Bab 3

0 dibaca

A

“Papa!” Liyah menyelah.




“Tidak om, sa-“




“Omong kosong, anak kayak kamu itu gak punya aturan!”




Iqbal yang ucapan nya disela hanya diam dan menundukan kepalanya. Tak ada gunanya juga membela diri di depan papa Liyah yang tengah emosi, malah akan membuat masalah ini semakin runyam nantinya.




“Papa udah deh, jangan nyalahin Iqbal terus ish ... .”




“Diam kamu Liyah!” Panji berteriak pada putrinya.




“Dengar ya pa, Iqbal lebih baik dan perhatian ke aku dari pada papa!” teriak Liyah, nafasnya terengah engah.




“Kamu ... masuk!” balas Panji pada teriakan Liyah.




Liyah masih tak bergeming di tempatnya.




“Masuk rumah sekarang!” Ulang Panji.




“Masuk ke dalam Liyah.” itu suara Iqbal yang pelan dan lembut, berbanding balik dengan nada suara Panji.




Liyah menatap nanar Iqbal, yang di tatap menganggukkan kepalanya. Isyarat bahwa Liyah harus menuruti ucapan Iqbal.




Panji yang melihat kejadian itu langsung murka besar dan.




BUK




Tubuh Iqbal tersungkur di halaman rumah.




Sudut bibirnya sobek, membuat jalan keluar bagi darah segar miliknya untuk menghiasi wajah bersihnya.




“Iqbal!” teriak Liyah histeris.




Dia hendak menghampiri Iqbal yang masih tersungkur di rerumputan halaman, tapi Panji lebih dulu menggapai lengan Liyah untuk masuk ke dalam rumah.




“Ayo masuk Liyah!”




“Iqbal!”




“Dan kamu ... jangan dekati Liyah lagi! Jangan pernah nunjukin batang hidung kamu di depan saya, saya muak ngeliat wajah kamu!” cercah Panji.




Iqbal beranjak dari tempatnya.




Memandang kosong pada pintu rumah yang di tutup dengan kasar.








“Hiks ... hiks ... .” Suara Liyah menangis sesenggukan.




Kini Liyah berada di kamar nya, dia mengunci diri di dalam.




Liyah benar benar marah karena sikap kasar papa nya pada Iqbal.




Padahal Iqbal tidak seperti apa yang di tuduhkan papanya.




Iqbal baik, dia selalu ada untuk Liyah, yang penyayang dan pengertian dengan kondisi Liyah setiap saat.




“Papa jahat! papa gak pernah ngerti apa yang aku inginkan!” Teriak Liyah kencang.




DI RUANG TENGAH




“Pa ... minum obat dulu, emosinya udahan yach!” pinta Afifah.




Panji menurut, lalu menghela nafas kasar. Sekarang kepalanya benar benar pening karena memikirkan masalah putri nya.




“Aku sudah bingung menghadapi perilaku Liyah, Ma!” Keluh Panji.




“Sabar pa! pasti ada solusi nya kok!”




“Habis ini, tolong kamu hubungi Rudy ya!”




“Untuk apa?”




“Mungkin dengan mengirim Liyah ke Kalimantan, akan merubah sikapnya!”




“Jangan pa, kehidupan di Kalimantan terlalu keras buat Liyah!”




“Liyah kalo tidak di kerasi pasti tidak akan pernah berubah!”




“Tidak pa, sebenarnya Liyah itu anak yang penurut, memang kita nya aja yg kurang perhatian sama dia!” pandangan Afifah kosong.




“Bagaimana kalo kita kirim dia ke Lampung?” ucap Afifah berhati-hati.




“Tidak!” tegas Panji.




“Tapi bapak udah gak ada pa!”




“Tetap tidak akan pernah! perintah bapak akan tetap aku turuti, aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku di tanah kelahiran ku lagi sampai akhir hayat!” jelas Panji.




“Tapi ini Liyah, cucunya! Bukan kamu pa!” bantah Afifah.




“Tetap saja, cepat atau lambat mereka akan tahu status Liyah yang sebenarnya. Tidak, aku tidak bisa mengirim Liyah ke Lampung!”




“Lalu bagaimana?” Afifah sudah pasrah.




“Kita kirim dia ke Almunawwar, Surabaya!” putus Panji.








“Liyah ... buka pintunya nak!” Afifah sudah mengetuk pintu kamar putrinya berulang kali.




Tak ada sahutan dari dalam.




“Sudah, biarin! nanti anak itu bakal keluar kalo kita udah pergi ke kantor!” ucap Panji dari belakang.




Afifah menghela nafas berat, kemudian berlalu ke suami nya.




Di dalam kamar.




Liyah mencoba memejamkan matanya agar segera terlelap, tapi cacing dalam perutnya tidak bisa di ajak kerjasama.




Matanya kembali terbuka, bersamaan dengan ponsel nya yang berdering.




Saat tahu siapa yang menelpon, liyah bergegas meraih ponselnya dan menjawab panggilan tersebut.




“Pagi sayang!” Suara dari seberang memulai dengan semangat.




“Iqbal?” balas Liyah, suaranya masih terdengar serak.




“Iya sayang, oh iya gimana keadaan kamu?” Iqbal bertanya.




“Harusnya aku yang nanya, gimana keadaan kamu? Luka yang kemarin udah di obatin belum?” Liyah merajuk.




“Tenang, aku kan cowok yang kuat! Udah ya gak usah khawatir in aku, apalagi sampai nangis. Inget ya kamu kalo nangis entar wajah nya jadi bengkak, udah gitu hidung sama bibir nya tambah gede kayak icon nya Ancol!” Iqbal mencoba untuk bercanda.




“Ish ... nyebelin banget sih, nyamain aku sama iconnya Ancol!” balas Liyah kesal.




Rasa sedihnya berlalu dengan percakapan ringan bersama pacarnya.




“Liyah!”




“Iya kenapa?”




“Aku kangen kamu!”




“Aku juga, tapi kayaknya papa sama Mama nyewa bodyguard buat ngawasin aku. Entar kalo mereka tahu aku nyamperin kamu, aku takut kamu bakal kena pukul lagi!” jelas Liyah.




“Yaudah gak papa, nanti kita juga bakal ketemu kok!”




“Di mana?” Liyah penasaran.




“Di pelaminan!”




“Serius?” pipi Liyah merona.




“Doain aja biar jodoh!”




“Yah, kok gitu sih ngomong nya?”




“Udah gak papa!”




“Iya iya, tapi aku juga beneran kangen kamu!”




“Iya aku juga Liyah, entar kalo kamu udah sekolah lagi, pulang nya aku jemput yah?”




“Beneran?”




“Iya!”




“Emang kamu udah selesai jam kuliah nya?”




“Iya, aku udah bebas jam kuliah, karena judul skripsi ku udah di terima sama dosen pembimbing!”




“Yey bentar lagi sarjana nih?”




“Iya doain ya!”




“Pastilah, doanya aku kan cuma buat kamu seorang!”




“Eh, kok cuma buat aku doang? buat mama papa kamu?” Iqbal bertanya.




“Gak lah, mereka itu gak butuh doa, yang mereka butuhkan cuma uang!” ucap Liyah enteng.




Tak ada balasan dari Iqbal.




“Jangan lupa yah kalo nanti aku wisuda, kamu harus datang!”ucap Iqbal, mencair kan suasana.




“Iya, apasih yang enggak buat pacar ku tersayang?”




“Udah ya aku dipanggil Reno!”




“Iya, jaga kesehatan ya!”




“Iya yang, love you!”




“ Love you to. Good bye!”




Liyah menghela nafas kasar.




Perutnya terasa nyeri, karena belum di isi apapun sejak pagi.




Rumah ini benar benar sunyi.


Dengan santai, Liyah melangkah ke luar kamar, matanya mengoreksi setiap sudut ruangan, sepi. Seperti biasanya, pasti kedua orang tua nya sudah pergi ke kantor.




Liyah segera berlari ke dapur.




Ada beberapa macam menu makanan yang tersaji di meja makan, gadis itu langsung melahap apapun yang tersedia sampai kenyang.




“Liyah!” Suara itu langsung menginterupsi Liyah yang masih duduk di meja makan.




“Sudah kenyang nak?” Afifah yang bertanya.




Sembari menghampiri putri nya yang masih diam tak menjawab dan tak beranjak dari duduknya.




“Liyah!”




Kemudian, “Papa ingin menyampaikan sesuatu!”








Tangis Liyah semakin menjadi, sang sopir taksi menjadi gusar dengan tingkah penumpang nya.




“Non teh kenapa atuh kok nangis?” tanya si sopir taksi.




Tangis Liyah malah menjadi lebih kencang.




“Aduh, Non nangisnya kok malah kenceng atuh? Nanti di kira orang orang saya teh ngapa ngapain neng!” ucap supir taksi gelisah.




“Udah deh pak, ja-jangan ba-nyak nanyak! Gak ta-tahu apa orang la-lagi gal-lau gini hiks ... hiks ... .” omel Liyah.




Rumah Panji




“Udah pa, jangan di kejar!” pinta Afifah.




“Tapi kalau dia kabur gimana?” Panji cemas.




“Kita suruh Budi dan Karim untuk mengikuti Liyah pergi!” jelas Afifah.




“Budi ... Karim ... .” panggil Panji pada dua ajudan nya dengan keras.




Dua laki laki berbadan tegap dan berkulit hitam telah menghadap sang majikan.




“Ikuti kemana pun Liyah pergi. Jangan sampai kalian kehilangan jejaknya dan jangan berlaku kasar padanya!” jelas Panji.




“Baik tuan!”




“Tunggu!” Suara Afifah menghalau kepergian dua ajudan yang siap melaksanakan tugas nya.




“Ingat! kalian hanya mengawasi, tidak untuk ikut campur dengan apa yang di lakukan oleh liyah, kecuali hal itu membahayakan keselamatan nyawa Liyah.” terang Afifah tanpa menghiraukan protes dari suaminya.








Liyah segera turun dari taksi dan langsung berlari memasuki loby apartemen, beberapa kali juga badan nya bertabrakan dengan penghuni apartemen. Jangan lupakan beberapa kali juga dia di hujat oleh orang tua yang tak sengaja bertabrakan tadi.




Dengan air mata yang masih mengalir aku terus berlari, tujuan ku hanya satu, bertemu Iqbal. Masa bodoh dengan cacian orang-orang.




Kali ini Liyah tidak butuh rokok, tidak butuh alkohol, dan lagu lagu DJ yang biasa dia datangi untuk menghilangkan masalah.




Liyah butuh Iqbal, butuh pelukan yang membuat ketenangan dalam jiwa.




Liyah butuh Iqbal sekarang, untuk sandaran kepala yang mulai pening.




Liyah butuh genggaman hangatnya.




Sampai di depan apartemen nya, Liyah langsung memasukkan code kunci nya, tanggal jadian mereka.




Sunyi yang di dapat.




Hanya sunyi.




Tak ada Iqbal.




‘Di mana dia?’ batin nya berteriak.




Apa iqbal masih di kampus?




Liyah segera keluar dari apartemen Iqbal, tujuan nya kini adalah kampus Iqbal, semoga saja pemuda itu berada di kampus.




Nafas liyah terengah saat sampai di parkiran kampus.




Sialnya lagi, aku tidak membawa ponsel.




Dengan berat hati liyah harus mencari Iqbal di tengah lautan mahasiswa yang entah ke Universitas ini untuk mencari ilmu pengetahuan atau hanya sekedar nongkrong se geng dengan bahasan yang tak berguna.




Lihat saja, sedari awal liyah masuk universitas tempat Iqbal kuliah, beberapa gerombolan mahasiswi wanita menilai penampilan nya yang bisa di bilang acak acakan dan sangat kacau, lengkap juga dengan bekas air mata yang belum kering.




Malah, kalian tahu ... gerombolan mahasiswa di pojok menjadikan Liyah objek fantasi liar nya, Mungkin.




Mengingat Liyah yang hanya memakai tank top dan celana kolor selutut, pastilah kalian tahu apa yang di pikirkan para laki-laki melihat kemolekan tubuh Liyah, beruntung nya Iqbal bukan bagian dari mereka.


Liyah mencari Iqbal dengan bertanya kepada beberapa mahasiswa, tapi nihil,


tak ada yang tahu keberadaan Iqbal sama sekali.




Dimana Iqbal?




Liyah berhenti di depan sebuah cafe.




Matanya menatap tajam pada seorang laki-laki yang baru keluar dari cafe, dia Iqbal, laki laki itu tidak sendirian, bersama seorang perempuan.




“Iqbal!” Liyah memanggilnya kencang.





Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk