BAB 3

0 dibaca

A

“Kiaaan!!” teriak Cerine kegirangan. Dia berlari ke arah Kianzo pasca dari balkon tadi. Seolah-olah hendak memeluk pahlawan yang kembali dari medan perang. Cerine segera mengerem tubuhnya dan memeluk Kianzo erat gemas hingga sesak napas.

“Kamu keren banget, Kian! Berdiri di balkon, mengepalkan tangan, Paman dan Bibi mesti bangga!!” teriaknya hingga Valerie, para bangsawan dan aristokrat sekitarnya menoleh ke arah mereka. “Ce—Cerine—a-aku se—sak—!”

Kianzo lupa kekuatan Cerine bukan kekuatan rata-rata sehingga pelukannya seperti ditimpa Gramyagaja karena tubuh kekarnya. Muka Kianzo membiru. Tangannya —dengan lemah —menepuk-nepuk punggung Cerine. Cerine sadar dan melepas pelukannya.

“Ow, owww, …Maaf, maaf hehe~”

Setelah dilepas, Kianzo perlahan merapikan baju dan memperbaiki sikap. Menghela napas.

“Serius, kamu keren, sepupuku. Gak nyangka ada hari dimana aku bisa melihat kerabatku berdiri di balkon tertinggi. Balkon tertinggi dimana Pemimpin Tertinggi berdiri lo.” celoteh Cerine. Kianzo mendengus pelan. Sedikit sumringah.

“… Dua hari lagi, aku berangkat ke Akademi Sihir Orbis, Cerine. Setelah itu kamu harus kembali ke Desa Flouren.” ujar Kianzo.

“ Loh? Aku nggak ikut?” tanya Cerine. Alisnya mengernyit.

“ Tentu saja. Yang ikut rombongan ke Akademi nanti adalah para aristokrat yang dipilih oleh Tuan Valerie. Tidak sembarang orang disana. “ jelasnya. Cerine memiringkan kepala, seolah-olah dia kurang menerima keputusan Valerie.

“ Pak Tua sombong itu kenapa tidak mengikutkanku sih? Aku sudah jauh-jauh dari Desa untuk menemani dan menjadi saksi dari pihakmu …” bisik Cerine kesal. Kianzo hanya tersenyum getir.

Ditengah mereka bercakap di koridor istana, dibawah sana lautan warga Lelight sedang berpesta untuk merayakan pengumuman Headmaster utusan Lelight. Tembang-tembang dinyanyikan seraya mendoakan kelancaran pemilihan Headmaster untuk angkatan 99 yang diadakan dua hari nanti. Tebaran sekar, hiasan pilinan garlan kembang, wine, hidangan buah, santapan gurih, tanaman paku, tarian, dan musik memenuhi suasana pagi hari itu hingga semalam suntuk.




Dua hari berlalu

Pagi buta, Rombongan Dirghagriva beserta pasukan pengawal aristokrat dan tentara Lelight berkumpul di lobi utama Istana Kebesaran Lelight.

Kianzo, yang sudah rapi bak bangsawan dengan tunic dan toga kebesaran istana, bersama Cerine berdiri menunggu. Suasana Istana ramai dengan anggota rombongan pengawal Istama yang lalu lalang. Ada yang mengecek logistik, menyusun taktik pertahanan dan bercanda ke sesamanya.

Kianzo menangkap sosok Quifa mengobrol dengan Carbett. Ia berjalan mendekati mereka. Mata Quifa, yang melihat Kianzo menghampirinya, segera menyambut ramah seperti biasa.

“Kian, bagaimana? Sudah siap sayang ?”

“Sudah ibu Quifa.” jawab Kianzo mengangguk. Kemudian Quifa berpindah menatap Cerine.

“Oh, Cerine sayang,.. Katanya kamu mau pulang hari ini setelah rombongan jalan ke daerah Akademi Orbis?”

“Iya, nyonya. Tuan Valerie tidak mengikutkan saya dalam rombongan .” ujar Cerine nyengir. Sesaat mata Carbett memicing ke arah Cerine. Kianzo pura-pura tidak tahu.

“Iya, ya… Sayang, minta tolong ke Valerie untuk mengikutsertakan anak ini. Kasihan dia jauh-jauh dari Desanya tetapi tidak menyaksikan kerabatnya di Akademi sana.” kata Quifa dengan nada meyakinkan ke Carbett.

“Quifa, yang ikut rombongan ini bukan orang sembarangan….” jawab Carbett dengan sedikit mendengus kesal — Anak desa ini kurang ajar juga.

“Sayang…”

Mata Quifa menatap Carbett dengan lekat. Siratan memohon itu begitu bersinar hingga menguji keteguhan suaminya yang pada akhirnya goyah. Dengan langkah berat, Carbett berjalan ke arah Valerie berada sambil menatap tajam ke arah Cerine akan tetapi Cerine tidak sadar. Sementara, Kianzo masih pura-pura tidak tahu walaupun matanya sesekali melirik Cerine dan Carbett.




Rombongan griva berjalan meninggalkan daerah Metropolitan Lelight menuju ke arah pedesaan Lelight. Kianzo berada di dalam kereta griva bersama Valerie. Dia duduk dengan sedikit perasaan gelisah ditengah kenyamanan kereta eksklusif Lelight.

“Masih khawatir dengan sepupumu, anakku?” tanya Valerie dihadapannya. Memecah kesunyian setelah membaca gelagat Kianzo.

Kianzo mengangguk pelan. Valerie menghela napas panjang dan menutup mata dengan lelah.

“Dia bersikeras memilih untuk menaiki Gramyagajanya, yang lebih lambat, daripada Dirghagriva.” kata Valerie lugas. “Sekarang dia yang tanggung jawab atas pilihannya.”

Kianzo menarik napas kemudian mengintip dari balik jendela kereta. Sosok Cerine makin mengecil karena tertinggal.

“Bukankah kamu sudah belajar menaiki seekor griva oleh Carbett, Kian?”

“…Iya. Saya bisa Tuan.. Walaupun masih belum terbiasa dengan kecepatannya.” jawab Kianzo. Matanya masih sesekali mau melirik jendela.

“Hmph. Aku harap kamu cepat terbiasa.” ujar Valerie sambil menatap pemandangan luar jendela. “… Karena ini terkait penilaian publik.”

Kianzo mendengus pelan — Ah,.. Penilaian publik lagi. 

Sementara, Cerine dengan Vajanya tertinggal bermeter-meter jauhnya dari rombongan Valerie. Lishtra, nama Gramyagajanya, berjalan cepat sebisanya.

“Tidak apa-apa, Listhra! Kita masih bisa mengejar Kian!” teriak Cerine semangat.




Setiba di lokasi acara, Kianzo terpana dengan keramaian yang menyapa. Tenda tenda yurt megah khas masing-masing faksi daerah dan lembaga berdiri mengelilingi benteng Akademi Orbis. Selain itu banyak sosok - sosok baru yang berlalu-lalang di antara keramaian itu.

Sosok dengan rumbai rumbai bunga, daun, akar, garlan dan aroma jenggala— Verdantaxy. Sosok raksasa dengan bebauan besi karat, mineral, sesekali bau tanah — Purawilaya Terraferum. Tidak lama Kianzo mencium aroma laut dan samudra yang lembap terlewat — Liga Trencheneae. Bulu-bulu dari bangsa human-avesian yang melayang dan berterbangan — Anekatra Pelycanthe .

Kemudian Kianzo terpana dengan munculnya Meka Runa dan… operatornya yang berpostur pendek sesekali berseliweran —Nuria Multipolisenia. Ramai pula rombongan berjubah putih terang dengan pakaian serba tertutup, turban dan cadar — Persemakmuran Berlen

“Hmm.. mereka semua hadir..” gumam Valerie sembari mengintip dari balik jendela kereta griva.

Sementara Kianzo masih bengong kagum dengan sosok sosok yang hampir jarang terlihat walaupun di kota Metropolitan Lelight sekalipun. Barisan orang dengan baju ala-ala militer, yang didominasi oleh warna merah dan hitam, jalan dengan tertib. Seolah-olah sedang melaksanakan apel—Naukatania Aquar bersama Akademi Militer Aquar.

Setelahnya, mata Kianzo teralih pada beberapa sosok-sosok yang terlihat bijak, beberapa berjanggut, membawa buku dengan jubah hitam penuh aksen dan motif, memakai topi tinggi maupun topi rendah, beberapa memakai kacamata tebal dan membawa tongkat bantu jalan dengan berbagai ukuran —Arcanquill Sanctum. Namun ada beberapa sosok lain yg berbaur dengan Arcanquill Sanctum tersebut. Kostum mereka lebih ketara bedanya — cape hitam penuh dengan aksen motif. Atasan dan bawahan yang lebih fleksibel dan bebas dengan warna dominan biru langit tidak seperti AS yang dominan gamis dan tunik yang dominan berwarna bentala—Guardian Union.

“Mereka adalah para ilmuwan dan praktisi mana. Juga pelayan Chain Throne.” ujar Valerie memandang mereka dengan hormat.

“Tanpa mereka, semua orang di Allands tidak akan paham CT.” tuntasnya.

Kianzo mengangguk.

Rombongan Lelight berhenti di tenda - tenda yurt faksi Lelight yang sudah dipersiapkan. Yurt tersebut penuh lukisan motif dengan campuran marbel coklat dan putih. Sesuai tema marbel Pantheon Lelight yang menjadi ciri khas faksi daerah Lelight. Terlihat salah satu tentara elf Lelight berjaga di pintu masuk yurt mendekati pintu kereta.

Valerie bergegas keluar setelah pintu kereta dibuka oleh tentara tersebut kemudian disusul oleh Kianzo. Namun dia celingak-celinguk seperti kebingungan sendiri.

“Cerine, belum sampai ya..” bisik Kianzo pada diri sendiri.

Valerie sesekali melirik ekspresi Kianzo. Dia menghampiri salah satu pengawal sekitar situ dan menginstruksikan sesuatu.

“Tidak usah mengkhawatirkan sepupumu, Anakku. “ tukas Valerie dingin.

“Ta-tapi…”

“Dia akan baik-baik saja. Saya sudah kirim dua pengawal untuk memandu dia. Jika skenario terburuk nanti bertemu gerombolan vegara, maka vajanya harus rela ditinggal.”

“Saya tidak bisa membiarkan pengawal terluka hanya untuk melindungi vajanya.” tuntas Valerie.

Kianzo hanya diam seribu bahasa. Alasan logis sang Pemimpin Tertinggi Lelight tidak bisa dibantah karena dia benar. Seharusnya Cerine mengikuti saran Valerie. Hati Kianzo berkerut.

“Masuklah, anakku.” kata Valerie sembari membuka tabir pintu masuk.

Kianzo berjalan perlahan dengan menunduk.

Semoga Listhra baik-baik saja..

Tiba-tiba kerumunan berkunpul tidak jauh dari komplek yurt faksi Kekaisaran Lelight. Beberapa orang yang lewat terhenti, terpaku. Ada juga yang lari antusias untuk mendekati kerumunan itu. Kalimat dari suara teriakan yang rendah cukup membuat Valerie dan Kianzo tidak jadi memasuki tenda.

“Ada Noiras…! Noiraland datang…!”

Barisan rombongan hitam yang menaiki griva dengan aksen bulu-bulu lebat disekitar lehernya, suara gemeretak metal tembaga, armor besi yang memantulkan cahaya, aksesoris kulit Vegaraudra memeriahkan kedatangan mereka. Aura mereka begitu dingin, beku dan liar — seperti asalnya Alphriarkat Noiraland

Valerie menatap rombongan itu dengan lekat yang mendalam. Lautan sejarah konflik dan perang Lelight - Noiraland selama puluhan tahun terpatri dimatanya. Sedangkan Kianzo masih tidak mengedipkan mata. Kianzo tahu sejarah konflik itu namun dia mencoba memposisikan diri untuk tidak tenggelam dalam sejarah itu. Mereka hening sejenak.

“Hmph, akhirnya mereka datang juga.” tukas Valerie pendek sambil menyilangkan kedua tangannya.

Kianzo mengangguk tetapi tidak menyahut apapun.

“Kiaaaannnn!!!”

Kianzo mengenal suara itu kemudian menengok ke arahnya. Cerine dibonceng oleh salah seorang pengawal menaiki griva. Kemudian disusul pengawal yang menaiki seekor Griva yang membawa… Listhra yang tertidur di gerobak.

“Maaf karena saya tertinggal jauh, Tuan Valerie.” kata Cerine setelah turun dari griva dan sedikit menunduk.

Mata Valerie memicing pada Listhra yang tertidur di gerobak. Griva yang membawa gerobak tersebut terlihat kelelahan.

“Entah kenapa ketika berusaha mengejar kalian Listhra berhenti dan tertidur dan kalian sudah ke arah keramaian saja…” kata Cerine sambil garuk-garuk tengkuk kemudian nyengir “..Untung gak terlalu jauh. Sepertinya Listhra kecapean..dia baru pertamakalinya diajak perjalanan jauh dan lama seperti ini.. “

Valerie geleng-geleng kepala dan memberi isyarat pada pengawal yang masih menaiki griva untuk mengistirahatkan griva dan vaja ke tenda kandang.

“Kalian berdua, masuk.” perintah Valerie ke Cerine dan Kianzo untuk masuk ke tenda —seperti menyuruh bocah ke kamar.

Sementara rombongan Noiraland menjauhi komplek tenda yurt faksi Lelight. Massa yang menonton pun bubar.




Suasana setiap kavling faksi daerah dan lembaga semakin ramai menjelang matahari tenggelam. Suara percakapan, obor api mana yang berjalan, hentakan rombongan griva ditambah suasana cerahnya bintang-gemintang mewarnai malam itu.

Seorang wanita, dengan postur tinggi tegap dan siluet tanduk, berjalan dengan mantap bersama seorang sosok abu-abu besar, yang melangkah berat dan lamban dengan debu debu pasir yang sedikit rontok, memasuki tenda tenda yurt Faksi Daerah. Beberapa jam kemudian keluar dari tenda tersebut seraya berbincang sebentar salah satu dari orang dari rombongan faksi tersebut.

“Nona Custos Mikaysha, kami harap anda tidak memikirkan apa yang terjadi dalam sana… “ ujar salah seorang sosok bersayap sembari tersenyum gugup. Tangannya memegang lengan tangan satunya sebagai tanda rasa tidak enak.

“Tidak apa-apa, Nyonya Rewa. Kami selalu menghormati semua faksi daerah terlepas seperti apa kesan yang mereka berikan kepada kami. Lagipula kami tidak henti-hentinya mengingat jasa almarhum Tuan Farwez Wington kepada Akademi. Salah satu kandidat terbaik yang Pelycanthe kirim kepada kami.” jawab Mikaysha diplomatis.

Senyum Rewa kini berubah. Yang tadinya gugup, menjadi lega. Diikuti dengan mekarnya bulu-bulu khas Avesiannya.

“ Te—terima kasih, Nona Mikaysha!” ucap Rewa sedikit menunduk.

Kemudian Mikaysha dan sosok besar abu-abu berbatu, sedang membawa obor, berbalik badan menuju ke tenda yurt lainnya. Sosok besar abu-abu tersebut mendengus pelan. “Kita seperti masuk ke dalam kandang Vegaraudra menuju kandang Vegara lainnya.” celetuknya.

“Jangan ngomong begitu, Natriel. Walaupun saya benci mengakui bahwa kamu benar adanya.” jawab Mikaysha. Bibirnya sedikit melengkung. Getir.

Sementara, mereka menjumpai seorang pemuda elf yang berbaju khas bangsawan Lelight yang tidak jauh dari komplek yurt Lelight.

“ Lelight?” tanya Natriel. Muka Mikaysha menegang kembali dan mengangguk “ Ya.”

Natriel maju duluan ke arah pemuda elf tersebut.

“Selamat malam. Kami pengantar informasi dari Akademi. Apakah Tuan Valerie ada didalam?” tanya Natriel sambil memamerkan lencana Akademi Sihir Orbisnya.

Awalnya pemuda elf itu sedikit kikuk ketika Natriel mendekat karena postur besar tinggi khas golemnya. Namun dia bisa menjawab dengan tenang.

“Tuan Valerie ada didalam sana. Mari saya antarkan ... “ jawab pemuda itu.

Mereka berdua segera mengikuti pemuda elf tersebut ke arah komplek yurt Lelight.

 “Tuan Valerie, Ada tamu pengantar Informasi dari Akademi.” ucap Pemuda elf tersebut seraya menyibak tirai yurt.

Valerie menengok sedikit, matanya sedikit menegang. Seolah-olah mengenal figur yang dibawa oleh pemuda elf tersebut.

“Baik, anakku. Persilahkan tamu kita untuk masuk.” jawab Valerie. Dia beranjak dari kursi meja tengah dan memberikan sikap sambutan kepada Mikaysha dan Natriel. Sementara pemuda elf tersebut bergerak dan berada di posisi sejajar dengan Valerie. Mikaysha yang sedari tadi mengikuti pemuda elf tersebut mulai penasaran.

“Selamat datang Nona Custos Mikaysha dan Warden Natriel di tenda kami. Apakah ada informasi penting yang akan disampaikan dari Akademi Orbis?”

Mikaysha menyodorkan gulungan kertas dengan pita emas yang apik di atas meja “Ini adalah selebaran pelaksanaan secara teknis, Tuan Valerie. Silahkan dibaca. “

Valerie mengambil gulungan kertas itu dan membukanya. Matanya membaca sekilas “Baik..”. Kepalanya mengangguk-angguk hingga ke ujung kertas.

“Sejauh ini tidak ada yang ditanyakan. Prosedurnya tidak berubah sejak bertahun-tahun yang lalu.” lanjut Valerie memutar kembali gulungan kertas tersebut dan menyerahkannya ke pengawal di samping dia.

“Jika tidak ada yang ditanyakan, kami ijin pamit untuk pergi, Tuan Valerie. Tapi sebelum itu…” Mata Mikaysha beralih ke pemuda elf tersebut. Alis pemuda elf itu terangkat karena sedikit terkejut.

“Saya dan Natriel tadi mengikuti anda untuk menemui Tuan Valerie. Sebagai ucapan terima kasih, kami perlu tahu nama pemuda elf ini. Rasanya tidak pantas jika kami pergi sebelum mengucapkan terima kasih.” ujar Mikaysha.

Valerie dan pemuda itu saling tatap. Kemudian pemuda itu menunduk sedikit sebagai sikap perkenalan diri ala bangsawan elf.

“Saya Kianzo Tiarrent. Calon Headmaster utusan Lelight. Salam kenal, Nona Custos Mikaysha, Tuan Warden Natriel.”

Mikaysha terdiam, matanya menyisir penampilan Kianzo dari atas kepala hingga mata kaki. Kemudian bibirnya melengkung lagi.

“Salam kenal, Tuan Kianzo Tiarrent. Kami ucapkan terima kasih telah diantarkan menemui Tuan Valerie. Mohon maaf atas kelancangan kami tidak mengenali anda terlebih dahulu…” ucap Mikaysha menundukkan kepala.

“Kalau begitu kami pamit undur diri dari sini. Sampai bertemu kembali acara besok.” ucap Mikaysha. Mereka berbalik badan menuju ke arah tirai pintu keluar. Valerie memperhatikan langkahnya yang tenang, rapi, dan tidak tergesa-gesa.

“Kamu tahu siapa dia?” tanya Valerie ke Kianzo tanpa menoleh. Kianzo mengikuti tatapan Valerie.

“Mikaysha? Custos Akademi Sihir Orbis ?”

Valerie tersenyum tipis.

“Iya. Dia. Yang mencatat  segalanya.”

Pundak Kianzo turun dan menelan ludah. Valerie kini menatapnya.

“Anakku, seharusnya kamu berhati-hati dengan gerak-gerik dan raut wajahmu di depannya. Dia tidak hanya mengaudit laporan Akademi. Dia juga mengaudit perilaku, reaksi, dan kesalahan kecil yang bisa menjadi catatan panjang di arsip Akademi.”

“Apa dia akan melaporkan saya jika saya salah?” tanya Kianzo dengan nada rendah.

“Dia tidak perlu melapor. Dia hanya mencatat. Dan catatan itu suatu hari bisa dibaca oleh siapa saja yang berwenang.”

“…”

“Jadi, tersenyumlah yang sopan. Jangan mengerutkan kening terlalu sering. Dan jangan pernah mengucek mata saat dia sedang melihat.”

iKanzo mengedipkan mata sejenak.

“Apakah Tuan Valerie pernah dicatat?”

Valerie tersenyum miring, tidak menjawab.

“… Kamu masih harus belajar menyusun senyum.”




Kianzo keluar dari tenda disaat hari menjelang larut malam. Dia bermaksud untuk duduk sejenak sambil mencerna apa yang dia lakukan di acara besok. Ia bergegas mengambil posisi agak menjauh dari komplek tenda Lelight untuk menyesap sepi.

“Bo!”

Jantung pemuda elf itu lompat mendengar suara kecil yang tiba-tiba itu. Dia refleks memegang dadanya dan menengok ke arah suara itu.

“Cerine… jangan mengagetkanku seperti itu!” ujar Kianzo kesal.

Cerine senyum nyengir khasnya.

“Kamu mau kemana, Kian? Ini sudah malam loh.”

“Pertanyaanku sama. Kamu sendiri juga mau kemana?” tanya balik Kianzo. Sengit.

“Aku? Aku sedang mencari jamur buat Listhra. Untuk melancarkan pencernaan dia.” jawab Cerine seraya menunjukkan sebuah jamur biasa yang berwarna coklat.

“Listhra kenapa?” tanya Kianzo lagi. Kali ini dia khawatir dengan Listhra.

“Listhra belum buang air sejak kita tiba. Sepertinya efek perjalanan jauh tadi membuat dia ‘masuk angin’.”

Kianzo menengok tenda kandang. Niat dia untuk duduk menyendiri beralih ke menengok Listhra.

“Kalau gitu aku ikut ke kandang. Aku belum lihat Listhra sejak kita tiba disini.”

“Eits, Sang pangeran Lelight, calon Headmaster pula, harusnya istirahat. Besok ujiannya lo.” kata Cerine nyengir ngejek dengan akrab.

“Omong kosong, Cerine. Aku bukan pangeran Lelight. Aku disini untuk mewakili Lelight agar terlihat ‘ada’ di mata dunia.” ujar Kianzo balas ejekan Cerine. Mereka berdua terkekeh.

“Hahah, serius, Kian. Apa kamu nanti tidak ditegur oleh Pak Tua? “

“Aku sudah ijin untuk keluar sebentar.” ucap Kianzo tanpa tengok. Bibir Cerine melengkung mendengar jawaban sepupunya. Seperti sudah hapal betapa Kianzo mulai perlahan mempunyai pendirian. Mereka bergegas menuju kandang tempat Listhra berada.

“Apakah kamu sudah siap untuk besok, Kian..?” tanya Cerine ditengah mereka berjalan menuju kandang.

Mata Kianzo masih lurus kedepan. “Aku sudah siap, Cerine.”

“Aku tidak bisa melakukan apapun untuk membantumu, Kian. Aku hanya ingin ngomong—Lakukan sebisamu.”

Langkah Kianzo untuk menuju kandang Listhra terhenti. Kini matanya menatap Cerine. Kianzo melihat sepupu cowok dekatnya. Seumuran, selalu bermain bersama sedari kecil, sering ditegur oleh sepupu-sepupunya yang lain yang lebih tua dari mereka karena suka usil, sering dihukum bersama oleh nenek mereka akibat kebanyakan tingkah polah.

Walaupun begitu merekalah yang yang paling bungsu, paling disayang sekeluarga besar.

“Ingat gak, dulu kamu pernah diangkat menjadi ketua geng anak anak desa? Karena waktu itu banyak yang memvoting dirimu jadi ketua.” cerita Cerine bernostalgia.

Mulut Kianzo makin melengkung. Memorinya memutar kembali kenangan yang hampir terlupakan itu.

“Aku divoting paling banyak karena anak-anak dihasut olehmu agar kamu tidak jadi ketua kan?” tandas Kianzo seraya mengungkapkan fakta. Mata Cerine terbelalak kemudian nyengir malu-malu sambil menepuk pelan punggung Kianzo.

“…Gak dendam ‘kan? “ jawab Cerine menatap Kianzo lekat lekat.

Kianzo angkat alis dan menurunkan pundaknya.

“Tidak. Grupku menang melawan grupmu saat main lumpur sawah kosong itu cukup sebagai pembalasan.”

“Lumpurnya sakit sekali, Kian! Tidak kusangka kamu sedendam itu…”

Mereka berdua terkekeh ringan. Tidak lama mereka sampai di tirai masuk tenda kandang.

“Cerine,.. Terima kasih.” ucap Kianzo, kali ini dengan mata yang bersungguh-sungguh. Cerine balas senyum — seperti biasa.

“Sama-sama, Kian. Besok semua akan baik-baik saja.”

Malam itu masih ramai walau larut. Menunggu momen proses penentuan nasib dunia kedepannya besok tiba.



—————Bab 3 selesai——————

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk