Bab 2 Luka yang Sama

3 dibaca

A

Sentakan kasar pada gagang pintu mengungkap sosok yang berdiri di ambang kamar Lune. Bukan ayahnya, melainkan Anita. Wanita itu berdiri dengan gaun malam beludru, lengkap dengan senyum manis buatan yang selalu berhasil memicu muak di perut Lune.

​”Lune, bersiaplah. Kita harus berangkat ke pesta malam ini,” ucap Anita, nadanya diatur selembut mungkin.

​Lune mendengus, sorot matanya menajam. “Belum cukup kau membuang waktuku hanya untuk menunggu anak gadismu itu? Sekarang kau menuntutku menghadiri pesta konyol ini? Apa kau memintaku mengambil cuti dari perusahaan hanya untuk menjadi penonton sandiwara ibu dan anak yang kau ciptakan?”

​Senyum Anita membeku. Ada kilat ketakutan di matanya menghadapi intimidasi Lune, namun wanita itu dengan cepat menguasai diri. Dia menghela napas panjang, memasang wajah terluka.

​”Kau harus datang, Lune. Ini pesta penting untuk menyambut adik barumu. Aku tahu kau membenciku, tapi sebagai ibu, aku tidak akan membiarkanmu merusak malam ini. Jika kau menolak...” Anita menjeda kalimatnya, menatap Lune dengan tatapan penuh ancaman terselubung. “...aku terpaksa melaporkannya pada ayahmu. Kau tahu sendiri, kan? Jika ayahmu yang turun tangan, kau hanya akan menyesal.”

​Tanpa menunggu jawaban, Anita berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Lune yang mengepalkan tinjunya hingga urat-urat di lengannya menegang. Sialan. Nama ayahnya selalu menjadi kartu as yang efektif untuk membungkamnya. Lune paling malas berdebat dengan pria tua itu.

​Lucanne Lune, di usianya yang ke-25, telah disiapkan menjadi pewaris tunggal dinasti bisnis ayahnya. Namun, hubungan darah itu merenggang drastis sejak ayahnya mengkhianati janji masa lalu dan menikahi Anita. Bagi Lune, Anita tak lebih dari seekor ular pencari harta yang kini bahkan berani membawa anak kandungnya ke dalam wilayah kekuasaan Lune.

​Satu jam berlalu dalam keheningan yang mencekam.

​Di kamarnya, Anna menatap pantulan dirinya di cermin besar. Gaun selutut model Sabrina berwarna merah marun melekat sempurna di tubuhnya, menonjolkan lekuk punggung dan bahunya yang putih bersih. Anna bergerak gelisah, menarik-narik ujung gaunnya. Ini pertama kalinya dia memakai pakaian seberani ini. Di lemarinya memang ada baju biasa yang tertutup, namun tidak mungkin dia datang ke pesta formal dengan pakaian kasual.

​Rambut panjangnya dibiarkan terurai ke belakang, dipermanis dengan jepit rambut kecil berkilau. Kombinasi yang kontras: elegan, namun memancarkan aura polos yang rapuh.

​Dengan langkah perlahan, Anna menuruni tangga menuju ruang tamu. Di sofa beludru bawah, Anita dan Gino sudah duduk menunggu. Begitu sosok Anna terlihat di undakan tangga, percakapan mereka terhenti. Baik Anita maupun Gino tampak terpesona oleh kecantikan Anna yang alami.

​Anita bergegas berdiri, menghampiri putrinya dengan binar kagum yang langka. “Sayang... kamu terlihat sangat cantik malam ini.”

​Anna hanya tersenyum tipis, menyembunyikan sinisme di hatinya. Dia tidak peduli pujian itu tulus atau sekadar sandiwara malam pesta. Selama dia tidak dirugikan, Anna memilih mengikuti arus.

Gino melirik jam tangannya, keningnya berkerut. “Kenapa Lune lama sekali?”

​”Mungkin dia masih merapikan jasnya, Sayang,” hibur Anita lembut. Wanita itu kemudian menoleh pada Anna, matanya berkilat memikirkan sebuah rencana. “Anna sayang, boleh Mama minta bantuan kecil?”

​Anna menaikkan sebelah alisnya, waspada. “Apa, Ma?”

​”Kamu belum pernah bertegur sapa dengan Lune, kan? Bagaimana kalau kamu yang naik ke atas dan memanggilnya? Sekaligus perkenalkan dirimu secara formal. Katakan padanya kami sudah menunggu di bawah. Kamarnya tepat di sebelah kamarmu, yang sempat kamu lihat dari balkon tadi,” ujar Anita panjang lebar, lalu menghela napas. “Lune masih butuh waktu untuk menerima Mama, jadi Mama harap kau bisa lebih akrab dengannya. Lagipula, kalian hanya berbeda tujuh tahun.”

​Anna langsung merasa enggan. Bagaimana mungkin dia mendatangi kamar seorang pria asing yang berstatus kakak tirinya dalam balutan gaun seperti ini? Namun, sebelum dia sempat menolak, Gino ikut menimpali dengan senyuman hangat.

​”Tenang saja, Anna. Lune memang terlihat dingin dan irit bicara di luar, tapi aslinya dia anak yang baik. Papa juga berharap kalian bisa menjadi saudara yang akrab.”

​Kata-kata ayah sambungnya sedikit memberikan rasa aman. Sambil menahan gerutu pada ibunya, Anna membalikkan badan dan kembali menaiki tangga.

​Berdiri di depan pintu kamar Lune yang megah, Anna membuang napas berat untuk ketiga kalinya. Jantungnya bertalu-talu karena gugup. Tangannya terangkat, baru saja hendak mengetuk permukaan kayu ek itu saat tiba-tiba...

​Cklek.

​Pintu terbuka dari dalam dengan sentakan cepat.

​Anna tersentak mundur, napasnya tertahan di tenggorokan. Matanya langsung bertubrukan dengan sepasang manik mata sewarna biru laut yang jernih namun sedingin es. Di bingkai alis tebal dan rahang yang kokoh, wajah Lucanne Lune terlihat berkali-kali lipat lebih tampan daripada saat dilihat dari kejauhan. Beberapa helai rambut hitamnya jatuh secara acak di dahinya, memberikan kesan matang sekaligus berbahaya.

​Ditambah dengan postur tubuhnya yang tinggi menjulang, dada bidang di balik kemeja hitam yang melekat pas, Anna merasa seluruh persendiannya mendadak lemas. Pria di hadapannya ini terlalu sempurna untuk menjadi nyata.

​Lune pun sempat terpaku selama satu detik. Matanya menyapu penampilan gadis remaja di depannya—gaun merah yang mengekspos bahu indahnya, serta tatapan mata polos yang memancarkan ketakutan sekaligus kekaguman. Namun, sebagai pria dewasa, Lune dengan cepat mengunci ekspresinya kembali menjadi sedatar dinding es.

​Keheningan yang pekat merayap di antara mereka. Napas Anna memburu karena gugup. Dia memaksa lidahnya yang mendadak kelu untuk bersuara.

​”I-itu... Kak Lune. Bisa panggil aku Anna. Ma-mama dan Papa sudah menunggu di bawah.”

​Lune menatap Anna dari atas ke bawah sekali lagi, dingin tak tersentuh. ​”Oh.”

​Hanya satu kata. Dua huruf yang diucapkan dengan nada datar dan monoton. Pria itu kemudian melangkah melebar, melewati tubuh Anna begitu saja tanpa minat untuk memperpanjang pembicaraan. Sikap acuhnya sangat mutlak.

​Anna tercengang di tempatnya berdiri, menatap punggung tegap Lune yang menjauh. “Cool katanya? Dia bukan cool, dia irit bicara sampai tingkat yang menyebalkan!” gumam Anna kesal.

Sambil menghentakkan kakinya ringan, dia bergegas mengejar langkah kaki Lune yang lebar menuju lantai bawah.

​Suasana di ruang tamu mendadak drop begitu Lune tiba dengan aura permusuhan yang kentara. Pria itu memakai jas hitamnya dengan langkah malas, seolah menghadiri pemakaman, bukan pesta keluarga.

​Anita, yang mencoba mencairkan atmosfer, segera melangkah maju dengan senyum paling menawan. “Wah, Putra Mama benar-benar tampan malam ini.”

​Lune berhenti tepat di undakan terakhir tangga. Tatapannya pada Anita sarat akan kejijikan yang tak lagi disembunyikan. Dasar penjilat, umpatnya dalam hati.

​Melihat kekejaman di mata putranya, Gino kehilangan kesabaran. “Lune! Sampai kapan kau mau bersikap tidak sopan seperti ini, hah?! Sadarlah, dia sekarang adalah ibumu!” bentak Gino, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.

​Lune justru terkekeh sinis, suara tawa yang terdengar sangat meremehkan. “Ibu?”

​Dia melangkah perlahan mendekati Anita, menatap wanita itu lurus-lurus. “Aku tidak pernah, dan tidak akan pernah sudi memiliki ibu dengan modelan murahan seperti ini.”

​BUK!

​Satu pukulan mentah mendarat keras di pipi kiri Lune. Pukulan dari ayahnya sendiri.

​Tubuh Lune terhuyung satu langkah, sudut bibirnya seketika robek dan mengeluarkan setitik darah segar. Namun, suara pukulan itu memberi efek domino yang jauh lebih mengerikan pada orang lain di ruangan itu.

​Anna yang baru saja tiba di ujung tangga membeku. Suara hantaman kulit, kemarahan pria paruh baya, dan aroma konflik seketika memicu sakelar trauma di dalam otaknya. Kilasan memori masa lalu berputar hebat: ayahnya yang berteriak, ibunya yang menangis bersimbah darah, dan dirinya yang dipukuli hingga memar saat berusia tujuh tahun.

​Seluruh tubuh Anna bergetar hebat. Pandangannya mengabur. Dengan napas yang putus-putus, gadis itu berjongkok di lantai koridor, menutup kedua telinganya dengan sangat erat sembari terisak histeris. Dia lumpuh oleh ketakutan.

​Anita yang menyadari reaksi putranya segera berbalik meninggalkan suaminya. Dia berlari panik ke arah Anna, langsung mendekap tubuh gemetar itu ke dalam pelukannya. “Anna... Anna, lihat Mama. Kamu aman di sini. Tenang, Sayang...” bisik Anita dengan suara bergetar, tahu betul bahwa serangan panik putrinya telah kambuh.

​Di tengah kekacauan itu, Lune berdiri tegak kembali. Dia mengusap darah di sudut bibirnya dengan ibu jari, lalu menatap ayahnya. Tidak ada rasa sakit di matanya, hanya kekosongan yang dalam. Pukulan fisik ini tidak ada apa-apanya dibanding rasa dikhianati yang dia pendam bertahun-tahun. Ayah yang dulu dia puja bagaikan pahlawan, kini telah benar-benar berubah menjadi monster demi wanita asing.

​Tatapan dingin Lune kemudian beralih ke sudut ruangan, tertuju pada adik tirinya yang sedang menangis histeris di pelukan ibunya. Ada kerutan samar di dahi Lune. Pria itu menyadari sesuatu: gadis remaja itu tidak sedang berakting. Dia benar-benar ketakutan.

​Di malam yang seharusnya menjadi perayaan keluarga baru, topeng kedamaian mereka telah hancur berkeping-keping, menyisakan luka lama yang menganga di bawah atap yang sama.

​BERSAMBUNG

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk