BAB 7 — NAMA-NAMA YANG HILANG

0 dibaca

A

BAB 7 — NAMA-NAMA YANG HILANG

Nara tidak menceritakan temuannya kepada siapa pun di rumah Ama Ezra. Paman dan bibinya tidak tahu bahwa ia telah menyelinap ke kamar Sarai dan menemukan ratusan nama warga Desa Pesisir yang lenyap. Catatan itu ia simpan rapat-rapat di tempat yang aman. Ia belum tahu siapa yang bisa dipercaya. Bagi Nara, saat ini menjaga rahasia adalah pilihan terbaik.

Sejak kembali dari rumah neneknya, Nara merasa sikap Ama Ezra sedikit berubah. Pamannya memang masih baik, selalu menanyakan apakah ia sudah makan, dan mengingatkannya agar tidak pergi terlalu jauh sendirian.

Namun, ada kalanya tatapan Ama Ezra tertuju lama pada Nara, seolah sedang mencari sesuatu di wajah keponakannya. Beberapa kali ia juga menanyakan aktivitas Nara sepanjang hari dengan nada santai, tetapi sangat mendetail. Hal itu membuat Nara curiga.

Awalnya Nara menganggap itu hanya bentuk kepedulian. Ama Ezra sudah lama tidak tinggal bersamanya, jadi wajar jika sang paman ingin memastikan ia bisa beradaptasi setelah sebelas tahun pergi. Namun, sejak menemukan catatan Sarai, Nara mulai peka terhadap kejanggalan kecil di sekitarnya.

Ia belum memiliki alasan untuk mencurigai Ama Ezra, tetapi ia tidak bisa mengabaikan rasa cemas yang muncul setiap kali pamannya bertanya tentang rumah neneknya.

Karena itulah, pagi ini Nara mengajak Zabdiel bertemu di pelabuhan terlantar di sisi timur desa. Tempat itu sudah lama ditinggalkan sejak dermaganya hancur diterjang badai. Tiang-tiang kayunya mulai lapuk, gudang kecil di dekatnya kehilangan sebagian atap, dan perahu-perahu tua dibiarkan terikat di antara tiang yang berkarat. Lokasinya cukup jauh dari permukiman, sehingga aman dari kuping orang lain.

Zabdiel datang membawa dua botol air dan menemukan Nara sedang duduk di ujung dermaga sambil memeriksa buku catatan kecil. Ia menyerahkan salah satu botol itu sebelum duduk di sampingnya.

“Kau terdengar serius sekali di pesan,” katanya sambil membuka tutup botol. “Ada apa? Jangan bilang kau menemukan sesuatu yang aneh lagi.”

Nara menoleh sekilas. “Kali ini aku menemukan sesuatu yang mungkin menjelaskan alasan begitu banyak orang menghilang dari desa ini.”

Zabdiel segera meletakkan botolnya. “Menarik. Memangnya apa yang kau temukan?”

Nara memastikan situasi sekitar aman sebelum mengeluarkan salinan catatan Sarai. Ia sengaja meninggalkan buku asli demi keamanan. Namun, deretan nama yang tertulis di atas kertas itu sudah cukup untuk menunjukkan betapa luasnya penyelidikan yang dilakukan ibunya.

“Aku menemukan daftar orang-orang yang menghilang,” jelasnya. “Bukan hanya puluhan, Zabdiel. Ada ratusan nama. Ibu mencatat mereka selama bertahun-tahun, termasuk orang-orang yang mungkin menghilang sebelum aku lahir.”

Zabdiel membaca beberapa nama dengan dahi berkerut. Ia mengenali sebagian nama dari cerita orang tuanya saat ia kecil, tetapi banyak nama lain yang sama sekali asing baginya. “Aku tahu beberapa keluarga kehilangan anggota mereka, tetapi aku tidak pernah menyangka jumlahnya sebanyak ini. Sebagian rumah bahkan sudah kosong sejak aku kecil.”

“Itulah yang ingin kutelusuri. Ibu tidak hanya menulis nama. Ada tanggal, nama keluarga, dan keterangan singkat tentang orang-orang yang tidak pernah kembali. Beberapa nama juga dikelompokkan bersama, meskipun mereka menghilang pada tahun yang berbeda.”

Zabdiel mengamati catatan tersebut sekali lagi. “Kau pikir ada hubungan di antara mereka?”

“Aku belum tahu. Tapi kalau Ibu menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencatat semuanya, pasti ada sesuatu yang membuatnya yakin bahwa kehilangan mereka saling berkaitan.”

Nara menyimpan kembali salinan tersebut. Ia tidak ingin langsung menarik kesimpulan hanya berdasarkan catatan lama. Mereka harus mencari tahu siapa orang-orang itu, kapan mereka terakhir terlihat, dan apakah keluarga mereka masih mengingat kejadian sebelum kepergian tersebut. Untuk itu, Nara memilih memulai dari percakapan biasa, bukan mendatangi warga dan langsung menanyakan anggota keluarga yang hilang.

Mereka mendatangi rumah Ina Marta terlebih dahulu. Perempuan tua itu sedang memilah ikan di teras ketika Nara dan Zabdiel datang. Nara menyapanya, kemudian menawarkan bantuan memindahkan keranjang ikan yang terlalu berat. Setelah pekerjaan selesai, ia ikut duduk di teras dan mulai membicarakan persiapan pernikahan salah satu warga yang sedang ramai dibicarakan. Percakapan mengalir santai, sesekali diselingi keluhan Ina Marta tentang harga ikan dan anak-anak muda yang sekarang lebih suka membeli hasil tangkapan daripada ikut melaut.

Nara tidak terburu-buru mengarahkan pembicaraan. Ia membiarkan perempuan itu bercerita tentang keluarganya sendiri sampai Ina Marta akhirnya menyebut seorang adik perempuan yang tidak pernah kembali.

“Dulu keluarga kami lebih besar,” kata Ina Marta sambil merapikan ikan ke dalam wadah. “Adikku menghilang ketika aku masih muda. Awalnya kami mengira dia pergi merantau, tetapi barang-barangnya masih ada di rumah. Dia tidak pernah berpamitan kepada siapa pun.”

“Tidak ada kabar sama sekali setelah itu?” tanya Nara dengan nada prihatin.

“Tidak ada. Keluarga kami mencari ke beberapa desa, tetapi tidak menemukan apa-apa. Waktu itu ada orang yang bilang adikku mungkin menumpang perahu ke pulau lain. Lama-lama semua orang menerima cerita itu, meskipun tidak pernah ada yang bisa memastikan kebenarannya.

Nara membiarkan Ina Marta melanjutkan ceritanya. Dari percakapan itu, ia mengetahui bahwa adik perempuan tersebut bukan satu-satunya anggota keluarga yang menghilang. Seorang sepupu Ina Marta juga tidak pernah kembali setelah mengunjungi kerabat di desa sebelah. Kejadiannya berlangsung beberapa tahun lebih awal, tetapi keluarga mereka menerima penjelasan yang hampir sama: orang itu dianggap pergi atas kemauannya sendiri.

Sebelum berpamitan, Nara bertanya apakah keluarga Ina Marta pernah mengikuti pertemuan khusus yang diadakan pada malam hari. Pertanyaan itu disampaikan sambil lalu, seolah ia hanya ingin mengetahui kebiasaan masyarakat pada masa lalu.

Ina Marta terdiam sebentar sebelum menjawab bahwa dahulu memang ada pertemuan tertentu yang hanya dihadiri beberapa orang. Ia sendiri tidak pernah ikut dan tidak mengetahui apa yang dibicarakan. Setelah mengucapkan terima kasih, Nara meninggalkan rumah itu bersama Zabdiel tanpa mendesaknya lebih jauh.

“Dia tidak tahu banyak,” kata Zabdiel ketika mereka berjalan menjauhi rumah tersebut.

“Atau dia hanya tahu bagian yang boleh diceritakannya,” jawab Nara. “Yang menarik, dia tidak menyangkal bahwa pertemuan itu pernah ada. Dia hanya memastikan dirinya tidak pernah terlibat.”

Mereka melanjutkan penyelidikan ke rumah Ama Yohan, seorang nelayan tua yang tinggal dekat gudang perahu. Nara kembali memulai percakapan dari hal sederhana, menanyakan hasil tangkapan dan cuaca yang belakangan sulit diprediksi.

Zabdiel ikut membantu memperbaiki simpul jaring yang terlepas, sehingga Ama Yohan tidak merasa sedang dimintai keterangan. Setelah beberapa lama, lelaki tua itu mulai bercerita tentang masa mudanya, termasuk seorang kakak laki-laki yang menghilang ketika ia masih remaja.

Menurut Ama Yohan, kakaknya terakhir kali terlihat setelah meninggalkan rumah pada suatu malam. Keluarga mereka sempat mencari ke pantai dan bertanya kepada para nelayan, tetapi tidak ada yang mengaku melihat ke mana ia pergi.

Beberapa hari kemudian, seorang warga mengatakan bahwa kakaknya mungkin telah menumpang perahu menuju pulau lain. Tidak ada bukti yang mendukung kabar itu, tetapi cerita tersebut akhirnya diterima sebagai penjelasan yang paling masuk akal. Mungkin saja kakaknya kecewa karena tidak direstui dengan gadis impiannya.

“Apakah kakakmu sering pergi malam-malam?” tanya Nara sambil membantu menggulung bagian jaring yang sudah selesai diperbaiki.

Ama Yohan mengangguk. “Beberapa kali. Dia bilang ada urusan yang harus diselesaikan, tetapi tidak pernah menjelaskan urusan apa. Aku masih muda waktu itu, jadi tidak banyak bertanya.”

“Apakah keluarga kalian tahu siapa yang ditemuinya?”

Lelaki tua itu menggeleng. “Ayahku mungkin tahu, tetapi dia tidak pernah mau menjelaskan. Setelah kakakku hilang, ayah justru melarang kami bertanya kepada orang lain. Katanya, tidak ada gunanya mengungkit sesuatu yang sudah berlalu.”

Nara menangkap perubahan kecil pada wajahnya ketika pembicaraan menyentuh larangan tersebut. Ia tidak mendesak Ama Yohan lebih jauh, tetapi sebelum mereka pergi, ia sempat mengetahui bahwa ada beberapa lelaki dari keluarga berbeda yang dahulu melakukan hal serupa. Sebagian pergi pada malam hari tanpa menjelaskan tujuannya, dan beberapa di antaranya kemudian menghilang.

Ketika kembali ke jalan utama, Nara mencatat informasi tersebut. Dua keluarga berbeda kehilangan anggota mereka pada masa yang berbeda, tetapi keduanya memiliki cerita tentang pertemuan malam dan larangan untuk membicarakan kejadian itu. Ia belum bisa memastikan bahwa semua kehilangan tersebut berhubungan, tetapi kesamaan itu terlalu penting untuk diabaikan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk