BAB 6 — KAMAR YANG TIDAK PERNAH DIBUKA
Pagi berikutnya, Desa Pesisir kembali menjalani kehidupan seperti biasa. Para nelayan sibuk memperbaiki jaring di halaman rumah, beberapa orang membawa hasil tangkapan dari perahu yang baru kembali, sementara anak-anak membantu orang tua mereka mengangkat keranjang ikan.
Di rumah Ama Ezra, Ina Ezra juga sudah sibuk sejak pagi bersama beberapa tetangga yang datang membantu persiapan pernikahan salah satu warga desa. Kain-kain dibentangkan di ruang tengah, bahan makanan mulai dipilah, dan percakapan tentang acara tersebut terdengar ramai dari dapur.
Kesibukan itu membuat rumah terasa bising, tetapi Nara justru semakin ingin pergi karena mengingat catatan yang ia temukan di rumah neneknya saat ia baru datang, pikirannya terus dipenuhi pertanyaan tentang apa yang sebenarnya sedang dicari Sarai sebelum menghilang.
“Aku mau ke rumah Nenek sebentar,” kata Nara kepada Ina Ezra sambil mengambil tas kecilnya.
Ina Ezra menghentikan pekerjaannya dan menoleh. “Mau mengambil barang?”
“Iya, Mamatalu. Ada beberapa barang yang masih ingin aku lihat.”
Ama Ezra yang sedang berada di teras ikut memperhatikan Nara. “Kalau sudah selesai, langsung pulang. Jangan terlalu lama.”
Nara mengangguk. “Iya.”
Ia meninggalkan rumah tanpa menjelaskan alasan sebenarnya. Nara tidak hanya ingin mengambil barang lama. Ia ingin mengetahui apa yang disembunyikan Sarai selama bertahun-tahun, terutama setelah mengetahui bahwa ibunya mungkin telah menyelidiki sesuatu jauh sebelum dirinya cukup besar untuk memahami apa pun.
Rumah neneknya terasa lebih sunyi dibandingkan rumah Ama Ezra, apalagi letaknya di ujung desa. Setelah masuk, Nara langsung menuju bagian belakang dan berhenti di depan sebuah pintu kayu yang selama sebelas tahun tidak pernah dibuka. Kamar Sarai masih terkunci rapat seperti ketika Nara meninggalkan desa dulu.
Ia mencoba memutar gagangnya, tetapi pintu itu tidak bergerak. Setelah mencari sesuatu yang bisa digunakan, Nara menemukan potongan besi tipis di dekat gudang dan menggunakannya untuk mencongkel pengunci yang sudah tua. Beberapa kali ia mencoba sebelum akhirnya terdengar bunyi patahan kecil dan pintu terbuka dengan suara berderit panjang.
Udara pengap bercampur aroma kayu tua langsung menyergap keluar dari kamar. Debu menutupi meja, lemari, dan beberapa benda yang masih tersimpan di tempatnya, sementara tirai lama menggantung di jendela dan membiarkan cahaya matahari masuk melalui celah kain. Nara berdiri beberapa saat di ambang pintu sebelum melangkah masuk.
Ruangan itu masih menyimpan banyak bagian dari masa kecilnya, tetapi sebagian besar kenangan tentang kamar tersebut sudah samar. Ia hanya mengingat tempat tidur kayu di sisi kiri, meja tulis Sarai yang menghadap jendela, serta lemari pakaian yang selalu tertutup rapat.
Nara mulai memeriksa ruangan itu dengan teliti. Ia membuka laci meja, melihat bagian belakang lemari, memeriksa rak dan bawah tempat tidur, tetapi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Sampai akhirnya ia melihat sebuah kotak kayu kecil yang terselip di bawah tampat tidur.
Ketika ditarik keluar, kotak itu ternyata berisi beberapa barang miliknya ketika masih kecil, seperti gelang plastik yang warnanya sudah pudar, beberapa kelereng, sebuah boneka kecil, dan pianika putih yang permukaannya telah menguning karena usia.
Nara mengangkat pianika tersebut dan tersenyum tipis ketika mengingatnya. Sarai membelikannya ketika Nara masih kecil setelah ia terus meminta alat musik seperti yang dimainkan beberapa anak di sekolah. Nara tidak pernah benar-benar bisa memainkan lagu dengan baik, tetapi ia selalu membawa pianika itu ke mana-mana.
Ia kemudian mengguncangnya perlahan dan mendengar sesuatu bergerak di dalamnya. Karena penasaran, Nara memeriksa bagian belakang dan menemukan beberapa sekrup kecil yang bentuknya berbeda dari bagian lainnya.
Dengan menggunakan benda tipis yang ditemukan di atas meja, ia membuka bagian tersebut secara perlahan. Nara langsung menyadari bahwa pianika itu pernah dibongkar dan dimodifikasi. Di dalamnya terdapat ruang kecil yang sengaja dibuat sebagai tempat penyimpanan, dan pekerjaan itu begitu rapi hingga hampir tidak mungkin terlihat jika pianika tersebut hanya diperiksa sekilas. Beberapa lembar kertas yang dilipat kecil tersimpan di dalam ruang tersebut.
Nara menariknya dengan hati-hati.
Ia langsung mengenali tulisan tangan Sarai.
Pada halaman pertama terdapat tanggal yang membuatnya mengernyit. Tahun itu jauh sebelum Nara berusia empat belas tahun. Beberapa catatan bahkan dibuat ketika Nara masih sangat kecil, dan sebagian lainnya mungkin ditulis sebelum ia lahir. Sarai tampaknya sudah melakukan penyelidikan itu jauh lebih lama daripada yang pernah dibayangkan Nara.
Pertemuan malam ini kembali dipindahkan. Mereka tidak ingin aku terus mencari nama-nama itu.
Di bawah tulisan tersebut terdapat daftar nama yang memenuhi hampir seluruh halaman. Nara membalik halaman berikutnya dan menemukan lebih banyak nama, lalu halaman berikutnya lagi. Jumlahnya terus bertambah sampai ia menyadari bahwa catatan itu bukan sekadar daftar pendek. Ada ratusan nama yang ditulis Sarai selama bertahun-tahun.
Beberapa nama diberi tanggal, sebagian dicoret dengan tinta hitam, sementara yang lainnya memiliki catatan kecil di sampingnya seperti tidak kembali, rumah ditinggalkan, keluarga mengatakan pergi, atau tidak ada yang tahu ke mana.
Nara mengenali beberapa nama dari cerita lama yang pernah ia dengar di desa, tetapi sebagian besar tidak dikenalnya sama sekali. Di antara daftar itu terdapat nama-nama teman Sarai, tetangga lama, kenalan keluarga, bahkan orang-orang yang kemungkinan telah menghilang ketika Nara masih bayi atau bahkan sebelum ia lahir.
Nara membaca lebih teliti ketika menemukan catatan Sarai di bagian atas halaman berikutnya.
NAMA-NAMA YANG HILANG
Di bawah judul itu tertulis:
Aku sudah mencatat mereka selama bertahun-tahun. Jumlahnya terus bertambah.
Nara melanjutkan membaca. Sarai menulis bahwa sebagian orang menganggap mereka pergi meninggalkan desa, sementara keluarga mereka memilih percaya bahwa mereka telah meninggal di tempat lain. Namun tidak pernah ada bukti yang benar-benar menjelaskan ke mana mereka pergi. Sarai kemudian menuliskan beberapa nama yang memiliki hubungan dengannya, termasuk teman-teman lama yang pernah sering ia sebut kepada Nara ketika masih kecil.
Nara berhenti pada salah satu nama yang terasa familiar. Ia tidak pernah mengenal orang itu secara langsung karena ketika orang tersebut menghilang, Nara masih terlalu kecil. Ia hanya pernah mendengar nama itu dari Sarai, bertahun-tahun lalu, ketika ibunya bercerita tentang teman masa mudanya.
Nara membalik halaman lagi.
Mereka tidak pergi satu per satu. Ada pola.
Tulisan di bawahnya tampak lebih tergesa-gesa.
Mereka hilang dari tempat yang berbeda, pada tahun yang berbeda, tetapi semuanya memiliki hubungan dengan desa ini.
Nara mengerutkan dahi. Ia membaca kalimat tersebut berulang kali sebelum melanjutkan ke halaman berikutnya. Kali ini hanya terdapat beberapa baris, tetapi tulisan Sarai tampak jauh lebih berat dan tidak serapi halaman sebelumnya.
Aku sudah melihat mereka. Bukan satu atau dua. Terlalu banyak.
Di bagian paling bawah terdapat satu kata yang ditulis lebih besar.
Ratusan.
Nara menatap kata itu cukup lama. Ingatannya kemudian kembali pada sosok perempuan yang berdiri di tepi laut malam sebelumnya dan bayangan-bayangan hitam yang memenuhi garis air di belakangnya. Saat itu ia tidak tahu siapa mereka, tetapi sekarang daftar panjang di tangannya membuat sebuah kemungkinan mengerikan muncul di pikirannya. Bagaimana jika setiap bayangan yang dilihatnya memiliki nama, dan sebagian besar nama tersebut sudah dicatat Sarai di kamar ini?
Nara membuka halaman terakhir. Tulisan Sarai di sana terlihat sangat terburu-buru, beberapa bagian bahkan seperti ditulis tanpa sempat memikirkan bentuk hurufnya.
Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan percaya kalau mereka mengatakan aku pergi.
Di bawahnya terdapat kalimat lain.
Cari nama-nama ini. Cari keluarga mereka. Jangan biarkan mereka dilupakan.
Tidak ada tulisan setelah itu.Nara duduk lama di lantai kamar Sarai sambil memandangi tump
ukan kertas di tangannya. Selama sebelas tahun, ia mengira hilangnya ibunya adalah satu-satunya misteri yang harus ia pahami. Sekarang ia mengetahui bahwa Sarai telah mencari orang-orang yang menghilang jauh sebelum dirinya cukup besar untuk memahami apa yang sedang terjadi.
Beberapa mungkin hilang ketika Nara masih bayi, bahkan sebelum ia lahir, dan sebagian lainnya adalah teman-teman Sarai yang namanya pernah ia dengar tanpa pernah mengetahui alasan mereka tidak lagi ada di desa.
Nara melipat kembali catatan tersebut dengan hati-hati dan menyimpannya ke dalam tas. Sebelum meninggalkan kamar, ia menatap meja tempat Sarai dulu sering menulis, lalu kembali memandang pintu yang selama sebelas tahun tidak pernah dibuka.
Sekarang ia memiliki ratusan nama.
Dan untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Sarai, Nara harus mencari tahu terlebih dahulu siapa mereka, kapan mereka menghilang, serta mengapa begitu banyak keluarga di Desa Pesisir kehilangan seseorang tanpa pernah mendapatkan jawaban.














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!