Hidup ini kejam! Setidaknya begitulah isi pikiran Nala ketika melihat botol-botol minuman haram yang berceceran di depan kamarnya. Ia melihat ayahnya terkapar di sofa rumah dengan memegang ponsel retak di tangannya.
Nala menatapnya dengan gelap, rumahnya benar-benar berantakan dan tidak karuan. Rumah yang tidak memiliki kehangatan, cinta, maupun rasa nyaman. Yang ada hanya rasa takut, benci, dan tekanan yang berat.
Dengan mendenguskan napasnya, ia menyingkirkan gelas-gelas kaca itu, memindahkannya ke halaman belakang rumah sebelum akhirnya ia berangkat ke sekolah. Ia tak sudi berpamitan dengan seseorang yang sudah membuat ibunya kehilangan nyawa.
“Coba saja saat itu kamu memilih untuk tetap berada di rumah. Ibu pastinya selamat,” dengusnya.
Nala kini duduk di bangku kelasnya— tegak, termenung, dan mati. Benar, hawa keberadaannya bahkan terasa tipis dibanding teman-temannya. Ia tidak memiliki semangat hidup setelah ibunya meninggal karena serangan jantung mendadak.
Apa aku harus mati juga ya?
Pikiran tentang menyusul kematian ibunya selalu terlintas di otaknya. Ia memikirkan seribu cara bagaimana mengakhiri hidup tanpa harus merasa menyesal.
Menyesal? Aku malah menyesal harus hidup bersama laki-laki sialan itu terus-menerus.
Tangannya berdetik, terus mengetuk meja kayu. Teman sebangkunya, Rona, cukup ketakutan dengan perubahan perilaku Nala yang terlihat seperti orang depresi.
“Nal? Nala?” ucapnya mencoba menyadarkan Nala yang masih terbengong. Rona mendorong sedikit tubuh Nala yang akhirnya berhasil mengembalikan nyawanya pada tempatnya.
“Lo gak papa kan?” tanya Rona dengan nada yang cukup khawatir. Meski biasanya Rona lebih ramai dan ceriwis daripada ini tapi kali ini dia lebih menutup mulutnya rapat-rapat dan menghargai perasaan Nala.
“Gak papa. Gue mau ke toilet bentar.” Nala meninggalkan Rona yang masih menatap punggungnya hingga menghilang dari balik tembok.
“hhhh…hhh..hhh”
Nafas Nalas terkesan terburu-buru, ia merasakan rasa sakit yang dalam tetapi bukan sakit fisik. Ini tentang jiwanya yang masih terluka dengan kepergian ibunya, ia memegang dadanya yang begitu sakit.
“Kenapa? Kenapa? Kenapa harus ibu yang pergi, kenapa bukan bajingan itu?” tangis Nala yang ditahan, bibirnya bergetar, air matanya mengucur tanpa komando. Mungkin benar kata para psikiater tentang tangisan adalah cara tubuh untuk bertahan dari luka batin.
“A..aku di sini berjuang sendirian bu…”
Ting!
Sebuah notifikasi muncul di layar ponselnya, ia kini tergabung pada sebuah grup chat yang berisi tentang—
Mereka yang ingin mengakhiri hidupnya.
Foto yang berada di layar ponsel sama persis dengan rumah yang ada di depan Nala. Rumah terbengkalai yang mungkin tidak ada yang mau masuk ke dalamnya.
“I-ini tempatnya? Yang benar saja?” gumam Nala. Ada rasa takut yang mencuat di hatinya tetapi ia memilih untuk berani menghadapinya.
Kenapa harus takut pada tempat yang terkesan angker? Padahal kehidupan jauh lebih menakutkan daripada itu.
Kakinya melangkahkan kaki pada setiap ruangan demi ruangan yang sudah berdebu. Meski dari luar terkesan gelap dan suram namun di dalam rumah ini jauh lebih terang dan terawat. Bahkan listrik masih menyala — mungkin tempat ini lebih terawat daripada hidup Nala.
“Permisi,” seru Nala berharap ada sahutan dari dalam. Sayangnya masih belum ada sahutan hingga…
“Kamu Nala ya?”
Sebuah tangan kekar dan suara yang dalam menyapanya di sana. Nala membungkuk dan menutup wajahnya dengan tas ranselnya. Ia menggigil ketakutan, air mata mengalir tanpa suara. Entah itu benar rasa takut atau hanya karena emosi yang sudah tidak terbendung lagi yang membuat dia menjadi secengeng itu.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!