Bab 14

0 dibaca

A

Liyah segera merobek kertas dari bukunya.


Lalu melipatnya menjadi bentuk hati.


Segera ia simpan ke dalam saku bajunya.


Hari ini dia akan ikut Asfa lagi ke Ndalem ... memasak lagi.


Awalnya Asfa ragu ragu untuk mengajak Liyah lagi.


Takut takut dia membuat ulah yang sama seperti bulan lalu.


Tapi Liyah memohon dengan pasti, agar bisa ikut ke Ndalem untuk memasak.


“Suwer deh ... aku nggak bakal ngulangin lagi, aku udah tobat ... ya ya ... aku boleh ikut masak di Ndalem ya?”


Asfa tampak berfikir.


Kemudian mengangguk pelan.


“Tapi janji ya ... jangan macem-macem lagi?”


“Iya beneran deh ... emang wajah aku kelihatan bohong nya?”


Asfa lagi-lagi menggeleng.


“Nggak ada acara hilang hilang an atau kabur yah?”


“Iya udah ayok ah ... berangkat,” ajak Liyah.


Asfa termangu.


Kenapa Liyah semangat sekali memasak di Ndalem?


Padahal, semenjak insiden -yang kata kang Asman- KABUR, beberapa Minggu kedepannya dia banyak berulah dan melanggar peraturan peraturan pesantren yang lain.


Dia juga tak mau ikut lagi, ketika Asfa tawari masak di Ndalem.


Sekarang, kenapa dia yang bersemangat?


Kemaren kemaren bilang nya males, hmmm ... ada apa yah?


Liyah langsung menarik tangan Asfa.


Keduanya melangkah menuju Ndalem, berdampingan, bersama.


Sampai di dapur Ndalem.


Seperti kemarin kemarin, dapur Ndalem sudah ramai oleh beberapa santri yang bertugas memasak.


Kali ini agak ramai, mereka tertawa karena canda gurau sederhana.


Asfa langsung bergabung dengan yang lain, dia mengajak Liyah.


Hari ini dapur Ndalem lebih ramai, tidak seperti biasa nya yang hening tanpa suara.


Karena bu nyai Halimah dan sekeluarga sedang pergi ke Cirebon, mengunjungi Ibunda kyai Husein.


Ning Inayah juga ikut, makanya mereka berani tertawa kencang, karena nggak ada yang mengadukan ke Bu Nyai.


Tapi rumah ini tidak sepenuhnya kosong, masih berpenghuni.


Yakni, Gus Kahfa dan Gus Faruq.


Gus Kahfa yang sedang sibuk di madrasah pesantren.


Dan Gus Faruq yang entah mengapa menolak untuk ikut ke rumah Nenek nya .


Ketika semua pekerjaan selesai dan masakan matang.


Mereka bergegas membagi tugas mengantar makanan seperti sebelumnya.


Kali ini Liyah tidak di suruh mengantar makanan keluar pesantren.


Lagi-lagi takut dia mengulangi ulah nya lagi.


Waspada.


Liyah hanya diberi tugas mengantar makanan ke ruang makan dan ke kamar Gus Faruq.


Ketika ia memasuki kamar Gus Faruq, sunyi yang ia dapat.


Seakan-akan kamar ini kosong.


Padahal Liyah disuruh mengantar makanan ke kamar Gus Faruq karena beliau dari pagi tidak keluar sama sekali dari kamar.


Biasanya jam sarapan begini, Ndalem selalu ramai dengan Tingkah dan suara Gus Faruq yang bermain dengan mbak Mbak khadimah.


Liyah masuk ke kamar dengan sangat, kemudian meletakkan nampan yang berisi makanan di atas nakas.


Awalnya Liyah hanya akan meletakkan makanan lalu pergi dan mencari letak kamar kahfa untuk mengirimkan surat yang tadi pagi ditulis nya.


Tapi sebuah suara mengintrupsi nya untuk tetap berada di dalam kamar itu.


Liyah mendekat kearah ranjang.


Suara erangan tertahan kembali muncul.


Suara erangan tertahan.


Liyah, gadis itu menoleh ke arah ranjang.


Ada gerakan dibalik selimut bergambar Tayo.


“Ada apaan sih?” batin Liyah.


Karena kepo, ia langsung menarik selimut bergambar Tayo.


Seorang anak laki-laki berusia 6 tahun yang tiduran di atas ranjang.


Liyah mengernyit heran.


Anak Tersebut berbalik kearah liyah, dia Gus Faruq putra bungsu kyai Husein.


Gus Faruq memandang Liyah heran.


‘Siapa perempuan ini?’ batin nya.


Cantik, itu menurut Gus Faruq.


Apa kakak perempuan ini bidadari? Seperti dalam dongeng Ibu Peri?


Gus Faruq bangun dari tidur nya.


Mengucek-ucek matanya sambil menguap.


“Kakak siapa?”


Liyah Hanya diam ... dia bingung, kemudian ikut duduk di tepi ranjang.


“Kakak bidadari yah? Kok cantik banget?” tanya Gus Faruq, ia melupakan rasa meriang yang melanda tubuhnya.


Liyah terpesona dengan wajah Gus Faruq yang comel.


Seketika bayangan Asfa saat menceritakan sosok putra bungsu kyai Husein melintas di otak Liyah, oh jadi ini yang namanya Gus Faruq?


Liyah tersenyum.


“Ih kamu lucu banget sih? Aku bukan bidadari kali,” ucap Liyah mencubit pipi Gus Faruq.


Rasa panas langsung merambat ke telapak tangan Liyah, dia syok dan panik.


“Kok badan kamu panas? Kamu sakit yah?” tanya Liyah.


Dia kembali menyentuh kening Gus Faruq.


Gus Faruq hanya diam melihat tingkah Liyah yang heboh.


“Kamu udah makan belom?”


Gus Faruq menggeleng.


“Yaudah ayo makan yuk!”


Gus Faruq lagi-lagi menggeleng.


Membuat Liyah gemas sendiri.


“Ayo makan, nanti gak sembuh sembuh loh!” Kali ini Liyah sudah mengambil piring yang berada di atas nakas, ia berinisiatif untuk menyuapi Gus Faruq.


Entah kenapa, hatinya tergerak melihat wajah comel Gus Faruq.


Sampai sampai ia melupakan tujuan awalnya untuk mencari kamar Gus Kahfa.


Gus Faruq menolak suapan yang di sodorkan Liyah.


Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan nya sendiri.


Liyah tetap memaksa, sampai-sampai Gus Faruq berguling-guling di atas ranjang nya demi menghindari serangan Liyah.


“Ih ... kok gitu sih? Ayo makan dong ... Hem ...?” Liyah bergumam kesal karena Gus Faruq yang selalu menghindari nya.


Akhirnya dia menyerah dengan sendirinya.


Tapi bohong.


Bukan Liyah, kalau langsung menyerah begitu saja.


Liyah pura-pura merajuk.


Dia duduk membelakangi Gus Faruq, piringnya ia kembalikan di atas nakas lagi.


Hening.


“Kakak bidadari!” Panggil Gus Faruq.


“Kakak cantik!” Lagi, Gus Faruq terus memanggil, tapi Liyah sama sekali tak menghiraukan panggilan Gus Faruq.


Akhirnya Gus Faruq bangkit, memeluk Liyah dari belakang.


Liyah kaget.


“Aku mau makan ... tapi pengen di gendong sama kakak cantik!”


Liyah tertegun, menggendong? Apaan coba?


“Enggak ah ... biarin kamu nggak makan, asal kamu tahu aja kamu itu berat, gendong kamu itu sama aja kayak gendong karung beras,” ceplos Liyah.


Gus Faruq merengut.


“Emm ... kalo minta cium boleh gak?” tanya Gus Faruq.


*


Setelah makanan habis, Gus Faruq langsung minum obat dan tertidur.


Liyah yang kelelahan ikut tidur di samping Gus Faruq, dia benar-benar melupakan rencananya.


Lupa selupa-lupanya.


Beberapa saat kemudian, Gus Kahfa yang telah menyelesaikan urusan nya di madrasah pesantren sudah pulang.


Suasana di Ndalem sangat sepi saat dia masuk ruang tengah.


Dia langsung menuju kamar nya, berganti baju.


Dengan kaos lengan pendek dan masih mengenakan sarung.


Dia melangkah ke arah ruang makan, melihat sebentar ke meja makan yang sudah tersaji Beberapa macam menu makanan.


Langkah nya berbalik ke kamar adik bungsu nya.


Tadi saat di madrasah, Gus Kahfa menerima pesan dari Ibunya, yang memberi tahu bahwa Faruq sedang rewel dan tidak enak badan.


Kahfa membuka kamar adiknya, langkahnya berhenti karena melihat sosok seorang wanita yang tidur di samping adiknya.


“Siapa dia?” batin Kahfa.


Heran, biasanya Mbak khadimah tidak ada yang berani ikut tidur seranjang dengan Gus Faruq.


“Tapi dia siapa? Pasti bukan mbak khadimah,” batin Kahfa.


Kahfa kembali melanjutkan langkahnya, menghampiri adiknya yang berada di sisi lain ranjang.


Dia menyentuh kening Gus Faruq, hangat.


Kemudian menutupi tubuh adiknya dengan selimut bergambar Tayo sampai dada.


Selepas itu Gus Kahfa langsung keluar dari kamar adiknya.


Menutup pintu kamar adiknya rapat rapat.


Sengaja memang, ia tak membangun kan wanita yang tidur bersama adiknya.


“Kasihan, mungkin dia kelelahan lalu ketiduran di ranjang, kalo di bangunin nanti malah malu,” pikir Kahfa.


Dia sudah menjauh dari kamar adiknya.


Gak papa lah kalo ketiduran nya di kamar Faruq, beda lagi kalo ketiduran nya di kamar kahfa, langsung di bangun kan pasti atau paling paling kahfa nya yang tidak akan masuk kamar sampai perempuan itu terbangun.


*


Waktu ashar.


Liyah baru bangun.


Tak ada Gus Faruq disampingnya.


Liyah merenggangkan otot-otot tubuh nya yang terasa kaku dan sedikit sakit.


Mungkin karena Liyah sudah terbiasa tidur di karpet, jadi sekali tidur di kasur yang empuk auto pegel+pegel badan nya.


Liyah bangkit, tanpa perlu mencari keberadaan Gus Faruq.


Emang penting- pikir Liyah


Bahkan Liyah tak membenarkan kerudung nya yang acak-acakan, membuat rambut nya berlomba-lomba keluar menunjukkan pesona nya.


Dia melangkah gontai keluar kamar.


Rumah ini masih sepi, seperti tadi pagi.


Dengan santai, ia keluar dari Ndalem lewat pintu belakang.


Kamar.


Saat Liyah memasuki asrama nya, suara melengking milik Asfa langsung menyambut nya.


“Ya Allah Liyah, kamu kemana aja?” Asfa bertanya heboh dengan mencengkeram bahu Liyah.


“Gak kemana mana kok,” jawab Liyah santai.


“Ih ... kamu tahu gak?”


“Enggak!”


“Ish ... aku belom selesai tau!”


“Iya-iya ada apa?”


“Kamu tahu gak? Mbak Lina, kang Asman dan kang izwyar itu lagi nyari kamu ... dikiranya kamu kamu kabur lagi,” jelas Asfa.


“Emang siapa yang lapor aku kabur?”


“Aku,” jawab Asfa, dia nyengir.


“Dasar ... orang tadi aku gak kemana mana kok!”


“Lah terus seharian ini kamu dimana? Kok nggak ada di kamar?”


“Aku tidur!”


“Di mana?”


“Kamar Gus Faruq!”


“Ya Allah Liyah, kamu kok berani banget sih?”


Liyah bingung.


“Lain Kali jangan tidur sembarangan, gak sopan itu namanya, untung aja di Ndalem cuma ada Gus Faruq dan Gus kahfa, eh ... Gus kahfa ... kamu tadi gak di tegur sama beliau?”


“Ketemu aja enggak, kok ada acara tegur-teguran!”


Asfa mengangguk paham.


Liyah melupakan surat nya.


*


Alhamdulillah Faruq sudah sehat dan ceria lagi.


Sore ini Kahfa sudah melihat Faruq bermain bola di halaman depan.


Dia memantaunya, tugas seorang kakak yang bahkan terlihat lebih pantas sebagai ayah bagi Faruq.


Karena perbedaan usia mereka yang terpaut cukup jauh.


Kadang saat Kahfa mengajak Naya dan Faruq jalan-jalan, maka banyak yang akan mengira bahwa Kahfa dan Naya adalah pasangan suami istri dan Faruq berperan sebagai anaknya.


Faruq lahir saat Kahfa menamatkan S3 kedokteran di Belanda, awalnya dia syok saat mengetahui kabar bahwa ibunya mengandung anak lagi pada saat itu.


Bayangkan saja, siapa yang tidak malu kalau di usia yang matang untuk menjadi seorang ayah, eh malah ibu kahfa memberi hadiah adik baru, kan malu...


Tapi


Itu dulu.


Sekarang kahfa biasa-biasa aja tuh.


Bahkan dia sangat menyayangi nya, membuat dirinya berpikir untuk cepet-cepet punya anak sendiri.


Tapi calonnya yang belum ada.


Bukannya nggak ada sih, tapi emang belum ada lampu hijau dari Aby buat ke jenjang pernikahan.


Kahfa sendiri sebenarnya juga ingin segera menjalankan Sunnah Rasulullah dan menambah keturunan.


Kalo pasal dengan siapa nya mah gak penting, tidak terlalu memilih.


Yang penting Sholihah.


Bukan masalah cinta, karena menurut kahfa pernikahan adalah Sunnah nabi dan tempat memperbanyak keturunan umat Islam.


Dia sih gak mikirin soal cinta.


Karena menurutnya, rasa cinta pada makhluk Allah adalah rasa suka sesaat yang tiada faedahnya.


Ah.. kenapa malah bahas pernikahan?


Udah ah,nanti Kahfa nya tambah kebelet nikah lagi.


Kahfa berjalan ke arah kamar Faruq, mengecek apa wanita itu sudah bangun atau belum?


Ternyata saat dia membuka kamar adiknya, wanita itu sudah menghilang, mungkin dia sudah kembali ke asrama nya .


Kamar Faruq tampak kacau, jadi pria itu putuskan untuk merapikan nya ... menata bantal guling, juga melipat selimut.


Saat melipat selimut, sesuatu benda tiba tiba jatuh ke ranjang.


Kertas berbentuk hati.


Apa ya?


Kahfa kok jadi penasaran!


Di tambah lagi ada nama nya yang tertera di kertas itu.


Di sana menunjukkan bahwa kertas itu di tunjukkan untuk dirinya.


Dengan pengirim atas nama .................


Ainun Awwaliyah.


Apa dia wanita tadi yang tidur bersama Faruq?


Perlahan kahfa membuka lipatan nya, ternyata sebuah surat


Halu,


Atau


Bucin!


Pria itu menahan tawa saat membaca tulisan di surat tersebut.


“Dia pasti cuma iseng iseng aja.” Pikir Kahfa.


Untung nya dia sendiri yang menemukannya.


Bukan Mbak-Mbak khadimah atau ibu bahkan Naya.


Bisa-bisa nanti dirinya di bully Sepanjang malam.


Dia menyimpan kertas itu di sela buku ilmiah kedokteran koleksi nya.


*

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk