah sepatunya. Hujan menghantam wajahnya begitu keras sampai dia tidak bisa membuka mata lebar-lebar. Angin mendorongnya ke samping.
“Sabine!”
Suaranya hilang di tengah hujan. Dia berteriak lagi. Lebih keras. Lebih keras dari yang pernah ia teriakkan seumur hidupnya.
“SABINE!”
Tanpa Mbak.
Dia melihat punggung itu tersentak. Langkahnya melambat. Tapi tidak berhenti.
Dia berlari lebih cepat. Melewati tumpukan pasir yang ditimpa dahan trembesi. Melewati batu bata yang berserakan di lumpur. Di sudut matanya, bedeng seng dengan wajah-wajah yang menatap dari bawah atapnya. Basko. Pak Jarwo. Tio. Tukang-tukang yang basah kuyup. Dia tidak peduli.
Dia menyusulnya di dekat pagar. Tidak menangkap lengannya. Tidak mencengkeram rompinya. Dia berlari melewati Sabine, lalu berbalik, dan berdiri di depannya. Menghalangi jalannya. Dengan napas yang putus-putus dan dada yang naik turun dan air yang mengalir dari rambut ke mata.
Sabine berhenti.
Dia menatap Dendy. Wajahnya basah. Matanya merah. Sisa eyeliner yang sudah jadi garis-garis hitam di pipi. Bibir yang gemetar karena dingin, atau karena tangis, atau keduanya.
“Minggir, Mas.”
“Nggak.”
“Mas...”
“Aku ketawa.”
Sabine berhenti.
Dendy menelan. Tenggorokannya terasa seperti diisi pasir. Kata-kata masih menumpuk di sana, terlalu banyak, terlalu berantakan. Tapi satu sudah keluar. Dan kalau satu sudah keluar, yang lain bisa menyusul. Seperti batu bata yang dicabut dari tembok.
“Hari pertama kamu datang ke toko,” katanya. Suaranya serak, harus berteriak sedikit supaya terdengar di atas hujan. “Kunjungan kedua. Kamu debat soal Putih Tulang sama Putih Gading. Kamu bilang itu kayak mantan yang ganti nomor. Dan aku ketawa. Bukan senyum. Bukan yang... yang biasa. Ketawa beneran. Sampai Bu Tuti berhenti ngitung. Sampai Ujang berhenti jalan.”
Sabine menatapnya. Tidak bergerak.
“Itu yang pertama,” kata Dendy. “Dalam tujuh tahun. Hal pertama yang aku lakuin yang nggak ada di aturan.”
Petir menyambar. Dekat. Suaranya seperti langit yang dirobek. Cahaya putih memenuhi segalanya selama satu detik.
Dan di atas mereka, bunyi yang lain. Kayu yang retak.
Dendy mendongak. Dahan trembesi. Besar. Di atas pagar. Bergoyang dengan cara yang salah.
Dia tidak berpikir. Dia meraih tangan Sabine. Bukan rompinya. Tangannya. Dan menariknya. Ke kanan. Ke arah satu-satunya bangunan terdekat. Gudang material kecil di sisi site, bedeng kedua yang lebih sempit dari bedeng utama, tempat Pak Jarwo menyimpan cangkul dan sekop dan gulungan selang.
Mereka masuk tepat saat dahan itu jatuh. Menghantam pagar dengan bunyi yang membuat tanah bergetar. Besi melengkung. Daun dan ranting beterbangan.
Di dalam gudang material, gelap dan sempit. Bau karat, oli, tanah basah. Atap seng yang berlubang di tiga tempat, dan air hujan mengalir dari lubang-lubang itu dalam tali-tali tipis yang jatuh ke lantai tanah. Cangkul-cangkul bersandar di dinding. Gulungan selang di pojok. Satu bohlam kecil yang tergantung dari kabel, mati.
Hanya cahaya abu-abu dari celah pintu dan dari lubang-lubang di atap.
Dendy masih memegang tangan Sabine.
Dia menyadarinya dan tidak melepaskannya.
“Ina,” katanya.
Di dalam gudang yang sempit, dia tidak perlu berteriak. Hujan masih keras di atap seng, tapi suaranya sekarang terdengar. Pelan. Serak.
Sabine tidak menarik tangannya.
“Namanya Ina Suranda. Duduk di sebelahku hari pertama SMP. Dia bilang aku kayak lemari. Dia kasih aku setengah roti selai stroberi tanpa nanya aku mau atau nggak.” Dendy menatap tangan mereka. Tangan Sabine yang kecil dan dingin dan bernoda tinta biru di jari tengah, di dalam tangannya yang besar dan kasar. “Dia ngajarin aku ngomong. Senyum. Sebut nama orang. Tanya kabar. Kasih kopi. Semua yang kamu lihat di toko hari pertama itu, itu dia. Kamu benar. Semuanya dia.”
Air hujan jatuh dari lubang di atap. Tepat di antara mereka. Tali air yang tipis, berkilau di cahaya abu-abu.
“Kopi gula aren itu resepnya. Aku bilang resep keluarga. Karena aku nggak bisa bilang resep istriku yang udah meninggal ke perempuan yang baru aku kenal sejam.”
Sabine menarik napas. Pelan.
“Kami nikah tujuh tahun lalu. Tiga bulan kemudian dia sakit. Demam. Aku kira masuk angin. Seminggu di rumah sakit.” Suaranya retak. Dia membiarkannya. “Malam terakhir, dia bangun sebentar. Dia tarik sudut bibirku pakai jarinya. Dia bilang, senyum, Den. Jangan kayak orang mau nagih utang. Terus dia tidur. Terus jam tiga lewat empat belas pagi, mesinnya bunyi panjang. Aku ketiduran di kursi di lorong. Basko yang bangunin aku.”
Dia menatap Sabine.
“Jadi aku senyum. Tujuh tahun. Ke semua orang. Karena itu janji terakhir yang bisa aku tepati. Dan karena kalau aku senyum ke semua orang, nggak ada yang spesial. Kalau nggak ada yang spesial, nggak ada yang bisa hilang.”
Tangan Sabine bergerak di dalam tangannya. Tidak menarik diri. Hanya bergerak. Jari-jarinya bergeser sedikit, sampai menyelip di antara jari-jari Dendy.
Dia melanjutkan.
“Malam kamu kirim pesan itu. Cat. Aku ketawa. Sendirian di meja makan. Aku udah mau bales. Aku udah tahu mau nulis apa. Terus kalender bunyi. Jam dua belas lewat tiga. Hari itu dimulai.” Dia menelan. “Dan aku ngerasa kayak ketahuan selingkuh. Di hari dia. Dari semua hari.”
“Aku nggak tahu,” bisik Sabine.
“Aku tahu kamu nggak tahu. Waktu itu.” Dendy menarik napas. “Tapi seminggu lalu aku buka Instagram. Aku nemu notifikasi. Kamu like foto dia sama dua gelas kopi. Terus kamu unlike. Tapi notifikasinya nyangkut.”
Sabine memejamkan mata. “Ya Tuhan.”
“Dan aku sadar kamu udah tahu. Dari lama. Sebelum mobil. Sebelum gudang. Kamu udah tahu, dan kamu nggak pernah bilang apa-apa. Kamu jagain Pak Jarwo. Kamu jagain aku.” Suaranya pecah lagi. “Aku nggak pantas dijagain kayak gitu, Sabine.”
Sabine membuka mata. Menatapnya.
“Dan warung bakso,” kata Dendy. “Aku nggak sadar. Sumpah. Tujuh tahun, tiap Kamis, kakiku jalan ke sana sendiri. Aku kira karena dekat. Karena enak. Aku nggak inget foto itu ada. Aku nggak inget pernah nulis langganan tiap Kamis.” Dia menggeleng. “Waktu kamu batalin, aku pikir itu jawaban kamu. Aku pikir kamu udah milih. Dan aku nulis semangat ya, dan aku ngerasa... lega.”
Sabine menegang.
“Terus aku benci diriku sendiri karena ngerasa lega,” lanjut Dendy cepat. “Karena lega itu artinya aku aman. Nggak ada yang perlu dijelasin. Nggak ada yang bisa hilang. Dan aku sadar, lega itu yang bikin aku jadi lemari selama tujuh tahun.”
Hujan di atap seng. Tali-tali air dari lubang-lubang di atas. Di luar, suara angin yang mulai sedikit mereda. Sedikit.
“Hari kayu jati telat,” kata Dendy. Pelan. “Papa kolaps. Pagi-pagi. Di kamar mandi. Stroke ringan. Aku di rumah sakit dari jam enam. Aku duduk di lorong. Kursi plastik biru. Bau antiseptik. Dokter bilang Papa perlu dirawat untuk observasi.”
Sabine menarik napas tajam. Tangannya di dalam tangan Dendy mengencang.
“Kata itu, Sabine. Observasi. Tujuh tahun lalu dokter juga bilang itu. Ina perlu dirawat untuk observasi. Dan seminggu kemudian dia...” Dia berhenti. “Aku nggak bisa angkat telepon siapa pun. Nggak bisa ngomong. Tanganku gemetar. Dan malamnya, di gudang, kamu datang, dan aku masih bau lorong itu. Dan aku nggak bisa jelasin, karena kalau aku jelasin, aku harus bilang semuanya. Dan kamu bakal lihat aku kayak semua orang lihat aku tujuh tahun lalu. Kasihan.”
“Mas...”
“Aku nggak mau dikasihani sama kamu.” Suaranya naik. “Dari semua orang di dunia, bukan kamu. Kamu satu-satunya orang yang lihat aku kayak aku bukan lemari yang ditinggal pemiliknya.”
Sabine menatapnya. Air mata mengalir lagi. Tapi wajahnya berubah. Sesuatu di sana melunak. Seperti mentega di wajan.
“Dan setiap kali aku cium kamu,” kata Dendy, lebih pelan sekarang, hampir berbisik, “setiap kali aku mundur, itu bukan karena aku lihat Ina.”
Dia melepaskan tangan Sabine. Hanya untuk merogoh saku celana belakangnya. Mengeluarkan dompet yang basah kuyup. Membukanya dengan jari yang masih gemetar.
Di balik KTP, dua benda terlipat. Keduanya basah. Dia mengeluarkan yang pertama. Tisu cokelat yang tipis, hampir hancur karena air. Dia membukanya dengan sangat hati-hati di atas telapak tangannya.
Tinta pulpen sudah merembes. Garis-garis melebar. Tapi masih bisa dibaca.
Tiga lingkaran. D di kiri. S di kanan. Dan di atas, di tengah, lingkaran ketiga. Dengan dua kata di dalamnya, satu di atas yang lain, dalam tulisan tangan miring yang sekarang meleleh seperti cat air.
takut.
tetap.
Sabine menatap tisu itu. Lama.
“Rizal yang gambar lingkarannya,” kata Dendy. “Dia suruh aku tulis apa yang ada di antara kita. Semua orang bakal nulis nama Ina. Aku juga pikir bakal nulis itu.” Dia menggeleng. “Tapi yang keluar bukan itu. Yang ada di antara kita bukan dia, Sabine. Yang ada di antara kita itu aku. Rasa takutku. Setiap kali aku cium kamu, aku ngerasa hidup lagi. Kayak ada lampu yang nyala di ruangan yang udah tujuh tahun gelap. Dan itu yang bikin aku takut. Karena kalau aku sayang sama kamu kayak gitu, aku bisa kehilangan lagi. Dan aku nggak yakin bisa selamat dua kali.”
Dia menatap kata kedua. tetap.
“Tapi tadi,” katanya, “waktu perancah itu jatuh. Aku takut. Takut banget. Tanganku masih gemetar sampai sekarang. Lihat.” Dia mengangkat tangannya. Gemetar. “Tapi aku tetap lari. Aku tetap narik kamu. Aku nggak tidur di kursi plastik kali ini.”
Sabine menatap tangannya yang gemetar. Lalu menatap wajahnya.
“Mama cerita,” lanjut Dendy. “Seminggu lalu. Tujuh tahun dia simpan. Malam kelima, waktu aku pulang buat mandi, Ina bilang ke Mama, jangan biarin Dendy sendirian terlalu lama. Dia bakal pura-pura baik-baik aja. Dia bakal senyum ke semua orang. Jangan percaya.”
Dia tersenyum. Kecil. Basah.
“Terus dia bilang, kalau nanti ada perempuan yang bikin dia ketawa kayak orang bego, suruh dia kejar.”
Sabine menutup mulut dengan tangan. Bahunya bergetar.
“Semalam aku ke rumahmu,” kata Dendy. “Aku berhenti di seberang jalan. Di bawah pohon ketapang. Aku lihat kamu pakai kebaya hijau. Aku lihat kamu ketawa sama kakakmu. Aku lihat laki-laki pakai batik kawung di sebelahmu. Dan Basko bilang di grup dia calonmu.”
Sabine menurunkan tangan dari mulut. “Mas...”
“Aku nggak turun. Karena aku nggak mau datang ke kamu sambil bawa semua ini di punggungku. Di depan keluargamu. Di depan dia.” Dendy menarik napas. “Jadi aku pulang ke toko. Aku turunin foto pernikahan kami dari dinding kantor. Tujuh tahun foto itu di sana, ngawasin aku kerja. Aku bawa ke rumah Mama. Mama bungkus pakai jarik seserahan. Kami gantung di dinding ruang tengah. Di sebelah foto Papa sama Mama. Di sebelah foto aku bayi. Sama keluarga.” Suaranya tercekat. “Papa pasang pakunya tujuh tahun lalu. Nunggu aku siap.”
Sabine menangis sekarang. Tidak ditahan. Isak yang keluar dari dada.
“Aku nggak minta kamu jadi pengganti,” kata Dendy. “Kamu nggak bisa gantiin dia, dan dia nggak bisa gantiin kamu. Kalian beda. Dia bikin aku bisa ngomong. Kamu bikin aku pengen ngomong. Dia ngajarin aku ketawa. Kamu...”
Dia berhenti. Mencari kata.
“Kamu bukan tempat aku belajar ketawa lagi, Sabine. Kamu alasan aku ketawa.”
Hujan di atap seng. Tali-tali air yang jatuh.
“Dan kamu bukan yang kedua,” bisiknya. “Kamu bukan kursi plastik di pojok foto. Waktu aku lihat kamu, aku nggak lihat dia. Aku lihat perempuan yang nyuruh-nyuruh aku angkat semen. Yang salah kirim stiker kucing. Yang nulis cat padahal maksudnya chat. Yang duduk di genangan air nutupin kayu jati di tengah badai karena dia keras kepala dan profesional dan nggak mau Pak Wiwik marah lagi.”
Sabine tertawa. Di tengah tangis. Tawa yang pecah dan basah dan jelek.
“Dia bukan calonku,” katanya dengan suara serak. “Farhan. Dia dikasih PDF profil aku sama ibunya. Tiga halaman. Ada tabel tinggi badan.”
Dendy mengerjap. “PDF?”
“Aku juga dapat PDF dia. Hobinya golf. Tingginya dibulatin ke atas.” Sabine mengusap wajahnya. “Dia baik. Dia bilang ke ibunya kami udah ketemu dan aku baik. Udah. Itu aja.”
Dendy menatapnya. Lalu dia tertawa juga. Kecil. Tidak percaya. Tangannya naik ke tengkuk.
Lalu dia ingat benda kedua di dompetnya.
Dia mengeluarkannya. Kertas mengilap yang terlipat empat, sekarang basah dan sedikit melengkung di pinggir. Dia membukanya. Pelan. Supaya tidak sobek.
Halaman katalog. Dua kotak warna. Putih Tulang. Putih Gading. Dan di pojok halaman, noda sidik jari tinta biru, hampir hilang sekarang, tapi masih ada, masih bisa dilihat kalau kau tahu harus mencari di mana.
Dia menyodorkannya ke Sabine.
Sabine menatap kertas itu. Menatap sidik jari di pojoknya. Mengenalinya. Dan wajahnya berubah lagi.
“Dan buat catatan,” kata Dendy, suaranya serak, hampir hilang, tapi dengan sesuatu di ujungnya yang terdengar sangat mirip dengan dirinya sendiri, dirinya yang dulu, sebelum lorong dan kursi plastik, “Putih Tulang sama Putih Gading itu beda.”
Sabine tertawa.
Tertawa sampai membungkuk. Sampai harus memegang lengan Dendy supaya tidak jatuh. Tertawa sambil menangis, air mata dan air hujan dan ingus dan eyeliner, semua bercampur di wajahnya, dan suara tawanya memenuhi gudang material yang sempit itu, keras dan tinggi dan sama sekali tidak anggun.
Tawa pertama. Setelah semua itu.
Dendy menatapnya. Dan dadanya penuh.
Lalu Sabine berhenti tertawa. Menegakkan tubuh. Menatapnya dari jarak yang sangat dekat, dengan mata yang merah dan basah dan terbuka.
Dan dia yang bergerak lebih dulu.
Dia melangkah maju. Satu langkah. Melewati tali air yang jatuh dari lubang di atap, membiarkannya membasahi bahunya. Tangannya naik. Menyentuh wajah Dendy. Dua telapak tangan, dingin dan kecil, di kedua sisi rahangnya. Di cambang yang tumbuh tidak rata di sisi kiri.
Dia menatapnya. Seperti bertanya.
Dendy tidak mundur.
Sabine menciumnya.
Pelan. Sangat pelan. Tidak seperti di mobil, yang ragu dan lapar. Tidak seperti di gudang, yang kasar dan putus asa. Tidak seperti tadi, di bawah perancah, yang lahir dari rasa takut.
Ini disengaja.
Bibir yang dingin dan basah dan sedikit asin karena air mata. Menyentuh. Diam di sana. Menunggu.
Dendy membalas.
Tangannya menemukan pinggang Sabine. Rompi oranye yang licin karena air. Menariknya lebih dekat. Pelan. Hati-hati. Seperti memegang sesuatu yang berharga, bukan sesuatu yang bisa pecah.
Ciuman itu dalam. Dan lambat. Dan tidak ada yang mundur.
Hujan terus turun di atap seng yang bocor. Air menetes dari lubang-lubang, jatuh di bahu mereka, di rambut, di pipi. Mereka tidak peduli. Di luar, angin mulai mereda. Pohon trembesi berhenti mengamuk. Hanya bergoyang sekarang, pelan, seperti orang yang baru selesai menangis.
Saat akhirnya mereka berpisah, tidak ada yang menjauh.
Dendy menempelkan dahinya ke dahi Sabine. Mata terpejam. Napas mereka bercampur di ruang kecil di antara wajah mereka, hangat di tengah semua yang dingin.
Dan dia tertawa. Kecil. Pelan. Tawa yang keluar dari dada, dari tempat yang sudah lama sekali tertutup. Tawa orang yang tidak percaya.
“Kenapa ketawa?” bisik Sabine.
“Nggak tahu,” jawab Dendy. Jujur. “Nggak ada di aturan.”
Sabine tersenyum. Dia bisa merasakannya, di dahi yang menempel ke dahinya.
“Mas,” katanya.
“Hm.”
“Aku mau mulai dari awal. Yang bener.”
Dendy membuka mata. Menatapnya dari jarak yang tidak ada jaraknya.
“Kencan,” kata Sabine. “Beneran. Kamu yang ngajak. Kamu yang jemput. Dan kamu yang bilang semuanya dengan mulut, bukan pakai emoji tangan.”
“Oke.”
“Dan bukan di Pak Gino.”
Dendy tertawa lagi. “Bukan di Pak Gino.”
“Janji?”
“Janji.”
Dia menunduk sedikit dan mencium dahinya. Satu kali. Di tempat yang sama yang tadi ia cium berkali-kali di bawah perancah yang jatuh. Tapi kali ini bukan menghitung. Bukan memastikan. Hanya... ada.
Lalu dari luar, dari arah bedeng utama, suara yang sangat keras dan sangat akrab membelah sisa-sisa hujan.
“WOI!”
Basko.
“UDAH BELUM?! ANAK-ANAK GUE KEDINGINAN! PAK JARWO UDAH BERSIN TIGA KALI!”
Sabine membeku. Lalu tertawa lagi. Menyembunyikan wajahnya di dada Dendy, di kemeja yang basah kuyup, dan bahunya berguncang.
Dendy memeluknya. Menatap celah pintu gudang, di mana di baliknya hujan sudah berubah jadi gerimis dan langit di barat mulai sedikit terang.
“BENTAR!” teriaknya balik.
“BENTAR BENTAR! DARI TADI BENTAR!”
Sabine tertawa lebih keras.
Dan Dendy menunduk menatap tangannya sendiri. Tangan kanan yang melingkar di punggung Sabine. Tangan kiri yang masih memegang halaman katalog yang basah.
Tidak gemetar.
Dia tidak tahu sejak kapan tangan itu berhenti gemetar. Tapi tangan itu diam sekarang. Tenang. Kokoh. Seperti lemari. Tapi lemari yang akhirnya dipindah.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!