Bab 6 - Malam di Perpustakaan

0 dibaca

A

Bab 6: Malam di Perpustakaan

Malam itu, aku berbaring di tempat tidur asrama yang keras, menatap langit-langit yang gelap. Tubuhku masih terasa pegal karena efek samping manipulasi molekuler tadi siang.

Baru saja aku memejamkan mata, tiba-tiba suara The Observer bergema di kepalaku. Bukan dengan nada laporan seperti biasanya. Nadanya sedikit lebih... tajam.

“Peringatan. Terdeteksi fluktuasi anomali dari Sektor Utara-Benua,” suara The Observer bergema, dingin dan klinis seperti biasa. “Sinyal resonansi terputus secara tiba-tiba. Pola kehancuran tidak konsisten dengan protokol netralisasi standar. Estimasi dampak: Percepatan jadwal fase satu sebesar empat bulan.”

Jantungku berdetak satu kali lebih keras. Aku langsung duduk di tempat tidur, napasku tercekat.

Empat bulan? Sialan.

Aku mengertakkan gigi, menatap kegelapan dengan frustrasi. Mereka lagi. Mereka selalu merusak segalanya. Bodoh, ceroboh, dan tidak pernah tahu apa yang mereka lakukan.

Aku tidak bisa tidur. Otakku berputar, memikirkan peta benua, memikirkan tempat itu, dan memikirkan berapa banyak waktu yang tersisa sebelum merek menemukanku.

Aku butuh informasi. Aku butuh akses ke perpustakaan.

--

Diam-diam masuk ke perpustakaan umum Akademi Gotyevsk pada tengah malam seharusnya menjadi pelanggaran tingkat berat. Tapi bagiku, ini hanyalah pekerjaan tambahan yang sangat tidak aku sukai.

Aku berdiri di depan pintu kayu oak perpustakaan, menguap pelan. Aku benci begadang. Tidur delapan jam adalah hak asasi manusia yang dirampas dariku oleh dunia ini.

Tapi aku tidak punya pilihan. Aku butuh informasi tentang “Fasilitas Ocularis”. Dan yang lebih penting lagi, aku perlu mencari tahu apakah ada Keturunan Hero Party bodoh lain di benua ini yang baru saja menghancurkan artefak dengan cara yang salah, sehingga mempercepat jadwal kiamat.

Aku menatap engsel pintu yang berkarat. Jika aku membukanya secara normal, suaranya akan membangunkan satu asrama.

Aku merogoh saku, mengambil permen peppermint, dan memasukkannya ke dalam mulut. Rasa mint yang tajam langsung menyegarkan otakku yang mengantuk.

Di balik kacamata tebalku, aku memejamkan mata kananku. Memfokuskan sedikit kesadaranku ke mata kiri.

Pupil kiriku berdenyut pelan, berubah menjadi pola roda gigi alien yang saling mengunci.

[Fitur Diaktifkan: Mata Kiri - Mode Roda Gigi]

Aku menyentuh engsel pintu. Aku tidak menghancurkannya. Aku hanya memanipulasi koefisien gesekan di antara logam-logam mikroskopis di dalam engsel itu, membuatnya sedikit licin.

Aku mendorong pintu dan berhasil membukanya tanpa suara, pintu itu meluncur dengan mulus seperti peselancar yang sedang berdansa di atas es.

Aku segera menonaktifkan mata kiriku. Rasa pusing ringan menghantam kepalaku. Constitution debt untuk trik sekecil ini memang hampir nol, tapi tetap saja, tubuhku membenci ini setiap kali aku memaksanya bekerja di luar jam biologis.

Aku menyusup ke dalam lorong perpustakaan yang gelap. Bau kertas tua dan debu menyambutku. Aku menyalakan senter kecil yang kubeli dari toko alat tulis, menutupi ujungnya dengan jubahku agar cahayanya tidak bocor.

Aku berjalan menuju bagian arsip sejarah kuno. Jari-jariku menelusuri punggung buku-buku tebal.

Fasilitas... Ocularis... Proyek Bintang...

“Aku tahu kau ada di sini,” gumamku pada diri sendiri. “Kau pasti mencatat eksperimen ilegal itu di suatu tempat.”

Tiba-tiba, mata kiriku berdenyut.

Bukan denyutan biasa seperti saat aku mengaktifkan sihir. Ini adalah denyutan yang lebih dalam, lebih tajam, dan lebih menyakitkan. Rasanya seperti ada jarum panas yang ditusukkan langsung ke saraf mataku.

Aku meringis, menutupi mata kiriku dengan tangan hingga senterku hampir saja terjatuh.

“Peringatan,” suara The Observer bergema di kepalaku. Nadanya datar, tapi ada desisan statis yang tidak biasa. “Deteksi resonansi frekuensi rendah. Sumber: 400 kilometer arah utara. Pola: Sinyal Harvest.”

Jantungku berhenti berdetak selama satu detik.

Sinyal Harvest? Di sini? Tidak, itu 400 kilometer dari sini. Mengapa mataku bereaksi?

Sebelum aku bisa memproses informasi dari The Observer, denyutan itu berubah menjadi tarikan yang kuat. Kesadaranku langsung tersentak. Dunia di sekitarku—rak-rak buku, debu, bau kertas—menghilang.

Sekarang aku berdiri di ruang putih yang hampa.

Di hadapanku, berdiri sesosok bayangan. Dia mengenakan jubah laboratorium yang robek-robek. Wajahnya tertutup oleh kegelapan, tapi aku bisa melihat matanya.

Mata kanan. Mata yang sama dengan mata kiriku.

Tapi tidak ada perban. Tidak ada kacamata tebal. Dan yang paling membuat darahku membeku: matanya tidak berubah menjadi roda gigi atau perisai. Matanya bersinar dengan cahaya biru yang stabil, sempurna, dan tenang. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada Constitution debt.

Subject 74.

Bayangan itu menatapku. Dia tidak berbicara, tapi aku bisa merasakan pikirannya merasuk ke kepalaku.

”Kau masih menggunakan cangkang yang rapuh itu, 73? Menyedihkan.”

Rasa sakit yang luar biasa meledak di kepalaku. Aku berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar. Cahaya biru dari mata Subject 74 semakin terang, menelan seluruh penglihatanku—

“Argh!”

Aku tersentak kembali ke kenyataan. Terjatuh ke lantai perpustakaan dengan napas yang tersengal-sengal. Keringat dingin membasahi punggung jubahku. Senterku sudah menggelinding ke sudut rak.

Tangan kananku gemetar saat meraba saku. Secara reflek menarik keluar cokelat batangan, membukanya dengan terburu-buru, dan langsung menggigitnya hampir separuh dalam satu gigitan. Rasa manis dan lemak cokelat langsung membanjiri otakku, meredakan kram yang mulai menyerang pelipisku.

“Analisis selesai,” suara The Observer bergema, kembali ke nada klinisnya yang menyebalkan. “Sinyal Harvest terdeteksi berasal dari fasilitas penelitian tua di wilayah utara. Kemungkinan besar: Subject 74 sedang melakukan kalibrasi. Dan kau, subjek 73, mengalami ketakutan irasional yang tidak efisien.”

Diamlah, batinku sambil tetap mengunyah cokelat dengan kesal dan berusaha untuk menormalkan napasku. Itu bukan ketakutan irasional. Itu peringatan.

Aku menatap tangan kananku yang masih gemetar. Subject 74. The Perfect Vessel. Dia tidak hanya selamat dari eksperimen itu. Dia beradaptasi. Dan sekarang, dia sedang mengumpulkan sinyal.

Jika dia menemukan cara untuk menyempurnakan materialisasi Deus Ex Machina Prime, jadwal invasi tidak akan mundur 10 tahun. Invasi ini mungkin akan terjadi dalam hitungan bulan dari sekarang.

Dan aku di sini, di perpustakaan ini, mencari buku sejarah yang mungkin bahkan tidak mencatat keberadaanku.

Aku menghela napas panjang, menelan sisa cokelat di mulutku. Rasa manis itu sedikit meredakan detak jantungku yang masih berpacu.

Baiklah. Tidak ada waktu untuk tidur. Aku harus menemukan cara untuk memutus sinyal itu sebelum para idiot Keturunan Hero Party di utara sana melakukan sesuatu yang bodoh dan memperburuk keadaan.

Aku bangkit dari lantai, merapikan jubahku, dan melanjutkan pencarian. Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang.

--

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk