BAB 10 — KUNJUNGAN YANG TERTUNDA
Pagi itu, Nara turun ke ruang makan dengan wajah yang masih lesu. Ia tidak tidur nyenyak semalam. Setiap kali hampir terlelap, ingatannya kembali pada tiga ketukan di jendela dan bayangan yang berdiri diam di balik tirai. Ia bahkan sempat bangun dua kali untuk memeriksa kait jendela, meskipun hasilnya nihil.
Zabdiel sudah duduk di meja makan bersama Ama Ezra dan Ina Ezra. Di atas meja, telah tersaji semangkuk sayur bening, ikan goreng, dan nasi hangat yang baru saja diangkat. Zabdiel sedang mengupas telur rebus ketika Nara menarik kursi di sebelahnya.
“Kau kelihatan kurang tidur,” katanya sambil melirik Nara.
“Memang. Aku tidur agak larut.”
“Jangan terlalu sering begadang. Nanti kau malah sakit sebelum semua urusanmu di sini selesai.”
Nara mengambil nasi tanpa menanggapi lebih jauh. Ia tidak ingin menceritakan kejadian semalam, bukan karena tidak memercayai Zabdiel, melainkan karena ia sendiri belum paham dengan apa yang sebenarnya dilihatnya. Bayangan itu mungkin seseorang yang sengaja datang untuk mengawasinya. Namun, bisa juga matanya hanya tertipu oleh gelap dan rasa gelisah setelah percakapannya dengan Ama Ezra.
Ia memilih menyimpan kejadian itu untuk dirinya sendiri.
Ama Ezra sempat bertanya tentang rencana mereka hari itu. Zabdiel menjelaskan bahwa mereka ingin mengunjungi Ina Jose, adik bungsu Ama Ezra sekaligus adik perempuan Sarai. Nara belum pernah bertemu lagi dengan bibinya sejak kembali ke desa, sehingga kunjungan tersebut menjadi momen untuk mempererat kembali hubungan keluarga yang lama terputus.
“Bagus kalau kalian mampir ke rumah Ina Jose,” ujar Ina Ezra sambil menuangkan air ke gelas Nara. “Sudah lama dia tidak bertemu Nara. Terakhir kali kalian bertemu, kau masih bocah.”
Nara tersenyum tipis. “Aku juga ingin menemuinya. Aku bahkan tidak yakin apakah dia masih mengingat wajahku.”
“Dia pasti ingat. Kau kan keponakannya sendiri.”
Percakapan berlanjut pada persiapan pernikahan salah seorang warga yang belakangan ramai diperbincangkan di desa. Ina Ezra bercerita tentang tetangga yang membantu menjahit pakaian, sementara Zabdiel mengeluh karena beberapa nelayan diminta menyumbangkan hasil tangkapan untuk jamuan. Nara ikut tertawa mendengar komentarnya, meskipun pikirannya sesekali kembali melayang pada kejadian malam sebelumnya.
Setelah sarapan, mereka berpamitan dan berangkat menuju rumah Ina Jose.
Rumah perempuan itu berada tidak jauh dari balai desa, di sebuah jalan kecil yang diapit pagar kayu dan tanaman berbunga. Di depan rumah, beberapa pot diletakkan berjajar di bawah jendela. Ketika Nara dan Zabdiel tiba, Ina Jose sedang membersihkan daun-daun kering di halaman. Perempuan itu segera meletakkan sapunya begitu melihat mereka.
“Nara?”
Ia tampak terkejut sebelum wajahnya berubah seketika menjadi cerah. Ina Jose menghampiri Nara dan memeluknya cukup lama, seolah ingin mengganti tahun-tahun yang terlewat dengan satu pelukan. Nara sempat terdiam, lalu membalasnya dengan hangat.
“Lihat dirimu sekarang,” ujar Ina Jose setelah melepaskan pelukan. “Terakhir kali aku melihatmu, kau masih suka bersembunyi di belakang ibumu kalau ada orang datang.”
Nara tertawa kecil. “Aku tidak ingat pernah melakukan itu.”
“Kau tentu tidak ingat. Waktu itu kau masih kecil. Tapi ibumu selalu tertawa setiap kali kau bersembunyi di balik roknya.”
Senyum Nara perlahan pudar. Mendengar orang lain membicarakan Sarai dengan begitu ringan membuatnya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Selama bertahun-tahun, kenangan tentang ibunya lebih sering muncul sebagai pertanyaan yang tidak terjawab daripada cerita sederhana tentang kehidupan mereka dahulu.
Ina Jose menyadari perubahan itu. Ia mengusap lengan Nara dengan lembut sebelum mempersilakan mereka masuk.
“Maaf, aku malah membicarakan masa lalu sejak kalian datang. Ayo, masuk dulu. Aku baru saja menyeduh teh.”
Ruang tamu Ina Jose sederhana dan rapi. Sebuah lemari kayu berdiri di sudut ruangan, dipenuhi piring lama, beberapa foto keluarga, dan barang-barang yang tampaknya telah disimpan sejak lama. Nara sempat memperhatikan salah satu foto di dinding. Sarai berdiri di samping Ina Jose, keduanya tampak jauh lebih muda. Ibunya tersenyum lebar ke arah kamera, dengan rambut tergerai dan sebuah kalung kecil di lehernya.
“Foto itu diambil saat Sarai mengandungmu dua bulan,” kata Ina Jose ketika menyadari arah pandangan Nara. “Sarai selalu senang kalau ada yang memotretnya. Katanya, suatu hari nanti ia ingin melihat kembali wajahnya ketika sudah tua.”
Nara menatap foto itu beberapa saat sebelum kembali memandang bibinya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!