Bab 4: Sup Panas dan Hukum Pemantulan
Akhirnya aku diperbolehkan keluar dari UKS setelah mata kananku benar-benar pulih. Satu-satunya hal yang ada di kepalaku sekarang adalah mangkuk sup krim jamur hangat dari kantin.
Tapi dunia ini sepertinya tidak menginginkan hidup yang tenang untukku.
Kantin Akademi Gotyevsk terbagi menjadi dua zona tak kasat mata. Zona timur untuk bangsawan dengan meja kayu mahoni dan pelayan pribadi. Zona barat untuk siswa beasiswa dengan meja kayu lapis yang bergoyang saat kau menyentuhnya.
Aku dan Lilia duduk di zona barat. Lilia masih terlihat sedikit cemas, matanya terus-menerus melirik ke arah pintu masuk kantin, takut Julian dan antek-anteknya muncul lagi.
“Kau... kau benar-benar tidak apa-apa, Victor? Kemarin kamu pingsan dan wajahmu masih terlihat pucat...” tanyanya ragu, suaranya berbisik.
Aku hanya mengangguk sambil menyeruput supku.
“Rupanya tikus got bisa makan di tempat umum tanpa takut keracunan.”
Suara itu membuat sendokku berhenti di udara.
Julian von Hartmann berdiri di sana, dikelilingi oleh dua anteknya yang berpostur seperti brankas berjalan. Jubahnya bersih tanpa noda, dagunya terangkat tinggi. Dia menatapku dan Lilia seperti melihat kotoran di sepatunya.
“Julian...” Lilia menciut, tangannya mencengkeram ujung bajunya. “A-Apa yang kau mau?”
“Aku hanya ingin mengingatkan sesuatu pada kalian,” Julian melangkah maju, senyum tipis yang merendahkan terukir di wajahnya. “Kecelakaan di kelas kemarin membuatku malu di depan Instruktur Valerius. Dan aku tidak suka ada orang yang membuatku malu.”
Dia menatapku. “Kau beruntung kau hanya siswa beasiswa yang tidak berharga, Borisovich. Tapi ingat posisimu. Jika kau masih berani menatapku atau gadis ini, aku bisa memastikan beasiswamu dicabut besok pagi.”
Aku menatap mangkuk supku. Aku benci pekerjaan tambahan. Aku benci politik sekolah. Aku benci orang yang berpidato seperti penjahat kelas B.
“Maaf, Julian,” gumamku, suaraku terdengar gemetar dan lemah. Aku sengaja membuat tanganku bergetar saat memegang sendok logam besar. “Aku tidak bermaksud...”
“Kau tidak bermaksud apa? Menatapku dengan tatapan kosong itu?” Julian menyeringai. Salah satu anteknya, seorang pria berotak kecil dengan seragam yang terlalu ketat, melangkah ke depan untuk mengintimidasi.
“Tunduk dan minta maaf pada Tuan Julian, orang kampung!”
Antek itu berdiri tepat di depanku. Jaraknya kurang dari satu meter.
Aku menatap sendok logam di tanganku. Permukaannya mengkilap, memantulkan cahaya matahari yang masuk dari jendela kantin di sebelah kananku.
Aku menghitung sudutnya. Jendela di kanan. Sendok di tangan kiriku. Mata antek itu.
Hukum pemantulan cahaya. Sudut datang sama dengan sudut pantulan.
“A-Aku minta maaf,” kataku, pura-pura panik. Aku menggerakkan sendokku dengan cepat, seolah-olah ingin menunjuk lantai untuk menunjukkan rasa hormat.
Tapi ujung sendok itu menangkap sinar matahari. Sesaat, seberkas cahaya putih yang menyilaukan memantul lurus dari permukaan sendok, menembak langsung ke pupil mata antek itu.
“Argh! Mataku!” Antek itu berteriak, refleks mengedipkan mata dan menunduk tajam untuk menghindari silau.
Di saat yang sama, “kepanikan” membuat tanganku tersentak. Sendokku menghantam tepi mangkuk sup krim jamur panas.
SPLASH!
Hukum fisika bekerja dengan sempurna. Sup panas itu meluncur dalam busur yang indah, melewati bahu antek itu, dan mendarat langsung di dada dan selangkangan seragam putih mahalnya.
“GYAAAA! PANAS! PANAS! SERAGAMKU!” Antek itu melompat-lompat, mengusap-usap dadanya yang kini basah dan berbau jamur.
Kantin menjadi hening. Semua mata tertuju pada kami.
Julian mundur dua langkah, wajahnya berubah dari marah menjadi jijik. Dia menatap anteknya yang berlumuran sup, lalu menatapku yang terlihat “sangat ketakutan”.
“Kau... kau menjijikkan, Borisovich!” Julian menggeram, menutupi hidungnya dengan saputangan. “Kau bahkan tidak bisa memegang sendok dengan benar! Pergi dari hadapanku sebelum aku muntah!”
Julian berbalik dan menyeret anteknya yang masih merintih keluar dari kantin, meninggalkan jejak basah di lantai marmer.
Aku menghela napas panjang, bahu yang tadi tegang kini rileks. Aku mengambil sendok lain dari mejaku dan kembali menyeruput supku.
Di dalam kepalaku, suara itu bergema.
“Probabilitas kecelakaan acak: 0,04%,” suara The Observer bergema, nadanya datar namun ada sedikit desisan merendahkan. “Subjek ini secara sengaja memanipulasi sudut pantulan cahaya untuk memicu refleks kedip target, lalu menggunakan momentum kepanikan untuk menumpahkan cairan termal. Manipulasi lingkungan tingkat rendah, tapi efektif untuk makhluk fana yang lamban.”
Diamlah, batinku sambil lanjutkan mengunyah jamur di supku. Aku hanya ingin makan siang. Tidak perlu melakukan analisis untuk cara aku makan.
Lilia menatapku dengan mata membelalak. “V-Victor... itu... itu kecelakaan, kan?”
Aku menatapnya, memasang wajah paling polos dan tidak bersalah yang bisa kubuat. “Tentu saja, Lilia. Tanganku memang sering gemetar kalau aku gugup.”
Lilia mengangguk pelan, meski ada keraguan di matanya. “Y-Ya... tentu saja.”
Aku tersenyum tipis. Tentu saja. Dan aku juga bisa terbang kalau aku mau.
--














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!