BAB 8 — MASA LALU YANG DIKUBUR

0 dibaca

A

BAB 8 — MASA LALU YANG DIKUBUR

Mereka kemudian mengunjungi Ina Lina, seorang perempuan paruh baya yang tinggal bersama putrinya tidak jauh dari balai desa. Nama Lina juga tercantum dalam catatan Sarai, disertai keterangan tentang seorang kerabat yang menghilang bertahun-tahun lalu. Nara memulai percakapan dengan menanyakan persiapan pernikahan yang sedang dikerjakan para tetangga, kemudian membiarkan Ina Lina bercerita tentang keluarganya sampai ia menyebut kakak perempuannya yang tidak pernah pulang.

“Kakakku dulu pandai menjahit,” kata Ina Lina sambil melipat kain di pangkuannya. “Dia sering membantu membuat pakaian untuk acara desa. Suatu hari dia pergi untuk bertemu seseorang, tetapi tidak pernah kembali.”

“Apakah keluargamu tahu siapa yang ditemuinya?” tanya Nara.

“Ayahku tahu, tetapi dia tidak pernah menjelaskan. Setelah kakakku menghilang, ayah melarang kami membicarakannya dengan orang lain. Katanya, lebih baik kami melupakan semuanya daripada terus mencari sesuatu yang tidak akan kami temukan.”

Nara tidak melewatkan cara perempuan itu menundukkan kepala ketika mengucapkan kalimat terakhir. Ina Lina tampak telah menerima larangan tersebut selama bertahun-tahun, meskipun kehilangan kakaknya masih meninggalkan kesedihan yang belum sepenuhnya hilang. Nara mengalihkan pembicaraan ke hal lain dan membiarkan suasana kembali santai sebelum berpamitan.

Dalam perjalanan kembali ke pelabuhan terlantar, mereka membandingkan ketiga cerita yang telah didengar. Orang-orang yang hilang berasal dari keluarga berbeda dan menghilang pada tahun yang tidak sama, tetapi ada pola yang mulai terlihat.

Beberapa di antara mereka pernah pergi pada malam hari untuk menemui seseorang, sementara keluarga yang ditinggalkan menerima penjelasan tanpa bukti bahwa mereka telah pergi sendiri. Dalam beberapa kasus, keluarga bahkan dilarang membicarakan kehilangan tersebut.

“Kalau semua cerita ini benar, berarti ada orang yang mengetahui sesuatu tentang kepergian mereka,” kata Zabdiel ketika mereka kembali duduk di dermaga.

Nara mengangguk sambil memeriksa catatannya. “Mungkin lebih dari satu orang. Tapi kita belum tahu apakah mereka semua mengikuti pertemuan yang sama, atau apakah ada sesuatu yang terjadi setelah pertemuan itu.”

Ia membuka salinan catatan Sarai dan membandingkan nama-nama yang mereka temukan dengan daftar panjang tersebut. Beberapa nama memang tercantum di sana, dan sebagian diberi tanggal yang mendekati waktu hilangnya orang tersebut. Ia juga menemukan keluarga yang kehilangan lebih dari satu anggota dalam rentang waktu berbeda. Pola itu tidak membuktikan adanya hubungan langsung, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa Sarai sedang berusaha memahami sesuatu yang jauh lebih luas daripada satu kejadian.

“Kita harus mencari orang yang masih mengingat pertemuan itu,” kata Nara. “Bukan hanya keluarga yang kehilangan seseorang, tetapi juga orang-orang yang mungkin pernah melihat siapa saja yang datang.”

Zabdiel mengangguk. “Kita harus hati-hati. Kalau terlalu banyak bertanya, kabarnya bisa menyebar.”

“Itulah sebabnya kita tidak bertanya langsung. Kita terus berbicara seperti hari ini. Orang biasanya lebih mudah bercerita kalau mereka tidak merasa sedang diinterogasi.”

Mereka menyimpan catatan dan meninggalkan pelabuhan ketika matahari mulai condong ke barat. Nara belum mendapatkan jawaban tentang apa yang sebenarnya terjadi pada orang-orang dalam daftar Sarai, tetapi sekarang ia memiliki beberapa petunjuk yang bisa ditelusuri lebih jauh.

Ia juga semakin yakin bahwa ibunya tidak sekadar mengumpulkan nama. Sarai sedang mencari pola yang menghubungkan keluarga-keluarga tersebut, dan mungkin pertemuan malam yang disebut beberapa warga merupakan bagian penting dari penyelidikan itu.

Ketika Nara tiba di rumah Ama Ezra, pamannya sedang duduk di teras dengan sebuah buku catatan terbuka di pangkuan. Ia segera menutup buku itu begitu melihat Nara datang, lalu meletakkannya di meja kecil di samping kursi. Gerakan tersebut sangat cepat, tetapi Nara sempat melihat bahwa halaman yang terbuka berisi beberapa tanggal dan deretan tulisan tangan yang tidak bisa dibacanya dari kejauhan.

“Kalian dari mana?” tanya Ama Ezra.

“Kami berjalan sebentar Paman, mengobrol dengan para tetangga,” jawab Nara sambil meletakkan tasnya di dekat pintu. “Aku kan sudah lama tidak di sini.”

“Begitu.” Ama Ezra menyandarkan punggungnya pada kursi, tetapi tatapannya tidak beralih dari wajah Nara. “Aku dengar kalian belakangan sering bersama. Bagus kalau kau punya teman untuk menemanimu selama masih menyesuaikan diri dengan desa ini. Tapi sebaiknya kau tidak terlalu sibuk mengurus urusan orang lain.”

Nara berhenti melepas jaketnya. “Maksud Paman?”

“Tidak ada maksud tertentu.” Ama Ezra tersenyum tipis, lalu mengambil kembali buku catatan dari meja. “Desa ini punya banyak cerita lama. Tidak semuanya perlu dicari tahu, apalagi kalau cerita itu hanya akan membuatmu memikirkan hal-hal yang tidak bisa kau ubah.”

Kalimat itu terdengar seperti nasihat seorang paman, tetapi Nara tidak mengerti mengapa Ama Ezra mengatakannya sekarang. Ia tidak pernah menceritakan penyelidikannya kepada siapa pun di rumah, bahkan tidak menyebutkan bahwa ia dan Zabdiel sedang mengunjungi keluarga-keluarga yang kehilangan anggota mereka. Namun, pamannya berbicara seolah mengetahui bahwa Nara sedang mencari sesuatu.

“Aku hanya ingin mengenal desa ini lagi,” jawab Nara dengan tenang.

“Tentu.” Ama Ezra menepuk buku catatannya. “Kalau begitu, nikmati waktumu di sini. Jangan sampai rasa ingin tahumu membuatmu lupa bahwa tidak semua orang senang masa lalunya diungkit kembali.”

Ia berdiri dan masuk ke rumah sebelum Nara sempat bertanya lebih jauh. Nara tetap berada di teras, menatap pintu yang baru saja ditutup pamannya. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Ama Ezra mungkin hanya mendengar kabar dari warga, atau sekadar mengingatkan karena tahu Nara sedang berusaha mencari tahu tentang Sarai. Namun, tidak satu pun penjelasan itu benar-benar membuatnya tenang.

“Ayo makan, aku sudah kelaparan,” ajak Zabdiel. Ia langsung berjalan menuju dapur.

Nara hanya mengangguk mengiyakan.

Malamnya, Nara menunggu sampai rumah sepi sebelum mengeluarkan salinan catatan Sarai dari tempat persembunyiannya. Ia memeriksa kembali nama-nama yang telah mereka telusuri dan menambahkan keterangan baru tentang keluarga Ina Marta, Ama Yohan, serta Ina Lina.

Setelah itu, ia berhenti pada halaman yang berisi catatan tentang pertemuan rahasia. Tulisan Sarai masih sama seperti sebelumnya, tetapi kini Nara mulai memahami bahwa orang-orang yang menghilang bukan satu-satunya bagian dari misteri tersebut. Ada orang-orang yang tetap tinggal di desa, mengetahui sebagian cerita, lalu memilih untuk bungkam.

Nara belum memiliki bukti bahwa Ama Ezra termasuk di antara mereka. Ia juga belum tahu apakah pamannya pernah terlibat dalam pertemuan yang dicatat Sarai. Namun, percakapan sore tadi membuatnya memutuskan untuk tidak lagi membawa penyelidikan itu ke rumah Ama Ezra.

Mulai sekarang, ia akan menyimpan temuannya sendiri, terus mencari nama-nama yang hilang bersama Zabdiel, dan memperhatikan setiap petunjuk yang muncul tanpa membiarkan siapa pun mengetahui sejauh mana ia telah melangkah

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk