Pukul 18.00
Jarum jam bergerak lambat, namun bagi Anna Caroline, setiap detiknya terasa seperti belati yang menguliti luka lama.
Hari ini penting. Sangat penting, hingga membuat dadanya sesak bergemuruh. Sambil mencengkeram erat gagang kopernya yang usang, Anna menatap mansion megah bergaya Eropa klasik di hadapannya. Pagar besi menjulang tinggi, pilar-pilar beton yang kokoh, dan lampu-lampu taman yang mulai menyala kekuningan. Rumah ini adalah lambang kemewahan, sekaligus monumen ego ibunya.
Hari ini. Tanggal ini. Jam ini.
Anna tertawa getir dalam hati. Mengapa ibunya harus memilih hari yang sama dengan tanggal perceraian kedua orang tuanya sebelas tahun lalu untuk membawanya ke sini? Apakah wanita itu benar-benar sudah lupa, atau sengaja ingin menghapus memori tentang ayahnya? Bagi Anna yang sebentar lagi menginjak usia 18 tahun, ingatan saat dia berumur 7 tahun terlampau membekas. Dia tahu ayahnya kasar pada ibunya, dia tahu pernikahan mereka racun, tapi rasa sayang Anna pada sang ayah membuatnya menolak melupakan pria itu.
Berbeda dengan ibunya yang melangkah dengan anggun seolah masa lalu tak pernah terjadi, Anna masih tenggelam dalam lumpur trauma.
”Mama hanya ingin kamu melanjutkan hidup dengan baik, Anna,” suara lembut Anita memecah keheningan. Wanita paruh baya itu menoleh, menatap putrinya dengan binar penuh harap. “Jangan pikirkan masa lalu lagi. Fokuslah pada masa depanmu di rumah ini.”
Anna berhenti melangkah. Senyum kecut terukir di bibirnya yang pucat. “Masa depan?” tanyanya, suaranya bergetar menahan amarah yang mendadak meluap. “Masa depan apa yang Mama maksud? Masa depan hidup bersama Mama dan pria kaya yang Mama puja? Apa Mama pernah memikirkan perasaanku sedikit pun? Tidak, Ma. Mama hanya peduli pada kebahagiaan Mama sendiri!”
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Anna. Suaranya bergema di pelataran sunyi itu.
Anna tertegun. Kulit pipinya terasa panas dan berdenyut, namun rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibanding hancurnya sudut hati yang tersisa. Dia menatap ibunya dengan pandangan tak percaya.
”Cukup, Anna! Sampai kapan kamu mau menghukum Mama?!” Napas Anita memburu, matanya seketika berkaca-kaca oleh emosi yang tertahan. “Mama hanya ingin menyelamatkanmu! Setidaknya kita harus bersama sekarang. Tolong... jangan bertingkah keras kepala seperti pria bajingan itu!”
Mendengar ayahnya disebut bajingan, pertahanan Anna runtuh. Air matanya menetes bebas. “Jangan sebut Papa seperti itu! Anna tahu Papa salah, tapi jika Mama sudah tidak mencintainya, tolong jangan mengatainya di depanku!”
Suasana mencekam dan penuh air mata itu mendadak terinterupsi oleh suara langkah kaki yang mantap. Seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas mahal berjalan mendekati mereka. Wajahnya dihiasi senyuman ramah yang tulus.
”Kalian sudah sampai rupanya,” sapa pria itu hangat.
Dalam hitungan detik, Anna menyaksikan keajaiban yang memuakkan. Anita dengan kilat menghapus air matanya, mengubah raut wajah frustrasinya menjadi senyuman paling manis dan manja yang pernah Anna lihat.
”Iya, Sayang. Kami baru saja sampai,” sahut Anita lembut, menyambut lengan pria itu.
Anna dengan cepat memalingkan wajah, menyeka air matanya dengan kasar. Dia harus memasang topengnya sendiri. Pria di hadapannya ini pasti Gino—suami baru ibunya. Ayah tirinya.
”Anna, perkenalkan. Dia suami Mama,” ucap Anita dengan nada riang yang terdengar dipaksakan di telinga Anna. “Kamu bisa memanggilnya Papa Gino.”
Anna hanya diam, memberikan anggukan kaku tanpa ekspresi. Gino, yang menyadari kecanggangan itu, tersenyum maklum. Dia tidak ingin menekan anak tiri yang tampak rapuh namun defensif ini.
”Semoga kamu betah di sini, Anna. Papa akan melakukan yang terbaik untuk kenyamananmu. Anggap saja rumah sendiri,” ucap Gino, menyusun kalimatnya sehati-hati mungkin demi mencairkan suasana.
Anita kemudian menuntun Anna masuk ke dalam, membawanya naik ke lantai dua menuju kamar barunya. Di sepanjang koridor, Anna hanya bisa membatin. Kepercayaannya pada sang ibu sudah musnah di pelataran tadi. Semua kelembutan ini terasa seperti kepalsuan.
Namun, pertahanan skeptis Anna goyah saat pintu kamar barunya dibuka.
Kamar itu luar biasa luas. Sebuah ranjang king size dengan sprei sutra putih, meja rias estetik berlampu yang dipenuhi produk perawatan wajah premium, lemari pakaian besar berpintu cermin penuh, dan sebuah pintu kaca yang menuju ke balkon luas. Dari balkon itu, pemandangan kota di waktu senja terlihat begitu menakjubkan.
”Bagaimana? Kamu suka, kan?” bisik Anita, tersenyum penuh kemenangan karena tahu dia berhasil menebak selera putrinya.
Anna bungkam. Dia terlalu gengsi untuk mengakui bahwa kamar ini adalah impiannya. Ternyata, ibunya masih mengingat sedikit detail tentang dirinya.
Langkah kaki Anna membawanya berjalan menuju balkon untuk menghirup udara segar. Namun, gerakannya terkunci saat matanya menangkap siluet di balkon seberang, yang hanya berjarak beberapa meter dipisahkan oleh taman gantung.
Seorang pria sedang berdiri memunggunginya. Pria itu hanya mengenakan handuk putih yang melilit pinggang bawahnya. Bahunya lebar, dengan otot-otot punggung yang tampak kokoh dan atletis, basah oleh sisa air mandi. Anna terpaku. Jantungnya berdesir aneh tanpa alasan yang jelas. Tatapannya tertancap pada sosok maskulin itu.
Anita yang menyusul ke balkon menyadari arah pandang putrinya. Sebuah senyuman penuh arti terukir di wajah sang ibu.
”Wah, dia benar-benar mirip papanya. Tubuhnya sudah se-atletis itu,” gumam Anita dengan suara rendah, ikut memandangi pria tersebut.
Anna menoleh cepat, menatap ibunya dengan kening berkerut, menuntut penjelasan.
Anita berdeham, nadanya tiba-tiba berubah serius dan penuh peringatan. “Mengagumi bentuk fisiknya boleh, Anna. Asal... jangan pernah menaruh ketertarikan lebih padanya.”
”Maksud Mama?”
”Lune. Lucanne Lune,” jawab Anita pelan namun tegas. “Dia adalah kakak tirimu.”
Kakak tiri. Kata itu berdengung aneh di telinga Anna. Dia kembali melemparkan pandangannya ke balkon seberang, namun pria bernama Lune itu sudah menghilang di balik pintu kamarnya sendiri.
”Berapa usianya?” tanya Anna, mencoba menyembunyikan rasa penasarannya yang membuncah.
”Dua puluh lima tahun. Kalian berbeda tujuh tahun,” sahut Anita seraya menepuk bahu Anna. “Sudah, jangan melamun lagi. Mama beri waktu satu jam untuk mandi dan bersiap. Malam ini, Papa Gino mengadakan pesta sambutan untukmu. Jangan terlambat.”
Setelah ibunya keluar dan menutup pintu, Anna menyentuh dadanya yang masih berdegup sedikit lebih cepat. Lucanne Lune... Nama yang terdengar dingin. Di rumah sebesar dan seasing ini, Anna diam-diam berharap pria itu bisa menjadi sosok kakak yang melindunginya. Setidaknya, agar dia tidak merasa kesepian lagi.
Anna tidak pernah tahu, bahwa berharap pada seorang Lune adalah kesalahan paling fatal yang ia buat.
Kamar Lucanne Lune
Di seberang balkon, tangan Lune mengepal begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu, sarat akan kemarahan yang membakar dada.
Melalui celah gorden kamarnya yang sedikit terbuka, dia melihat semuanya. Dia melihat wanita ular yang merebut ayahnya itu membawa satu lagi parasit masuk ke dalam rumahnya—seorang gadis remaja yang kini sah menjadi adik tirinya.
Sejak pertama kali Anita menginjakkan kaki di mansion ini dengan senyum polos yang manipulatif, Lune sudah menabuh genderang perang dalam diam. Dia membenci kepalsuan wanita itu yang berhasil membutakan mata ayahnya. Dan sekarang, wanita itu membawa anaknya untuk menikmati fasilitas keluarganya?
”Penyihir itu benar-benar melunjak,” desis Lune tajam, matanya berkilat penuh kebencian. “Selama ini aku diam melihat tingkahnya, tapi sekarang dia berani membawa orang asing ke wilayahku.”
Tok! Tok! Tok!
Ketukan keras di pintu kamarnya membuyarkan makian Lune. Dengan rahang yang mengeras dan emosi yang masih tersulut di ubun-ubun, Lune melangkah lebar-lebar.
Cklek!
Dia membuka pintu dengan sentakan kasar, siap menumpahkan kekesalannya pada siapa pun yang berani mengganggunya saat ini.
BERSAMBUNG














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!