Bab 4 Sang Predator

0 dibaca

A

Jantung Anna serasa berhenti berdetak. Seluruh saraf di tubuhnya menegang parah saat menyadari betapa intimnya posisi mereka sekarang. Deru napas Lune yang hangat berembus teratur di antara ceruk leher dan bahunya, memberikan sensasi menggelitik yang membuat bulu kuduknya meremang. Anna terkunci. Dia tidak bisa bergerak, bahkan untuk menoleh pun dia tidak berani karena dada bidang Lune nyaris menempel padanya

​Lune menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kelicikan. Matanya yang sewarna biru laut menatap lurus pada kulit bahu Anna yang terekspos, tampak begitu putih dan kontras di bawah temaram lampu kabin mobil. Ada letupan kesenangan yang aneh di dalam dadanya—sebuah tantangan untuk menjinakkan dan mempermainkan adik tiri polosnya ini.

​”Sangat cantik, bukan?” bisik Lune lagi, suaranya sengaja dibuat serak dan berat.

​Anna yang kian terpojok hanya bisa meremas gaun merahnya dengan jemari gemetar. Napasnya putus-putus saat menjawab terbata, “A-apa maksud Kakak?”

​Melihat ketakutan dan kepolosan yang terpancar jelas dari sepasang mata Anna, kepuasan batin Lune tercapai. Perlahan, dia menarik kembali tubuhnya, bersandar pada kursi mobil seolah tidak terjadi apa-apa.

​”Langit malamnya,” ucap Lune datar, nadanya seketika berubah sedingin es. “Sangat cantik.”

​Anna termangu, menyadari bahwa dia baru saja dipermainkan.

​Begitu mobil berhenti di pelataran gedung pesta mewah, mereka bertiga melangkah keluar. Dari ketiganya, Andre adalah yang paling tidak bisa menyembunyikan binar antusiasnya. Lune tahu betul isi kepala sahabatnya itu; pesta adalah ladang perburuan bagi seorang Andre untuk menggoda wanita.

​”Tuan Lune yang terhormat, izinkan saya menikmati malam surga ini secara mandiri,” ucap Andre formal yang dibuat-buat, membungkuk pelan.

​”Bacot. Pergi sana!” ketus Lune tajam.

​Meskipun diusir kasar, Andre justru memamerkan cengiran lebar tanpa beban. Dia mengedipkan sebelah matanya pada Anna. “Saya undur diri dulu, Nona Cantik. Selamat menikmati malam.”

​Anna hanya mengangguk canggung melihat kepergian Andre yang melesat cepat ke dalam kerumunan. Kini tinggal dia dan Lune yang berdiri membisu di dekat pilar masuk, meneliti kemegahan dekorasi di sekitar mereka.

​”Papa dan Tante Anita mungkin sudah ada di dalam,” gumam Lune dingin.

​Anna memilih bungkam. Sifat Lune yang berubah-ubah dalam hitungan detik membuat Anna frustrasi. Dia tidak tahu apakah pria ini bisa dijadikan tempat bersandar atau justru sosok yang harus dia hindari.

​Saat Lune mulai melangkah lebar memasuki aula pesta, Anna yang takut tertinggal bergegas menyusul dari belakang. “Kak, tunggu Anna,” panggilnya lirih.

​Ckit.

​Lune mendadak menghentikan langkahnya tanpa aba-aba. Anna yang berjalan cepat dan terlalu dekat tidak sempat mengerem, membuat wajahnya menabrak punggung tegap Lune dengan keras.

​”Aww...” Anna meringis kesakitan, refleks mundur satu langkah sambil mengusap keningnya yang membentur otot punggung Lune yang sekeras batu.

​”Apa-apaan sih, bocah!” gerutu Lune kesal, menoleh sekilas dengan tatapan terganggu melihat kecerobohan Anna.

​”Kenapa Kakak tiba-tiba berhenti, sih?” protes Anna pelan, masih mengusap dahi putihnya yang kini sedikit memerah.

​Lune membalikkan tubuhnya sepenuhnya, menyilangkan kedua tangan di depan dada. “Bukannya kamu yang memanggilku tadi?”

​”Tapi Kakak jalannya cepat banget, mirip orang mau tawuran,” keluh Anna spontan.

​Sebelum Lune sempat membalas, sebuah suara feminin yang renyah memotong perdebatan mereka. Dari arah kerumunan, seorang wanita berjalan anggun menghampiri Lune. Senyum lebar menghiasi wajahnya yang dipoles riasan glamor. Gaun pesta ketat nan seksi yang dikenakannya mengekspos lekuk tubuh ramping bak gitar spanyol.

​”Sayang. Aku tidak menyangka kamu akan datang malam ini,” ucap wanita itu manja, langsung menggelayutkan kedua tangannya pada lengan kokoh Lune.

​Lune menghela napas berat, rahangnya mengeras. Aruna. Dari sekian banyak wanita yang mengantre di sekelilingnya, Aruna adalah yang paling agresif. Dan malam ini, Lune sedang sangat malas meladeni drama wanita itu.

​Anna yang berdiri di samping mereka tertegun, mendadak ada rasa tidak nyaman yang mencubit dadanya. Panggilan ‘sayang’ dan kedekatan fisik itu adalah bukti nyata. Kakak tirinya ternyata sudah memiliki seorang kekasih yang begitu sempurna.

​”Gak usah berlebihan, Aruna. Lepaskan tanganmu,” ucap Lune dingin, menarik lengannya dari cengkeraman Aruna dengan gerakan kasar namun tegas.

​Aruna mendelik kesal karena ditolak di depan umum, namun dia segera menguasai ekspresi wajahnya. Dia adalah sosialita; dia tahu Lune adalah pria yang tidak bisa dikekang. Matanya yang tajam kemudian beralih, meneliti sosok Anna dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.

​”Ehmm... siapa ini, Lune? Apa ini... mainan barumu?” tanya Aruna dengan senyum sinis yang meremehkan.

​Rahang Lune mengeras. Pertanyaan Aruna memicu emosinya yang sejak tadi tertahan akibat konflik dengan ayahnya. Tanpa memedulikan tatapan orang sekitar, Lune mencengkeram pergelangan tangan Aruna dan menarik wanita itu menjauh menuju area teras luar yang lebih sepi, meninggalkan Anna sendirian di koridor masuk.

​”Lo gak usah ikut campur dengan urusan gue,” desis Lune tajam, menyudutkan Aruna di dekat pagar pembatas teras. “Lo tahu sendiri gue paling benci pertanyaan menyebalkan seperti itu. Kalau Lo masih mau berada di sekitar gue, hilangkan rasa kepo Lo yang tidak berguna itu!”

​Aruna terkejut mendengar perubahan diksi Lune yang mendadak menjadi sangat kasar. “Lune, apa-apaan sih! Aku hanya penasaran dengan gadis kecil itu. Dia tidak mungkin salah satu wanita simpananmu, kan? Kamu tidak mungkin bermain dengan anak di bawah umur.”

​Lune meloloskan tawa meremehkan yang terdengar sangat kejam. Dia mencondongkan wajahnya, berbisik tepat di telinga Aruna dengan seringai yang membuat wanita itu merinding. “Memangnya kenapa kalau dia mainan baru gue? Lo mau apa? Asal Lo tahu, Lo gak punya hak seujung kuku pun untuk mengatur hidup gue.”

​Lune menjeda kalimatnya, menatap Aruna dengan mata biru lautnya yang kini berkilat dingin. “Lagipula... bukankah Lo sendiri juga salah satu mainan gue, Aruna?”

​Wajah Aruna seketika pucat pasi. Jemarinya mengepal erat menahan malu dan sakit hati. Namun, dia terlalu takut kehilangan posisi di samping pewaris tunggal keluarga Lune itu. “Lune... kamu sedang emosi malam ini, aku tahu kamu tidak bermaksud bicara begitu,” bisik Aruna melunak, memilih mengalah demi menyelamatkan hubungannya.

​Sementara itu, Anna berdiri linglung di tengah aula pesta yang dipenuhi denting gelas kaca dan obrolan kelas atas. Dia celingak-celinguk, berharap bisa menemukan sosok ibunya atau Gino. Menjadi satu-satunya orang asing di tengah lautan manusia yang datang berpasangan membuat rasa tidak amannya kembali membubung tinggi.

​Kenapa aku ditinggalkan begitu saja demi pacarnya? batin Anna, merutuki nasibnya.

​”Hai, Nona.”

​Sebuah suara lembut beraksen ramah menyapa dari arah belakang. Anna membalikkan tubuhnya, menemukan seorang pria jangkung berambut cokelat dengan setelan jas abu-abu modern sedang tersenyum menatapnya.

​Anna mengerjukan keningnya polos, lalu menunjuk dirinya sendiri. “Anda... berbicara dengan saya?”

​Pria bernama Kevin itu terkekeh geli melihat kepolosan Anna. “Tentu saja. Siapa lagi wanita paling memikat di sudut ruangan ini selain Anda?”

​Meskipun tahu itu adalah kalimat rayuan murahan, Anna tidak bisa menahan senyum tipisnya. Setidaknya, ada seseorang yang menyadari keberadaannya di tempat asing ini.

​Kevin melangkah mendekat, mengulurkan telapak tangannya dengan sopan. “Saya Kevin. Senang bertemu dengan Anda, Nona Cantik.”

​”Anna,” jawab Anna singkat, menyambut uluran tangan Kevin dan menjabatnya ragu.

​”Nama yang sangat cantik, selaras dengan pemiliknya,” puji Kevin lagi, matanya berbinar melihat keanggunan alami Anna.

​Anna melepaskan tawa kecil, merasa cukup terhibur. Namun, momen hangat itu hancur berantakan ketika sebuah aura mengintimidasi mendadak memotong jarak di antara mereka. Lune telah kembali dari teras.

​Mata biru Lune berkilat murka saat menangkap basah tawa lebar Anna yang ditujukan pada pria yang baru saja dikenalnya selama dua menit. Rasa kesal akibat Aruna belum mereda, dan kini Anna justru menambah beban di kepalanya. Lune langsung menyambar segelas champagne berkadar alkohol tinggi dari nampan pelayan yang kebetulan lewat, lalu meneguknya hingga tandas dalam sekali tengguk untuk meredam amarahnya.

​”Ternyata kamu cukup sibuk bersenang-senang di sini,” ucap Lune dingin, suaranya menginterupsi pembicaraan dengan aura menuntut.

Anna tersentak, senyumnya langsung lenyap. “Kak Lune...”

​Kevin menoleh, sedikit terkejut namun segera memasang senyum menantang saat mengenali siapa yang datang. “Eh, Lucanne Lune. Aku tidak menyangka pria super sibuk sepertimu sudi menginjakkan kaki di pesta seperti ini. Ada angin apa?”

​Lune menatap Kevin dengan sorot mata penuh permusuhan. “Bukan urusanmu. Kenapa? Apa kehadiranku membuatmu takut jika wanita yang sedang kau incar malam ini malah berbalik menyukaiku?”

​Rahang Kevin mengeras. Kalimat Lune menghantam harga dirinya telak. Faktanya, beberapa bulan lalu, wanita yang dikejar Kevin memang berakhir berlutut mengemis cinta pada Lune. Dalam hal pesona dan kekuasaan, Kevin tahu dia berada satu tingkat di bawah pria itu.

​Suasana di antara kedua pria itu mendadak menjadi medan perang visual yang menegangkan. Kevin yang enggan mundur total akhirnya memilih mengabaikan Lune dan kembali berfokus pada Anna. Dia mengulurkan tangannya kembali pada gadis itu.

​”Anna, bersediakah Anda berdansa denganku malam ini?” tanya Kevin, mencoba merebut kembali kendali situasi.

​Anna mendadak salah tingkah. Dia melirik Kevin yang tampak ramah, lalu beralih melirik Lune yang kini berdiri dengan napas memburu dan rahang berkedut menahan amarah yang siap meledak. Atmosfer di sekitar Lune terasa sangat berbahaya.

​”A-aku...”

​Belum sempat Anna menyelesaikan kalimat penolakannya, pergelangan tangan kirinya cengkeram erat oleh jemari besar Lune. Cengkeramannya begitu kuat hingga membuat Anna meringis pelan. Tanpa sepatah kata pun, Lune menarik paksa tubuh Anna, menyeretnya membelah kerumunan pesta menuju area teras belakang yang gelap dan sepi.

​”Kak Lune, sakit! Lepaskan!” keluh Anna, namun Lune abai.

​Begitu tiba di sudut teras yang tersembunyi dari pandangan tamu pesta, Lune mendorong pelan tubuh Anna ke dinding marmer, mengunci pergerakan gadis itu dengan kedua lengannya yang bertumpu di sisi kepala Anna.

​Anna tersentak, punggungnya menempel rapat pada dinding yang dingin. Dia mendongak, menatap wajah Lune yang kini berada hanya beberapa senti dari wajahnya. Napas pria itu memburu, beraroma alkohol yang memabukkan.

​Lune menatap lekat-lekat bibir Anna yang ranum, sebelum menembakkan tatapan tajamnya langsung ke dalam manik mata gadis itu. Dengan nada suara yang berat, rendah, dan penuh penekanan yang mutlak, Lune berbisik,

​”jangan pernah berani tersenyum selebar itu pada pria mana pun yang baru kamu kenal, Anna Caroline.”

​BERSAMBUNG.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk
Bab 4 Sang Predator · My Stepbrother · Author Unfiltered