BAB 4 — PEREMPUAN DI TEPIAN
Matahari tepat di atas kepala ketika Nara akhirnya melangkah keluar dari rumah neneknya. Setelah kejadian mengejutkan di pantai pagi tadi, Ama Ezra sama sekali tidak membiarkannya tinggal sendirian di sana. Ina Ezra bahkan langsung datang menjemput seraya membawa beberapa barang milik Nara yang sudah dikemas seadanya ke dalam tas kain.
Rumah neneknya sebenarnya belum selesai dibereskan, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang peduli tentang hal itu sekarang. Untuk sementara waktu, Nara harus menumpang di rumah pamannya sampai keadaan di desa kembali terasa lebih aman.
Rumah Ama Ezra berdiri kokoh tidak jauh dari balai pertemuan desa. Bangunannya paling besar di antara deretan rumah lain, lengkap dengan teras lebar yang menghadap langsung ke jalan dan halaman belakang yang dipenuhi barisan pohon kelapa yang menjulang tinggi. Dari sudut kamar barunya, laut masih terlihat mengintip di antara celah dinding rumah warga sekitar.
Nara meletakkan tas jinjingnya di atas kasur yang sudah disiapkan Ina Ezra, lalu melangkah pelan menuju jendela. Ia berdiri diam di sana dengan mata menatap lurus ke arah pantai dari kejauhan. Sejak terbangun dengan kaki basah oleh sapuan ombak misterius pagi tadi, pemandangan laut yang biasanya selalu membuat ia rindu kini justru terasa asing dan memicu rasa takut.
“Jangan melamun di situ,” terdengar suara berat membuyarkan lamunannya.
Nara menoleh cepat dan mendapati Zabdiel sudah berdiri di ambang pintu kamar sambil menyodorkan segelas air putih. Wajah laki-laki itu masih tampak kaku dan tegang sejak kejadian pagi tadi, seolah ia belum bisa menghapus bayangan mengerikan saat menemukan Nara terkapar sendirian di tepi laut.
Nara menerima gelas itu dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu menyahut pelan, “Aku mengintip lautnya dari sini. Aku masih tidak percaya bisa sampai di sana tanpa ingat apa-apa.”
Zabdiel mengembuskan napas berat seraya bersandar pada kusen pintu kayu yang mulai lapuk. Pandangannya ikut terlempar ke arah pantai di balik jendela saat ia membalas, “Bagaimana aku bisa percaya itu cuma mimpi kalau aku sendiri yang mengangkat tubuhmu? Aku datang ke rumah nenekmu dan pintunya terkunci rapat. Aku cari ke pantai dan kamu sudah terbaring pingsan di sana. Kalau aku telat datang sedikit saja, aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi padamu.”
Nara langsung menunduk dalam-dalam, memilih untuk memandangi riak air di dalam gelasnya daripada membalas tatapan tajam itu. “Aku juga takut,” bisiknya dengan suara yang nyaris hilang ditelan angin.
Melihat reaksi Nara, Zabdiel melangkah masuk beberapa senti ke dalam kamar. Pria itu berkata dengan nada yang jauh lebih berat dan menuntut perhatian, “Mulai sekarang, jangan pernah pergi ke pantai sendirian. Siang hari sekalipun. Kalau kamu mau ke mana-mana, bilang dulu pada Ama atau kepadaku.”
Nara mendongak, menunjukkan gurat keberatan di wajahnya. “Siang hari juga?” tanya Nara memastikan.
Namun, Zabdiel langsung memotong dengan tegas. “Pokoknya jangan.”
Nada bicara Zabdiel membuat Nara mengurungkan niat untuk membantah. Sambil mengangguk kecil, ia memilih meneguk air di gelasnya sampai habis. Kekhawatiran yang tercetak jelas di wajah laki-laki itu perlahan menyebarkan rasa dingin di dada Nara; menyadarkannya bahwa peristiwa di pantai pagi tadi bukan sekadar mimpi buruk biasa.
Menjelang sore, suasana di sekitar desa kembali sunyi. Matahari turun perlahan di balik garis cakrawala, meninggalkan sapuan warna jingga yang membakar permukaan air laut. Nara mencoba menyibukkan diri dengan membantu Ina Ezra menyiapkan makan malam di dapur, sementara Ama Ezra sibuk mengobrol serius dengan beberapa warga di teras depan rumah.
Sesekali suara berat para pria itu terdengar samar, bercampur dengan denting piring dan tiupan angin sore yang membawa aroma asin laut yang pekat. Untuk beberapa jam, semua rutinitas itu terasa normal, hingga Nara hampir berhasil melupakan teror yang menimpanya saat fajar menyingsing.
Namun kemudian, malam datang membawa kegelapan yang pekat. Bel desa berdentang keras tepat saat langit benar-benar segelap arang. Begitu bunyi dentang terakhir hilang ditelan malam, pintu-pintu rumah di sepanjang jalan desa mulai tertutup rapat satu per satu, disusul dengan lampu teras yang dipadamkan serentak.
Jalanan yang siang tadi ramai mendadak kosong berdebu, menyisakan kesunyian yang mencekam. Nara sedang duduk termenung di tepi kasurnya ketika telinganya menangkap gesekan langkah kaki yang sangat halus melewati lantai teras. Langkah kaki itu terdengar semakin dekat, hingga akhirnya berhenti tepat di depan pintu kamarnya yang tertutup.
“Nara,” terdengar bisikan memanggil namanya dari balik kayu pintu.
Nara langsung menegakkan kepala dengan jantung yang mulai berdegup kencang. Ia sangat mengenali karakter suara itu. “Zabdiel?” tanyanya memastikan.
Sepi kembali menyergap ruangan, sebelum akhirnya terdengar ketukan pelan sebanyak tiga kali dari luar. “Nara, keluar,” panggil suara itu lagi.
Nara turun dari tempat tidur lalu melangkah ragu mendekati pintu. Tangannya sudah menempel pada gagang pintu yang dingin ketika ia mendadak teringat pada larangan lama desa yang tidak boleh dilanggar sejak kecil tentang larangan keluar setelah bel malam berbunyi. Namun, suara di balik pintu terdengar begitu biasa, akrab, dan tenang, hingga perlahan-lahan rasa ragunya kalah oleh rasa ingin tahu yang besar. Ia pun memutar kunci dan membuka pintu tersebut.
Zabdiel benar-benar berdiri di sana dengan pakaian serba gelap—baju yang biasa ia kenakan jika harus berjaga keluar malam. Wajahnya tampak luar biasa serius di bawah temaram cahaya lampu dalam rumah yang tersisa. “Ada apa?” tanya Nara dengan nada berbisik.
Zabdiel tidak menjawab, melainkan hanya menatapnya lurus. Kemudian tanpa sepatah kata berbalik pergi.
Nara mengerutkan keningnya, makin bingung. “Ke mana?” tanyanya lagi.
Nara mengikuti langkah Zabdiel yang cepat dan senyap. Mereka melewati ruang tamu tanpa halangan berarti, Ama dan Ina Ezra sudah terlelap dalam tidur, Zabdiel melangkah cepat menuruni tangga teras yang gelap.
Nara sempat terpaku di ambang pintu sembari memperhatikan punggung pria itu yang kian menjauh. Peringatan keras Zabdiel tadi pagi mendadak terngiang kembali di telinganya dengan sangat jelas. Namun, laki-laki yang melarangnya itu sekarang ada di depannya dan berjalan bersamanya, jadi ia berpikir dirinya tidak akan pergi sendirian.
Nara akhirnya meraih jaket tipisnya yang tergantung, memakainya terburu-buru, lalu berlari kecil untuk menyusul langkah Zabdiel.
Mereka berjalan membelah halaman rumah yang luas menuju jalan desa yang sudah mati total. Rumah-rumah panggung di kanan dan kiri mereka tampak seperti kotak-kotak hitam berukuran raksasa yang terkunci rapat dari dalam.
Hanya cahaya bulan separuh yang menerangi jalanan berpasir itu, sementara deru ombak terdengar semakin keras dan bergemuruh setiap kali kaki mereka melangkah menjauhi permukiman warga.
“Zabdiel,” panggil Nara setelah beberapa lama mereka berjalan dalam keheningan yang canggung. “Kita mau ke mana sebenarnya?”
Zabdiel tetap fokus menatap jalan di depannya tanpa menoleh sedikit pun.
Nara mempercepat langkah kakinya hingga berjalan persis di belakang punggung Zabdiel, ketika mereka akhirnya melewati barisan pohon kelapa terakhir yang membatasi desa, Nara mulai merasakan tekstur pasir yang semakin lembut di bawah telapak kakinya. Mereka telah sampai di pantai.
Nara langsung menghentikan langkahnya dengan gusar. “Bukankah kamu sendiri yang bilang aku tidak boleh ke sini?” tanya Nara dengan nada menuntut penjelasan. “Kenapa sekarang kamu sendiri yang membawaku ke pantai?”
Zabdiel ikut menghentikan langkahnya, lalu memutar tubuh untuk menoleh ke arah Nara. Wajah pria itu terlihat sangat tenang dan datar di bawah siraman cahaya bulan. “Makanya aku ikut,” jawabnya sederhana.
Jawaban itu entah mengapa terasa masuk akal bagi Nara, meredam sedikit rasa curiganya. Ia akhirnya memilih untuk melanjutkan langkah, meskipun ada rasa tidak nyaman yang mulai merayap dan meremas dadanya perlahan.
Mereka tiba di hamparan pantai yang luas. Pasir putih terbentang bagai kain kafan di bawah langit malam, ombak bergerak maju membasahi tepian sebelum kembali tersedot dengan suara berdesis ke tengah laut yang hitam. Tidak ada perahu yang bersandar, tidak ada nelayan yang bersiap melaut, bahkan tidak ada suara manusia lain selain deru napas mereka sendiri yang memburu.
Zabdiel mendadak menghentikan langkahnya tepat beberapa meter sebelum air laut menyentuh ujung kakinya. Nara ikut berhenti di belakang pria itu, melemparkan pandangan waspada ke sekeliling hamparan pasir. “Apa yang mau kamu tunjukkan?” tanya Nara dengan suara bergetar.
Zabdiel tidak menoleh, ia hanya mengangkat tangan kanannya secara perlahan dan menunjuk lurus ke arah kegelapan laut. “Lihat,” bisiknya.
Nara mengikuti arah jari telunjuk itu dengan saksama. Awalnya, ia hanya melihat air laut yang berkilau keperakan tertimpa cahaya bulan. Namun beberapa detik kemudian, sebuah siluet tubuh manusia tampak berdiri tegak di antara kabut tipis yang melayang rendah di atas permukaan air. Itu adalah seorang perempuan.
Sosok itu berdiri tepat di tepi air yang dalam dengan gaun putih panjang yang melambai-lambai kasar ditiup angin malam. Rambut hitamnya yang panjang dan basah menjuntai ke depan, menutupi sebagian besar wajahnya, kedua tangannya menggantung lemas di sisi tubuh. Perempuan itu diam membatu tanpa bergerak sedikit pun, mengabaikan ombak kecil yang terus-menerus membasahi kakinya.
Nara merasa tenggorokannya mendadak kering dan tercekat seperti tercekik. Ada sesuatu dari postur tubuh perempuan itu yang sangat ia kenal di luar kepala. Bentuk badannya, lekuk bahunya, hingga rambut panjang yang jatuh melewati punggung langsung memancing keluar seluruh ingatan masa kecil Nara yang paling dalam. “Ibu...?” panggil Nara dengan suara bergetar penuh harap sekaligus ketakutan.
Perempuan misterius itu tidak memberikan jawaban apa pun. Nara yang dilanda rasa penasaran luar biasa akhirnya maju selangkah, matanya tidak berkedip menatap sosok di tengah laut itu. “Ibu? Itu Ibu?” serunya lebih keras.
Mendengar seruan itu, perempuan di tengah kabut perlahan-lahan mengangkat kepalanya yang semula tertunduk. Rambut panjang yang menutupi wajahnya tersingkap kasar oleh tiupan angin malam yang mendadak berembus kencang. Dan pada detik itulah, Nara akhirnya bisa melihat matanya dengan jelas.
Seluruh bagian mata perempuan itu berwarna hitam pekat. Bukan karena gelapnya malam, dan bukan pula karena tertutup oleh bayangan rambut. Mata itu hitam seluruhnya, tanpa ada warna putih sama sekali di bola matanya.
Langkah Nara langsung terhenti seketika. Tubuhnya mendadak kaku dan lupa cara bergerak ketika logika dan matanya menyadari bahwa wajah di depannya memang sangat mirip dengan Sarai, tetapi makhluk di dalam tubuh itu sama sekali bukan manusia yang selama ini ia rindukan.
Namun, kejutan mengerikan itu belum berakhir. Ada hal yang jauh lebih mengerikan yang mendadak muncul di belakang perempuan tersebut. Permukaan air laut yang hitam luas mulai dipenuhi oleh bayangan-bayangan hitam yang bergerak naik. Satu bayangan muncul dari balik ombak besar, disusul oleh beberapa bayangan lain di sampingnya.
Dalam hitungan detik, jumlah mereka berlipat ganda dengan sangat cepat. Ada makhluk yang bertubuh sangat tinggi, ada yang pendek kecil, ada yang berjalan merangkak membungkuk, dan ada yang berdiri tegak dengan posisi kepala mendongak menatap lurus ke arah Nara. Mereka semua terus merangkak keluar dari kegelapan laut dalam, memenuhi sepanjang garis pantai sejauh mata Nara memandang. Jumlah mereka mencapai ratusan, lalu terus bertambah banyak hingga tak terhitung lagi.
Nara mundur selangkah dengan perasaan panik yang luar biasa. Tangannya bergerak meraba-raba ke belakang secara membabi buta, mencoba mencari lengan Zabdiel tanpa berani mengalihkan pandangan sedikit pun dari perempuan bermata hitam di tepi air. “Zabdiel...” panggil Nara dengan nada memohon pertolongan.
Namun, tidak ada sahutan maupun gerakan tangan yang menyambut jemarinya. Nara menolehkan kepalanya dengan cepat ke belakang. Laki-laki yang membawanya ke pantai itu ternyata masih berdiri diam beberapa langkah di belakangnya. Wajah Zabdiel sepenuhnya tenggelam dalam kegelapan malam, membuat Nara tidak bisa membaca ekspresi pria itu sama sekali.
Nara baru saja hendak melangkah mendekati Zabdiel ketika perempuan di tepi laut itu tiba-tiba menarik ujung bibirnya lebar-lebar, menyunggingkan sebuah senyuman. Senyum dingin yang mengerikan itu seketika membuat seluruh aliran darah di tubuh Nara terasa membeku menjadi es.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!