Gino mengembuskan napas berat, memaksa rongga dadanya meluruhkan sisa amarah. Begitu melihat Anita yang bersimpuh mendekap Anna, kesadaran menghantam pria paruh baya itu. Dia telah bertindak terlalu jauh. Menampilkan kekerasan domestik di depan anak tirinya yang baru menginjakkan kaki di rumah ini adalah kesalahan fatal.
Di sudut ruangan, Lune yang mengusap sudut bibirnya yang berdarah justru meloloskan tawa rendah yang terdengar mengerikan. Tatapannya tertuju pada drama rekonsiliasi di depannya dengan kilat sinis.
”Apa pestanya akan berubah semenyedihkan ini sebelum dimulai?” sindir Lune, nadanya seringan angin malam namun setajam silet. “Kemana perginya semangat menyambut keluarga baru yang menggebu-gebu itu?”
Lune muak. Sangat muak melihat skenario kebersamaan yang tampak begitu suci di matanya. Apakah hanya dia di rumah ini yang dikutuk untuk berjalan dalam sepi selamanya?
Detik berikutnya, sebuah senyuman penuh arti terukir di bibir Lune yang terluka. Dengan langkah yang tenang dan berwibawa, dia berjalan mendekati Anna yang masih gemetar. Perlahan, Lune membungkuk, mengulurkan telapak tangannya yang besar tepat di hadapan gadis itu.
”Jangan memperkeruh suasana,” ucap Lune dingin, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Anna yang basah. “Hanya karena tamparan sepele ini, jangan membuat pesta menyambutmu menjadi berantakan.”
Anna mendongak lambat-lambat. Melalui sisa air matanya, dia menatap uluran tangan pria yang kini menyandang status sebagai kakaknya. Fokusnya sempat teralih pada robekan kecil di sudut bibir Lune yang mengeluarkan setitik darah akibat pukulan Gino. Dengan ragu, Anna meletakkan telapak tangannya di atas tangan Lune. Sentuhan pertama yang terasa hangat sekaligus menyengat.
Gino mengembuskan napas lega melihat kerelaan Lune. Pria tua itu tahu betul, di balik cangkang sedingin es dan reputasi tak peduli yang disandang putranya, Lune masih memiliki sisi rasional.
”Papa harap kamu bisa menjaga adikmu malam ini, Lune,” ucap Gino, nadanya melunak, penuh harap. “Papa hanya ingin keluarga ini akur. Anna adalah adikmu sekarang, dan Anita adalah ibumu. Bersikap baiklah.”
Lune berdiri tegak setelah membantu Anna berdiri, tangannya langsung disembunyikan ke dalam saku celana bahan mahalnya. Dia merasa sangat lucu karena ayahnya bahkan tidak berniat meminta maaf setelah melayangkan tinju ke wajahnya.
”Aku akan menganggap Tante Anita sebagai istri Papa,” sahut Lune mutlak, suaranya tidak menerima bantahan. “Menyoal ibu... Ibu Lucanne Lune hanya ada satu, dan dia sudah tenang di kuburannya.”
Wajah Gino seketika pias. Nama Luna Alexia—mendiang istri pertamanya—kembali berkelebat, menampar kesadarannya. Gino memijat pelipisnya, lalu menepuk bahu Lune dengan berat. “Baiklah. Tapi berjanjilah untuk tetap ramah pada mereka selama pesta. Anggap mereka keluargamu.”
Lune menyunggingkan senyum tipis yang dingin. “Jangan memaksaku bersikap ramah, Pa. Aku akan menyapa mereka, tapi jangan harap ada keramahan di dalamnya.”
Gino hanya bisa menggelengkan kepala pasrah. Menjinakkan ego seorang Lucanne Lune sama saja dengan menggenggam pecahan kaca.
Di dalam kabin mobil sedan mewah bergaya sport yang melaju membelah jalanan kota, atmosfer terasa begitu padat hingga mencekik kewarasan Anna.
Ini pertama kalinya Anna menaiki mobil sewewah ini. Aroma kabinnya perpaduan antara kulit premium dan parfum maskulin beraroma wood dan amber milik Lune yang menenangkan, namun sekaligus mengintimidasi. Jarak mereka begitu dekat di kursi belakang hingga lengan luar mereka sesekali bersentuhan setiap kali mobil berbelok.
Anna meremas gaun merahnya di atas lutut, mencoba meredam detak jantungnya yang berdentum terlalu nyaring. Kenapa hanya aku yang segugup ini? tanyanya dalam hati, melirik Lune dari sudut mata yang tampak begitu santai menatap jalanan.
”Berapa usiamu?”
Suara bariton yang berat dan rendah itu memecah kesunyian, membuat Anna sedikit tersentak. Suara Lune terdengar sangat indah di dalam mobil yang kedap ini, menyapu pendengaran Anna dengan kehangatan yang aneh.
”Sudah mau memasuki delapan belas tahun, Kak,” jawab Anna lirih, menundukkan kepalanya.
”Masih sangat muda ternyata,” gumam Lune pelan, hampir menyerupai bisikan untuk dirinya sendiri.
Deg. Jantung Anna berkhianat lagi. Hanya karena gumaman pendek itu, darahnya berdesir hebat.
Apa-apaan aku ini?! teriak Anna dalam batinnya, merutuki diri sendiri. Anna, kendalikan dirimu! Terlepas dari dia yang merupakan tipemu secara fisik, dia adalah kakakmu! Kamu tidak boleh menaruh hati pada kakak tirimu sendiri. Paham?!
Lune yang duduk di sampingnya ternyata tidak melewatkan perubahan sekecil apa pun. Dia melihat bagaimana jemari kurus Anna meremas kain gaun di atas lututnya yang terekspos. Seringai tipis yang sarat akan kelicikan muncul di sudut bibir Lune. Dia tahu persis gestur itu. Seperti ratusan wanita di luar sana yang selalu mencoba menarik perhatiannya, adik tiri polosnya ini pun menunjukkan ketertarikan yang sama. Menarik.
Sebuah ide gila melintas di kepala Lune. Bagaimana jika dia bersenang-senang sedikit dengan mangsa baru yang dikirimkan wanita ular itu ke rumahnya? Bukankah selama ini dia dikenal di kalangan sosialita sebagai seorang pemain yang tidak pernah gagal?
Namun, sebelum Lune sempat melancarkan aksi provokasinya, suara dari kursi kemudi mendadak memotong atmosfer.
”Tuan Lune, apakah Anda benar-benar serius ingin pergi ke pesta malam ini?” tanya Andre, sang asisten pribadi sekaligus sahabat karib Lune, sesekali melirik kaca spion tengah.
Lune mendelik tajam ke arah spion tengah, merasa terganggu karena aksinya digagalkan secara tidak sengaja oleh bawahannya yang tidak tahu situasi.
”Aku tidak mungkin pergi ke pantai dengan setelan tuxedo sekaku ini, Andre sialan,” jawab Lune ketus.
Andre mengembuskan napas dramatis. “Yaelah, Lune. Gue tanya baik-baik secara profesional, Lo malah ngejawab ketus begitu. Gue beneran nanya, nih.”
Mendengar nada santai Andre yang berani membalasnya di depan Anna, kilat berbahaya muncul di mata Lune. “Perbaiki cara bicaramu, Andre. Ini masih jam kerja. Atau kau ingin aku menurunkan jabatanmu menjadi staf magang besok pagi?” ancam Lune dengan nada dingin yang teratur.
Andre membelalakkan matanya melalui spion, mulutnya sedikit terbuka sebelum dengan cepat mengubah mode suaranya menjadi sangat formal dan penuh drama penjilat demi menyelamatkan kariernya.
”Maaf atas ketidaksopanan saya yang tiada tara, Tuan Lucanne Lune yang agung. Anda adalah pria paling baik hati, berwibawa, karisma Anda begitu memancar melampaui batas cakrawala, dan Anda adalah pria tertampan di bumi ini. Sementara saya hanyalah serpihan debu paling jelek yang menjadi beban keluarga. Saya tidak pantas hidup, saya—“
”Cukup, Andre. Tanpa kau duga pun, aku sudah tahu semua fakta itu,” potong Lune sombong, bersandar dengan angkuh pada kursi kulit mobil.
Meskipun menyebalkan, Lune tidak bisa menampik bahwa Andre adalah satu-satunya orang yang bisa ia percayai di dunia bisnisnya.
Anna yang menyaksikan interaksi aneh tersebut hanya bisa terdiam. Hubungan Lune dan asistennya tampaknya jauh lebih kompleks dan dekat daripada sekadar atasan dan bawahan.
Tiba-tiba, mata Andre di spion tengah melirik ke arah Anna dengan senyuman manis. “Anda terlihat sangat luar biasa cantik malam ini, Nona Muda.”
Anna yang sejak tadi menunduk langsung mendongak, menatap balik spion tengah dengan canggung. “Terima kasih... Kak Andre.”
Setelah mengucapkan itu, Anna kembali menunduk, meremas gaunnya lebih erat. Panggilan ‘kakak’ dari bibir Anna rupanya membuat Andre senyum-senyum sendiri, yang langsung memicu dengusan cemburu atau mungkin muak dari pria di sebelah Anna.
”Dia masih bocah, Ndre. Jangan coba-coba menyebarkan otak selangkanganmu pada anak di bawah umur,” tegur Lune tajam, suaranya sarat akan keposesifan tersembunyi yang bahkan belum dia sadari.
Perdebatan tidak penting antara kedua pria dewasa itu mulai membuat kepala Anna berdenyut penat. Gadis itu memilih menurunkan kaca mobil di sampingnya, membiarkan angin malam yang dingin menerpa wajahnya. Dia menopang dagunya dengan tangan, menatap jajaran bintang yang tersebar acak di langit malam. Pikirannya melayang, merasa asing dengan kepribadian Lune yang berubah-ubah—terkadang irit bicara, terkadang bersikap kasar dan arogan.
”Kak Lune... apa tempat pestanya masih jauh?” tanya Anna dengan nada rendah tanpa berniat menoleh.
Lune tidak menyahut, dia sengaja membiarkan keheningan menggantung. Justru Andre yang kembali menyahut dengan nada lembut yang dipasang-pasang. “Sedikit lagi sampai, Dek Anna cantik. Kenapa emang? Capek, ya?”
Lune memutar bola matanya malas. “Menjijikkan, Andre. Suaramu membuat bulu kudukku meremang.”
”Maaf, Tuan. Saya hanya mewakili Anda yang mendadak bisu,” balas Andre membela diri.
Anna tidak lagi mendengarkan mereka. Dia semakin tenggelam dalam lamunannya tentang bagaimana dia harus bertahan di lingkaran keluarga penuh kepalsuan ini. Namun, lamunan itu buyar sepenuhnya ketika dia merasakan embusan napas hangat menerpa kulit sensitif di belakang telinganya.
Tanpa Anna sadari, Lune telah mencondongkan tubuhnya yang tegap. Jarak mereka terkikis habis hingga helai rambut Lune menyentuh pipi Anna. Bibir Lune berada tepat di antara tengkuk dan daun telinga gadis itu.
”Sangat cantik,” bisik Lune, suaranya begitu rendah, berat, dan sensual hingga getarannya terasa langsung ke ulu hati Anna.
Bisikan itu bukan sekadar pujian, melainkan sebuah deklarasi bahwa permainan sang pemain baru saja dimulai.
BERSAMBUNG














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!