Save zone?

0 dibaca

A

Sore itu, suasana kafe di sudut Jakarta terasa tenang. Di meja pojok dekat jendela, Dian dan Cyril duduk berhadapan dengan cangkir kopi masing-masing.

​Dian mengaduk pelan uap tipis dari kopinya. Di seberang meja, Cyril menyimak dalam hening. Bule Prancis itu tidak banyak bicara, hanya menatap Dian dengan pancaran mata biru yang dewasa dan teduh.

​”Cyril... soal ucapanku kemarin waktu kita chat,” mulai Dian pelan. “Kenapa aku tegas ngasih boundaries dan gak bisa jadian gitu aja... itu bukan sekadar ketakutan tanpa alasan.”

​Cyril hanya mengangguk tipis, gesturnya memberi ruang penuh bagi Dian untuk berbicara.

​”Ini kisah nyata di keluarga besarku,” lanjut Dian. “Aku punya sepupu perempuan namanya Uni Yona. Dulu dia pacaran sama bule asal US, sampai akhirnya Uni Yona murtad ikut keyakinan pacarnya. Dampaknya fatal... keluarga besar langsung disown Uni Yona. Dicoret dari silsilah, diputus hubungan total.”

​Dian menghela napas halus, menatap lurus mata Cyril. “Sejak itu, aku diwanti-wanti banget sama Amak. Makanya, aku gak bisa asal terima pacaran. Bahkan, aku juga gak mau ada sentuhan fisik sama sekali—termasuk pegangan tangan.”

​Cyril diam. Ia tidak memotong, melayangkan keberatan, atau menunjukkan riak kecewa. Ia menyandarkan punggungnya, menatap Dian lekat-lekat.

​”Dian,” ujar Cyril pelan, suaranya dalam dan irit kata. “Aku setuju. No physical contact. Aku paham.”

​Dian menyimak, menunggu kelanjutan kalimat lelaki di hadapannya.

​”Aku dekat sama kamu bukan untuk bikin kamu murtad,” sambung Cyril datar. “Tapi kalau untuk menuntut aku pindah agama sekarang cuma demi bisa pacaran atau nikah... menurutku itu dishonest. Aku gak bisa bohong soal keyakinan.”

​Kalimat itu terucap singkat, tanpa defensif, namun sangat lugas. Cyril memilih untuk tidak mengumbar argumen panjang lebar.

Di balik ucapannua, rasa kagum dan naksir di hati Cyril justru sebenarnya merekah mendalam. Ia melihat Dian sebagai wanita yang sangat berprinsip dan menjaga harga dirinya—sosok yang makin sulit untuk tidak ia cintai.

​Namun, semua rasa itu disimpan Cyril rapat-rapat di dalam hatinya. Ia tidak mengutarakannya, hanya menyimpannya dalam tatapan mata yang teduh.

​Dian mengangguk pelan. Cyril lalu tersenyum.

“Kita jajan-jajan es kopi sama run-date, aman kan Dian?”. Dian senyum.

“Mo nambahin, kita WA-an juga yuk, Cyril?”

“Boleh!”. Keduanya kembali seru mengobrol soal kesibukan di luar aktivitas lari atau kuliah.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk