Kursi Depan yang Bukan Lagi Milik Kael

0 dibaca

A

Rav belum benar-benar jauh dari REG-K/17 ketika Liora menahan laju di balik rangka pipa tua. Mesin tetap hidup, bergetar rendah di bawah telapak kakinya, sementara suara dari halaman yang mereka tinggalkan masih terasa menempel di belakang kepala. Kael duduk di kursi belakang dengan bahu kiri terluka dan pistol di tangan kanan. Zevran masih berada di belakang sisi lain, terikat, pucat, dan terlalu lambat untuk membaca cabang jalan sebelum Rav terlanjur memilih.

Liora menatap cabang-cabang kecil di depan. Beberapa jalan tampak cukup lebar untuk Rav, beberapa terlalu sempit, beberapa terlalu bersih untuk dipercaya. Ia tidak menoleh ketika berkata, “Dia tidak bisa membaca jalan dari belakang.”

Kael langsung menatapnya lewat spion. “Dia bisa bicara dari belakang.”

“Kalau dia terlambat melihat, kita terlambat berbelok.”

“Lebih baik terlambat daripada terlalu dekat denganmu.”

Liora menahan napas sebentar. Ia tahu kursi depan bukan sekadar tempat duduk bagi Kael. Sejak mereka meninggalkan rumah, kursi itu menjadi tempat Kael menahan semua hal. Memindahkan Zevran ke sana berarti mengakui bahwa tubuh Kael tidak lagi bisa memegang semua arah, dan pengakuan itu lebih menyakitkan daripada bahunya sendiri.

“Tangannya tetap terikat,” kata Liora. “Kamu tetap pegang senjata. Aku yang menyetir. Dia hanya melihat jalan.”

Zevran tidak ikut bicara. Ia menatap lantai Rav, seolah keputusan tentang tubuhnya lebih aman dibuat tanpa suaranya. Kael melihatnya, lalu melihat jalan di depan. Pada akhirnya, ia membuka pintu dengan gerakan kaku, turun, dan menarik pintu penumpang depan. Ia membantu Zevran berpindah hanya sebatas yang perlu, satu tangan mencengkeram jaket laki-laki itu cukup kuat untuk membuatnya berdiri dan cukup dingin untuk menjelaskan bahwa izin itu bukan kepercayaan.

Zevran menahan berat tubuhnya pada sisi Rav ketika pahanya hampir gagal, lalu masuk ke kursi depan dengan napas tertahan.

Kael mengikat ujung tali ke pegangan bawah dashboard, tidak terlalu pendek sampai Zevran tidak bisa menunjuk, tetapi cukup pendek agar tangannya tidak bebas bergerak ke arah Liora. Setelah itu, ia kembali ke kursi belakang dengan wajah marah dan bahu yang tampak lebih buruk setelah gerakan singkat tadi. Liora kembali memegang kemudi, Zevran menatap jalan dari kursi depan, dan Rav bergerak lagi ke jalur yang semakin sempit.

Liora belum pernah merasa kemudi Rav seberat itu. Bukan karena tangannya tidak sanggup. Namun malam itu berbeda. Jalan tidak datar, langit hampir gelap, Kael tidak berada di sampingnya, dan di kursi penumpang, Zevran duduk terlalu pucat untuk terlihat seperti penunjuk jalan yang bisa dipercaya. Matanya tetap hidup. Itu yang membuat Liora mendengarkan.

“Jangan terlalu dekat sisi kiri,” kata Kael dari belakang.

“Aku melihat batunya.”

“Batu itu akan menggores bagian bawah.”

“Aku lihat.”

“Kamu tidak lihat dari sudut itu.”

“Aku yang duduk di sini.”

“Itu masalahnya.”

Zevran menatap celah jalan di depan, bukan Kael. “Setelah batu pipih, turunkan sedikit. Ada bekas aliran air. Kalau lurus, roda belakang bisa turun terlalu dalam.”

Kael langsung bergerak di kursi belakang. “Kamu tidak memberi perintah.”

“Aku memberi arah,” ucap Zevran.

“Bedanya tipis.”

“Kalau begitu anggap saja aku memperpendek kemungkinan buruk.”

Kael tidak menyukai jawaban itu, tetapi ia tidak sempat menyerang lebih jauh karena Liora sudah menurunkan laju Rav setelah batu pipih. Roda belakang melewati bekas aliran air dengan getar yang lebih ringan daripada jika ia mengambil jalur lurus. Kael tahu kebenaran yang datang dari orang yang ia benci membuat kabin terasa semakin sempit.

Dari spion, Liora melihat Kael condong ke depan, seolah jarak dari kursi belakang ke kemudi bisa dihapus dengan kemarahannya. Bahunya menolak gerakan itu. Wajahnya pucat sesaat, tetapi ia tetap tidak mundur sampai Liora menatapnya lewat spion.

“Duduk!” perintah Liora.

“Aku sudah duduk.”

“Tubuhmu tidak.”

Kael mengatupkan rahang. Ia akhirnya bersandar kembali, karena tubuhnya tidak memberi pilihan lain. Liora kembali menatap jalan. Di depan, jalur tanah turun di antara tiang-tiang patah, lalu membelah ke arah kanal kering dan lereng rendah yang tertutup bayangan.

Di belakang mereka, suara mesin lain muncul lagi. Tidak dekat, tetapi cukup jelas untuk membuat napas di kabin berubah.

“Mereka masih di jalur atas,” kata Zevran.

Kael menatap spion. “Kamu berharap aku percaya?”

“Aku berharap kamu mendengarkan. Suaranya tidak turun bersama kita.”

Liora mendengar hal yang sama. Mesin pengejar masih berada di jalur yang lebih tinggi. Ia menahan kemudi lebih kuat, menghitung batu, celah, dan kemiringan tanah di depan. Ada jalur turun di sisi kanan, terlalu curam untuk kendaraan biasa, tetapi Rav bukan kendaraan biasa. Rav tua, berat, keras kepala, dan sejauh ini selalu menolak mati dengan cara yang diharapkan orang lain.

“Kanan,” kata Zevran, suaranya rendah. “Turun lewat lereng. Jangan tengah. Ambil sisi yang tanahnya retak.”

Kael langsung berkata, “Itu terlalu miring.”

“Kalau lurus, mereka bisa melihat kita.”

“Kalau kanan, Rav bisa terguling.”

Liora tidak langsung memilih. Sesaat, ia merasakan seluruh isi kendaraan menunggu tangannya. Kael menunggu dengan kemarahan yang disembunyikan di balik perhitungan. Zevran menunggu dengan diam. Mesin pengejar terus bergerak di atas, semakin dekat ke titik yang bisa melihat mereka jika Rav tetap berada di jalur terbuka.

Liora menarik napas, lalu membelokkan Rav ke kanan. Ban depan turun lebih dulu. Tubuh Rav miring. Kael menahan diri pada pegangan belakang dan mengumpat pendek ketika bahunya tertarik. Zevran menahan napas karena pahanya. Liora memegang kemudi dengan kedua tangan sampai telapak tangannya sakit, menjaga agar bagian depan tidak terlalu masuk ke tanah yang lunak. Rav berguncang keras, sisi kirinya hampir terangkat saat melewati tonjolan batu, tetapi Liora menahan putaran kemudi dan tidak menginjak rem terlalu dalam. Rav tidak terbalik. Rav tidak berhenti.

Di bawah lereng, ada jalur tanah sempit yang mengarah ke barat. Liora membelokkannya ke sana. Suara pengejar tertinggal di balik tanggul. Mereka tidak bisa turun dengan cara yang sama, atau tidak berani. Rav bisa. Rav tua, berat, keras kepala, dan malam itu berada di tangan Liora.

Tidak ada yang bicara sampai suara pengejar mengecil. Liora memperlambat Rav ketika jalur mulai tertutup pepohonan mati. Napasnya keluar tidak rata. Tangannya masih memegang kemudi terlalu kuat.

Zevran berkata pelan, “Longgarkan jarimu.”  Liora melakukannya tanpa berpikir.

Kael tidak langsung menyerang. Rav baru saja selamat di bawah tangan Liora. Kael kehabisan tenaga untuk membenci kebenaran itu setiap detik. Namun diamnya tidak bertahan lama. “Jangan terbiasa,” katanya.

Zevran menatap depan. “Dengan apa?”

“Duduk di sana.”

“Aku tahu ini bukan tempatku.”

“Bagus.”

Liora menatap jalan, lelah. “Sepertinya kursi itu juga ingin semua orang turun dan membiarkannya sendiri.”

Zevran menghela napas kecil. “Aku bisa memahami keinginan itu.”

Kael berkata, “Jangan bersimpati pada Rav.”

“Aku bersimpati pada benda yang dipakai terlalu lama oleh orang yang keras kepala.”

Kali ini Liora mengerem. Tidak mendadak. Tidak keras. Rav berhenti di bawah pepohonan mati, tertutup bayangan. Ia mematikan mesin. Kael menatap punggung kursi penumpang dengan wajah yang sudah siap mencari kesalahan baru. Zevran tidak mengatakan apapun. Liora melepas sabuk, lalu menoleh ke belakang.

“Tidak ada yang bicara selama lima menit.”

Kael membuka mulut.

“Lima menit,” ulang Liora. “Aku akan cek bahumu. Aku akan cek lukanya. Kita akan minum. Setelah itu kalian boleh saling menghancurkan lagi kalau memang tidak punya hobi lain.”

Zevran menatap tangannya yang terikat. Kael menatap pistolnya. Tidak satu pun dari mereka menjawab, dan untuk ukuran malam itu, diam seperti itu sudah cukup dekat dengan persetujuan.

Liora keluar dari kursi pengemudi. Kakinya baru terasa lemas saat menyentuh tanah, ia menahan diri pada pintu Rav sebentar. Cukup untuk membuat Zevran melihat dari kursi penumpang. Ia tidak berkata apa-apa, tetapi Kael melihat Zevran melihat. Kael tetap menemukan alasan untuk menjaga jarak itu tetap berduri. “Jangan mulai merasa berguna,” katanya.

Zevran tetap menatap kaca depan. “Terlambat. Aku sudah sedikit berguna dan itu membuat kita semua tidak nyaman.”

Liora menutup pintu dengan keras. “Lima menit.”

Malam menelan sisa kalimat mereka. Di bawah pepohonan mati itu, Rav diam dengan mesin panas, debu di kaca, dan tiga orang di dalamnya yang selamat bukan karena saling percaya, melainkan karena terlalu keras kepala untuk mati di kesalahan yang sama. Liora berdiri beberapa detik di samping pintu pengemudi, telapak tangannya masih menyimpan bentuk kemudi.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk