Run Date

1 dibaca

A

Keesokan harinya di lintasan lari yang mulai sepi, Cyril dan Dian akhirnya mewujudkan rencana run date mereka. Yang beneran lari bareng dan bukan cuma janjian ketemu.

Matahari senja membiaskan warna kemerahan di atas track atletik. Dian yang biasa cuma jogging santai tampak sedikit gugup berdirinya di samping Cyril—lelaki jangkung bertubuh atletis yang sudah sangat lihai memakan puluhan kilometer.

“Apa banget deh malah ngajak balapan lari nih bule” gerutu Dian pelan sambil merapikan ikatan tali sepatunya, menatap lintasan di hadapan mereka. “Please go easy on me, it’s my first time.”

Cyril yang sedang melakukan peregangan mendadak berhenti. Senyum jahilnya langsung terbit saat mendengar pilihan kata Dian. “Serius? It’s your first time? Santai aja, aku bakal nuntun kamu pelan-pelan dari awal.”

Dian mendengus pelan, menyenggol lengan Cyril. “Maksudnya pertama kali lari bareng lawan runner beneran kayak kamu! Jangan berpikiran aneh-aneh deh.”

Latihan dimulai. Cyril dengan sabar menyesuaikan pace-nya, berlari berdampingan tepat di sisi Dian. Udara sore yang hangat dan irama langkah mereka yang perlahan menyatu menciptakan atmosfer yang makin intens. Dian memacu napasnya yang mulai memburu, dadanya naik turun saat mereka mendekati garis finish putaran ketiga.

“Dikit lagi, Dian! Tahan napasnya, atur iramanya!” seru Cyril mendampingi di sampingnya. “Come on, let’s finish together!”

Mendengar frasa “finish together” yang diucapkan dengan vokal Prancis-nya yang serak dan halus, wajah Dian mendadak memerah panas. Di tengah napasnya yang tersengal, pikirannya mendadak melantur ke mana-mana. Tapi ia tetap memacu kakinya hingga mereka berdua menyentuh garis batas secara bersamaan.

Dian membungkuk, menumpu kedua tangannya di lutut sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya. Keringat membasahi leher dan dadanya, memberikan sensasi hangat yang memabukkan di sekujur tubuh.

“Gimana?” tanya Cyril sambil terkekeh, berlutut di depannya sambil menatap Dian yang masih ngos-ngosan.

Dian mendongak, menyapu rambutnya yang basah oleh keringat, lalu tersenyum lebar dengan mata berbinar. “Not bad, ayo satu putaran lagi! Let’s do another lap!”

Cyril menaikkan satu alisnya, menyandarkan tangan di pinggang dengan cengiran penuh arti. “Wah, ketagihan nih? Yakin kuat satu putaran lagi?”

Belum sempat Dian membalas godaan itu, tenggorokannya mendadak terasa kering dan gatal setelah memacu napas cepat. Ia memalingkan wajahnya sedikit ke arah rumput di luar lintasan.

“Sorry, I spit...” gumam Dian spontan sambil meludah kecil untuk membersihkan tenggorokannya.

Cyril langsung tertawa lepas, menggeleng-gelengkan kepala melihat kepolosan Dian yang tanpa sadar terus mengeluarkan kalimat-kalimat yang bikin pikirannya makin melayang.

“Oke, oke...” ujar Cyril sambil merangkul bahu Dian yang masih hangat oleh keringat. “Satu putaran lagi, tapi kali ini pace-nya aku yang atur ya.”

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk