Usai Selebrasi

0 dibaca

A

Ruangan di area dalam arena sirkuit terasa begitu dingin setelah hiruk-pikuk perayaan podium mereda. Ranggadani, yang masih mengenakan baju balap paruh badan yang terikat di pinggang, berjalan mendekati istrinya. Di sudut ruangan, Nina berdiri menunggunya dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak, memegang buket bunga yang baru saja dipindahkan dari tangan Rangga.

​Aksi wanita perwakilan sponsor yang mencium pipi suaminya secara mendadak di atas podium tadi disaksikan oleh ribuan pasang mata dan disiarkan secara langsung. Nina menghela napas pendek sebelum akhirnya membuka suara.

​”Aku cuma mau kejelasan soal batasan kita setelah kejadian di podium tadi,” kata Nina pelan, berusaha menatap langsung ke netra suaminya.

​Rangga melangkah mendekat, memandang istrinya dengan cemas. “Kamu marah ya soal sponsor tadi? Aku beneran nggak tahu dia bakal begitu, Na.”

​Nina menggeleng halus, mencoba meredam emosinya agar percakapan mereka tetap dingin dan mengarah pada jalan keluar.

​”Aku cuma sadar kalau kehidupan kamu sebagai pembalap itu bakal selalu disorot orang banyak,” ujar Nina dengan tenang. “Makanya, aku merasa kita perlu menyamakan persepsi soal hubungan ini.”

​Nina merapikan letak buket bunga di meja, lalu kembali menatap Rangga dan menanyakan bagaimana pandangan Ranggadani terhadap penggunaan media sosial.

​Rangga mengusap tengkuknya yang basah oleh keringat, berusaha merangkai kata. “Jujur, buat aku media sosial itu cuma sebatas sarana kerjaan dan tempat menyapa penggemar. Aku nggak pernah menganggapnya sebagai tempat buat pamer kehidupan pribadi.”

​Nina mengangguk-angguk mendengar penjelasan tersebut. Ia melanjutkan dengan menanyakan. Apakah mereka berdua perlu mengunggah momen kebersamaan mereka secara daring? Rangga tertawa.

​”Terserah kamu,” jawab Rangga mantap sembari memegang jemari Nina. “Kalau kamu nyaman buat post foto kita, aku nggak masalah. Tapi kalau kamu mau disimpan sendiri juga aku bakal turuti. Aku nggak butuh pengakuan orang lain di internet buat membuktikan kalau aku sayang sama kamu.”

​Nina tersenyum tipis merasakan ketulusan suaminya, lalu menanyakan seberapa privasi hubungan pernikahan yang ingin mereka jaga?

​Rangga menarik napas dalam-dalam. “Aku mau hubungan kita seprivat mungkin, Na. Cukup kita dan keluarga dekat saja yang tahu dinamika rumah tangga kita. Dunia luar nggak perlu ikut campur atau tahu urusan dapur kita.”

​Suasana di dalam ruangan terasa semakin hangat dan terbuka. Nina melangkah satu tindak lebih dekat ke arah suaminya, lalu menanyakan bagaimana pandangan Rangga mengenai intimasi mereka.

​Rangga menatap mata Nina dalam-dalam sebelum memberikan jawaban jujurnya. “Buat aku, intimasi itu bentuk koneksi paling dalam yang cuma milik kita berdua. Itu momen saat aku bisa melepas semua beban sebagai pembalap dan cuma jadi Rangga yang seutuhnya milik kamu.”

​Merasa lega dengan semua jawaban suaminya, Nina akhirnya menanyakan pertanyaan terakhir mengenai apa harapan Rangga terkait ungkapan kasih sayang secara fisik diantara mereka.

​Rangga tersenyum hangat, lalu menarik Nina ke dalam pelukannya secara lembut.

​”Aku ingin kita bisa selalu terbuka,” bisik Rangga tepat di telinga istrinya. “Aku ingin kamu merasa nyaman untuk peluk atau genggam tangan aku kapan pun kamu butuh, tanpa ragu. Aku suka banget sama istri yang manja”.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk