Bab 23 - Konfrontasi di Bawah Hujan

0 dibaca

A

Dia seharusnya keluar lima menit yang lalu.

Tio sudah menyuruhnya. Basko sudah menyuruhnya tiga kali, dengan suara yang makin keras setiap kali, sampai yang terakhir terdengar seperti orang yang memanggil anak kecil dari tepi kolam. Pak Jarwo tidak menyuruhnya. Pak Jarwo hanya berdiri di pintu bangunan dengan helm retaknya dan menatap Sabine dengan mata yang cemas, dan itu lebih buruk dari disuruh.

Dua menit lagi, katanya. Dua menit, Pak.

Karena kayu jati itu.

Delapan belas batang. Untuk tangga dan railing lantai dua. Railing yang ia gambar selama tiga minggu, yang garis lengkungnya ia hapus dan gambar ulang puluhan kali karena setiap kali tangannya bergerak, tangannya ingat bentuk kerah kemeja seseorang. Kayu yang terlambat datang. Kayu yang membuat Pak Wiwik membuka kacamata hitamnya dan bilang mungkin kami yang salah pilih konsultan. Kayu yang membuat Sabine berdiri di bawah pohon trembesi dengan ponsel di tangan, menatap empat panggilan tak terjawab dan satu pesan abu-abu.

Kayu itu tidak boleh rusak. Tidak hari ini. Tidak setelah semuanya.

Jadi dia berjongkok di genangan air, menarik terpal biru yang terus dilempar angin, dengan tabung gambar di punggung dan helm studio yang terlalu besar dan terus melorot ke mata. Dia tidak mendengar perancah itu berderit. Angin terlalu keras. Hujan terlalu keras. Kepalanya terlalu penuh.

Dia hanya merasakan tangan yang mencengkeram rompinya. Lalu dunia terlempar ke belakang. Lalu bunyi seperti bangunan runtuh.

Lalu dia terbaring di atas dada seseorang, dan helmnya mengambang terbalik di genangan air, dan di tempat ia berjongkok sedetik yang lalu, ada tumpukan bambu patah dan papan dan terpal biru yang turun pelan seperti kain kafan.

Dan orang itu memeluknya. Dan menciumnya. Di pelipis, di dahi, di pelipis lagi, berkali-kali. Lalu di bibir.

Dan untuk dua detik, dia membalas.

Dua detik. Karena dia hidup, dan orang itu gemetar, dan bibirnya hangat di tengah semua yang dingin, dan di dalam dadanya sesuatu melompat seperti anak tangga yang salah hitung.

Lalu dia ingat.

Mobil yang berembun. Harusnya nggak. Emoji tangan terkatup keesokan paginya.

Gudang. Kayu jati yang jatuh. Maaf. Dan diam.

Titip maaf lewat Ujang. Oke, semangat ya. Dua puluh satu hari abu-abu.

Dan tangannya berubah. Dari mencengkeram jadi mendorong.


Sekarang dia duduk di lantai beton yang tergenang, dengan kaki terlipat di bawah tubuh, dan menatap Dendy Hermawan yang terduduk di depannya.

Dia basah kuyup. Kemeja kotak-kotak biru tua yang menempel di bahu dan dada seperti kulit kedua. Rambut hitam yang jatuh ke dahi, meneteskan air ke alis, ke bulu mata, ke pipi. Satu lengan kemejanya robek di siku, dan di bawahnya, garis merah tipis tempat kulitnya tergores lantai beton. Dia tidak sepertinya menyadarinya.

Dan tangannya. Tangan yang terletak di genangan air di sampingnya. Gemetar.

Sabine melihatnya. Dia melihat tangan itu gemetar hebat, seperti daun di tengah badai, dan untuk satu detik sesuatu di dadanya melunak. Seperti mentega di wajan panas.

Lalu dia mengeraskannya lagi.

Karena dia juga gemetar. Karena dia juga hampir mati barusan. Karena dia juga takut. Dan tidak ada yang pernah bertanya bagaimana perasaannya. Tidak di mobil. Tidak di gudang. Tidak selama dua puluh satu hari.

“Den! Bu Sabine!”

Langkah kaki yang memercik di air. Basko muncul dari balik tiang, jas hujan plastiknya sudah robek jadi dua dan berkibar di punggungnya seperti jubah pahlawan yang gagal. Di belakangnya, Pak Jarwo, dan dua tukang dengan senter.

Basko berhenti. Menatap tumpukan perancah di bawah terpal biru. Menatap helm putih yang mengambang terbalik. Menatap dua orang yang duduk di genangan air, basah kuyup, satu jengkal dari satu sama lain.

Wajahnya berubah. Dari panik, ke lega, ke sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih hati-hati.

“Kalian... nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa, Pak,” kata Sabine. Suaranya keluar tenang. Terlalu tenang. “Tolong kasih kami waktu sebentar.”

Basko menatap Dendy. Dendy tidak menoleh. Matanya masih di wajah Sabine.

Basko menatap Sabine lagi. Lalu dia mengangguk. Pelan. Dan mundur. Menarik lengan Pak Jarwo, yang sudah membuka mulut untuk bertanya sesuatu.

“Area sini nggak aman,” kata Basko sebelum pergi, suaranya sedikit bergetar. “Pindah ke tengah. Di bawah dak lantai dua. Itu yang paling kuat.”

Lalu dia pergi. Langkah kaki di air, menjauh. Senter-senter yang menghilang di balik tiang.

Sabine berdiri.

Kakinya goyah. Lututnya lemas. Air dingin menetes dari jins ke kets yang sudah tidak putih lagi. Dia melepas tabung gambar dari punggungnya, membuka ikatan kantong plastik kresek yang menutupinya, dan memeriksa tutupnya. Kering. Stiker kucing berhelm masih di sana, sedikit terkelupas di sudut. Gambar-gambar di dalamnya aman.

Dia menyelempangkannya lagi. Berjalan ke tengah bangunan. Ke area di bawah dak beton lantai dua, tempat yang nanti akan jadi ruang duduk utama kafe, dengan lantai merbau dua per lima belas dan cahaya dari jendela-jendela tinggi yang jatuh seperti tirai tipis.

Sekarang hanya beton kasar, kolom-kolom yang belum diplester, dan genangan air. Hujan masih masuk dari lubang-lubang di dinding dan dari tangga yang belum punya railing. Angin masih menderu lewat jendela-jendela tanpa kaca. Tapi di sini, di bawah dak, setidaknya tidak ada yang bisa jatuh dari atas.

Dia mendengar Dendy berdiri di belakangnya. Mengikutinya. Langkah kaki di air.

Dia berbalik.

Dendy berhenti tiga langkah darinya. Jarak yang sama. Selalu jarak yang sama. Seperti hari pertama di toko. Seperti di gudang. Tiga langkah, seolah ada garis kapur di lantai yang hanya bisa dilihat olehnya.

Sabine menatapnya. Dan untuk pertama kalinya, dia tidak memasang senyum nomor tiga. Tidak ada senyum sama sekali.

“Kamu nggak bisa cium aku tiga kali,” katanya, “terus pura-pura nggak terjadi apa-apa.”

Suaranya tidak keras. Tidak perlu keras. Hujan dan angin sudah cukup keras. Kata-katanya jatuh di antara mereka seperti batu ke genangan air, dan dia melihat setiap kata itu mengenai wajah Dendy.

“Tiga kali, Mas. Aku hitung.” Dia mengangkat satu jari. Tangannya gemetar. Dia tidak peduli. “Di mobil. Depan rumahku. Kamu cium aku, terus kamu mundur kayak kena setrika, terus kamu bilang harusnya nggak. Terus besok paginya kamu nandain nama aku di grup pakai emoji tangan. Mohon dikonfirmasi ya. Kayak nggak ada apa-apa.”

Dua jari.

“Di gudang. Malam kayu jati. Aku datang buat nanya kenapa kamu nggak angkat telepon. Kamu nggak jawab. Kamu cium aku lagi. Dan waktu aku tanya, kamu cuma bilang maaf. Terus diem.”

Tiga jari.

“Dan barusan.” Suaranya retak di tengah. Dia menelannya. “Barusan, Mas. Aku hampir ketimpa perancah. Dan kamu... kamu...”

Dia tidak bisa menyelesaikannya. Tangannya turun.

Dendy membuka mulut.

“Jangan,” kata Sabine. “Jangan dulu. Aku belum selesai.”

Dendy menutup mulutnya.

Sabine menarik napas. Dalam. Udara dingin dan basah yang bau hujan dan semen dan kayu. Dia bisa merasakan sesuatu yang besar naik di dadanya, sesuatu yang sudah terlalu lama ditekan, seperti air di balik bendungan yang retak.

Dan dia membiarkannya keluar.

“Kamu tahu rasanya nungguin balasan chat empat belas jam?” katanya. “Enam belas jam? Lima hari? Kamu tahu rasanya bangun jam enam pagi terus langsung ngecek hp, dan satu-satunya yang ada itu jempol? Satu jempol kuning, Mas. Setelah enam belas jam.”

Dendy tidak bergerak.

“Aku bikin tabel,” lanjutnya. Dan dia tertawa, pendek, pahit, sama sekali tidak lucu. “Kamu tahu itu? Aku bikin tabel di papan tulis kantor. Pakai tiga warna spidol. Waktu respons kamu di grup, waktu respons kamu di chat pribadi. Aku ngitung sampai menit. Karena aku arsitek, dan arsitek itu kalau bingung, dia ngukur. Dia bikin gambar. Dia nyari polanya.”

Hujan masuk dari jendela di sebelah kiri mereka. Membasahi bahunya. Dia tidak bergeser.

“Dan polanya jelas banget, Mas. Di grup, kamu cepet. Kamu hangat. Kamu lucu. Kamu nandain nama aku, kamu bercanda soal Putih Gading, kamu bilang genangannya punya dendam pribadi. Tapi di chat pribadi, di tempat yang cuma ada aku sama kamu...” Dia menggeleng. “Kosong. Abu-abu. Semangat ya.”

Dia melangkah maju. Satu langkah. Melewati garis kapur yang tidak kelihatan.

“Semangat ya, Mas? Kamu ngajak aku makan siang buat jelasin. Aku batalin. Dan kamu bilang semangat ya. Kayak aku mau ujian nasional. Kayak kamu nggak peduli. Kayak kamu lega.”

Dendy memejamkan mata sebentar. Hanya sebentar. Lalu membukanya lagi. Dan Sabine melihat sesuatu di sana, sesuatu yang berkedip, tapi dia tidak berhenti.

“Terus Mbak lagi,” katanya. “Kamu sempat manggil aku Sabine. Sekali. Pagi hari Rabu itu. Tanpa Mbak. Dan aku pikir, oke, mungkin ada yang berubah. Terus seminggu kemudian, di grup, Mbak Sabine, sampel finishing untuk railing jati sudah siap.” Dia menirukan nada suaranya. Datar. Ramah. Rapi. “Kayak kamu mundur lagi ke belakang garis. Kayak kita balik lagi ke hari pertama. Arsitek sama vendor.”

Dia melangkah maju lagi. Sekarang hanya satu langkah di antara mereka.

“Dan kamu tahu apa yang paling bikin aku capek?”

Suaranya turun. Lebih pelan. Lebih berbahaya.

“Aku udah capek dibandingin seumur hidup, Mas. Seumur hidup. Dari TK. Kakakku juara kelas, aku ranking tujuh. Kakakku masuk negeri, aku swasta. Kakakku nikah, punya anak, punya rumah, jadi manager. Tiap Minggu malam, aku duduk di meja makan dan dengerin nama kakakku dibacain dari grup arisan kayak pengumuman juara. Tiap Minggu. Dua puluh tujuh tahun.” Dia menelan. “Aku kira aku udah nemu tempat di mana aku nggak perlu dibandingin sama siapa-siapa. Di meja gambar. Di site. Di... di toko bangunan, di depan katalog cat, sama orang yang ketawa karena aku bilang Putih Tulang itu kayak mantan ganti nomor.”

Air mata sudah jatuh sekarang. Dia tidak tahu sejak kapan. Bercampur dengan air hujan di pipinya, dan tidak ada yang bisa membedakannya.

“Terus aku tahu soal Ina.”

Nama itu.

Dia melihat nama itu mengenai Dendy seperti tamparan. Bahunya tersentak. Matanya melebar. Tangannya yang gemetar berhenti gemetar sesaat, seperti membeku.

“Aku tahu, Mas,” katanya. Pelan. “Aku udah tahu dari empat minggu lalu. Sebelum mobil. Sebelum gudang. Aku tahu soal kebaya putih. Soal tiga bulan. Soal hari Sabtu dan jam dua belas lewat tiga.” Dia menarik napas yang gemetar. “Aku tahu soal kopi gula aren. Soal senyum. Soal sebut nama dan tanya kabar. Aku tahu kalau semua hal yang bikin aku jatuh cinta sama kamu di hari pertama, itu semua dia yang ngajarin.”

Dendy membuka mulut lagi. Tidak ada suara yang keluar.

“Aku nggak bilang apa-apa,” lanjut Sabine. “Aku pura-pura nggak tahu. Aku pikir, kalau kamu mau cerita, kamu bakal cerita. Kalau kamu siap. Aku pikir aku bisa nunggu.” Dia tertawa lagi, dan tawanya pecah jadi isak di tengah jalan. “Aku bahkan nggak sengaja like foto kalian dari tahun 2018. Foto dia di depan toko. Sama dua gelas kopi. Aku langsung unlike. Aku lempar hp aku ke sofa. Aku nggak tidur sampai jam dua. Karena aku takut kamu tahu. Karena aku takut kamu mikir aku lagi... lagi ngintip kuburan orang.”

Hujan makin deras. Petir menyambar di kejauhan, dan untuk sesaat semua jadi putih. Wajah Dendy. Kolom-kolom beton. Genangan air yang memantulkan cahaya. Lalu gelap lagi.

“Dan terus kamu ngajak aku ke warung bakso Pak Gino.”

Dendy menutup mata. Kali ini tidak dibuka lagi.

“Hari Kamis,” kata Sabine. “Langganan tiap Kamis. Aku lihat fotonya, Mas. Dia di meja deket jendela. Kalender gambar kucing. Pipinya gembung. Dan kamu mau aku duduk di situ. Di kursi dia. Di hari dia. Buat dengerin kamu jelasin.”

Dia menggeleng. Terus menggeleng.

“Aku nggak bisa, Mas. Aku nggak bisa duduk di situ. Karena aku tahu bentuk penjelasan kayak gitu. Aku udah pernah denger. Dari cowok-cowok lain. Kamu terlalu baik buat aku. Aku butuh waktu. Aku belum siap. Aku hafal. Aku bisa gambar denahnya sambil merem.”

Dia melangkah maju. Terakhir kali. Sekarang tidak ada jarak lagi di antara mereka. Dia harus mendongak untuk menatap wajah Dendy.

“Semalam,” bisiknya, “aku berdiri di sebelah laki-laki baik. Sopan. Jujur. Udah punya rumah. Mama aku senyum ke aku kayak yang nggak pernah dia lakuin seumur hidup. Semua orang bilang kami cocok. Dan aku nggak ngerasain apa-apa, Mas. Apa-apa. Tahu kenapa?”

Dendy membuka mata. Menatapnya.

“Karena kamu,” kata Sabine. Suaranya pecah sepenuhnya sekarang. “Karena aku udah dicium sama orang yang nyium aku kayak aku satu-satunya hal yang penting di dunia. Terus orang itu mundur. Tiga kali. Dan sekarang aku nggak bisa ngerasain apa-apa lagi buat siapa pun, dan aku benci itu.”

Dia menekan telapak tangannya ke dada Dendy. Bukan mendorong. Hanya menekan. Di atas jantung yang ia bisa rasakan berdetak cepat di bawah kemeja yang basah.

“Aku tahu kamu takut,” katanya. “Aku lihat tangan kamu. Aku lihat kamu gemetar tadi. Aku tahu kamu pernah kehilangan. Aku tahu aku nggak bisa ngerti rasanya. Tapi aku juga takut, Mas. Aku juga. Aku takut jadi bayangan. Aku takut jadi yang kedua lagi, kayak seumur hidupku. Aku takut kamu lihat aku dan yang kamu lihat itu dia. Aku takut aku cuma... cuma tempat kamu belajar ketawa lagi, dan nanti kalau kamu udah bisa ketawa, kamu pergi.”

Dia menarik tangannya dari dada Dendy. Mundur satu langkah. Lalu dua.

“Aku nggak minta kamu lupain dia,” katanya. Pelan sekarang. Lelah. Seperti semua tenaganya habis keluar bersama kata-kata itu. “Aku nggak akan pernah minta itu. Dia bagian dari kamu. Dia yang bikin kamu jadi kamu. Aku nggak bisa lawan itu, dan aku nggak mau.”

Dia menyeka wajahnya dengan punggung tangan. Air hujan dan air mata dan sisa eyeliner yang sekarang pasti membuat wajahnya seperti panda, seperti Salina di dapur semalam.

“Tapi aku juga nggak mau jadi tempat singgah, Mas.”

Kalimat itu jatuh. Di antara mereka. Di genangan air di bawah dak beton yang belum diplester.

Dendy berdiri di sana. Basah kuyup. Rambut menempel di dahi. Kemeja robek di siku. Tangan yang gemetar lagi, sekarang lebih hebat dari sebelumnya.

Dia tidak bicara.

Sabine menunggu. Satu detik. Dua detik. Lima.

Dia menatap wajah itu. Wajah yang dulu tersenyum miring di foto profil yang buram. Wajah yang tertawa sampai Bu Tuti berhenti menghitung. Wajah yang sekarang pucat dan basah dan terbuka, lebih terbuka dari yang pernah ia lihat, dengan mata merah dan mulut yang bergerak-gerak seperti mencari kata-kata di dasar sumur yang sangat dalam.

Tidak ada yang keluar.

Tidak ada.

Sabine mengangguk. Pelan. Seperti orang yang akhirnya mendapat jawaban yang ia takutkan.

“Oke,” katanya.

Kata yang sama. Kata yang ia ucapkan di mobil yang berembun, sebelum membuka pintu dan keluar ke hujan.

Dia berbalik.

Dia berjalan. Melewati kolom-kolom beton. Melewati tangga tanpa railing. Melewati tumpukan merbau yang ditutup terpal, yang dulu ia duduki di hari Pak Jarwo memberinya tahu isi pengganti. Menuju pintu bangunan, yang hanya berupa lubang di dinding tanpa daun pintu, di mana di baliknya hujan turun seperti tirai abu-abu yang tebal.

Kakinya memercik di genangan air. Tabung gambar memukul-mukul punggungnya. Angin masuk dari pintu, dingin, basah, mendorongnya mundur. Dia terus berjalan.

Di ambang pintu, dia berhenti sesaat. Di luar, pohon trembesi masih mengamuk. Dahan-dahan berayun. Daun-daun beterbangan. Bedeng seng berderak. Di bawah atapnya, Basko dan Pak Jarwo dan Tio dan tukang-tukang berdiri berdesakan, menatapnya.

Dia tidak menatap mereka. Dia tidak menoleh ke belakang.

Dia melangkah keluar. Ke tengah hujan.

Air langsung menghantamnya dari segala arah. Dingin. Keras. Seperti ribuan jarum kecil di kulit wajah dan leher dan tangan. Angin mendorongnya ke samping. Dia terus berjalan. Menyeberangi halaman yang sudah berubah jadi lumpur. Melewati tumpukan pasir yang ditimpa dahan trembesi. Melewati batu bata yang berserakan.

Dia tidak tahu mau ke mana. Pagar. Jalan. Ojek, kalau ada ojek yang masih beroperasi di tengah badai. Rumah. Kamar. Kasur. Bantal. Tempat di mana dia bisa menangis tanpa ada yang melihat.

Dia hanya tahu dia tidak bisa berdiri di sana lagi. Di depan wajah yang tidak bicara.

Dia tidak menoleh.

Tidak menoleh. Seperti di mobil yang berembun. Seperti di gudang dengan kayu jati yang jatuh. Dia sudah ahli. Dia sudah terlalu ahli.

Hujan menenggelamkan semua suara. Angin. Petir. Seng yang berderak. Suaranya sendiri, yang keluar dari tenggorokan sebagai isak yang tidak bisa ia tahan lagi.

Lalu, di bawah semua itu, satu suara lain.

Pelan dulu. Hampir tidak terdengar. Lalu makin jelas. Makin dekat.

Langkah kaki. Di lumpur. Di genangan. Berat dan cepat dan tidak berirama, seperti seseorang yang berlari tanpa tahu cara berlari, seperti seseorang yang tidak pernah berlari mengejar apa pun seumur hidupnya.

Di belakangnya.

Kali ini, di belakangnya, mesin tidak diam.

Kali ini, di belakangnya, ada langkah kaki.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk