Malam berganti semakin larut, namun layar ponsel Dian masih berpendar terang di atas kasur. Pesan demi pesan meluncur tanpa henti, membelah jarak antara kamar kos Dian dan apartemen Cyril. Ritme ketikan yang awalnya membahas jadwal lari mingguan dan rekomendasi rute di Gelora Bung Karno perlahan bergeser, melebur jadi perbincangan acak yang enggan diakhiri.
[Cyril]: Dian, ini sudah jam 1 malam. Kamu ada kelas pagi esok. Tidur sekarang.
Dian membanting tubuhnya telentang, menatap langit-langit kamar dengan senyum tipis yang tak bisa dibendung. Efek kopi sore tadi, ditambah debar halus di dadanya tiap kali nama Cyril muncul di layar, membuat rasa kantuknya menguap entah ke mana. Jemarinya bergerak cepat menari di atas layar.
[Dian]: Jujur, belum mengantuk.
[Cyril]: Besok kamu bisa lemas saat lari. Jangan memaksakan diri. Go to sleep, Dian.
Bukannya menurut, rasa nyaman yang membuncah justru membuat pertahanan Dian melonggar. Kejujuran Cyril sore tadi di kafe membuat Dian merasa aman—terlalu aman—sampai-sampai ia lupa pada garis tegas yang baru saja ia gariskan sendiri.
[Dian]: Gimana mau tidur kalau lagi kangen?
Pesan itu terkirim. Dian menahan napas sekilas, ada sensasi mendebarkan yang manis saat ia menantikan balasan dari pria Prancis itu. Ia membayangkan Cyril akan terkekeh, atau membalas dengan godaan tipis yang hangat.
Namun, tanda centang biru itu tidak langsung menghasilkan balasan kilat seperti biasanya. Tiga titik abu-abu muncul cukup lama, menghilang, lalu muncul kembali.
[Cyril]: Jangan.
Dahi Dian berkerut halus. Senyum di bibirnya perlahan memudar.
[Cyril]: Kamu sedang berjalan ke arah yang berbahaya. Bagi kebanyakan laki-laki, apalagi bule seperti aku, ucapan seperti itu di jam jam segini bisa diartikan sebagai pancingan. Kamu sendiri yang minta boundaries dan no physical contact sore tadi, tapi sekarang kamu memicu sesuatu yang berisiko merusak batasan itu.
Kalimat lurus dan dingin itu menghantam dada Dian bak guyuran air es. Rasa hangat yang tadinya memenuhi ruangan mendadak berganti menjadi sengatan malu yang membakar pipinya. Niatnya yang semula hanya ingin bermanja dan mengekspresikan rasa sukanya secara jujur, justru diartikan sebagai tindakan murahan yang memancing gairah.
Dada Dian kembang-kempis, disergap kombinasi rasa gengsi, terhina, dan amarah yang meledak instan.
[Dian]: Kok disangka mancing? Aku cuma jujur soal perasaanku, Cyril! Aku pikir kamu cowok dewasa yang paham bedanya kangen sama nyari kesempatan... tahu-tahunya pikiranmu sama aja kotornya! Bule munafik!
Tanpa menunggu balasan lagi, Dian mematikan koneksi internet ponselnya dan melempar benda persegi itu ke ujung kasur. Ia menarik selimut hingga menutup kepala, menahan napas yang bergetar hebat di kegelapan. Air mata hangat menetes ke bantalnya—bukan hanya karena marah, tapi karena rasa malu yang teramat sangat akibat kepercayaannya yang merasa ditampar balik.
Di tempat lain, Cyril mengusap wajahnya yang lelah sambil menatap layar ponsel yang kini hening total. Tidak ada lagi balasan, tidak ada tanda-tanda Dian sedang mengetik. Mata birunya menatap nanar kalimat tajam terakhir dari Dian. Ia menghembuskan napas berat, menyandarkan kepala ke sandaran sofa.
Cyril tahu ia baru saja melepas rem dengan sangat kasar hingga melukai perasaan wanita itu. Ia sangat menyukai Dian—terlalu menyukainya sampai-sampai ia tidak ingin godaan malam dan impulsivitas merusak rasa hormat yang mati-matian ia jaga untuk Dian. Malam itu keduanya tidur dalam hening yang menyiksa.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!