BAB 9 — KETUKAN DARI PANTAI
Malam sudah makin larut ketika Nara selesai membaca ulang catatan Sarai. Sejak percakapannya dengan Ama Ezra sore tadi, pikirannya susah lepas dari buku catatan yang buru-buru ditutup pamannya itu.
Nara masih mencari alasan yang masuk akal, tetapi semakin dipikirkan, semakin banyak hal aneh yang muncul.
Mengapa Ama Ezra tiba-tiba memperingatkannya agar tidak membahas masa lalu desa? Padahal, Nara tahu persis dia tidak pernah cerita soal penyelidikannya kepada siapa pun di rumah ini.
Nara akhirnya menaruh kembali catatan itu di tempat persembunyiannya. Ia tahu tidak boleh buru-buru mengambil kesimpulan, karena memang belum ada bukti yang menunjukkan kalau pamannya tahu sesuatu tentang hilangnya Sarai. Untuk sementara, dia hanya harus lebih hati-hati.
Rumah Ama Ezra mulai sepi. Dari ruang tengah, Nara mendengar suara televisi sebelum akhirnya dimatikan, disusul langkah kaki yang menjauh dan suara pintu kamar yang ditutup.
Dia sendiri belum ingin tidur. Udara malam terasa lembap, membawa aroma laut yang samar lewat celah jendela. Dari kejauhan, debur ombak terdengar teratur, sesekali gantian dengan suara serangga di antara pepohonan.
Nara duduk di tepi ranjang sambil melihat ponselnya. Ada keinginan untuk mengirim pesan kepada Zabdiel dan menceritakan semua unek-uneknya, tetapi ia mengurungkan niat itu. Rasanya aneh saja mengirim pesan lewat HP, padahal mereka tinggal di rumah yang sama dan cuma beda kamar.
Lagipula, setelah kejadian waktu seseorang yang mirip Zabdiel memancingnya ke pantai, Nara tidak ingin bertindak gegabah hanya karena merasa takut. Ia harus memastikan terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi sebelum melibatkan orang lain.
Ia meletakkan ponsel di meja kecil, lalu berjalan menuju jendela untuk menutup tirainya rapat-rapat. Dari kaca jendela kamarnya, halaman rumah kelihatan gelap, cuma dibantu cahaya bulan yang sesekali tertutup awan.
Ketukan terdengar ketika ia baru saja berbalik.
Tok. Tok. Tok.
Nara berhenti melangkah.
Suara itu berasal dari jendela di belakangnya. Tiga ketukan terdengar jelas, tidak terlalu keras, tetapi cukup teratur untuk membuatnya yakin kalau suara itu bukan karena ranting yang bergesekan dengan dinding.
Ia menoleh perlahan, menunggu beberapa saat, berharap ada suara lain yang bisa menjelaskan apa yang baru saja didengarnya.
Tidak ada apa-apa.
Ia menatap jendela itu cukup lama sebelum memberanikan diri mendekat. Tangannya sempat terangkat untuk menyibak tirai, tetapi ia menghentikannya sesaat.
Ada sesuatu yang terasa aneh dari ketukan tadi. Bukan cuma karena bunyinya muncul ketika seluruh rumah mulai sepi, melainkan karena jumlahnya tepat tiga kali.
Nara teringat larangan yang pernah didengarnya sejak kembali ke desa.
Jangan membuka pintu kalau terdengar tiga ketukan dari arah pantai.
Larangan itu mungkin cuma berkaitan dengan pintu rumah, tetapi mendadak Nara merasa tidak ingin menguji apakah aturan tersebut juga berlaku untuk jendela.
Ketukan kedua tidak datang. Sebagai gantinya, sebuah bayangan bergerak di balik tirai.
Nara menahan napas. Sosok itu tampak berdiri tepat di luar jendela, cukup dekat sampai bentuk kepalanya terlihat samar di antara gelap malam. Ia tidak bisa memastikan apakah sosok itu sedang menghadap ke arahnya atau berdiri membelakangi rumah. Bayangan itu tidak bergerak selama beberapa detik, seolah sedang menunggu sesuatu.
Jantung Nara berdegup lebih cepat. Ia mundur selangkah, berusaha melihat sosok itu lewat celah tirai tanpa mendekati kaca. Bayangan itu kelihatan terlalu tinggi untuk seorang anak, tetapi terlalu samar untuk memastikan apakah itu laki-laki atau perempuan. Ia mencoba mencari ciri lain, sesuatu yang bisa dikenali, tapi cahaya bulan tidak cukup terang untuk membantunya.
Lalu bayangan itu bergerak.
Nara tersentak ketika sosok tersebut bergeser ke samping, melewati bagian jendela yang masih terkena cahaya bulan.
Ia segera menyingkap tirai, berharap bisa melihat ke mana sosok itu pergi. Namun, ketika pandangannya berhasil menembus kegelapan di luar, halaman rumah sudah kosong.
Tidak ada orang di dekat jendela. Tidak ada langkah kaki yang menjauh atau suara pintu pagar yang terbuka. Hanya halaman yang sunyi, pohon-pohon yang bergoyang pelan, dan jalan kecil menuju arah pantai yang nyaris tidak terlihat dalam gelap.
Nara tidak segera bergerak. Ia menatap tempat bayangan itu tadi berdiri, mencoba meyakinkan dirinya kalau ia tidak salah melihat. Mungkin seseorang memang datang dan pergi sebelum sempat dikenali.
Namun, kalau itu cuma warga yang mau menyampaikan sesuatu, mengapa tidak memanggil namanya? Mengapa mengetuk jendela pada malam hari, lalu menghilang tanpa sepatah kata pun?
Ponsel di atas meja mendadak terasa seperti benda yang jauh dari jangkauan. Nara berjalan mendekatinya dan menggenggamnya erat, sempat membuka percakapan dengan Zabdiel.
Jarinya berhenti di atas kolom pesan. Ia bisa saja membangunkan Zabdiel dan memintanya memeriksa halaman, tetapi ia tidak tahu apa yang akan dikatakannya selain bahwa ada bayangan di luar jendela.
Ia bahkan tidak yakin apakah Zabdiel akan menemukan sesuatu kalau keluar sekarang.
Akhirnya, Nara meletakkan ponsel kembali.
Ia memeriksa kunci jendela dua kali, lalu menutup tirai sampai tidak ada celah yang tersisa.
Setelah itu, ia duduk di ranjang dengan lampu kamar tetap menyala. Ia mencoba membaca catatan di ponselnya untuk mengalihkan perhatian, tetapi setiap kali matanya tertuju pada layar, pikirannya kembali pada tiga ketukan tadi.
Waktu berlalu tanpa gangguan lain. Tidak ada suara yang memanggil dari luar, tidak ada langkah kaki di halaman, dan tidak ada bayangan yang muncul kembali.
Meski begitu, Nara tidak bisa menghilangkan perasaan kalau seseorang telah berdiri di luar kamarnya, memperhatikannya dalam diam.
Menjelang tengah malam, ia akhirnya berbaring tanpa mematikan lampu. Matanya terpejam, tetapi telinganya tetap awas terhadap suara sekecil apa pun.
Sebelum tertidur, ia kembali teringat pada catatan Sarai tentang orang-orang yang hilang dan pertemuan rahasia yang pernah diselidiki ibunya.
Nara belum tahu apakah ketukan tadi berhubungan dengan penyelidikannya. Ia juga tidak tahu siapa sosok yang berdiri di balik jendela. Namun, ia merasa kalau bukan cuma dirinya yang sedang mencari jawaban.
Ada seseorang di luar sana yang mungkin sudah tahu apa yang sedang ia lakukan.
Dan malam itu, orang tersebut telah datang cukup dekat untuk mengetuk jendelanya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!