BAB 3 — JANJI

0 dibaca

A

Suara langkah kaki dan percakapan memenuhi dek ketika sepuluh anak lainnya tiba. Sebagian berdiri berdekatan memegang tas masing-masing, sedangkan yang lain sibuk mengamati lingkungan baru. Tidak ada yang benar-benar saling mengenal. Mereka hanya tahu pekerjaan ini menjanjikan gaji besar untuk membantu keluarga di rumah.

Bagas menyuruh mereka berkumpul di dekat tumpukan peti. Setelah menghitung jumlah anak, dia memanggil seorang awak untuk mengambilkan air minum. Anak-anak segera mendekat ketika beberapa botol dibagikan. Perjalanan menuju pelabuhan membuat mereka haus, apalagi udara di atas dek terasa sangat gerah.

“Minum secukupnya. Setelah ini kalian akan mendengarkan penjelasan pekerjaan,” kata Bagas.

Seorang anak bertubuh kurus mengangkat tangan. “Pak, kami langsung bekerja hari ini?”

“Belum. Kalian akan berangkat setelah semua persiapan selesai. Selama perjalanan, kalian akan diajari apa yang harus dilakukan.”

Anak itu mengangguk lega karena masih memiliki waktu untuk menyesuaikan diri. Di sebelahnya, Dimas menyikut Rangga pelan.

“Setidaknya kita tidak langsung disuruh kerja.”

“Belum tentu,” jawab Jula. “Kita bahkan belum tahu berapa lama perjalanan menuju tempat menangkap cumi.”

“Makanya nanti dengarkan penjelasannya,” sahut Rangga.

Tidak lama kemudian, seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun datang dari ruang kemudi. Tubuhnya tegap, kulitnya gelap terbakar matahari, dan wajahnya menunjukkan pengalaman bertahun-tahun di laut. Bagas segera memberi jalan ketika lelaki itu mendekat.

“Ini kapten kalian,” katanya.

Lelaki tersebut memandang empat belas anak di hadapannya. Tatapannya berhenti sejenak pada beberapa wajah yang terlihat masih sangat muda sebelum akhirnya ia memperkenalkan diri.

“Nama saya Wiratma. Saya yang bertanggung jawab atas kapal ini selama di laut. Saya dengar kalian semua baru pertama kali bekerja di kapal cumi.”

Sebagian besar anak mengangguk.

“Kalau begitu, dengarkan baik-baik. Pekerjaan di laut berbeda dengan di darat. Kalian harus mengikuti arahan awak yang berpengalaman, menjaga peralatan, dan tidak bertindak sembarangan. Laut tidak selalu bersahabat. Satu kesalahan kecil bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.”

Wiratma berbicara dengan nada tenang, tanpa bentakan atau ancaman. Bagi anak-anak yang terbiasa menerima omelan di rumah, cara bicara itu terasa cukup meyakinkan.

“Selama kalian menjalankan tugas dengan baik, tidak ada alasan untuk mencari masalah,” lanjutnya. “Kami membutuhkan pekerja yang mau belajar dan bisa bekerja sama.”

Reno, anak berusia enam belas tahun dengan tubuh lebih besar, mengangguk mantap. Dia menganggap pekerjaan ini cocok untuknya. Sejak kecil dia terbiasa membantu pekerjaan berat di rumah, jadi dia yakin bisa menyesuaikan diri lebih cepat.

Wiratma kemudian menjelaskan pembagian pekerjaan. Sebagian besar dari mereka akan membantu menyiapkan jaring, memilah hasil tangkapan, membawa peti, dan membersihkan area kerja. Mereka tidak akan langsung diberi tanggung jawab besar, melainkan belajar sambil bekerja pada hari-hari pertama.

“Kalau ada yang tidak mengerti, tanyakan kepada mandor atau awak yang bertugas,” katanya. “Jangan menebak-nebak sendiri.”

“Baik, Kapten,” jawab mereka.

Setelah itu, Wiratma beralih pada persoalan yang paling mereka tunggu. “Soal upah, kalian tentu sudah mendengar penjelasan dari Patrick.”

Anak-anak saling berpandangan. Beberapa langsung mengangguk, namun ada juga yang tampak ingin memastikan informasi yang mereka terima.

“Katanya satu bulan bisa dapat beberapa juta, Pak,” ujar Dimas.

Wiratma mengangguk. “Upah kalian bergantung pada kesepakatan kerja saat perekrutan. Pembayaran akan dicatat. Kalau ada pertanyaan tentang jumlah atau waktu pembayaran, sampaikan kepada mandor.”

Jawaban itu tidak sepenuhnya menjawab rasa ingin tahu mereka, tetapi tidak ada yang berani mendesak lebih jauh. Mereka mengira urusan administrasi memang tidak perlu dibicarakan panjang lebar di atas kapal.

Seorang anak bernama Yoga bertanya, “Kalau hasil tangkapannya banyak, upah kami ikut bertambah?”

“Untuk bagian yang bergantung pada hasil kerja, ketentuannya akan dijelaskan oleh mandor. Yang jelas, kalian harus bekerja dengan sungguh-sungguh.”

Bagi mereka, kemungkinan memperoleh penghasilan tambahan sudah cukup menarik. Beberapa anak mulai berbisik tentang rencana menggunakan uang tersebut; ada yang ingin membeli ponsel bekas, membayar utang keluarga, atau menyisihkan uang untuk sekolah lagi.

Fikri, yang sejak tadi berdiri di dekat Dimas, menepuk bahu temannya. “Kalau nanti kita kaya, jangan lupa sama teman sendiri.”

Dimas tertawa. “Kaya dari mana? Kita baru naik kapal.”

“Ya, siapa tahu. Aku sudah punya rencana.”

“Rencana apa?”

“Makan enak setiap hari.”

Anak-anak di sekitar mereka tertawa. Bahkan Jula yang biasanya pendiam ikut tersenyum. Untuk sesaat, ketegangan di antara mereka menghilang. Pembicaraan tentang masa depan terasa jauh lebih menyenangkan daripada memikirkan kesulitan yang mungkin menunggu.

Rangga mendengarkan percakapan itu sambil memperhatikan wajah teman-temannya. Dia senang melihat mereka mulai akrab. Semakin banyak teman yang bisa dipercaya, semakin mudah mereka menghadapi pekerjaan baru ini.

Namun, dia masih memiliki satu pertanyaan.

“Kapten, kalau masa kerja kami selesai, apakah kami bisa langsung pulang?”

Wiratma menoleh. Untuk sesaat, lelaki itu tidak segera menjawab. Dia melirik Bagas sebelum kembali menatap Rangga.

“Urusan kepulangan akan diatur setelah pekerjaan selesai dan kapal kembali ke pelabuhan. Kalian tidak perlu memikirkan itu sekarang. Fokus saja pada pekerjaan kalian.”

Jawaban tersebut terdengar wajar, tetapi Rangga merasa ada sesuatu yang belum dijelaskan. Dia ingin bertanya lagi tentang durasi berlayar, tetapi mengurungkan niatnya karena melihat kapten mulai beranjak pergi.

Bagas mengambil alih penjelasan. Dia meminta anak-anak mengingat nama awak pengawas mereka dan melarang mereka memasuki bagian kapal tertentu tanpa izin. Setelah itu, mereka diarahkan menuju ruang istirahat.

“Kalian akan berbagi tempat dengan beberapa awak. Jangan ribut pada malam hari. Kalau butuh sesuatu, sampaikan kepada saya atau petugas yang berjaga,” kata Bagas.

Seno, anak berusia empat belas tahun yang sejak tadi diam, mengangkat tangan dengan ragu. “Pak, boleh kami menelepon keluarga sebelum berangkat?”

Bagas menatapnya. “Kalau masih ada waktu sebelum kapal bertolak, silakan. Setelah berlayar, ikuti aturan penggunaan telepon di kapal.”

Seno segera mengangguk. Dia mengeluarkan ponselnya lalu mulai mengetik pesan. Beberapa anak lain melakukan hal serupa untuk memberi kabar bahwa mereka telah tiba dengan selamat.

Rangga mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada ibunya.

Rangga sudah sampai, Bu. Kapalnya besar. Nanti kalau ada sinyal, Rangga kabari lagi.

Dia menunggu sebentar, tetapi belum ada balasan. Mungkin ibunya sedang bekerja. Rangga memasukkan kembali ponselnya ke saku dan berusaha tidak terlalu memikirkannya.

Di sisi lain dek, Patrick baru saja turun dari kapal setelah memastikan semua anak berkumpul. Dia sempat berbicara singkat dengan Bagas, menyerahkan beberapa dokumen, lalu berjalan menuju dermaga tanpa menoleh sedikit pun kepada anak-anak yang kini sibuk membicarakan gaji.

Tidak seorang pun dari mereka menyadari bahwa bagi Patrick, urusan itu sudah selesai sejak nama-nama mereka masuk ke dalam daftar.

Bagi keempat belas remaja tersebut, sebaliknya, semuanya baru saja dimulai.

Mereka percaya bahwa pekerjaan ini akan memberi kesempatan untuk memperbaiki kehidupan. Mereka percaya bahwa setelah beberapa minggu atau bulan, mereka akan kembali ke rumah dengan uang yang cukup untuk membuat keluarga mereka tersenyum.

 Di atas KM Srikandi Laut, harapan itu masih terasa masuk akal dan ketika awak kapal mulai memanggil mereka untuk bersiap.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk