Sebagai istrinya seorang Ranggadani, Nina kadang-kadang bingung, rasa cemburu sendiri sangat sering melandanya tetapi tidak pernah ditunjukkannya dengan cara yang frontal. Wajahnya tenang memandang suaminya, seolah hendak menyelidiki ke lubuk hatinya yang paling dalam.
Pada perayaan balapan bergengsi di Sirkuit Mandalika, Nina melihatnya beradu kecepatan di antara nama-nama pembalap kelas dunia. Namanya tersebut di antara jajaran racer elit yang turut melaju di bawah sorot mata para pejabat kehormatan dan ribuan penonton lainnya.
Dan sejak lampu hijau menyala, Nina hampir tidak memedulikan mobil-mobil pembalap lainnya—seluruh perhatiannya terkunci pada satu titik. Racer muda yang sedang naik daun, Ranggadani
Hari itu hati Nina bergemuruh, bangga bercampur kecut yang menegang di ujung dada, melihatnya menerabas lintasan Mandalika yang terang di bawah terik matahari, melibas setiap tikungan tajam mengikuti garis balap yang telah ditentukan dengan presisi luar biasa.
Putaran demi putaran ia lalui dengan debar jantung yang tak beraturan, hingga akhirnya tikungan terakhir menjadi saksi saat mobil Rangga melesat paling depan, menyentuh garis finis diiringi gemuruh sorak penonton yang mengguncang tribun.
Ketika balapan resmi selesai, deretan mobil balap itu melambat dan berhenti berjajar rapi di depan panggung kehormatan. Rangga keluar melepaskan helmnya, lalu turun dan berdiri tegap di samping mobilnya dengan senyum kemenangan yang terukir jelas di wajahnya.
Suara sorak-sorai, deru mesin, dan dengung tepuk tangan penonton bergemuruh di udara, menyatu dengan rasa bangga yang hangat membuncah di dalam dada Nina.
Namun, kebahagiaan itu mendadak terusik ketika seorang wanita bergaun terbuka, usianya masih muda. Mungkin dia salah satu perwakilan sponsor acara. Rambutnya indah tergerai, ia maju mendekati panggung untuk menyerahkan buket bunga kemenangan kepada sang juara. Senyum ramah wanita itu mengembang sempurna sebelum ia berjinjit sedikit dan mendaratkan satu kecupan ringan di pipi Rangga sebagai bagian dari tradisi seremonial podium.
Bagi siapa pun di tribun, itu hanyalah formalitas biasa yang wajar terjadi di dunia balap profesional. Namun, tidak bagi Nina.
Seketika itu juga, ada sengatan kecil yang tajam menusuk ulu hatinya. Perasaan hangat yang tadi membuncah mendadak bergeser, digantikan oleh rasa panas yang menjalar di dada. Nina meremas jemarinya sendiri di balik pagar pembatas, mendadak benci pada sorot kamera media yang menyorot momen tersebut, dan lebih dari apapun, ia benci pada debar cemburu konyol yang kini berkelebat di benaknya sendiri.
Untuk apa kecupan itu? Bagi Nina yang menanti dalam diam dan membawa sejuta bangga, detik ketika bibir wanita asing itu menyentuh pipi suaminya terasa begitu panjang dan mengusik ketenangannya














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!