Besok nya Iqbal langsung mengantar Liyah pulang ke rumah nya.
Liyah masih diam di boncengan Iqbal, kedua tangan nya masih setia memeluk tubuh Iqbal dari belakang.
Tak ada obrolan apapun di tengah jalan, begitu pun terus sampai motor ninja hitam milik Iqbal terparkir di depan gerbang rumah megah berlantai tiga, rumah Liyah.
“Udah sampai sayang.” ucap Iqbal.
Tak ada jawaban, hanya rangkulan tangan Liyah saja yang semakin erat.
“Liyah, udah sampai sayang!” ucap Iqbal sembari menggenggam tangan Liyah.
Perlahan tapi pasti Iqbal melepaskan rangkulan tangan Liyah di perutnya.
“Ayo turun, tuh ... papa kamu udah siap siap buat nonjok aku tau.” Iqbal bukan lagi bercanda seperti biasanya.
Karena Panji benar benar sudah berdiri tegap di ambang pintu, beruntung nya Afifah, Mama Liyah berada di sisinya, sehingga mampu menahan gejolak amarah Panji.
Kalau saja tidak, mungkin nasib Iqbal sama seperti tempo hari lalu.
Liyah akhirnya turun juga dari motor Iqbal, di ikuti oleh pemilik motor kemudian.
Iqbal melirik sekilas ke arah Papa Liyah, lalu melempar senyum tipis.
“Udah ya kamu masuk ke rumah. Orang tua kamu udah nungguin tuh!” ucap Iqbal sembari tersenyum.
“Iqbal ... .” Liyah merajuk sambil meraih kerah baju Iqbal.
“Hey jangan gitu dong, kamu kan udah janji mau nurutin satu kemauan ku ini! ... inget yang, aku gak suka sama cewek yang berani ngelawan orang tua!” tutur Iqbal sembari mengusap air mata Liyah yang mulai terjun bebas.
“Peluk aku please ... Iqbal!” lirih Liyah.
Tanpa meminta untuk yang ke dua kalinya, Iqbal langsung memeluk erat kekasih nya, berharap mampu menyalurkan energi pada Liyah.
Tanpa menghiraukan Panji yang sudah siap berlari ke arah putrinya berada untuk membogem mentah pada lelaki yang berani memeluk putri nya di hadapan nya langsung.
Afifah lagi lagi menahan suaminya.”Tenang dulu pa ... coba beri mereka berdua waktu dulu, sebentar!”
Nafas Panji terengah-engah, memburu karena menahan emosi yang mulai meluap.
Sejenak Iqbal melepas pelukannya.
Menatap kasih pada Liyah, kemudian mengecup keningnya agak lama.
Liyah memejamkan mata.
“Udah ya, aku pulang dulu! Kamu baik baik ya kalo udah di pesantren. Jangan bandel, terus nurut sama apa saja yang di bilang mama sama papa kamu!”Iqbal menuntun Liyah masuk ke halaman rumah nya.
Liyah masih diam, tak tahu apa yang harus ia ucapkan. Lidahnya terlalu keluh untuk berucap, andai saja Liyah berucap pasti hanya isak tangis yang bersuara.
Iqbal mulai berjalan mundur perlahan, lalu melambai ke arah Panji.”Saya pamit pulang Om. Titip Liyah buat saya ya Om!”
Iqbal tersenyum, kemudian segera menaiki ninja hitam nya melenggang pergi meninggalkan kompleks perumahan Liyah.
Kini hanya terpaan angin kencang yang menemani perjalanan pulang Iqbal ke apartemen.
Dia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi di tengah jalanan yang lenggang siang ini.
Tanpa ia sadari, dari arah kanan ada sebuah mobil yang melaju sedang dan hendak berbalik arah.
“Brak ... .” Suara dentuman besi berdecitan di tengah jalanan yang sepi.
Motor yang di kendarai Iqbal, terpental ke siku jalan beserta pengendara nya, sedang mobil yang ikut peran dalam kecelakaan ini hampir saja terbalik.
Skip-kembali ke Liyah.
Liyah langsung masuk ke kamar, walau sebenarnya dari tadi Panji memanggil nama nya berulang kali.
‘Biarlah, aku ingin sendiri, tetap sendiri dulu, entah sampai kapan.’ Pikir nya.
Liyah belum tahu kapan hati nya ini benar benar terbuka untuk kedua orang tua nya, mata dan hati nya benar-benar masih tertutup akan kasih sayang semu mereka.
“Liyah ... .” Entah sejak kapan dan bagaimana Mama Liyah masuk ke dalam kamar, kini Mama nya sudah duduk di tepi ranjang.
“Ada sesuatu buat kamu, dari Iqbal.” ucap nya sambil memberikan sebuah kotak kecil pada putri tunggal nya.
“Dia pacar kamu ya? Kayak nya dia anak yang baik, tapi ... kamu jangan terlalu mencintainya ya ... Mama takut kalo kamu terlalu cinta ke Iqbal, malah dia akan di jauhkan dari kamu!” Liyah menatap Mama nya nanar, tak paham apa maksud dari ucapan nya itu.
“Ayo di buka kotak nya nak! Mama boleh kan ikut lihat isinya?” Liyah mengambil alih kotak kecil yang Mama nya bawa, lalu perlahan membuka ujung isolasi nya, mengeluarkan sebuah kotak yang lebih kecil lagi dari dalam nya, kali ini berbentuk love.
Liyah membuka nya, sebuah kalung berliontin monel, berbentuk bulan sabit dan bintang yang menyatu.
Ada sepucuk surat di dalam nya.
Hari ini tiba, hari di mana Liyah benar-benar pergi dari jangkauan orang tua nya.
Tapi tidak dengan Iqbal, Liyah tetap ingin bersamanya sampai kapan pun juga, tapi kali ini dia tidak bisa, karena ini adalah permintaan kekasih nya.
Liyah menghela nafas.
“Kamu sudah siap, Nak?” Mama nya muncul dari balik pintu.
‘Ada sesuatu yang berbeda dari tampilan Mama nya kali ini.’ pikir Liyah.
Tapi apa?
Hijab.
Mama nya mengenakan penutup kepala yang menjuntai panjang Sampai menutupi bagian dadanya.
Aneh ....
Tapi tidak jelek. Menurut Liyah.
Seakan akan Mama nya pantas mengenakan penutup kepala yang Liyah yakini benda itu baru saja di beli.
Dia bukan manusia bodoh yang tidak tahu apa itu hijab?
Dulu saat Liyah masih SMP, banyak sekali teman perempuan -tapi mereka tidak berteman dengan nya- hanya sekelas saja dan kebanyakan dari mereka mengenakan hijab, tapi sayang, mereka menutup kepalanya saja, tidak beserta hati nya.
Kebanyakan dari mereka mencela gaya dan tingkah laku Liyah yang memang terkesan tomboy.
Perempuan itu sedikit menyayangkan sifat mereka yang mencela nya itu.
Tapi biarlah!
‘Buat apa aku layani sifat mereka? Duniaku milik ku, dunia mereka milik mereka.’ itu prinsip Liyah.
Liyah memang nakal, berandal, suka buat onar.
Tapi dia tidak pernah menyesatkan, apalagi mengajak berulah orang sekitar nya.
Mereka saja yang suka uang Liyah -bukan Liyah- berlabuh.
Liyah tidak pernah mengajak mereka.
Itu semua keinginan masing-masing.
Kembali ke Mama nya yang kini sudah berada di hadapan Liyah.
“Kok belum ganti baju sih?” Mama bertanya, Liyah masih diam, tak menjawab.
“Ayo buruan ganti baju, nanti terlambat ke bandara nya,” ucap Mama, perempuan paruh baya itu meraih baju baju yang berada di ranjang Liyah.
Bajunya agak tertutup, membuat Liyah agak gamang untuk memakainya sedari tadi.
“Ayo sayang, buruan berdiri!” Mama nya menarik lengan Liyah agar beranjak dari ranjang.
Dengan terpaksa gadis itu beranjak bersama dengan baju ganti yang di siapkan Mama nya.
Andai ini bukan permintaan Iqbal yang harus dia turuti, pasti gadis itu sudah kabur dari kemaren malam.
Papa nya memang menyewa bodyguard untuk mengawasi dan menghalangi Liyah agar tidak bisa keluar dari rumah.
Tapi mereka bukan tandingan Liyah.
Liyah memang tidak pintar bela diri atau semacamnya itu.
Jika para kacung itu menggunakan tenaga dan otot nya, maka Liyah menggunakan otak dan kemampuan berlari nya.
Yach ... salah satu kelebihan yang dimiliki nya adalah kecepatan berlari, bisa di bilang dia ini atlet lari cepat.
Atlet yang sudah membesarkan nama sekolah, itulah satu satunya juga alasan Liyah masih bisa bersekolah di SMA nya saat ini. Karena banyak nya medali emas dan perak yang ia sumbangkan ke sekolah.
Bukan hanya penghargaan lomba lari, tapi juga dalam ekstra seni lukis, dia juaranya.
Dia tahu, bahwa banyak orang yang pasti tertawa mendengar penuturan ini.
Bagaimana mungkin cewek berandal seperti Liyah jago dalam hal melukis.
Biarlah, tertawa lah.
Liyah baik baik saja kok.
Karena yang ia pedulikan cuma Iqbal, bukan kalian.
Area bandara sudah ramai .
Panji mondar mandir dari tadi di loby bandara, dia masih menunggu kabar baik dari para ajudannya, pasal keberangkatan pesawat selanjutnya tujuan ke Surabaya.
Afifah dan Liyah duduk manis di kursi.
Di wajah Liyah terukir segaris senyum kemenangan, walau dalam hati nya menjerit kesal karena pakaian yang ia kenakan saat ini.
Bagaimana tidak?
Seorang Liyah yang biasa nya tampil famous masa kini, yang biasa nya hanya memakai t-shirt, celana jins dan tank top. Sekarang dia memakai kaos lengan panjang dan penutup kepala selebar pulau Merauke.
Tapi itu bukan masalah utamanya, melainkan rok plisket yang panjang nya sampai mata kakinya.
Tak apa.
Setidaknya kali ini keberuntungan berpihak kepada Liyah, karena dalam perjalanan tadi keluarga kecil nya terjebak macet parah.
Alhasil, mereka semua terlambat sampai di bandara.
Dan pesawat yang akan di tumpangi sudah terbang 1 jam yang lalu.
“Liyah, pakai hijabmu yang benar!” pinta Afifah.
“Ah, gerah tahu ma ... .” gerutu Liyah , penutup kepala berstandar panjang dan lebar itu sudah melorot di pundaknya. Membiarkan rambut panjangnya tergerai indah.
“Semoga aja gak ada pesawat yang terbang ke Surabaya lagi!” batin Liyah.
Setelah menunggu, setidaknya 1 jam setengah akhirnya seorang ajudan Panji datang menghadap.
“Gimana? Ada pesawat lagi gak?”
“Ada tuan!”
“Bagus! Jam berapa?”
“30 menit lagi take off tuan!” Senyum Panji tercetak jelas.
Tapi tidak dengan Liyah yang shock mendengar kabar itu.
Pupus sudah harapan nya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!