Bagian 2

3 dibaca

A

Pemicu Bunuh Diri

Aku kehilangan kucing

gigitan di kaki

cakaran di lengan

pagi beku dengan erangan lapar

Aku kehilangan tempat duduk

kelakar tak asing

cubitan di bahu

segelas anggur juga dentingnya

Aku kehilangan genggaman tangan

degup jantung

kelopak bunga

perasan lemon dan senda gurau

Apa kesepian

mempercepat kematian?

Kepada Puisi

Bibirnya terasa bagai krim

selai anggur

vanili

dan kopi susu

dengan bau rokok samar-samar

Aku berhenti:

“Bukankah kau akan jadi istri orang sebentar lagi?”

“Hei,” serunya

tak kuhiraukan

Aku menciumnya lagi

kali ini sambil kutarik pinggang belakangnya

dengan lembut ke arahku

Aku mengerti

bahwa cintanya

tak pernah tulus

kepada lelaki itu

Kita tahu

cinta dan segala yang menyertainya

tak patut dipaksa

Tapi siapa hendak melawan takdir?

Selepas hari itu

dengan separuh keyakinan

yang mungkin tersisa

kulantunkan doa-doa

Kepada puisi

aku berbisik:

peluklah ia

dan katakan padanya

cinta ini abadi

cintaku abadi

Garis Batas

Misalnya kau suka padaku

dan mimpi berjatuhan

tutup

Video Call

Mula-mula

kau buka gawai

Halo, katamu

Kau tersenyum

gembira

kepada seorang anak kecil

di balik layar itu

Mama kangen

dan gawaimu tiba-tiba mati

Cita-Cita-i

Bari kecil berlari-lari

meski ia tahu

tanah berlumpur

membenamkan kedua kakinya

Matanya menyala

menatap lekat benda bising

yang lewat tepat

di atas kepalanya

Aku ingin menerbangkan pesawat,

katanya

suatu hari nanti

suatu hari nanti

Bari, kini, 25 tahun

dan mimpi-mimpi

telah ia kubur

Percakapan Lepas Malam

untuk Evan A, saat malam-malam di beranda rumah


Apa kita

akan menjadi tua

dan lupa?

Katakan dengan keras, Van

perempuan perlu

mengetahui perkara secara terang

dan anak-anak

yang berak di pahamu

Bahwa kita telah melewati

masa muda

dan tahun-tahun

penuh air mata

Apa pernikahan

memisahkan pertemanan?

Pertanyaan menyentakku

dan ingat:

waktu bertanggung jawab

atas masalah tulang belakang

dan hilangnya percakapan

lepas malam

Kolase

Lembar putih

bergambar wajah

pemberianmu kini

kusimpan, dalam

toples tertutup

Dan benang-benang

menimbunnya

Kisah Sedih dan Kuning Telur

Ia tengah mengandung

dan matanya tak memiliki

warna selain hitam

Apa ia melihat

yang lebih pekat

dari malam?

Aku meraihnya

dan berkata dengan bahasa yang kuanggap ia

mengerti:

kuning telur ini segar

sengaja kusisakan dua

untukmu

Ia bergeming

dan kata-kata

tak terucap

dari mulutnya

aku menggoyangkan kepalanya

kutatap ia lekat-lekat

Dari mataku

tiba-tiba

keluar air

yang berjatuhan

membasahi celanaku

Aku tak ingat

kapan aku kehilangan

keseimbangan

Tapi kugendong ia

dan kubawa ia

ke kebun dekat rumah

sepulang kerja

dari atas motor

yang lecet di sana-sini

Bapak melihatku;

dia urung masuk rumah

Menghampiriku dan berkata:

kau istirahat saja

biar kugali lubang ini

untuk kucingmu

Sudah sampai ujung

Bab terakhir

← Bab sebelumnya

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk