ARC 0 - BAB 4

0 dibaca

A

Siang itu begitu cerah, suasana lebih hening daripada biasanya. Hanya beberapa orang, yang merupakan intel faksi daerah menyamar, berlalu lalang sekitar lapangan wilayah Akademi Orbis dan diantara area yang disisakan untuk koridor sekaligus memisahkan komplek-komplek yurt Faksi Daerah — entah untuk mengamankan wilayah faksinya sendiri atau mencari kelemahan-kelemahan faksi lainnya, tidak ada yang tahu kecuali pemimpin faksi itu sendiri.

Kianzo berjalan dengan tergesa-gesa, disertai dua pengawal dibelakangnya, dari gerbang utama benteng Akademi Orbis. Ia mengelus-ngelus kepala menuju komplek yurt Lelight.

Valerie, yang sedang duduk santai di halaman bersama seorang dayang yang mempersiapkan sarapan, melihat Kianzo yang masuk ke komplek yurt Lelight. Ia memutar gelas wine encernya dengan tenang.

“Bagaimana, anakku? Ujian akademis dan birokrasinya berjalan dengan lancar?” tanya Valerie. Ia menyender santai ke kursi sofa yang berisikan daun pakis kering empuk ekslusifnya sementara Kianzo berdiri di hadapannya.

Kianzo mendengus. “Lancar, Tuan.”

Valerie memberikan sikap mempersilahkan ke Kianzo.

“Duduklah.”

Kianzo menurut dan duduk di sofa ang berisi daun pakis itu.

“Ceritakan padaku, semuanya, anakku. Apa yang terjadi didalam sana.”

Kianzo menyenderkan diri. Jari tangannya memutar diatas meja. Menandakan dia sedang mengingat kilas balik momen bersejarah itu, setidaknya bersejarah untuk dirinya.

“Saya masuk ke dalam sebuah aula, begitu juga calon Headmaster Faksi Daerah lainnya. Setiap calon punya ruangan ujian tes sendiri yang diacak secara undian.”

Valerie mengangguk - angguk sambil menyimak narasi kilas balik ujian akademis dan birokrasi yang diujarkan oleh Kianzo.



Kianzo berdiri ditengah aula. Berjejer rapi dengan calon Headmaster dari Faksi Daerah lain. Sejauh mata memandang semua terlihat seperti manusia normal (dan ada juga yang sedikit tidak normal). Jauh dalam hati Kianzo bergumam bahwa semua manusia ini adalah jelmaan dari ras lain yang berusaha menyesuaikan diri agar tidak terlihat mengintimidasi ras manusia. Demi menuruti Pakta Kesepahaman Perwujudan dan hanya berlaku selama proses pemilihan Headmaster berlangsung. Diluar dari itu mereka bisa kembali ke wujud aslinya.

Aula itu dikelilingi tribun khusus para pembesar Faksi Daerah yang mengarah ke panggung aula dimana para anggota Majelis Pemilihan Headmaster serta petinggi Akademi Sihir Orbis - Prime Headmaster, Vice of Defense dan Vice of Student Affairs duduk disitu. Sedangkan di bagian tengah lapangan aula adalah para kandidat dengan posisi berdiri tegap — seperti tentara yang sedang menghadap jenderal atau anak-anak nakal yang sedang di sidang — menghadap panggung aula tersebut. Dengan posisi para pembesar dapat menghakimi calon kandidat faksi lain secara diam-diam di belakang tetapi mata mereka wajib tertuju pada para Headmaster.

Kepala Kianzo sedikit celingak-celinguk hanya untuk memastikan bahwa Valerie duduk di salah satu tribun.

Menurut tata pelaksanaan yang diberikan oleh Nona Custos Mikaysha, pertama adalah sambutan dari Pemimpin Majelis Pemilihan Headmaster kemudian para Headmaster sendiri — batin Kianzo

“Selamat pagi, saudara-saudara seluruh Allands. Selamat datang dalam prosesi pemilihan Headmaster Akademi Sihir Orbis angkatan ke-99!” ujar Deirdeh.

Suasana aula tersebut seketika sunyi. Aura serius terasa tipis disetiap saraf insan yang menghadiri sesi pembukaan itu. Kianzo berusaha menegakkan telinga panjangnya ditengah aura yang saling tabrak lari itu.

“Seperti biasa, saya akan menjelaskan secara singkat mengenai sejarah posisi Headmaster ini.”

“Sejak 900 tahun lalu setelah Pralaya, posisi Headmaster ditasbihkan sebagai penjaga dunia dan sistem yang menahan dewa penyebab Pralaya bernama Remanight. Tentu saja Headmaster tidak berjuang sendiri—“

Deirdeh memberi jeda, mengambil napas karena rentang napasnya yang lebih pendek dipengaruhi usia senja. Seisi ruangan aula itu masih hening menyimak.

“ —Dewa penjaga sistem yaitu Chain Throne juga membersamai para Headmaster selama ratusan tahun dalam menjaga harmoni dengan memanen energi mana empati dari HeadmasterNya maupun dari dinamika dunia ini.” ujarnya.

“…Oleh karena itu, kami semua — bahkan se-Allands — berharap, harmoni ini tetap terjalin dan terjadi selamanya. Dan semoga siapa pun kandidat yang terpilih, dapat menjalankan warisan penjaga harmoni yang luhur ini.”

Beberapa pimpinan Faksi Daerah mulai gelisah tidak sabar. Deirdeh mengetahui itu dan buru-buru memberi operan sambutan ke Litya Cedimant.

“… Terakhir, sambutan dari sang Prime Headmaster ke-98, Litya Cedimant. Dipersilahkan waktunya.” tutup Deirdeh.

Sosok perempuan berambut hitam cepol hitam rapih, berbaju seragam Headmaster putih berlengan panjang putih dengan aksen emas. Bajunya yang rapat membentuk lekuk tubuhnya berdiri maju dengan pelan. Rok panjang rapat bercorak kadru yang penuh aksen salur awan, motif kecil, panjang hingga menyentuh lantai tersebut membatasi pergerakannya. Namun aura anggunnya tidak sirna.

“Selamat datang, wahai para kandidat calon Headmaster dari Faksi Daerah yang saya hormati sedalam-dalamnya. Bagaimana kabar kalian semua? Semoga kalian sehat selalu…”

Pidato Litya terjeda sejenak. Jeda tersebut agak lama. Sekitar 1 menit. Semua audiens yang tadinya sunyi mulai berbisik-bisik. Para kandidat juga mulai tidak tahan dalam bersikap siap agak lama selama jeda tadi.

Ditengah riuh rendah itu, Litya tersenyum sambil melanjutkan pidato sambutannya. “Saya lihat para kandidat sudah tidak nyaman dengan wujud manusia ini.”

“… ketika menjadi Headmaster nanti, wujud kalian akan ditetapkan dalam bentuk semi- manusia. Sesuai prosedur Pakta Wujud Kepala. Sebagai bentuk penghormatan kepada seorang ras manusia yang membangun sistem Akademi Sihir Orbis sehingga menyelamatkan dunia.. Milik kita semua. Kerelaan ini juga melibatkan energi empati yang nantinya akan menjadi roda penggerak Chain Throne untuk tetap mengunci segel Remanight.” jelas Litya dingin walaupun sumringah mewarnai wajahnya.

Kianzo tidak menoleh lagi seperti yang dia lakukan tadi ketika mencari muka yang dikenalnya yaitu Valerie. Rasa antara kagum karena melihat keanggunan Litya sekaligus aura pragmatisnya karena penjelasan dingin seperti sewajarnya seorang golem (berwujud manusia).

“ Saya berharap,.. Walaupun bukan wujud asli anda semua, tetaplah bertahan sambil menjalani tes-tes ini. Tes ini yang menentukan nasib kita semua, nasib Allands dan, nasib saudara air kita yang di Alludra. Kalian semua adalah calon mitra Chain Throne yang berharga. Walaupun nanti yang terpilih hanya 3 kandidat, Chain Throne tetap mencatat nama kalian selama proses pemilihan ini sekaligus dihargai dalam ingatanNya.” jelas Litya.

Nada bahasannya berubah menghangat dan menaikkan morale seruangan. Ahydra yang sedari tadi duduk tenang di belakang — bertepuk tangan kemudian diikuti oleh audiens lain.

“Tanpa panjang lebar, mari kita buka tes pemilihan Headmaster ini. Saya, Litya Cedimant, Prime Headmaster angkatan ke-98, dengan ini menyatakan tes resmi dibuka!” seru Litya mengangkat tangan.

Tepuk tangan audiens semakin bergemuruh. Suara Litya semakin naik.

“UNTUK CHAIN THRONE! DEMI EMPATI DAN SEISI BUMI! LUX EX TENEBRIS! “

Para kandidat mengikuti seruan slogan itu.

“UNTUK CHAIN THRONE! DEMI EMPATI DAN SEISI BUMI! LUX EX TENEBRIS! HUZZAH!”




Para pemimpin faksi daerah satu persatu dipersilahkan keluar. Kini di ruang aula tersebut hanya para kandidat calon Headmaster, perwakilan Majelis Pemilihan Headmaster dan para Headmaster itu sendiri.

Deirdeh berdiri dari kursi sofanya dengan napas yang berat ditopang oleh sebuah tongkat. Ras manusia dengan umur senjanya tidak bisa berbohong. Dia mendekati Litya yang masih berdiri di panggung podium.

“Prime Litya, saya tahu anda sedang menghiburku barusan ‘kan?” bisik Deirdeh ke Litya.

Litya hanya menjawab dengan senyum sopan tanpa kata. Kemudian mata dia mengarah ke rekan-rekannya : Ahydra dan Nafter. Mereka berdua hanya menjawab dengan anggukan sekali. Deirdeh menyaksikan itu.

“Mungkin ras saya adalah ras lemah — tapi ya sudah…” ujar Deirdeh menghela napas panjang “…Malangnya nasibku.” sambungnya dengan nada ironi jenaka sambil menelengkan kepala dan mengangkat pundak.

Tangannya memegang sebuah toples kaca tertutup dengan lubang kecil berisi gulungan kertas yang banyak. Deirdeh berdehem untuk bersiap mengeraskan suara.

“Selanjutnya penentuan ruang ujian akademis dan birokrasi. Ruang ujian kandidat ini ditempati hanya boleh seorang kandidat dan dijaga oleh dua penjaga dari civitas Akademi sendiri.”

“… Jadi, saya persilahkan Ahydra untuk memanggil peserta serta Nafter untuk mengambil undian kandidat.” Sesudahnya Deirdeh memegang tangan Litya dengan tergesa-gesa. “P-Prime, bisa minta tolong tuntun orang tua payah ini ke sofa kembali? Anda tahu saya tidak bisa dekat - dekat Vice Ahydra …. “

“Dengan senang hati, Pak Deirdeh. “ jawab Litya segera menuntun Deirdeh ke kursi sofa sementara Ahydra dan Nafter maju ke depan panggung.

Sosok berkulit gelap, dengan sedikit kilat sisik ikan, berjalan tegap dengan rambut panjang hitam yang terdiri dari kuncir kecil terikat diatas kepala yang terlihat basah. Terlepas wujud manusianya, telinganya menyerupai bentuk sirip, khas orang Trenchen. Dia mengenakan seragam dan jubah panjang putih khas Headmaster Akademi Orbis dengan celana cingkrang, Ahydra Pelagiola. Serta Nafter Dryalihem mengenakan seragam Headmaster tanpa lengan dengan celana kulot panjang. Dia berkulit terang, rambut panjang semi kunciran hingga sepanjang pinggang. Jika kunciran itu dilihat dari dekat merupakan tumpukan kelopak-kelopak bunga, berwarna gradien hijau muda dan pink, yang rapat dan kiri kepalanya terdapat kuncup bunga berwarna merah dengan benang sarinya yang mencuat. Walau wujudnya terlihat —hampir — manusia tapi ras ini punya keunikan yaitu mata hitam tanpa kornea yang berkilau bak batu obdisian karena memantulkan cahaya.

Kianzo (dan mungkin kandidat lainnya) hanya berdiri termangu (dan mungkin bertanya-tanya) melihat dinamika singkat mereka di panggung tadi serta terkesima sesaat dengan osok Headmaster lainnya. Seketika nama - nama kandidat dipanggil satu persatu untuk menaiki panggung podium serta mengambil undian ruang ujian.

Beberapa kandidat yang turun karena sudah mengambil undian ada yang berceletuk seperti “sepertinya tadi sempat terasa sesak sesaat”, “ah mungkin hanya perasaan gugup saja” atau “barusan aura mana, khususnya dari si Headmaster merman itu, terasa berat…”. Kianzo berusaha memaksimalkan pendengaran telinga panjangnya-

“ —Kianzo Tiarrent dari Lelight!” seru Ahydra.

Mendengar namanya dipanggil, Kianzo berjalan dengan sigap kearah panggung podium. Bisik-bisik semakin menjadi berisik putih. Kianzo tahu bahwa kedatangan Lelight sudah membuat sensasi di semua kalangan jadi dia lebih memilih fokus dengan undiannya. Setelah diatas panggung, dia menghampiri Nafter dan Ahydra.

Awalnya Kianzo merasakan sensasi berat sesuai celetukan tadi. Namun tidak menggoyahkan keinginannya mengambil undian tersebut. Dia berusaha membawa diri sesantai mungkin. Itulah kesalahan terbesarnya.

Tiap detik berlalu semakin berat, ada rasa-rasa lembab dingin pekat di sekitar bibir. Mirip rasa tenggelam. Napas pemuda elf itu tercekat karena tidak menyangka aura mana Merman, maksudnya Ahydra, seberpengaruh ini mengguncang fisiknya.

“Kianzo Tiarrent — ruang 5. Semoga berhasil.” ujar Nafter dengan senyum hangat menyerahkan undiannya ke Kianzo. Tangan wujud manusianya terasa berkayu kasar di tangan dia secara sekilas. Dasar wujud sebenarnya adalah Dryad tidak bisa berbohong. Kianzo menjawab balik dengan sumringah paksa walau badannya sudah gemetaran. Berkebalikan dari kehangatan Nafter, Ahydra menatap dingin tajam. Setajam koral laut. Atau,.. setajam ombak lautan Alludra yang menghantam?

Kianzo mengangguk dengan cepat kemudian berbalik badan. Berusaha tidak terlihat terburu-buru ketika turun dari podium.




Kilasan cahaya fajar yang melewati jejeran jendela tinggi dengan jarak empat jengkal sesekali membutakan pandangan Kianzo yang hendak melihat papan penanda ruangan. Koridor itu sepi, sesekali seorang Warden lewat karena patroli. Kianzo ingin bertanya dimana ruangan 5 itu tapi kali ini tiada satu pun seorang Warden yang lewat.

Di depannya ada orang, Kianzo memicing. Seorang pria berjalan dengan perawakan tegap dan dadanya lebar bidang membusung. Kostum kulitnya didominasi hitam, sedikit bulu-bulu hitam di leher dan aksen logam tembaga di tangan, pundak.

Kulitnya pucat, rambutnya abu terang sedikit acak-acakan diikat ekor kuda pendek sekenanya. Mungkin biar tidak mengganggu. Telinga feline-nya mencuat ketara di kepala sehingga dari siluetnya bisa dikenali orang ini ras apa terlepas wujud manusianya. Jalannya seperti mau pergi perang - batin Kianzo.

Sebenarnya Kianzo ingin sekali bertanya dimana ruangannya ke orang itu tapi setelah mengetahui ciri khasnya, dia menahan diri.

“Aku tidak bisa bertanya langsung. Dia Noiras. Ini akan canggung…” bisik Kianzo pelan. Sembari menimbang antara berkompromi dengan keseganan sebab sejarah panjang yang buruk antara Lelight - Noiraland dan masih terasa hingga saat ini atau lebih baik diam dan menghindar, tiba-tiba dia punya ide.

Kianzo pura-pura berjalan melewatinya. Ketika momentumnya tepat, Matanya mengintip sedikit melihat label pintu sambil membelakangi orang itu. Dia berdiri di pintu 8 Aha! Sebelah sana pasti ruangan 5. - batin Kianzo.

Benar saja, ruang 5 ketemu. Seseorang keluar dari ruang itu secara kebetulan. Dia melihat sosok yang menghampiri ruang 5.

“Tuan Kianzo Tiarrent?”

“Ya, itu saya.”

“Silahkan masuk.”

Ketika Kianzo hendak masuk, tiba-tiba ada suara lembut dari belakang.

“Permisi… ruang 14 dimana ya? Disini hanya sampai 10…” tanya seorang wanita muda. Matanya tegas dengan garis hitam kohl yang ketara di pinggir matanya. Ras manusia dengan topi datar dan seragam khas Arcanquill Sanctum-nya. Kianzo langsung mengenali ciri wanita itu dari pakaiannya.

“Ruang 14 ada di gedung sebelah.. Nanti turun dulu kembali ke koridor utama, Nona.” Jawab penjaga ruangan itu.

“Oh,.. Terima kasih. Oh hei, lawanku. Selamat berjuang ya.” tukas wanita itu ketika matanya menangkap muka Kianzo. Belum dia sempat membalas sapaan , wanita itu sudah bergegas menjauh. Samar-samar wanita itu juga mengucapkan hal yang sama ke orang Noiras itu.

“Halo, lawanku! Selamat berjuang!” teriak wanita itu.

Orang Noiras itu terdiam sejenak. Setelah sang wanita berjalan lebih menjauh. Noiras tersebut akhirnya membalas dengan suara cukup keras.

“Kamu juga.. ! Semoga lancar, lawanku…!”

Wanita tersebut merespon dengan berbalik sambil angkat kepalan tangan dan melanjutkan jalannya.

Sementara penjaga ruangan dan Kianzo melongo menonton momen singkat yang memecah es ketegangan menjelang ujian tersebut.

“Umm,.. Ehm, Tuan Kianzo, Silahkan masuk. Ujian akan segera dimulai.” ujar penjaga ruangan itu setelah sadar dari bengongnya.

Kianzo memasuki ruangan itu. Di dalam, sebuah meja kayu sederhana. Selembar kertas. Sebuah pena. Dan sebuah kursi yang terlihat terlalu keras untuk duduk lama.

Kianzo masuk. Pintu tertutup di belakangnya.

Ia duduk. Menatap kertas kosong di depannya. Kertas kosong yang menjadi saksi perjalanan Headmasternya.

Di sudut ruangan, seorang Warden berdiri dengan tangan di belakang punggung—tidak mengancam, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa dia sedang diawasi.

Kianzo menarik napas. Mengambil pena yang menanti di samping kertas. Dia melihat pertanyaan pertama di kertas itu berbunyi:

“Jelaskan perbedaan antara Pakta Kesepahaman Perwujudan dan Pakta Wujud Kepala. Mengapa kedua pakta ini diperlukan?”

Kianzo terdiam sejenak. Lalu—tanpa sadar—sudut bibirnya naik sedikit.

“Aku bisa menjawab ini.” bisiknya.

Pena itu menari di atas kertas. Kurang lebih 2 jam hingga Kianzo meletakkan pena dan membaca ulang jawaban hingga dia benar-benar yakin.

Dia menunggu hingga waktu habis. Sesuai aturan ujian — peserta harus berada di ruangan walaupun tes yang dikerjakan walaupun sudah selesai.

Satu jam kemudian suara lengkingan trompet terdengar. Waktu ujian telah habis. Kianzo beranjak dari meja, hendak meninggalkan ruangan. Di luar ruangan dua penjaga dari Lelight menunggu dan menuntun ke arah gerbang keluar dari benteng Akademi Orbis.




Suasana kavling-kavling komplek yurt faksi daerah kembali riuh rendah setelah sesi ujian akademis dan birokrasi dinyatakan resmi berakhir. Ditandai dengan lengkingan terompet kedua. Sementara Valerie tersenyum simpul mendengar cerita Kianzo selama ujian tersebut.

“Kalau begitu malam nanti akan ada undian siapa saja yang akan tes wawancara untuk besok paginya?”

Kianzo mengangguk berat. Matanya sayu. Tanda dirinya lelah dengan ujian tadi. Valerie mengetahui itu.

“Beristirahatlah sejenak, anakku. Hari ini kamu sudah melakukan pekerjaan yang baik.” ujar Valerie.

Kianzo menunduk kemudian berdiri dan masuk ke tenda yurt pribadinya (bersama Cerine) untuk beristirahat. Namun dia tidak menemui Cerine berada di tenda.

Mungkin sedang di kandang Listhra - pikir Kianzo.

Kianzo merebahkan diri ke ranjang. Matanya melihat langit-langit tenda yurt. Satu hal yang pasti setelah ujian tadi : ini baru awal dari perjalanan dia. Perlahan sinar matanya melemah, angin kantuk menyerang dan membawanya masuk ke dalam kelelapan yang dalam.


—————Bab 4 selesai——————

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk