Bab 4

0 dibaca

A

Suasana masih hening di dalam apartemen Iqbal.




Liyah, kekasih nya masih menangis di pelukannya. Sedangkan seorang perempuan lagi sedang berkutat di dapur untuk membuat minuman bagi tamu.




“Udah sayang jangan nangis, ceritain dulu masalah kamu yah!” Iqbal mengusap usap punggung kekasihnya.




Tangis Liyah semakin kencang, membuat Iqbal tambah cemas.




“Hey hey, kok tambah kenceng sih nangisnya? Udah dong ... jangan nangis terus, entar muka kamu jadi bengkak loh!” tutur Iqbal, ia mencoba bercanda.




Dan seketika itu tangis Liyah berhenti bersamaan dengan datangnya seorang perempuan yang sejak tadi berkutat di dapur.




Liyah menegakkan badannya, lalu menatap ke arah perempuan yang duduk di depan nya, lalu tatapannya beralih ke Iqbal.




Dan kemudian menutup wajah nya dengan kedua telapak tangannya, Liyah berkata lirih. “Aku bakal di masukin ke pesantren sama Papa!”




Hening.














“Seriusan Li?” itu bukan Iqbal, melainkan Acha, sahabat sekaligus sepupu dari pacar Liyah.




“Iya Cha ... hiks ... hiks ... .”




“Ih ... elo kok malah nangis sih?” heran Acha.




Iqbal masih diam, belum membuka suara sama sekali.




Pikiran nya tertuju pada satu hal, pandangannya kosong.




“Aku gak mau LDR an sama kamu yang!” Liyah kembali memeluk Iqbal, menangis di pelukan sang kekasih.




“Hey ... udah jangan di lanjutin lagi nangis nya!” Liyah masih setia menangis.




“Hey ... sayang! Sini lihat aku ... Hey cantik .... lihat aku!” Iqbal menegakkan badan Liyah, berusaha agar sang kekasih menatap wajahnya.




“Ih ... Liyah, cup ... cup ... jangan nangis. Inget kan, elo kalo nangis mirip sama iconnya Ancol, udah gitu hidung nya jadi besar dan merah, nanti jelek loh ... entar kalo cantik nya elo pindah ke gue gimana?” Bukannya memberi solusi, Acha malah semakin merecoki Liyah dengan pernyataan yang tidak berguna dan konyol.




“Acha ... .” panggil Iqbal menginterupsi.




“Ups ... aku salah ngomong ya?” seru Acha.




Tangisan Liyah semakin kencang.




“Sorry ... sorry deh Li, please elo udahan ya nangisnya, emang elo gak capek dari tadi nangis mulu?” Liyah mengangkat wajahnya sambil mengusap ingus nya dengan kaos yang di pakai Iqbal.




“Iyuh ... Liyah, jorok banget sih? Ada tisu segebok juga di meja!” Acha berseru jijik.




“Apa? Orang gue juga ngelapnya pakek kaos pacar gue, Iqbal aja nggak papa kok, kenapa elo yang jijik?” ketus Liyah.




Sedetik kemudian. “Minum dulu!” Iqbal menyodorkan secangkir teh hangat yang tadi dibuat oleh sepupu nya.




“Eh ... btw, emang elo mau di masukin pesantren mana?” Acha bertanya.




“Surabaya, jauh banget kan!” jawab Liyah lesu.




“Wih ... jauh juga, eh ... gue ikut elo ke pesantren aja boleh ya, soalnya tadi gue lihat lihat kampus bang Iqbal, kayaknya ruwet banget gitu kalo belajar belajar mulu!”




Meskipun Acha berstatus sahabat Liyah, tapi tingkahnya sangat lah berbanding balik dengan Liyah.




Jika Liyah terkesan berandalan, maka Acha terkesan anak mami dan polos, saking polosnya Acha, sampai ia tak pernah tau kapan kondisi yang tepat untuk bercanda atau tidak! Seperti saat ini contohnya.




“Ih ... tapi aku gak mau jauh jauh dari Iqbal!” Rajuk Liyah.




“Emang kamu nggak bosen, ketemu sama bang Iqbal mulu? Coba coba gitu Li, siapa tau di pesantren juga banyak cogannya, kan lumayan buat cuci mata!” seru Acha.




Wajah Liyah sudah merah padam, gila sekali sahabat nya ini. Di tengah-tengah masalah yang dihadapi Liyah, dia masih sempat sempat nya memikirkan cowok ganteng dan lagi, menanyai nya. ‘Apa ia tak bosan ketemu Iqbal mulu?’




“Ya enggak lah, Acha! Yayang Iqbal kan pacar tersayang gue.” omel Liyah.




“Udah udah, jangan berantem mulu!” Iqbal menengahi.




“Emang dari tadi siapa yang berantem bang?” tanya Acha polos.




“Huh ... udah ya Acha, mending kamu pulang aja ke rumah! Dari tadi mami kamu udah nanyain kamu kapan pulang nya!” ucap Iqbal, sengaja berbohong karena dia tidak mau Acha semakin merecoki Liyah.




“Beneran?”




“Iya”




“Oke, kalo gitu Acha pamit pulang dulu ya abang Iqbal, Liyah bye!” Acha sudah beranjak dari duduknya.




Iqbal hanya mengangguk.




Tapi sedetik kemudian berikut nya Acha berbalik ke arah Iqbal.




“Aku pulang sendirian nih bang?”




“Iya ... Salamin mami kamu, kalo Abang gak sempet nganterin kamu pulang.” jelas Iqbal, Acha masih setia berdiri di tempatnya.




“Apalagi?” tanya Iqbal heran.




“Eum ... tadi Acha kan di jemput abang dari rumah ... .”




“Terus?” Iqbal menyelah.




“Kan jadinya sekarang aku pulang nya naik gojek, soalnya kan Abang masih nungguin Liyah berhenti nangis. Jadi ... .” ucapan Acha menggantung.




“Jadi?”




“Bagi duit dong buat ongkos gojek!” Acha sudah menyodongkan ke dua telapak tangan nya di hadapan Iqbal.




Iqbal mendengus kesal.




“Nih ... udah ya sana buruan pulang!”




“Kok cuma 50 ribu sih bang?”




“Emang masih kurang?”




“Kan buat beli es di jalan!”




Lagi, Iqbal mendengus. Tanpa banyak bicara lagi, Iqbal langsung memberikan uang seratus ribu pada adik sepupunya yang bawelnya minta di kubur hidup-hidup.




“Yeey ... gini dong, yaudah bang aku pulang dulu ya!”




“Iya!” jawab Iqbal malas.




“Bye Abang, bye Liyah bantet!”








Malam menyapa.




Dengan berbagai macam rayuan akhirnya Liyah mau melahap makanan yang di pesan Iqbal lewat delivery order.




“Udah malem, aku anterin kamu pulang ya!” ajak Iqbal yang sudah menenteng jaket kulit nya.




Wajah Liyah seketika merengut mendengar ajakan Iqbal.




“Kamu ngusir aku?” tanya Liyah ketus.




“Hem ... enggak gitu sayang, kamu harus pulang ke rumah. Nanti kalo papa kamu makin marah sama kamu gimana?” Iqbal sudah duduk di samping Liyah.




“Biarin, yang penting aku selalu sama kamu!”




“Hem.”




“Pokoknya aku nggak mau pulang, titik.” putus Liyah.




“Yaudah iya, tapi kamu jangan ngambek lagi ya?” jemari besar Iqbal mengusap lembut pipi cuby Liyah.




“Hu’um.” Liyah menganggukkan kepalanya.




“Yaudah gih tidur!” pinta Iqbal.




“Tapi sama kamu!” seru Liyah.




Iqbal mengangkat sebelah alisnya.




“Please, aku pengen tidur di temenin kamu!” Liyah memohon.




“Iya, ayo buruan tidur!”








“Kita mau kemana sih?” Liyah bertanya.




Sedangkan Iqbal masih fokus mengemudi.




“Nanti juga tau kok!”




“Ih ... kamu kok gitu sih? Bikin aku penasaran aja deh.” Gerutu Liyah.




Gelapnya malam juga masih menemani.




Entah kemana Iqbal akan mengajak Liyah tengah malam begini?








Sebenarnya Liyah takut dengan sikap Iqbal yang mulai misterius, mobil yang mereka tumpangi masih terus melaju, melewati jalanan bertebing dengan angin yang menerpa dari arah laut.




Beberapa jam kemudian, mobil kami berhenti.




Iqbal menoleh ke arah Liyah, dia tersenyum.




“Aku mau nunjukin sesuatu sama kamu!”




Iqbal mengajak Liyah untuk keluar dan hamparan pasir putih menyapa kaki mereka.




“Lepas aja sepatu kamu!” pintah Iqbal.




Tangan besar nya menggenggam erat tangan Liyah, pemuda itu mengajak Liyah berlari ke arah mulut pantai.




Iqbal menoleh ke arah Liyah, tatapan mata mereka bertemu, pemuda itu tersenyum lembut.




Dengan perlahan wajahnya mendekat ke arah Liyah


‘Jantung ini kenapa berdetak sangat cepat?’ batin Liyah.




‘Apa aku terkena serangan jantung dadakan?’ Liyah bertanya dalam hati nya.




Refleks perempuan itu menutup mata, seperti nya dia terlalu takut untuk mengetahui apa yang selanjutnya akan terjadi pada dirinya.




Liyah rasakan harum nafas Iqbal berada di permukaan wajah nya.




Kedua tangan perempuan itu meremas ujung baju yang berlapis sweter yang dipakai nya.




Sedetik kemudian.”Kamu masih ngantuk?” tanya iqbal.




Liyah segera membuka mata dan yang terlihat pertama kali adalah pemuda itu menahan tawa.




“Kamu berharap aku cium ya?” pertanyaan nya membuat pipi Liyah panas.




‘Dia mengerjai ku?’ lagi-lagi Liyah bertanya dalam hati nya.




“Ih ... Iqbal ... .” jeritnya.




Iqbal sudah berlari menjauh.






Pemuda sudah berlari menjauh, walau sebenarnya dia sengaja melambat kan lari nya, karena berharap Liyah segera menangkap nya.




“Mau kemana kamu hayo?” Liyaj sudah memeluk pinggang pemuda itu erat.




Jangan lupa kan jeweran maut Liyah yang sudah bertengger di telinga Iqbal.




“Aduh ... aduh ... ampun ... yang ampun ... tadi aku cuma bercanda kok,” ujar iqbal tidak berbohong, jeweran Liyah benar benar menyakitkan, atau bahkan mampu membuat telinga nya lepas dari tempatnya.




“Bercanda an kamu nggak lucu!” ucap nya ketus.




Kini tangannya sudah lepas dari telinga iqbal, tapi dia tetap merangkul pinggang kekasihnya erat.




Dengan cepat Iqbal mengganti posisi, menjadi dirinya yang merangkul Liyah dari belakang.




Sunyi.




Hanya deburan ombak air laut yang saling bertabrakan dengan batuan karang, iqbal memeluk Liyah sangat erat dan menumpukan kepalanya di pundak kekasih tercinta nya, Liyah. Dingin udara di sekitar ikut merangkul tubuh keduanya.




Air laut pun ikut menyapa jemari kaki mereka.




“Sayang!” panggil Iqbal lirih.




“Apa?” tanya Liyah.




Sekilas Iqbal mengecup pelipis nya, lalu beralih ke telinga gadis itu.




“Aku ... pengen kamu nurutin kemauan orang tua kamu, buat masuk ke pesantren!” Iqbal mengucapkan nya dengan pandangan kosong.




Liyah hendak berontak, ingin lepas dari pelukan kekasih nya.




Tapi pemuda itu menahannya dengan erat, tetap memeluknya dari belakang.




Pemuda itu mendengar isak tangis, Liyah menangis.




Iqbal mencoba tersenyum.”Cup ... cup ... jangan nangis dong sayang!”




“Aku nggak mau ke pesantren!” ucap Liyah lirih.




Iqbal tahu liyah menangis tanpa suara dan itu malah membuat nya semakin terluka.




“Hey ... jangan nangis!”




“Aku nggak mau pisah sama kamu, aku nggak kuat jauh jauh dari kamu.” Rengek Liyah.




“Hey ... siapa yang bilang kita mau pisah?” Iqbal membalik badannya yang hampir luruh ke pasir pantai.




Kemudian menangkup wajah Liyah dalam telapak tangan nya yang lebar.


“kita pasti ketemu lagi kok, aku yakin banget kalo kita gak bakal bisa terpisahkan, karena kamu itu hidup aku!”




“Beneran?” Liyah bertanya kepada Iqbal, dengan mata yang masih mengalir kan butiran bening.




“Tentu, karena kita sepaket! dan nanti ketika kita kembali bersama lagi, kita akan memlik banyak cerita yang akan di cerita kan di masa depan!” ucap Iqbal tersenyum.




Liyah memelukku erat Iqbal, seakan-akan malam ini adalah malam terakhir dia bisa berpelukan dengan kekasihnya.




Kepala Liyah bersandar di dada iqbal. ‘Semoga saja kamu tidak mendengar pemberontakan yang di lakukan oleh hati kecil ku, liyah.’ batin Iqbal.




Semoga saja!




“Tapi aku takut Iqbal!”




“Apa yang kamu takutin?”




“Gak tau, aku ngerasa takut aja!”




Hening.




“Aku mohon Li, cuma ini satu satunya permintaan ku yg aku harap kamu mau nurutin ... please!” pinta Iqbal lagi.




Iqbal mengelus elus rambut panjang kekasihnya.




“Kita LDR an dong?”




“Liyah, kita berada di bawah langit yang sama, kita berpijak pada bumi yang sama dan kita tidak akan pernah bisa terpisahkan, i love you!”




“I love you to!”




Pemuda itu tersenyum kemudian mengecup pipi cuby Liyah yang masih basah oleh air mata.





Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk