Bab 3: Hutang Budi dan Puding Karamel
Bau antiseptik yang tajam adalah hal pertama yang menyapa hidungku saat kesadaran ini kembali.
Aku membuka mata. Langit-langit putih yang familiar. Ranjang berderit. Ini bukan kamarku di asrama commoner. Ini ruang UKS Akademi Gotyevsk.
Aku mengedipkan mata kananku. Awalnya semua terlihat kabur, seperti lensa kamera yang sedang berusaha mencari fokus. Tetapi perlahan, bayangan-bayangan di sekitarku mulai kembali tajam.
Booting ulang selesai. Tepat sepuluh menit.
“Ah! Dia bangun!”
Suara nyaring itu langsung menusuk telingaku. Kira Volkov. Wajahnya yang penuh noda oli tiba-tiba muncul di atas wajahku, matanya berbinar dengan rasa ingin tahu yang berlebihan.
“Kau membuat kami khawatir, Victor! Tiba-tiba pingsan begitu saja. Apakah kau anemia? Kurang tidur? Atau jangan-jangan kau punya penyakit langka?”
“Aku hanya... kurang tidur,” gumamku, sengaja membuat suaraku terdengar serak dan lemah. Aku mencoba duduk, tapi Dima, yang sedari tadi berdiri di sudut ruangan seperti patung penjaga, langsung melangkah maju dan menahan bahuku.
“Jangan dipaksakan,” suaranya berat dan tenang. “Wajahmu terlihat sangat pucat.”
“Terima kasih, Dima. Tapi aku baik-baik saja, sungguh.” Aku tersenyum tipis, memainkan peran sebagai siswa beasiswa yang lemah dan tidak berdaya. “Maaf sudah merepotkan kalian.”
Kira menyilangkan tangannya, menatapku dengan tatapan yang membuat bulu kudukku berdiri. Dia terlalu observatif. Jika dia mulai bertanya kenapa aku tiba-tiba membuka ruangan klubnya, aku akan kesulitan untuk mencari alasan.
Untungnya, pintu UKS terbuka sebelum dia sempat bertanya.
“V-Victor?”
Suara kecil dan ragu-ragu itu. Lilia Fernweh berdiri di ambang pintu, kedua tangannya meremas ujung rok seragamnya. Wajahnya tampak sangat cemas.
“Lilia?”
“K-Kira bilang kau pingsan,” kata Lilia, melangkah masuk dengan ragu. Dia berhenti di samping ranjangku, lalu dengan gerakan cepat, dia menyodorkan sebuah wadah plastik kecil ke arahku. “Ini... untukmu.”
Aku menatap wadah itu. Di dalamnya, terdapat puding karamel dengan lapisan karamel cair yang sempurna di dasarnya. Puding premium dari kantin khusus bangsawan.
“Untukku?” tanyaku, alis terangkat.
“Sebagai... ucapan terima kasih,” Lilia menunduk, pipinya memerah. “Karena kemarin di kelas. Dan... karena kau selalu terlihat lelah. Gula bagus untuk energi, kan?”
Aku menatap puding itu, lalu menatap Lilia. Gadis ini polos sekali. Terlalu polos untuk dunia ini. Tapi, aku tidak punya alasan untuk menolak puding. Sel-sel tubuhku yang baru saja terbakar oleh Constitution debt benar-benar membutuhkan ini.
“Terima kasih, Lilia. Aku pastikan aku akan menikmatinya,” kataku, mengambil wadah itu.
Tanpa menunggu lama, aku langsung menyendok puding itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Rasa manis karamel dan lembutnya susu langsung menyebar di lidahku. Rasanya seperti surga. Sel-selku yang menjerit karena kelelahan perlahan mulai tenang. Aku menutup mata sejenak, menikmati momen kecil ini.
Di dalam kepalaku, suara itu bergema.
“Saraf optik kanan telah kembali online. Efisiensi penglihatan: 99%,” suara The Observer bergema, nada klinisnya datar. “Namun, asupan glukosa dari puding karamel ini meningkatkan efisiensi pemulihan seluler sebesar 12%. Subjek ini akhirnya melakukan sesuatu yang logis.”
Hei, batinku, sambil terus menyendok puding. Aku hanya makan. Jangan puji aku seolah-olah aku baru saja menyelamatkan dunia.
“Enak?” tanya Lilia, matanya berbinar melihatku makan.
“Sangat enak,” jawabku jujur. Untuk pertama kalinya di hari ini, aku tersenyum dengan tulus. “Terima kasih, Lilia. Ini sangat membantu.”
Kira menatap kami bergantian, lalu tertawa kecil. “Yah, setidaknya kau tidak mati. Kalau kau sudah sehat, kau harus datang ke ruang klub lagi! Kami punya banyak barang aneh yang bisa kau lihat!”
Tidak, batinku panik. Tolong jangan beri pekerjaan tambahan untukku. Aku hanya ingin tidur.
Tapi aku hanya bisa mengangguk lemah, sambil berharap puding ini bisa menyembuhkan kepalaku yang mulai pusing lagi.
--














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!