BAB 11 — SUARA DARI MASA LALU

1 dibaca

A

BAB 11 — SUARA DARI MASA LALU

“Dia memang suka menyimpan kenangan?” tanya Nara.

“Sangat suka. Bukan hanya foto. Ia juga menyimpan surat, benda-benda kecil, bahkan tiket perjalanan yang sebenarnya sudah tidak berguna.” Ina Jose tertawa pelan. “Dan tentu saja, rekaman nyanyiannya.”

Nara menoleh, tertarik. “Rekaman nyanyian?”

Ina Jose mengangguk. Ia meletakkan nampan berisi tiga cangkir teh di atas meja, lalu duduk di hadapan mereka.

“Ibumu suka bernyanyi sejak kecil. Suaranya tidak selalu merdu menurut ukuran orang lain, tetapi ia menyukainya. Kalau sedang mengerjakan sesuatu, ia bisa bernyanyi berjam-jam. Kadang ia merekam suaranya sendiri dengan alat perekam kecil yang dibelinya dari seseorang di pelabuhan.”

Nara tidak pernah mengetahui hal itu. Ia masih mengingat suara Sarai menyanyikan lagu pengantar tidur ketika dirinya masih kecil, tetapi tidak pernah membayangkan bahwa ibunya sengaja merekam lagu-lagu tersebut.

“Apakah rekamannya masih ada?” tanyanya.

Ina Jose tidak langsung menjawab. Ia memandang lemari kayu di sudut ruangan, lalu berdiri dan membuka salah satu lacinya. Setelah memindahkan beberapa benda yang tersimpan di dalam, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berlapis kain. Debu tipis menempel pada permukaannya.

“Aku menyimpan ini setelah Sarai menghilang,” katanya. “Sebenarnya, aku pernah berniat memberikannya kepada ibumu kalau suatu hari dia kembali. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu, aku tidak tahu lagi harus menyimpannya untuk siapa.”

Ia membawa kotak itu ke meja dan membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat sebuah alat perekam suara lama, beberapa kaset kecil, dan selembar kertas yang sudah menguning di bagian tepinya. Tulisan tangan Sarai memenuhi sisi depan kertas tersebut. Nara mengenali bentuk hurufnya dari catatan yang pernah ia temukan di pianika lama.

“Ini milik Ibu?” tanyanya.

“Ya. Dia pernah memintaku menyimpannya. Katanya, ada beberapa rekaman yang tidak boleh hilang.”

Nara menatap alat perekam itu. Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak ketika membayangkan suara ibunya tersimpan di dalam benda kecil tersebut, menunggu untuk didengar kembali setelah sekian lama.

“Bolehkah aku mendengarkannya?”

“Tentu. Memang seharusnya benda ini menjadi milikmu.”

Ina Jose menyerahkan alat perekam tersebut. Nara menerima benda itu dengan kedua tangan, lalu memeriksa tombol-tombolnya. Permukaannya sudah kusam dan beberapa bagian plastiknya mulai menguning. Beruntung, Ina Jose sempat mengambil dua baterai baru dari laci meja dan memasukkannya ke dalam alat itu. Setelah memastikan mesinnya berfungsi, ia memasukkan salah satu kaset yang labelnya bertuliskan Lagu Malam.

Zabdiel duduk di sampingnya tanpa banyak bicara. Ina Jose kembali mengambil tempat di seberang mereka, tetapi kali ini wajahnya tampak lebih serius.

Nara menekan tombol putar.

Mula-mula terdengar bunyi desis yang panjang, diselingi suara mekanis dari alat perekam. Setelah beberapa detik, suara seorang perempuan muncul dari tengah kresek suara itu. Suaranya lembut, sedikit lebih muda daripada yang Nara ingat, tetapi ia langsung mengenalinya.

Sarai.

Nara menahan napas. Ia tidak menyangka suara yang selama ini hanya muncul dalam ingatan dan mimpi bisa terdengar begitu nyata. Untuk beberapa saat, ia tidak lagi memperhatikan ruang tamu, Zabdiel, ataupun bibinya. Ia hanya mendengarkan suara ibunya yang bernyanyi dengan iringan nada sederhana, seolah Sarai masih berada di ruangan yang sama bersamanya.

Lagu itu terdengar seperti lagu pengantar tidur yang pernah dinyanyikan Sarai ketika Nara masih kecil. Melodinya lambat dan berulang, dengan nada yang mudah diingat. Namun, setelah bait pertama, Nara mulai menyadari ada bagian yang tidak dikenalnya.

Sarai tidak sekadar menyanyikan tentang malam dan anak yang harus tidur. Di antara bait-baitnya, terdapat larangan untuk menjawab suara yang datang dari laut, peringatan agar seseorang pulang sebelum bulan meninggi, serta kalimat-kalimat yang terdengar seperti pesan seorang ibu kepada anaknya.

Lagu itu terus berjalan.

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk