Bab 5: Seni Bertingkah Bodoh
Tidak ada yang lebih membenci ujian mendadak selain orang yang sangat menghargai waktu tidurnya.
“Kumpulkan buku teori kalian. Hari ini, kita akan melakukan ujian praktik.”
Instruktur Valerius Thorne berdiri di depan kelas, janggutnya yang seperti sarang laba-laba bergetar saat dia berbicara. Matanya yang abu-abu dan tajam menyapu seluruh ruangan, membuat beberapa siswa bangsawan langsung duduk tegak.
“Gunakan mantra Ignis tingkat dasar untuk menyalakan lilin di depan kalian. Kalian punya waktu tiga menit.”
Aku menatap lilin kecil di mejaku. Sial. Aku benci pekerjaan tambahan.
Masalahnya sederhana: Aku tidak punya mana. Aku tidak bisa melakukan chanting atau menggerakkan mana internal seperti siswa lain. Jika aku tidak melakukan apa-apa, aku akan mendapat nilai nol, yang berarti perhatian lebih dari guru. Tapi jika aku melakukannya dengan terlalu sempurna, aku juga akan mendapat perhatian.
Aku harus berada tepat di tengah-tengah. Nilai C+. Nilai yang membosankan. Nilai yang membuat orang lupa aku ada.
Giliranku tiba. Aku melangkah ke depan, mengambil tongkat sihir standar yang disediakan sekolah. Benda itu terasa aneh di tanganku.
“Mulailah, Borisovich,” suara Valerius terdengar datar.
Aku menarik napas, kemudian memejamkan mata kananku, memfokuskan kesadaran ke mata kiri. Hanya sedikit saja. Aku tidak butuh banyak.
Di balik kelopak mata, pupil kiriku berdenyut pelan. Pola roda gigi alien yang saling mengunci terbentuk, berputar dengan kecepatan sangat lambat.
[Fitur Diaktifkan: Mata Kiri - Mode Roda Gigi]
Aku tidak menyalakan api. Aku hanya mengubah suhu udara tepat di atas sumbu lilin. Meningkatkan gesekan molekul udara di titik mikroskopis itu.
Panas. Sedikit lagi. Jangan terlalu besar.
Sumbu lilin itu akhirnya menyala, menghasilkan api kecil yang goyah dan berwarna oranye pucat. Persis seperti yang diharapkan siswa tahun pertama yang kurang berbakat.
Aku segera menonaktifkan mata kiriku, membuat pola roda gigi itu menghilang perlahan.
Rasa pusing ringan langsung menghantam kepalaku. Constitution debt untuk manipulasi hal sekecil ini memang minim, tapi tetap ada harganya. Tanganku sedikit bergetar saat meletakkan tongkat sihir. Aku merogoh saku, mengambil sebuah permen rasa lemon, dan memasukkannya ke dalam mulut.
“Selesai, Pak Instruktur,” gumamku sambil menundukkan kepala.
Valerius menatap api kecil itu, lalu menatapku. Dia tidak langsung memberikan nilai. Dia melangkah lebih dekat, tongkat kayunya mengetuk lantai dengan suara tak, tak, tak.
“Nilai: C+,” katanya.
Aku menghela napas lega dalam hati. Sempurna.
“Tapi,” Valerius menambahkan, suaranya merendah hingga hanya aku yang bisa mendengar. “Nilai teorimu sempurna, Borisovich. Kau hafal setiap koefisien aliran mana. Tapi praktikmu... terasa seperti akting.”
Jantungku berdetak satu kali lebih cepat.
“Kau tidak menggerakkan manamu, Borisovich. Kau hanya... memaksa lilin itu menyala. Seperti kau sedang berdebat dengan lilin itu, dan kau menang.”
Dia bisa melihatnya? Tidak, dia hanya curiga. Dia tidak tahu.
Aku mengangkat kepala, memasang wajah paling polos dan bingung yang bisa kubuat. “Maaf, Pak. Saya... saya gugup. Tangan saya gemetar, jadi saya sulit memfokuskan mana saya.”
Valerius menatapku lama. Matanya yang tajam seolah mencoba mengupas kepalaku untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Sebagai mantan petualang Rank A dengan spesialisasi Divination, dia terbiasa mendeteksi kebohongan.
“Gugup,” ulangnya pelan. “Baiklah. Jika itu yang kau katakan. Kembali ke tempat dudukmu.”
Aku berjalan kembali ke mejaku dengan langkah yang sengaja kubuat agak terseret.
Di dalam kepalaku, suara itu bergema.
“Analisis subjek: Instruktur Valerius Thorne. Tingkat kecurigaan: 78%. Saran: Tingkatkan kualitas akting. Manipulasi molekuler tingkat mikro tetap meninggalkan jejak termal yang tidak konsisten dengan sirkulasi mana konvensional,” suara The Observer bergema, nadanya klinis tapi ada desisan arogan yang jelas. “Makhluk fana ini lebih observatif daripada rata-rata. Mengganggu.”
Diamlah, batinku sambil mengunyah permen di dalam mulut ini dengan kesal. Aku sudah mendapat C+. Itu tujuan utamanya. Jangan kritik aktingku.
Aku menatap Valerius dari kejauhan. Dia sudah berpaling ke siswa lain, tapi aku bisa melihat tangannya yang memegang buku catatan sedikit lebih erat dari biasanya.
Dia tidak percaya padaku. Dan itu berarti aku harus lebih berhati-hati lagi.
--














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!