Hanya Sebuah Alasan

0 dibaca

A

“Sorry ya, gue gak sengaja tadi bikin lo takut hehe,” ucap seorang pria yang terlihat sudah memasuki usia dua puluh lima tahun. Rambutnya gondrong dengan hoodie yang sudah sedikit usang. Ia mengusap pundak Nala untuk memastikan Nala sudah aman di dekatnya.

“Gak papa bang, gue juga lagi emosional aja kali.” Nala hanya menjawabnya dengan nada yang turun. Meski begitu, ia mencoba untuk membuka dirinya. Setidaknya grup inilah yang akan bersamanya hingga akhir hidupnya.

“Baiklah, Karena semua orang sudah berkumpul di sini. Mari kita mulai saja perkumpulan hari ini.” Pria berhoodie itu mencoba memberikan komando untuk segera membentuk lingkaran. “Gue Lion, gue founder squad menolak hidup ini. Gue harap, selama kita di sini, kita bisa saling berbagi cerita hingga—”

Lion tidak melanjutkan kata-katanya. Ia melirik satu-persatu anggota squadnya yang tidak jauh berbeda dengan Nala. Semuanya sama, aura mereka, cara menatap mereka, bahkan mungkin sakit batin yang mereka miliki memiliki tujuan yang sama yaitu; kematian.

Lion melirik Nala, ia sedikit memberikan senyumannya, “Mungkin yang memberikan perkenalan pertama kali adalah teman kita yang baru saja menangis ini.”

Nala seikit terhentak, namun ia tidak bisa lari. Toh, mau lari kemana? Di segala lini kehidupan sama-sama saja; memberikan sakit yang dalam.

Nala menarik napasnya perlahan, hingga sedikit tenang. “Nama gue Nala,” ujarnya. Hatinya tiba-tiba berdegup kencang seolah ada rasa takut tidak diterima di sana namun ketika melihat satu demi satu wajah tanpa kehidupan di depannya, ia kini mencoba untuk lebih percaya diri lagi, mereka semua sama; sama-sama dikhianati hidup. 

“Gue akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam squad menolak hidup karena— Gue ingin menyusul ibu. Gue memilih untuk meninggalkan laki-laki bajingan yang berada di rumah. Laki-laki yang menyebabkan ibu menderita, dan ninggalin gue! Apa nggak cukup dia ngasih gue neraka ketika jadi anaknya? Kenapa harus bikin ibu mati juga? Harusnya dia yang mati terlebih dahulu bukan ibu.”

Tangis Nala pecah, ia memeluk Lion yang berada di sebelahnya. Baru kali ini dia berani melontarkan setiap sakit yang ia rasakan, setiap rasa kehilangan yang mendiang ibunya tinggalkan, ia bisa curahkan. Mungkin tidak hanya Nala yang terisak, namun semua orang di sana pun mencoba mengusapkan air matanya dari wajahnya.

“Gue berharap setelah gue pergi nanti, bajingan itu sadar bahwa dia sudah kehilangan keluarganya yang sangat berharga, dan yang paling terpenting; dia akhirnya sadar kalo dia lah pembunuh anak dan istrinya!”

Lion masih terus memberikan Nala dukungan secara emosi meskipun Nala tahu semua orang yang berada di sini memiliki tingkat emosi yang nol kosong atau bahkan minus.

“Ungkapin semuanya Nal.. ungkapin semua rasa kekesalan yang lo pendam sendirian. Kita di sini buat tahu semua rasa sakit yang lo derita, rasa sedih yang lo tahan, dan rasa kehilangan yang gak bisa lo sampein ke orang lain! Nangis yang kenceng Nal, nangis sampek lo lega Nal!”

Ucapan-ucapan Lion hanya menuntun Nala pada tangisannya yang tiada henti. Bahkan kini mereka saling berpelukan meski belum saling mengenal. Mereka saling memberikan kehangatan yang mungkin saja mereka tidak punya— apa yang kalian harapkan dari orang yang ingin mati kecuali harapan hidup mereka.

Setelah 10 menit Nala kini sudah sedikit lega, ada perasaan tersendiri di hatinya yang membuatnya tidak bisa menangis. Ia masih termenung dengan sedikit cegukan. Lion memberikan Nala sebuah botol berisi air mineral agar Nala tidak dehidrasi.

“Baiklah, siapa selanjutnya yang akan bercerita?”

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk