REG-K/17

0 dibaca

A

Mereka tidak masuk melalui gerbang utama. Kael hanya menatapnya sebentar, lalu memilih sisi kiri. Jalan masuk dari sana lebih buruk. Justru karena buruk itulah Kael menerimanya. Jalur yang tampak sengaja dibiarkan nyaman biasanya meminta bayaran yang lebih mahal daripada kaki terluka.

Zevran berjalan paling lambat di belakang mereka. Liora melihat napasnya memendek, melihat keringat baru muncul di pelipisnya. Kael juga pasti melihat, tetapi Kael lebih dulu marah daripada menyebut itu perhatian.

“Kalau kamu tidak kuat berjalan, bilang sebelum tubuhmu membuat kami melambat,” kata Kael tanpa menoleh.

Zevran menatap tanah di depan kakinya. “Aku masih bisa berjalan.”

“Jangan jatuh.”

“Kalau jatuh, aku akan jatuh ke arah yang tidak menghalangi Liora.”

Kael berhenti setengah langkah. Liora lebih dulu menoleh kepada Zevran, cukup untuk memotong kalimat berikutnya sebelum ia membuat keadaan lebih buruk. “Simpan napasmu.”

Zevran berhenti ketika Liora memberi batas. Bagi Kael, Zevran baru saja mengambil tempat di ruang yang selama ini hanya boleh diisi oleh Kael.

Zevran menunjuk dengan dagu ke arah kolong truk biru. “Jangan mendekat ke sana.”

Kael menoleh. “Kenapa?”

“Tanahnya terlalu bersih.”

Liora melihat ke arah yang ditunjuk Zevran. Kolong truk itu memang berbeda. “Kanan,” kata Liora.

Kael tidak suka keputusan itu. Wajahnya mengatakan hal tersebut dengan jelas, tetapi ia tetap bergerak ke kanan. Di dinding pos dekat gerbang, tiga garis tampak samar di bawah debu. Kali ini bukan satu titik. Ada dua titik kecil di sekitarnya, satu di atas dan satu di kanan. Liora berhenti lebih dulu. Kael ikut melihat. Zevran menahan tubuh di sisi dinding, matanya menyipit pada tanda itu lebih lama daripada tanda-tanda sebelumnya.

Liora melihat gerbang utama REG-K/17 yang terbuka separuh. Kael mengangkat pistol lebih tinggi, lalu memberi tanda agar mereka bergerak dari sisi bangunan, bukan dari garis lurus halaman.

Pintu samping REG-K/17 tidak terkunci. Kael menariknya perlahan. Logam berderit panjang, membuat Liora menahan napas dan Zevran menutup mata sebentar. Kael berhenti, mendengar. Ketika tidak ada gerakan dari dalam, ia menarik lagi. Engsel bawah patah dengan bunyi kasar, lalu pintu terbuka cukup untuk satu orang masuk. Liora langsung melihat kartu-kartu logam yang berserakan di bawah meja. Kael melihat terminal. Zevran melihat lantai.

“Jangan injak kabel dekat kaki meja,” kata Zevran pelan.

Kael menahan langkah. “Apa lagi?”

“Kabel itu terlalu lurus untuk benda yang jatuh.”

Liora menunduk. Kabel tipis memang membentang di bawah debu, dari kaki meja ke celah dinding. Tidak tampak seperti perangkap. Justru itu yang membuatnya berbahaya.

Kael melewati kabel tersebut tanpa menyentuhnya, lalu bergerak menuju lorong. Zevran tetap di belakang, tetapi matanya tidak berhenti membaca lantai, dinding, dan celah pintu “Tidak ada tanda baru,” katanya.

“Kamu yakin?” tanya Kael.

“Aku tidak pernah bilang yakin. Aku bilang tidak terlihat.”

“Kalimatmu selalu punya jalan keluar.”

“Jalan keluar membuat orang tetap hidup.”

Kael menatapnya. “Dulu jalan keluar membuatmu membawa orang ke tempat penyerahan.”

Zevran diam. Liora melihat Kael dari samping. “Jangan mulai di ambang pintu.”

Kael tidak meminta maaf. Ia hanya berjalan lebih dulu ke ruang arsip, pistol rendah tetapi siap, tubuhnya menahan sisi depan. Ruang arsip lebih sempit daripada ruang depan. Di samping terminal, papan instruksi sudah tidak lengkap, tetapi beberapa kata masih bisa dibaca.

Liora mendekati laci-laci kecil. Setiap laci diberi kode. Laci pertama kosong. Laci kedua menyimpan kartu logam patah. Laci ketiga berisi potongan kertas yang langsung hancur saat terkena udara.

Kael berdiri di dekat terminal. “Cari RAV.”

“Aku sedang mencari.”

“Jangan sentuh yang tidak perlu.”

“Kalau aku tahu dari luar mana yang perlu, kita tidak perlu membuka laci.”

Kael menggeser debu dari panel bawah terminal. Di bawah debu itu ada slot kecil yang bentuknya tidak sama dengan slot kartu. Lebih sempit. Lebih dalam. Liora melihatnya, tetapi tidak bertanya. Ia tahu bentuk itu. Liora membuka laci berikutnya. Di dalamnya ada kartu logam yang lebih utuh daripada yang lain. Debu menutup sebagian permukaannya. Ia mengusapnya dengan ujung kain dan membaca tulisan timbul yang muncul perlahan.

RAV-09

Dadanya terasa turun sedikit, bukan lega, bukan takut, melainkan sesuatu di antaranya. Selama ini Rav adalah kendaraan yang mereka pakai untuk bertahan. Sekarang ada kartu logam yang menunggu namanya di ruang arsip pos tua, seolah kendaraan itu memang pernah menjadi bagian dari jalur yang lebih besar daripada hidup mereka di luar Avara. “Ada,” kata Liora.

Kael menoleh. Ia tidak langsung mengambil kartu itu dari tangan Liora. Ia ingin Liora tetap menjadi orang yang membacanya sebelum ia menjadi orang yang memutuskan. Liora memasukkan kartu itu ke slot utama terminal.

Awalnya tidak terjadi apa-apa. Lalu terminal berbunyi pelan. Layar tua berkedip beberapa kali, memuntahkan garis-garis cahaya yang putus sebelum akhirnya membentuk tulisan.

UNIT TERDAFTAR: RAV-09

STATUS: OPERASIONAL DARURAT

AKSES: GARIS VEYR

TUJUAN UTAMA: AVARA PUSAT

KUNCI GARIS DIPERLUKAN UNTUK AKSES LANJUTAN

Kael tidak bergerak. Liora membaca baris itu dua kali.  Ruang arsip terasa semakin sempit, karena nama Rav sekarang muncul di terminal lama.

Kael tidak bertanya apa maksudnya. Tangannya naik ke balik kerah dan menarik rantai kecil yang selalu menempel di dadanya. Liora sudah melihat kunci itu bertahun-tahun. Bedanya, selama ini kunci itu hanya peninggalan ayah. Sekarang terminal menunggunya.

Kael memasukkan kunci ke slot kecil di bawah layar. Bunyinya pendek. Terminal bergetar.

KUNCI DITERIMA.

PEMEGANG AKSES: KAEL ARDEN VEYR.

STATUS: AKSES EVAKUASI GARIS UTAMA.

UNIT RAV-09 DIAKTIFKAN UNTUK PELARIAN GARIS UTAMA.

PENUMPANG SAH: KETURUNAN UTAMA VEYR.
VALIDASI BUKTI UTAMA DIPERLUKAN DI AKSES PUSAT.

Tidak ada yang bicara. Kael menatap namanya di layar seperti orang yang melihat namanya ditempelkan di pintu yang tidak pernah ia minta.

Liora berdiri diam di sampingnya. Jemarinya menyentuh bagian tengah dadanya, tempat liontin ibu tersimpan di balik kain. Sentuhan itu singkat. Begitu Kael melirik, tangannya turun lagi, menggenggam tepi jaket sampai lipatannya menegang.

Zevran melihat keduanya, lalu kembali menatap lantai. Untuk pertama kalinya sejak mereka membawanya masuk ke Rav, ia tidak ingin tahu lebih banyak daripada yang sudah ia lihat.

Di luar ruang arsip, angin menggeser papan logam tua. Bunyinya pelan, tetapi cukup membuat Liora mengangkat wajah. Kael mencabut kunci dari slot. Ia tidak langsung memasukkannya kembali ke balik baju. Logam kecil itu menggantung sebentar di antara jari-jarinya, terlalu sederhana untuk semua tulisan yang baru saja muncul. Setelah itu, ia menyelipkannya kembali ke balik kerah, lebih hati-hati daripada sebelumnya. Liora merapatkan jaket. Terminal masih menyisakan baris terakhir di layar.

Dari ruang depan, sesuatu bergerak. Langkah. Lebih dari satu. Kael langsung menarik kabel utama dari panel. Layar mati seketika. Ruang arsip kembali gelap, hanya menyisakan lampu kecil di tangan Liora. Zevran menegakkan tubuh terlalu cepat dan hampir jatuh. Liora menangkap lengannya sebelum ia menghantam rak logam. Ia menahan diri agar tidak bertumpu terlalu banyak, tetapi tubuhnya tidak sepenuhnya patuh.

“Maaf,” bisik Zevran.

“Jalan,” jawab Liora.

Kael melihat tangan Liora di lengan Zevran. Wajahnya berubah, tetapi suara dari ruang depan lebih dulu masuk dan membuat semua amarahnya menemukan arah lain.

“Cek terminal.” Suara laki-laki itu tidak jauh.

Kael bergerak ke pintu, pistol terangkat, matanya menatap lorong yang tadi mereka lewati.

Liora mematikan lampu kecilnya setengah, cukup agar mereka tidak langsung terlihat dari ruang depan. Zevran berdiri di belakangnya, napasnya kembali berat, tetapi ia tidak meminta ditahan. Dari luar ruang arsip, sepatu menggeser pecahan kaca.

REG-K/17 baru saja memberi mereka nama, akses, dan tujuan yang terlalu besar untuk ditinggal begitu saja. Kael memberi isyarat agar Liora mundur ke sisi rak. Liora bergerak tanpa suara.  Zevran mengikuti. Di pintu lorong, bayangan pertama muncul.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Komentarnya bisa dibaca siapa saja, tapi menulis butuh akun.

Masuk