BAB 3 — SUARA DARI LAUT
“Ibu?”
Begitu kata itu keluar, Nara langsung terdiam. Ia masih berdiri di dekat celah jendela yang baru saja diperiksanya. Cepat-cepat ia mengintip lagi. Halaman rumah terlihat kosong di bawah cahaya bulan. Tidak ada siapa pun di jalan, tidak ada bayangan yang bergerak di antara pohon-pohon kelapa, hanya angin malam yang membawa aroma laut dan suara ombak dari kejauhan.
Nara menunggu, tidak ada lagi panggilan yang terdengar.
Peringatan Zabdiel beberapa saat lalu terlintas di kepalanya. Jangan keluar malam ini, meski ada seseorang yang memanggil namamu. Ia juga teringat tujuh pantangan yang dahulu begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah larangan menjawab panggilan dari laut. Dulu, Nara tidak pernah benar-benar memikirkan alasan di baliknya. Baginya, itu hanya aturan yang harus dipatuhi seperti anak-anak lain di Desa Pesisir.
Sekarang ia baru saja melanggarnya.
Nara perlahan masuk kamar, menutup pintu dan menguncinya. Beberapa saat ia hanya tiduran terlentang, memperhatikan kamar yang diterangi lampu kuning redup. Kamar itu masih sama, kamar yang ia dan Ibunya tempati. Ini salah satu alasan, mungkin? Saat ia lupa masih ada sebenarnya rumah saudara-saudara yang bisa ia jadikan tempat persinggahan.
Ia rindu. Ia rindu tempat ini. Ia rindu aroma yang tidak pernah berubah ini. Dan paling penting, yang tidak ia sadari dari lubuk hatinya paling dalam. Ia rindu Sarai, ibunya.
Lalu terdengar sebuah alunan dari arah laut.
Tidurlah, anakku, malam telah tiba,
Angin membawa garam dari laut sana.
Pejamkan mata....,
Nara mengenali nadanya sebelum lagu itu selesai dinyanyikan dalam satu bait. Lagu pengantar tidur. Lagu yang dahulu selalu dinyanyikan Sarai ketika Nara masih kecil.
Ingatan lama datang begitu jelas. Ia melihat dirinya sendiri berbaring di ranjang, sementara Sarai duduk di sampingnya sambil mengusap rambutnya. Di luar, hujan turun membasahi halaman dan suara air mengalir dari atap. Setiap kali lagu itu selesai, Sarai selalu menarik selimut hingga menutupi tubuh Nara dan mengecup dahinya.
Dulu lagu itu berarti rumah. Malam ini, lagu yang sama datang dari arah laut.
Nara tidak bergerak, ia membiarkan alunan tersebut mengisi rumah yang sunyi. Suaranya tidak terdengar keras, tetapi setiap nada cukup jelas untuk membuat Nara yakin bahwa ia tidak sedang mengingatnya dalam kepala.
Pesan yang ditemukan di kamar neneknya kembali muncul dalam ingatan.
Jika suatu hari kamu pulang dan mendengar suara dari laut, jangan pernah menjawabnya.
Nara memilih menarik selimut, membiarkan alunan lagu dari laut itu membuai tidurnya.
Pejamkan matamu, jangan lihat ke sana,
Bulan belum tinggi, ibu masih di rumah.
Tidurlah, anakku, jangan dengar namamu,
Jika angin memanggil dari balik biru.
Jangan jawab suara, siapa pun itu,
Pulanglah sebe...
Nara terlelap.
**
Dingin. Itulah hal pertama yang dirasakan Nara ketika ia terbangun. Matanya langsung menyipit, cahaya menghambur memenuhi matanya membuat Nara buru-buru terduduk. Nara mengerjapkan mata.
Langit biru pucat terbentang di atas kepalanya. Ia tidak sedang berada di kamar. Tubuhnya terbaring di atas pasir yang lembap, ombak kecil datang menyentuh pergelangan kakinya lalu surut kembali ke laut. Suara burung camar berteriak-teriak menyadarkannya.
“Nggak mungkin…” gumam Nara.
Napasnya tercekat ketika melihat sekeliling. Pantai Desa Pesisir membentang di hadapannya, masih sepi pada pagi hari. Beberapa perahu nelayan tampak jauh di atas air, deretan pohon kelapa di belakangnya bergerak perlahan diterpa angin. Matahari baru naik, memantulkan cahaya keemasan di permukaan laut yang tenang.
Nara menunduk melihat dirinya sendiri. Bajunya masih sama seperti yang dipakainya semalam. Ujung celananya basah dan pasir menempel di badannya.
Ia meraup pasir dan sadar ini kenyataan, bukan mimpi. Ia mencoba mengingat bagaimana ia bisa sampai di sana. Tidak ada apa-apa.
Ingatan terakhirnya hanya ketika ia tertidur dengan buaian lagu yang terdengar samar dari laut. Setelah itu kosong.
“Nara!”
Teriakan dari arah belakang membuatnya tersentak.
Zabdiel berlari menyusuri pantai. Langkahnya tidak teratur, seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, dan napasnya memburu ketika ia mendekati Nara.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya dengan suara tinggi, nyaris kehilangan kendali. Matanya berpindah dari wajah Nara ke kakinya yang masih berada di dalam air, lalu kembali lagi. “Nara, jawab aku. Sejak kapan kau di sini?”
“Aku... aku nggak tahu.”
Jawaban itu justru membuat Zabdiel semakin panik. Ia segera masuk ke air dangkal, menarik Nara menjauh dari ombak, lalu memegang kedua bahunya untuk memastikan perempuan itu benar-benar sadar. “Kau nggak tahu? Maksudmu bagaimana kau nggak tahu?”
“Aku tidur di rumah,” jawab Nara terbata. Tangannya sendiri masih gemetar ketika ia mencoba mengingat sesuatu yang tidak kunjung muncul dalam kepalanya. “Aku tidur di dalam kamar, pintunya sudah aku kunci. Setelah itu aku nggak ingat apa-apa.”
Zabdiel melepaskan pegangannya perlahan, tetapi wajahnya masih menunjukkan kebingungan. Ia menoleh ke arah laut, kemudian ke rumah-rumah di kejauhan, seolah sedang mencoba mencari jawaban dari sesuatu yang bahkan tidak ia mengerti sendiri.
“Rumahmu dari sini cukup jauh,” katanya pelan. “Kau berjalan sendirian sampai sini?”
“Aku nggak tahu.”
“Kau mendengar sesuatu?”
Nara mengangguk ragu. “Semalam.”
Zabdiel langsung menatapnya. “Apa?”
Nara menelan ludah sebelum menjawab. “Ibu.”
Wajah Zabdiel berubah. Ia memandang Nara beberapa detik, kemudian kembali melihat laut. “Jangan bilang…” gumamnya.
“Aku dengar suara Ibu memanggil namaku.” Nara memeluk tubuhnya sendiri karena angin pagi mulai terasa dingin. “Aku jawab.”
Zabdiel mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia berjalan beberapa langkah di pasir, lalu berhenti dan kembali menatap Nara. “Kau jawab?”
“Aku cuma bilang, ‘Ibu?’”
Zabdiel menggeleng perlahan. “Nara, kenapa kau jawab?”
“Karena aku pikir itu benar-benar Ibu!” suara Nara meninggi. Kebingungan dan ketakutan yang sejak bangun ditahannya akhirnya pecah. “Aku tidak pernah berpikir Ibuku sudah meninggal. Ia hanya menghilang, bisa sajakan ia kembali! Aku nggak tahu apa yang terjadi. Aku bahkan nggak tahu kenapa sekarang aku ada di sini!”
Zabdiel terdiam. Ia tampak ingin membantah, tetapi tidak memiliki jawaban yang bisa diberikan. Matanya kembali menyapu pantai, mencari jejak kaki di pasir basah. Ada jejaknya sendiri dari tempat ia berlari, tetapi semakin dekat ke tempat Nara ditemukan, jejak lain hampir tidak terlihat.
“Kau datang dari mana?” tanya Nara, kali ini lebih pelan.
“Aku mau menjemputmu,” jawab Zabdiel. Suaranya masih berat karena napas yang belum sepenuhnya pulih. “Kemarin aku bilang akan datang pagi-pagi. Aku sampai di rumah nenekmu, pintunya terkunci. Aku panggil namamu beberapa kali, tapi nggak ada jawaban. Aku pikir kau masih tidur.”
Ia berhenti, menatap Nara dengan wajah yang semakin sulit menyembunyikan kegelisahannya.
“Lalu aku lihat jejak kakimu di jalan.”
Nara menatap pasir di bawah mereka.
“Jejak itu membawaku ke sini,” lanjut Zabdiel. “Aku kira kau pergi sebentar. Tapi waktu sampai pantai, aku lihat kau terbaring di sini.”
Nara merasakan tengkuknya dingin. “Sendirian?”
Zabdiel mengangguk pelan.
“Tidak ada siapa-siapa?”
“Tidak ada.”
Angin laut kembali bertiup di antara mereka. Nara menatap hamparan air yang begitu indah di bawah matahari pagi, tetapi sekarang pemandangan itu justru membuatnya tidak nyaman. Ia tidak mengerti mengapa kakinya bisa berada di dalam ombak ketika ia sadar. Lebih buruk lagi, ia tidak memiliki satu pun ingatan tentang perjalanan dari rumah menuju pantai.
Zabdiel mengambil jaket tipis yang dikenakannya dan menyampirkannya ke bahu Nara. “Kita pulang dulu. Kau harus ganti pakaian.”
Nara masih berdiri diam. “Zabdiel.”
“Hm?”
“Kalau aku benar-benar berjalan ke sini semalam...” Nara menatap garis air yang baru saja menyentuh kakinya. “Kenapa aku nggak ingat?”
Zabdiel tidak menjawab. Ia hanya memandang laut dengan wajah yang semakin gelisah.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!