Pemicu Bunuh Diri
Aku kehilangan kucing
gigitan di kaki
cakaran di lengan
pagi beku dengan erangan lapar
Aku kehilangan tempat duduk
kelakar tak asing
cubitan di bahu
segelas anggur juga dentingnya
Aku kehilangan genggaman tangan
degup jantung
kelopak bunga
perasan lemon dan senda gurau
Apa kesepian
mempercepat kematian?
Kepada Puisi
Bibirnya terasa bagai krim
selai anggur
vanili
dan kopi susu
dengan bau rokok samar-samar
Aku berhenti:
“Bukankah kau akan jadi istri orang sebentar lagi?”
“Hei,” serunya
tak kuhiraukan
Aku menciumnya lagi
kali ini sambil kutarik pinggang belakangnya
dengan lembut ke arahku
Aku mengerti
bahwa cintanya
tak pernah tulus
kepada lelaki itu
Kita tahu
cinta dan segala yang menyertainya
tak patut dipaksa
Tapi siapa hendak melawan takdir?
Selepas hari itu
dengan separuh keyakinan
yang mungkin tersisa
kulantunkan doa-doa
Kepada puisi
aku berbisik:
peluklah ia
dan katakan padanya
cinta ini abadi
cintaku abadi
Garis Batas
Misalnya kau suka padaku
dan mimpi berjatuhan
tutup
Video Call
Mula-mula
kau buka gawai
Halo, katamu
Kau tersenyum
gembira
kepada seorang anak kecil
di balik layar itu
Mama kangen
dan gawaimu tiba-tiba mati
Cita-Cita-i
Bari kecil berlari-lari
meski ia tahu
tanah berlumpur
membenamkan kedua kakinya
Matanya menyala
menatap lekat benda bising
yang lewat tepat
di atas kepalanya
Aku ingin menerbangkan pesawat,
katanya
suatu hari nanti
suatu hari nanti
Bari, kini, 25 tahun
dan mimpi-mimpi
telah ia kubur
Percakapan Lepas Malam
untuk Evan A, saat malam-malam di beranda rumah
Apa kita
akan menjadi tua
dan lupa?
Katakan dengan keras, Van
perempuan perlu
mengetahui perkara secara terang
dan anak-anak
yang berak di pahamu
Bahwa kita telah melewati
masa muda
dan tahun-tahun
penuh air mata
Apa pernikahan
memisahkan pertemanan?
Pertanyaan menyentakku
dan ingat:
waktu bertanggung jawab
atas masalah tulang belakang
dan hilangnya percakapan
lepas malam
Kolase
Lembar putih
bergambar wajah
pemberianmu kini
kusimpan, dalam
toples tertutup
Dan benang-benang
menimbunnya
Kisah Sedih dan Kuning Telur
Ia tengah mengandung
dan matanya tak memiliki
warna selain hitam
Apa ia melihat
yang lebih pekat
dari malam?
Aku meraihnya
dan berkata dengan bahasa yang kuanggap ia
mengerti:
kuning telur ini segar
sengaja kusisakan dua
untukmu
Ia bergeming
dan kata-kata
tak terucap
dari mulutnya
aku menggoyangkan kepalanya
kutatap ia lekat-lekat
Dari mataku
tiba-tiba
keluar air
yang berjatuhan
membasahi celanaku
Aku tak ingat
kapan aku kehilangan
keseimbangan
Tapi kugendong ia
dan kubawa ia
ke kebun dekat rumah
sepulang kerja
dari atas motor
yang lecet di sana-sini
Bapak melihatku;
dia urung masuk rumah
Menghampiriku dan berkata:
kau istirahat saja
biar kugali lubang ini
untuk kucingmu














Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!