Bab 13

0 dibaca

A

Kabar Liyah yang entah hilang atau kabur itu sudah menyebar ke seluruh pesantren.




Bahkan membuat beberapa pengurus putri ikut turun tangan mencari, karna wajahnya yang masih asing di kalangan kang penjaga pos atau keamanan pusat.




Termasuk membuat mbak Lina dan Asfa cemas.




Semua berlalu sampai matahari terbenam, malam menyapa bersama sang rembulan.




Mbak Lina, selaku kepala pengurus kantor putri, masih ikut menunggu di pos dekat gerbang hijau utama.




Ditemani Ana dan beberapa rekan pengurus pesantren, baik putra ataupun putri.




Asfa menunggu di kamar.




Waktu menjelang tengah malam, barulah beberapa kang yang bertugas di devisi keamanan kembali ke gerbang hijau.




“Gimana kang? ketemu nggak anaknya?” Mbak Lina langsung beranjak dari duduknya.




“Ada dibelakang, sama kang Izwar.” Kang Asman yang menjawab.




“Ada ada aja yah, orang kota itu ... kalo ngilang tiba tiba,” gerutu kang Asman.




“Ya Allah, kang. Kalo anak nya bilang bilang namanya bukan ngilang.” Ana membalas.




Kang Asman hanya mengangkat bahu, acuh.




“Ya Allah, Liyah ... kamu kemana aja? Kok gak pamit dulu kalau kemana mana?” Mbak Lina memberikan pertanyaan bertubi-tubi.




Melupakan rasa jaimnya di dekat kang Izwar, yang notabene nya akan menjadi suami mbak Lina.




Yang ditanyai hanya diam, kang Izwar malah yang menjawab.




“Tadi saya nemuin dia didekat Bank Jatim sebelah Utara pesantren.”




Mbak Lina hanya tersenyum tipis, rasa kagumnya terhadap laki-laki yang akan segera mengucap ijab qobul atas dirinya semakin bertambah.




Ditempat ini Liyah hanya diam, raut wajahnya datar.




Seperti tidak melakukan apa-apa.




“Kok diam saja Liyah? Ada apa? Badan kamu ada yang sakit?” Mbak Lina kembali ke Liyah, menyentuh keningnya.




“Kalo udah gini, biasanya makin menjadi nanti,” celetuk kang Asman.




“Apanya yang menjadi kang?” Ana yang merespon.




“Melanggar peraturan pesantren!”




“Enggak kang, inn syaa Allah. Dia kan anak baru, jadi belum tahu semua peraturan nya!” Mbak Lina membela.




“Ya, bukan gitu. Kalo dia gak ada niatan buat kabur, pasti tadi pamit ke Aini dulu ... nyatanya dia langsung nyelonong pergi aja tuh. Bikin repot pengurus aja.” Kang Asman yang berargumen.




“Inn syaa Allah, kejadian ini gak bakal ke ulang lagi kok, kang.” Mbak Lina menjawab dengan mantap.




Liyah masih diam, tak bersuara, wajah nya di tekuk kesal.




Kang Asman berdecih.




“Lihat saja besok besok nya lagi, dia pasti bikin ulah lagi, ngebuat resah pengurus. Lihat aja tuh, kamu tanyain keadaan nya dari tadi nggak di jawab jawab, diem aja kayak orang bisu.


Wajahnya kayak kesel gitu, ya iyalah ... gimana nggak kesal? Irang rencana kaburnya gagal!” Kang Asman berujar sambil tersenyum sinis.




“Mungkin dia kecapek an kang.” Bela Mbak Lina, kemudian menghela nafas sejenak.




“Kalo gitu, bawa masuk Lin, biar dia istirahat dan bersiap bikin ulah lagi.”




Lagi lagi Lina menggeleng kepala nya pelan.




“Yaudah kang ... kami pamit masuk dulu. Terima kasih juga karena sudah membantu mencari Liyah sampai ketemu,” pamit Mbak Lina.




Mbak Lina langsung mengajak Ana dan Liyah masuk, dan mereka segera hilang di balik pintu kayu.




Di pos.




“Udah kang ... jangan diterusin ngomelnya!” Kang Izwar menasehati kang Asman.




“Ya aku nggak ngomel itu war!” Kang Asman membela diri.




“Lah, terus apa kalau nggak ngomel?” Kang Izwar menoleh ke arah kang Asman.




Keduanya duduk di pos yang berupa gubuk kayu, di temani angin malam yang dingin.




Pukul 24.00 wib




Jadwal piket jaga pos untuk kang izwar dan kang Asman di pos dekat gerbang hijau utama, kini sudah berganti dengan kang yang lainnya.




“Yah ... aku ini cuma mau nasehatin Lina, supaya gak terlalu ngebelain santri yang modelannya kayak gitu,” ucap kang Asman .




“Iya kang ... tapi kan gak baik kita berperasangka begitu ... walaupun yah, perasangka kita itu ada benarnya juga,” balas kang Izwar.




“Nah tuh kan, sekarang ya war, sejak saya jaga pos di pesantren Putri, baru kali ini ada yang kabur ... padahal dulu juga ada anak dari Jakarta tapi gak kayak anak tadi ... kalo persoalan kabur, mentok-mentok juga santri putra yang berani melanggar ... rekor ini, ada santri putri yang berani kabur dari pesantren,” ucap kang Asman.




Kang Izwar menggeleng pelan.




“Yach bukan maksud ku menjelek-jelek kan dia ... tapi anak seusia itu kok ya kebangetan kalo melanggar peraturan di pesantren, kok ya nggak mikir gitu orang tua nya ngirim dia ke pesantren itu buat apa? Gimana perasaan orang tua nya kalo tau kelakuan dia di pesantren kayak gini?


Kasian orang tuanya nanti kalo udah tua gak ada yang doain,” gumam kang Asman.




“Ya kita doakan aja kang, semoga dia cepat berubah sikapnya menjadi lebih baik dari yang sekarang,” ucap kang Izwar mengakhiri obrolan berat seputar santri yang bernama Liyah.












“GAGAL!”satu kata yang berada di otak dan hati Liyah.




“Tapi tak apa, aku masih punya banyak opsi untuk menjadi jalan keluar dari pesantren ini. Ah ... kalau memang tukang penjaga tadi sudah dapat mengetahui apa yang aku rencanakan, malah tambah gampang kan urusannya. Dan setelah aku banyak melanggar peraturan disini, maka dengan mudah juga aku bisa keluar dari tempat menyedihkan ini.” Pikir Liyah.




Mbak Lina mengantar Liyah sampai ke kamar.










Di kamar.


















Santri yang lain sudah bersiap tidur, kecuali Asfa.




Dia masih menunggu di teras kamar.




Dan saat melihat Liyah bersama Mbak Lina, dia langsung bangkit dan menghampiri mereka.




“Kamu kemana aja Liyah?” tanya Asfa merangkul badan Liyah erat.




Jujur saja, sebenarnya Liyah risih di peluk peluk dengan sesama perempuan.




Bukan karena Asfa anak rendahan, bukan.




Liyah bahkan suka berteman dengan Asfa, dia polos.




Membuat Liyah teringat dengan Acha, sahabat polos dan cerewet nya.




Ah .... Jangan lupakan sepupunya juga, Iqbal.




Liyah masih merindukan nya.




“Nggak kemana mana kok,” jawab Liyah asal dengan menarik tubuhnya dari rangkulan Asfa.




Mbak Lina hanya tersenyum tipis.




“Udah ya Asfa, kamu buruan tidur ... ini udah larut malam ... jangan nanya nanya mulu ke Liyah, dia juga kecapek an, besok aja tanya tanya nya,” pesan Mbak Lina.




“Inn syaa Allah Mbak,” balas Asfa.




Kemudian mbak Lina berlalu pergi, kembali ke kamar pengurus.




Selepas bayangan Mbak Lina hilang di tangga, Asfa langsung mengajak Liyah untuk duduk di karpet yang biasanya mereka berdua tempati saat tidur malam.




Dengan memeluk bantal, wajah nya mengarah kepada Liyah.




Sangat dekat.




Liyah langsung menarik tubuhnya menjauh.




“Apa apaan sih?” gerutu Liyah agak keras.




“Husft ... jangan keras keras


.. nanti yang lain pada bangun,” peringat Asfa.




“Kamu kok bisa sih, keluar dari pesantren?”




“Tinggal keluar apa susahnya sih?” balas Liyah.




“Masak sih? Emang kamu nggak takut gitu sama kang-kang yang jaga di pos depan?” Dia bertanya lagi.




“Ngapain takut? Orang sama-sama makan nasi,” ucap Liyah.




 Asfa terlihat hendak berucap lagi, tapi segera di oleh Liyah.




“Udah ah ... aku ngantuk banget, mau tidur,” ucap Liyah kemudian merebahkan tubuh nya.




Menutup mata.




“ Sorry Bal, kayak nya aku nggak bisa sepenuhnya nurutin permintaan kamu! Rasa rindu ku sudah cukup menyiksaku selama ini ... mungkin pertemuan adalah satu satunya jalan untuk keluar dari belenggu kerinduan ini!” Liyah berucap dalam hati nya.




















Waktu telah berjalan.




Menit menggandeng jam.




Hari merangkul Minggu.




Sebulan kemudian.




Liyah tengah tengkurapan di dinginnya lantai kamar.




Bersama dengan buku tulis dan bulpen nya.




Dia telah membuat daftar pelanggaran yang sudah ia lakukan dan mencontreng nya.




Liyah, gadis itu telah dilanda kegalauan.




Bukan karena uang saku habis atau sedang kangen orang tua.




Tapi ... kearah kenapa dia masih berada di tempat ini?




Padahal segala macam pelanggaran telah dilakukan nya agar ia masuk daftar hitam.




Tapi apa?




Ia baik baik saja sampai sekarang ... .




Malah, masih dengan enak nya memakan camilan yang tadi ia beli di koperasi.




“Kapan aku bisa keluar sekeluar keluar nya dari sini?” batin Liyah.




Bukankah dulu saat di sekolah menengah atas dia dengan mudahnya dapat skorsing bahkan akan dikeluarkan.




Mungkin dulu, mereka yang hendak mengeluarkan Liyah dari sekolah akan banyak berpikir terlebih dahulu, Karena Liyah telah membesarkan nama sekolah di bidang non-Akademik.




Tapi sekarang?




Apa yang dapat menahan Liyah di pesantren?




Yang bahkan tidak pernah dibanggakan oleh keahlian Liyah.




Seakan akan tempat ini sangat cocok bagi orang seperti Liyah.




Liyah kembali meneliti tulisan yang ada di bukunya.




Semuanya telah ia kerjakan,tapi tak jua mampu menarik nya keluar dari pesantren ini.




Liyah membalikkan badannya.




Matanya menatap langit langit kamar, menerawang, otaknya sedang bekerja.




“Ah ... masak aku harus mencuri?” batin Liyah.




Sedetik kemudian ia menggeleng keras, Liyah bukanlah seorang pencuri.




Lagian, untuk apa dia mencuri di sini?




Bahkan uang saku Liyah lebih banyak dari santri lain.




Seandainya mau mencuri yach nggak di pesantren kali, nanggung banget, kalo mau nyuri yang langsung ke bank aja.




Hanya orang bodoh yang mencuri di pesantren.




Kalo mencuri di pesantren mah apa yang di dapatkan?




Sama sama gak punya, banyakan uang saku Liyah perhari.




Liyah kembali berfikir.




Apa yah?




“Ah iya ... ajnaby ... atau pacaran apalah itu ... iya, intinya pacaran!” batin Liyah.




Dalam hati nya bersorak gembira.




Laki laki mudah di tahlukan.




Tapi siapa target nya?




Liyah berfikir lagi, kira-kira siapa yang paling berpengaruh di pesantren ini?




Senyum Liyah terbit kala satu nama terlintas di pikiran nya.




KAHFA.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk