BAB 5 — JANGAN MENJAWAB
“Nara...”
Suara itu pelan, datang dari seorang perempuan yang berdiri di batas air. Nadanya begitu lembut, mirip sekali dengan suara yang samar-samar Nara ingat dari masa kecilnya. Ketika perempuan itu mulai bernyanyi, Nara seolah terhipnotis, matanya tidak bisa beralih.
“Tidurlah, anakku, malam telah tiba,
Angin membawa garam dari laut sana.
Pejamkan matamu, jangan lihat ke sana,
Ibu menunggumu di balik cahaya.”
Nara mematung. Bait-bait itu langsung membawanya kembali ke malam sebelumnya, saat ia jatuh tertidur setelah mendengar bisikan Sarai dari arah pantai. Ada rasa akrab yang begitu kuat menyergap dadanya. Setiap kata meremangkan kembali kenangan lama, tentang kamar yang hangat dan suara ibu yang selalu mengantarnya ke alam mimpi.
Perempuan di kejauhan itu kembali melantunkan baris berikutnya, kini dengan nada yang semakin lirih dan membuai.
“Jangan takut, anakku, laut tidak marah,
Ikuti nyanyianku sampai ke rumah.
Pejamkan matamu, jangan dengar namamu,
Jika angin memanggil dari balik biru.”
Tanpa sadar, kaki Nara melangkah. Tubuhnya bergerak sendiri seolah dituntun tali tak kasat mata, mengabaikan akal sehatnya. Ia berjalan mendekati ombak yang bergulung. Pasir basah yang dingin menyentuh telapak kakinya, tetapi rasa dingin itu sama sekali gagal menyadarkannya.
“Nara!”
Panggilan Zabdiel terdengar dari arah belakang. Namun, Nara tidak menoleh. Fokusnya telah tersedot sepenuhnya oleh perempuan itu, yang terus bernyanyi seakan dunia tidak memiliki suara lain.
Air laut mulai membasahi mata kaki Nara, lalu naik merayapi betisnya seiring langkah yang semakin dalam. Pandangannya lurus menatap sosok yang sangat mirip Sarai itu. Semakin jauh ia melangkah ke dalam pelukan laut, semakin pudar pula kesadaran yang seharusnya ia miliki.
“Ibu...” bisik Nara lirih.
Di ujung sana, perempuan itu tersenyum manis. “Ya, Nak. Kemarilah.”
Satu langkah lagi. Air kini sudah setinggi lutut, lalu dengan cepat merayap naik ke pinggangnya. Nyanyian itu sekarang bergema begitu dekat, menenggelamkan suara gemuruh ombak dan siulan angin malam. Dunia di sekitarnya mendadak sunyi.
Tepat saat air laut menyentuh dadanya, sentakan tangan mendadak menarik lengannya dengan sangat kuat. “NARA!”
Sentakan keras itu melempar tubuh Nara ke belakang. Ia tersedak dan terbatuk-batuk ketika air asin yang pekat masuk ke mulut dan hidungnya. Beberapa pasang tangan langsung memegangi tubuhnya, menariknya menjauh dari seretan arus yang kuat. Suara-suara yang memanggil namanya kali ini tumpang-tindih, penuh dengan kepanikan yang mencekam.
“Jangan lihat ke belakang! Ayo, bawa ke darat!”
“Pegang tangannya yang kuat, jangan sampai lepas!”
Nara mengerjapkan mata yang perih. Di antara remang malam dan sorot lampu senter yang bergerak liar, ia melihat Zabdiel dan dua orang warga setempat sedang berjuang keras menyeretnya ke daratan. Wajah mereka pucat pasi, napas mereka memburu memutus udara. Rambut dan seluruh pakaian mereka basah kuyup.
“Zabdiel...?” Panggil Nara lemas.
“Iya, ini aku!” sahut Zabdiel setengah berteriak, wajahnya tegang saat membantu warga memapah Nara menuju pasir yang kering. “Pegang aku! Jangan menengok ke belakang!”
Nara hanya bisa pasrah. Begitu tiba di tempat aman, seluruh tenaganya mendadak runtuh. Ia jatuh berlutut di atas pasir, terbatuk-batuk hebat untuk mengeluarkan air laut dari tenggorokannya. Zabdiel dan para warga langsung mengelilinginya, berjaga di sisinya dengan napas terengah-engah, memastikan Nara tidak lagi bergerak mendekati air.
“Apa yang kau pikirkan?!” bentak Zabdiel. Suaranya meninggi, bergetar hebat antara marah dan takut yang bercampur aduk.
“Untung kami cepat sampai,” timpal salah satu warga yang ikut basah kuyup, wajahnya masih menyiratkan kengerian. “Kalau terlambat semenit saja, kau sudah hilang dibawa arus!”
Nara masih berusaha mengatur napasnya yang putus-putus. “Aku... aku mendengar Ibu.”
Zabdiel dan para warga seketika tertegun. Mereka saling lempar pandang dengan wajah yang mendadak berubah kaku. Zabdiel mengusap wajahnya yang basah oleh air laut, lalu menatap Nara dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Jangan pernah ikuti suara itu lagi,” kata Zabdiel, suaranya kini bergetar rendah. “Siapa pun yang memanggilmu, jangan pernah menginjakkan kaki ke laut.”
Nara mengangguk lemah. Namun, saat matanya turun dan memperhatikan pakaian Zabdiel, sekelebat rasa janggal menyengat pikirannya. Ada sesuatu yang salah. Lelaki di depannya ini memakai kaus abu-abu dan celana panjang—pakaian yang sama yang dipakainya tadi sore.
Nara mengernyitkan dahi. “Zabdiel...”
“Apa?”
“Tadi... baju yang kau pakai hitam.”
Zabdiel tampak bingung. “Baju hitam?”
Nara mengangguk pasti. “Iya, waktu kau datang ke kamarku dan menjemputku ke sini.”
“Aku tidak pernah menjemputmu.”
Jawaban datar itu membuat bulu kuduk Nara meremang. Ia perlahan mengangkat wajahnya. “Apa?”
Zabdiel menatapnya lurus-lurus, sorot matanya sangat serius. “Aku ke sini karena ada warga yang melihatmu berjalan sendirian ke arah pantai. Aku tadi sedang tidur, Ama dan Ina dibangunkan, suasana sedang sangat tegang di sana.”
Nara membeku.
Detik itu juga, ingatan beberapa menit lalu berputar ulang di kepalanya. Sosok yang menuntunnya berjalan ke pantai memang punya wajah yang persis seperti Zabdiel. Namun, sosok itu mengenakan pakaian hitam. Cara bicaranya pun kaku. Berbeda jauh dengan Zabdiel di depannya sekarang yang tampak panik, marah, dan kelelahan. Sosok tadi sama sekali tidak khawatir meski Nara berjalan menuju maut di dalam air.
Nara perlahan memutar lehernya, menghadap ke laut.
Di sana, di antara kabut tipis dan pantulan cahaya bulan di atas ombak, sosok berpakaian hitam itu ternyata masih ada.
Ia berdiri tegak di tengah air yang dalam. Wajahnya memang persis seperti Zabdiel, tetapi kini Nara sadar sepenuhnya—makhluk itu sama sekali bukan manusia.
Sosok itu hanya diam, menonton mereka berdua dari kejauhan. Kemudian, sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk seulas senyum yang mengejek.
Tanpa sadar, tangan Nara mencengkeram erat lengan Zabdiel yang asli. “Itu...”
Zabdiel mengikuti arah pandangan Nara. “Apa?”
Di tengah laut, sosok misterius itu mengangkat tangan, lalu melambambaikannya perlahan ke arah Nara. Senyumnya semakin lebar, menyeringai mengejek dan merayakan kengerian yang baru saja ia tanam.
Zabdiel menyipitkan mata, memandang hamparan air yang gelap. “Aku tidak melihat siapa pun di sana.”
Nara kehilangan kata-kata. Ia hanya bisa terpaku melihat sosok itu perlahan-lahan mundur, menenggelamkan diri ke dalam air, lalu lenyap ditelan pekatnya gelombang.
“Ayo pulang,” ajak Zabdiel. Suaranya kini melunak, namun tetap terasa tegas. Ia membantu Nara berdiri, memegangi lengan gadis itu erat-erat sepanjang jalan, seolah takut Nara akan gaib jika ia lepaskan.
**
Begitu mereka tiba di rumah Ama Ezra, beberapa tetangga sudah berkumpul di teras karena mendengar keributan. Ina Ezra dengan cekatan langsung membungkus tubuh Nara yang menggigil menggunakan kain kering. Sementara itu, Ama Ezra mendekati Zabdiel, meminta penjelasan.
“Dia hampir hanyut,” ujar Zabdiel dengan napas yang masih tersengal. “Airnya sudah sebatas dada waktu kami tarik.”
Para warga saling lempar pandang. Tidak ada riak terkejut di wajah mereka, yang ada hanyalah mendung yang mendadak menebal, suasana berubah muram.
Seorang lelaki tua yang duduk di sudut teras akhirnya membuka suara. “Jadi, Nara sudah mulai mendengar suara dari laut.”
Nara menoleh cepat. “Suara apa?”
Lelaki tua itu memandang Nara dengan tatapan kasihan. “Suara yang memanggil siapa saja yang hatinya masih diikat oleh rindu pada orang yang sudah hilang.”
Seorang perempuan tua di sebelahnya menarik selendang agar lebih rapat membungkus bahu, lalu bergumam, “Seharusnya, dari awal kau tidak usah menyahut.”
Nara tertegun. Kata-kata itu menyeret ingatannya pada malam pertama ia menginjakkan kaki di rumah neneknya. Malam itu, ada yang memanggil namanya dari kegelapan luar. Dan tanpa berpikir panjang, ia menyahut karena mengira itu adalah suara Sarai.
Ibu?
Ama Ezra menatap Nara lekat-lekat, lalu berkata dengan nada berat, “Itulah kenapa pantangan pertama di tempat ini adalah jangan pernah menjawab suara dari laut. Tidak peduli seberapa mirip suara itu dengan orang yang kau kenal.”
Nara menundukan kepala, menatap lantai yang dingin. Suara yang menggema dari laut itu bukan sekadar tiruan dari orang-orang yang ia rindukan. Sesuatu di dalam laut sana sedang mempelajari rasa rindu manusia.
Dan kini, sesuatu itu sudah tahu betul wajah siapa yang paling mudah membuat Nara menyerahkan nyawanya.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!