Bahu yang Tidak Mau Mengaku

0 dibaca

A

Bayangan pertama tidak langsung masuk ke ruang arsip, hanya berhenti di titik yang membuat tubuhnya tetap terlindung oleh dinding, sementara ujung senjatanya bergerak pelan mengikuti gelap. Kael berdiri di sisi dalam pintu, pistolnya terangkat rendah, menunggu dengan tidak sabar, dengan kemarahan yang sudah terlalu sering dipaksa menjadi strategi. Di belakangnya, Liora menahan lampunya, sedangkan Zevran berdiri lebih dekat ke rak logam, tubuhnya menahan sakit agar napasnya tidak mengkhianati posisi mereka.

Orang di lorong itu tidak sendirian. Ada suara lain di ruang depan, gesekan sepatu di atas pecahan kaca, lalu bisikan pendek yang tidak cukup jelas untuk ditangkap sebagai kalimat. Kael mengangkat dua jari, memberi tanda agar Liora mundur ke sisi rak yang lebih dalam. Liora melakukannya tanpa membantah, tetapi matanya tetap berada pada pintu, pada punggung Kael, pada cara bahu kirinya tidak bergerak setegak biasanya. Luka yang sejak tadi ditolak Kael mulai mengambil bentuknya sendiri. Ia tidak perlu meminta izin untuk ada.

Ketika orang pertama akhirnya memasukkan bahu melewati pintu, Kael bergerak cepat. Tangannya menghantam pergelangan orang itu, pistol lawan terpental ke dinding, lalu Kael menarik tubuhnya masuk ke ruang arsip dan menahannya dengan lutut di punggung sebelum orang kedua sempat melihat jelas. Tidak ada tembakan. Hanya bunyi napas tertahan, logam jatuh, dan tubuh yang dipaksa mencium lantai berdebu.

Orang kedua terlambat bereaksi tetapi tetap berbahaya. Ia menembak ke arah ruang arsip tanpa melihat, pelurunya menghantam rak atas dan membuat beberapa laci kecil jatuh berserakan.

Liora merunduk. Zevran menarik tubuhnya ke sisi rak dengan gerakan buruk yang membuat wajahnya memucat, tetapi ia tetap mengangkat mata ke langit-langit, membaca arah kabel yang menggantung di atas lorong.

“Pintu,” katanya cepat. “Di sebelah kanan rak yang jatuh.”

Kael mengikat tangan orang pertama dengan kabel, lalu menendangnya ke sisi meja agar tidak menghalangi jalan. “Kamu baru melihatnya sekarang?”

“Aku baru bisa melihatnya karena dia menembak rak.”

“Kael,” potong Liora, lebih rendah daripada teguran, cukup untuk mengembalikan kepalanya ke bahaya di depan.

Kael menembak sekali ke arah lorong, bukan untuk membunuh, melainkan memaksa orang kedua mundur. Setelah itu ia bergerak ke kanan, mencari pintu yang disebut Zevran. Debu tebal menutupi panelnya, tetapi garis pintu memang ada.

Kael mendorong rak itu dengan bahu kirinya sebelum Liora sempat mencegah. Tubuhnya menegang. Sakit itu datang terlalu cepat di wajahnya, hanya satu kedip yang hampir tidak terlihat, tetapi Liora melihatnya. “Jangan pakai bahumu,” katanya.

“Pintunya harus dibuka.”

“Pakai tanganmu.”

“Waktu kita lebih sedikit daripada pendapatmu.”

Kael mendorong lagi, kali ini lebih keras. Rak bergeser setengah, cukup membuka panel pintu, tetapi tubuh Kael ikut terseret mundur oleh rasa sakit yang ia tahan terlalu lama. Namun ia tidak jatuh. Kael terlalu keras kepala untuk jatuh di depan Zevran. Tangannya menekan sisi kiri tubuhnya untuk sesaat, dan pistolnya turun lebih rendah.

Liora mengambil alih sisa dorongan tanpa meminta izin. Zevran, ikut menahan sisi rak memakai bahu kanannya. Kael menatapnya seperti ingin melarang, tetapi tembakan lain menghantam pintu lorong sebelum ia sempat mengubah kemarahan menjadi kata-kata. Bersama-sama, mereka menggeser rak itu cukup jauh sampai pintu bisa ditarik terbuka.

Lorong itu sempit, cukup untuk satu orang berjalan miring. Liora masuk lebih dulu. Kael hampir menariknya mundur, tetapi kali ini ia hanya menggertakkan gigi dan memberi perlindungan dari belakang. Zevran masuk setelah Liora, langkahnya tidak stabil, sementara Kael menutup urutan paling belakang dengan pistol menghadap ruang arsip.

Mereka bergerak cepat, tetapi tidak rapi. Lorong itu memaksa mereka menunduk di beberapa bagian. Zevran beberapa kali menahan tubuh pada dinding, meninggalkan bekas darah tipis dari balutan pahanya yang mulai terbuka lagi. Kael tidak mengeluh, tetapi napasnya berubah semakin berat setiap kali lorong memaksa bahu kirinya bergesekan dengan dinding yang sempit.

Di ujung lorong, pintu keluar tertutup.  Mereka tidak punya waktu memutar. Dari belakang, suara orang lain sudah masuk ke ruang arsip, memanggil nama rekannya, lalu mengumpat ketika menemukannya terikat.

“Palangnya di luar,” kata Liora.

Kael menyentuh pintu, mencari engsel, mencari celah yang bisa dipaksa. “Masih bisa dibuka.”

“Dari luar.”

“Semua pintu bisa dibuka dari sisi yang salah kalau kamu cukup keras kepala.”

Zevran menatap celah bawah, lalu sisi kanan pintu. “Engsel bawahnya rapuh. Tapi kalau kamu pakai bahu, kamu tidak akan bisa menyetir.”

Kael menoleh kepadanya. “Kamu mulai terdengar peduli pada kemudiku.”

“Aku peduli pada siapa pun yang membuat Rav bergerak menjauh dari sini.”

Jawaban itu terlalu jujur untuk disangkal. Liora tidak menunggu mereka mengubah satu kalimat menjadi pertengkaran. Ia berlutut, meraba celah bawah, lalu menemukan sisa batang logam tipis yang terselip di lantai. Dengan batang itu, ia mencoba mengangkat palang dari celah yang terlalu sempit.

Tidak cukup. Kael mengambil batang itu darinya dan memaksa lebih keras. Palang bergerak sedikit, tetapi tidak jatuh.

Langkah di belakang semakin dekat. Kael menyerahkan pistolnya kepada Liora tanpa menatapnya. “Kalau pintu terbuka, lari ke Rav.”

“Aku tidak akan meninggalkanmu di lorong.”

“Aku tidak sedang meminta izin untuk mati.”

Kael menempatkan tubuhnya pada sisi pintu, menarik napas pendek, lalu menghantamkan bahu kirinya ke dekat engsel bawah. Pintu bergetar. Palang di luar melompat sedikit, tetapi belum lepas. Liora mendengar suara yang keluar dari tenggorokan Kael, bukan teriakan, hanya napas tertahan yang langsung ia telan. Ia tahu seharusnya menghentikan Kael. Ia juga tahu tidak ada jalan lain yang cukup cepat.

Hantaman kedua membuat engsel bawah robek. Hantaman ketiga membuat palang jatuh di luar dengan bunyi logam keras. Pintu terbuka setengah, bersamaan dengan tembakan dari arah ruang arsip. Kael membalas sekali ke lorong, cukup untuk membuat pengejar menunduk.

Kael menarik Zevran keluar lebih dulu, bukan karena ia memilih menyelamatkan, tetapi karena tubuh Zevran akan menghambat jika jatuh di sana. Setelah itu Kael mendorong Liora keluar dan keluar terakhir.

Rav berada tidak jauh, tetapi dua orang bersenjata sudah bergerak dari arah gerbang utama. Kael mencoba mengangkat pistol lagi, tetapi bahunya gagal bekerja setinggi yang ia inginkan. Liora melihatnya, mengambil pistol dari tangannya, lalu menembak ke arah tanah di depan dua orang itu. Mereka mundur sesaat. Zevran menunjuk ke kanan. “Lewat bawah truk biru, bukan jalur ban.”

Kael hampir membantah, tetapi Liora sudah bergerak. Mereka berlari miring di antara rangka kendaraan. Zevran tersandung sekali, Kael menangkap jaketnya dengan tangan kanan, dan gerakan itu membuat keduanya hampir jatuh. Liora membuka pintu belakang Rav, mendorong Zevran masuk, lalu menutupnya sebelum mengejar kursi penumpang.

Kael sudah berada di sisi pengemudi, tetapi saat tangannya meraih pintu, bahunya kembali menolak. Gerak kecil itu cukup. Liora melihat kunci di tangan Kael, melihat wajahnya yang menahan sakit, melihat pengejar mulai keluar dari pintu servis, lalu mengambil keputusan sebelum Kael sempat menjadikannya perang.

“Kamu di belakang.”

“Tidak,” bantah Liora.

“Kamu tidak bisa menyetir, Liora.”

“Aku bisa.” Liora masih bersikeras. “Kamu yang tidak bisa mengangkat tanganmu.”

“Liora.”

Ia merebut kunci dari tangan Kael. Sementara Kael menatapnya seolah ia baru saja merampas sesuatu yang lebih pribadi daripada kendaraan. Di belakang mereka, tembakan pertama menghantam sisi Rav. Panelnya berbunyi keras, tetapi peluru terpental.

Liora membuka pintu pengemudi. “Masuk, Kael!”

Kael tidak bergerak selama satu detik penuh. Mungkin dua. Waktu yang terlalu mahal untuk diberikan pada harga dirinya. Lalu tembakan lain mengenai kaca belakang.

Zevran berkata dari dalam, “Kalau kamu ingin marah, lakukan sambil tetap hidup.”

Kael masuk ke kursi belakang dengan gerakan kasar. Liora duduk di kursi pengemudi, memasukkan kunci, dan merasakan Rav seperti menahan napas di bawah tangannya. Selama ini kursi itu adalah tempat Kael. Namun jalanan tidak menunggu rasa bersalah.

Rav menyala setelah satu batuk keras. Liora menginjak gas. Kendaraan itu melompat keluar dari balik rangka jeep, menghantam tumpukan besi kecil, lalu menerobos halaman melalui pagar runtuh yang tadi mereka masuki. Di belakang, tembakan mengikuti, menghantam badan Rav. Kael duduk di belakang dengan wajah keras dan tangan kanan mencengkeram pistol, bukan karena ia tidak percaya Liora bisa membawa Rav keluar, melainkan karena ia terlalu terluka untuk menerima bahwa hari ini Rav bergerak tanpa tangannya di kemudi.

Zevran terikat di sisi belakang lain, menahan paha dengan napas buruk. “Kiri setelah pagar. Jangan ambil jalur utama.”

“Kenapa?” tanya Liora.

“Karena mereka akan mengira kita akan memilih jalur yang bisa ditabrak,” jawab Zevran.

Kael menatapnya dari belakang. “Hati-hati dengan kalimatmu.”

Liora memutar kemudi ke kiri. Rav terguncang hebat, tetapi tetap bergerak. Di spion, REG-K/17 menjauh dengan pintu gelap, terminal mati, dan orang-orang yang mungkin baru sadar bahwa mereka kehilangan lebih dari tiga buronan. Liora menahan kemudi lebih kuat. Di kursi belakang, Kael tidak mengakui sakitnya. Dan untuk pertama kalinya sejak perjalanan itu dimulai, Liora membawa mereka keluar bukan sebagai penumpang yang dilindungi, melainkan sebagai orang yang memegang arah.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk