Pagi datang lebih cepat daripada yang Rangga harapkan. Sejak subuh, ibunya sudah sibuk menyiapkan sarapan di dapur kecil mereka. Bau nasi hangat dan ikan asin memenuhi ruangan, bercampur dengan suara tetangga yang mulai beraktivitas di luar. Rangga duduk di lantai sambil memasukkan dua kaus, sepasang celana pendek, dan sebuah handuk tipis ke dalam tas ranselnya. Tidak banyak barang yang bisa dibawa, tetapi ia tetap memeriksa isi tas itu beberapa kali, takut ada sesuatu yang tertinggal.
Ibunya muncul dari dapur dengan sepiring nasi dan ikan asin. Perempuan itu meletakkannya di hadapan Rangga, lalu duduk di sebelahnya.
“Makan dulu. Nanti kamu kelaparan di jalan.”
Rangga mengangguk dan mulai makan. “Ibu tidak usah khawatir. Katanya makan sudah disediakan di kapal.”
“Ya, tetap saja. Kamu belum tahu bagaimana keadaan di sana.” Ibunya memperhatikan tas yang terbuka di samping Rangga. “Kalau ada masalah, kabari Ibu. Jangan sok kuat cuma karena kamu sudah bekerja.”
Rangga tersenyum tipis. “Iya, Bu.”
Dia tidak mengatakan bahwa ponselnya sering kehilangan sinyal dan baterainya sudah tidak bertahan lama. Dia juga tidak mengatakan bahwa sebenarnya ia sangat gugup. Sejak menerima tawaran Patrick, dia terus membayangkan bagaimana rasanya bekerja jauh dari rumah. Dia ingin membantu ibunya, terutama setelah beberapa bulan terakhir mereka kesulitan membayar kebutuhan sehari-hari. Karena itu, dia tidak ingin kesempatan ini gagal hanya karena ketakutannya sendiri.
Setelah sarapan, Rangga berpamitan. Ibunya mengantarnya sampai ke depan rumah, lalu merapikan kerah bajunya seperti ketika dia masih kecil. Rangga menunduk sedikit, membiarkan ibunya melakukan itu tanpa protes.
“Hati-hati, ya.”
“Iya, Bu. Rangga pergi dulu.”
Dia melangkah meninggalkan gang dengan tas di punggung. Di ujung jalan, Dimas sudah menunggu sambil mengunyah sepotong roti. Tasnya tergantung di satu bahu, dan wajahnya terlihat jauh lebih bersemangat daripada Rangga.
“Lama banget. Aku kira kamu batal berangkat.”
“Baru juga pagi.”
“Kalau aku, dari tadi sudah siap.” Dimas menepuk tasnya. “Bawa baju tiga pasang. Cukup, kan?”
“Cukup kalau kamu tidak ganti-ganti baju lima kali sehari.”
Dimas tertawa. “Tenang saja. Nanti kalau sudah punya uang, aku beli baju baru.”
Mereka berjalan bersama menuju rumah Jula. Anak itu sudah menunggu di depan pagar dengan tas kecil dan botol minum yang diikatkan pada sisi ranselnya. Dia memeriksa jam di ponsel, lalu memandang keduanya.
“Kita harus berangkat sekarang. Kalau terlambat, nanti malah ditinggal.”
“Pelabuhannya tidak bakal pindah, Jul,” sahut Dimas.
“Orangnya bisa pergi.”
Jawaban itu membuat Dimas mengangkat kedua tangan, menyerah. Mereka lalu melanjutkan perjalanan menuju rumah Opi, yang ternyata masih sibuk berpamitan dengan keluarganya. Opi keluar beberapa menit kemudian, membawa tas lusuh dan sebuah kantong plastik berisi makanan dari rumah.
“Kenapa bawa banyak begitu?” tanya Dimas.
“Ibu yang kasih. Katanya buat dimakan kalau lapar.”
“Bagus. Berarti kita punya bekal.” Dimas langsung merangkul bahu Opi. “Kalau nanti makanannya enak, jangan lupa bagi-bagi.”
Opi tertawa kecil, meskipun matanya masih terlihat berat karena harus meninggalkan rumah. Dia belum pernah pergi jauh tanpa keluarganya. Bahkan ketika membayangkan kapal yang akan mereka naiki, pikirannya lebih sering tertuju pada ibunya yang mungkin akan menunggu kabar setiap malam.
Namun, dia tidak ingin terlihat takut di depan teman-temannya. Mereka semua berangkat untuk alasan yang sama: mencari uang dan berharap kehidupan keluarga mereka menjadi sedikit lebih baik.
Perjalanan menuju pelabuhan memakan waktu cukup lama. Mereka harus berganti kendaraan sekali sebelum akhirnya tiba di kawasan yang dipenuhi gudang, truk pengangkut, dan kapal-kapal yang berlabuh. Udara tercium asin, bersamaan dengan suara mesin dan teriakan pekerja yang bersahut-sahutan dari berbagai arah. Bagi Rangga dan teman-temannya, tempat itu terasa jauh lebih besar daripada pelabuhan kecil yang biasa mereka lihat di kampung.
“Yang mana kapalnya?” tanya Opi sambil memandang ke sekeliling.
Rangga mengeluarkan kertas pemberian Patrick. Mereka mencari nama kapal yang tercantum di sana, kemudian mengikuti petunjuk menuju sebuah dermaga di sisi timur pelabuhan.
Di sana, sebuah kapal penangkap cumi berukuran cukup besar sedang bersandar. Lambungnya terlihat kusam, dengan beberapa bagian yang dipenuhi bekas karat. Tali-tali tebal mengikat kapal itu pada dermaga, dan sejumlah awak sibuk mengangkut perlengkapan ke atas dek.
Tulisan SRIKANDI LAUT tertera pada sisi lambungnya.
“Itu, kan?” Dimas menunjuk kapal tersebut. “Besar juga.”
Jula mengamati kapal itu lebih lama. “Kita bakal tinggal di sana selama berapa lama?”
“Katanya beberapa minggu, mungkin lebih,” jawab Rangga. “Tergantung pekerjaan.”
Opi menelan ludah. Dari tempat mereka berdiri, kapal itu tampak jauh lebih tinggi daripada yang dibayangkannya. Dia menggenggam tali tasnya, lalu mengikuti ketiga temannya mendekati seorang lelaki yang berdiri di dekat tangga naik.
Lelaki itu mengenakan kaus gelap dan celana kerja. Wajahnya keras, tetapi dia menyambut mereka dengan senyum tipis setelah Rangga menyebut nama Patrick.
“Kalian anak-anak yang baru direkrut?”
“Iya, Pak,” jawab Rangga.
“Bagus. Kalian datang tepat waktu. Naiklah, nanti mandor akan menjelaskan pekerjaan kalian.”
Mereka saling berpandangan sebelum mengikuti lelaki itu naik ke kapal. Dek terasa sedikit licin, dan bau ikan bercampur solar langsung menyambut mereka. Di beberapa sudut, jaring dan peti tersusun rapi. Seorang awak yang lebih tua sedang memeriksa tali, lalu dua lainnya mengangkut barang menuju bagian belakang kapal.
Seorang lelaki bertubuh besar muncul dari dekat pintu menuju ruang bawah. Dia memandang keempat anak itu dari kepala sampai kaki, lalu berhenti di hadapan mereka.
“Ini anak-anak baru?” tanyanya.
“Iya. Empat orang.”
Lelaki itu mengangguk singkat. “Saya Bagas, mandor di kapal ini. Selama kalian bekerja di sini, ikuti perintah saya. Jangan berkeliaran tanpa izin, jangan menyentuh barang yang bukan urusan kalian, dan jangan membuat masalah. Mengerti?”
“Dimengerti, Pak,” jawab mereka hampir bersamaan.
Bagas menunjuk ke arah tumpukan perlengkapan di dekat dinding. “Letakkan barang kalian di sana dulu. Sebentar lagi kalian akan bertemu anak-anak lain yang juga baru bergabung.”
Mendengar itu, Dimas langsung menoleh kepada teman-temannya. Setidaknya mereka tidak akan menjadi satu-satunya anak baru di kapal. Pikiran itu sedikit mengurangi rasa gugupnya.
Mereka meletakkan tas, lalu duduk di dekat tumpukan perlengkapan sambil menunggu. Dari tempat itu, Rangga bisa melihat sebagian besar dek, termasuk tangga yang mengarah ke ruang bawah kapal. Pintu di ujung tangga tertutup, dan seorang awak baru saja keluar sebelum menguncinya kembali.
Rangga tidak terlalu memikirkannya. Perhatiannya segera beralih ketika terdengar suara langkah kaki dari arah dermaga.
Beberapa anak lain sedang naik ke kapal.
Ada yang membawa tas besar, ada yang hanya membawa kantong plastik, dan ada pula yang terlihat lebih muda daripada mereka. Wajah mereka menunjukkan campuran rasa penasaran dan gugup yang sama. Salah seorang anak melambaikan tangan kepada Bagas, dan yang lain berhenti sejenak untuk memandangi kapal yang akan menjadi tempat kerja mereka.
Dimas berdiri lebih dahulu, merapikan bajunya, lalu menyenggol Rangga.
“Sepertinya teman kerja kita sudah datang.”
Rangga mengangguk. Sejak meninggalkan rumah, baru sekarang ia merasa sedikit lebih tenang. Mereka akan bekerja bersama anak-anak lain, belajar menangkap cumi, dan berusaha mendapatkan uang seperti yang dijanjikan Patrick.
Di atas kapal itu, empat anak tersebut belum mengetahui bahwa perjalanan mereka akan membawa mereka jauh dari kehidupan yang selama ini mereka kenal. Pagi itu, yang mereka lihat hanyalah sebuah kapal, pekerjaan baru, dan kesempatan yang mereka kira telah lama mereka tunggu.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!